Topi  “Panama Americana”


Oleh
Cardiyan HIS 

 

Bukan Americana tapi Rajapolah. Menjadi
pilihan tutup kepala para  tokoh nasional
dan internasional. BJ Habibie dan Santana pun dengan santai dan “pede”
mengenakannya sangat pas pantas.

 

Anda pasti sudah mendengar tentang nama
topi Panama. Hanya barangkali, belum dapat mengira-ngirakan dengan jelas rupa
topi itu. Presiden RI ketiga BJ Habibie adalah salah seorang yang rajin
menggunakan topi Panama sebagai penutup kepalanya di kala bepergian santai. Dan
yang paling aktual adalah manakala pemusik jazz kelas dunia Santana tampil di
Java Jazz Festival Februari 2011 lalu mengenakan topi Panama pada saat tampil
di panggung.   


Topi Panama selalu dihubungkan dengan
nama Panama americana bukan karena topi ini didatangkan dari Amerika Latin
tetapi memang nama Latin tanaman Panama adalah bernama Panama americana. 
Ternyata
tanaman ini memang tumbuh subur di daerah Rajapolah (Tasikmalaya, Jawa Barat).
Berkat tanaman ini Rajapolah merupakan daerah sentra industri kerajinan tangan
terbesar dan terhalus di Indonesia mengalahkan Tangerang (Banten) dan Gombong
(Jawa Tengah) sampai sekarang.


Dulu sebelum tahun 1901, pekerjaan anyam
menganyam ini merupakan monopoli daerah Tangerang. Hanya saja di Tangerang ini
topi anyaman dibuat dari pohon Pandan (Pandanus tectorius) dan Bambu Tali atau
Bambu Apus (Gigantochloa apus). Tetapi sejak tahun 1901, atas jasa “perintis
peranyaman” Kyai Haji Jasin almarhum, kiblat dunia anyam menganyam topi beralih
ke Rajapolah. 


Tentang bagaimana kejadiannya hingga Panama
americana  banyak ditanam orang di
Rajapolah, penulis sendiri sebagai anak seorang pengusaha kerajinan tangan di
Rajapolah, kurang begitu mengetahuinya dengan pasti. Tetapi agaknya, hal ini
merupakan karunia Tuhan YME belaka kepada penduduk Rajapolah (Tasikmalaya),
yang tidak boleh dilupakan begitu saja.

 

Cara
Menanam Pohon Panama

Pohon Panama americana dapat tumbuh
dengan baik di daerah yang ketinggiannya paling rendah 250 meter dari permukaan
laut (Mean Sea Level Sudah tentu daerahnya harus yang curah hujannya cukup
tinggi. Penanamannya dilakukan dengan bibit-bibit yang terdiri dari anak-anak
pohon Panama itu. Sebaiknya ditanam pada permulaan musim hujan, sehingga
kemungkinan tumbuh lebih terjamin. Sebab yang diharapkan dari pohon-pohon
Panama ialah pucuk daunnya yang lebar dan kuat.

 

Bibit-bibit Panama harus ditanam di
dalam lobang galian sedalam 0.5 meter, dengan jarak masing-masing 1 meter satu
sama lain. Tentu saja lobang-lobang galian ini harus dipersiapkan dua minggu
sebelum penanaman. Untuk ini barangkali faktor pupuk sangat menentukan. Tidak
usah pupuk kimia seperti urea, sendawa chili atau ZA. Penduduk Rajapolah hampir
semuanya menggunakan pupuk kandang atau kompos.


Pucuk
Panama  

Untuk bahan topi, yang diambil dari
pohon Panama ialah pucuknya. Setelah pohon Panama berumur setahun, pucuk
pertama sudah boleh dipetik. Asal saja hama tidak merusak daun, panjang pucuk
ini bisa mencapai 0.5 meter lebih. Hama pohon yang harus diperhatikan ialah
Kupik Indol-indol Mylabris pustulata atau yang disebut oleh penduduk Rajapolah 
dengan
nama Ulam. Begitu pula rumput liar bisa menghambat pertumbuhan bahkan mematikan
pohon Panama. Di antaranya rumput Alang-alang (Imperata cylindrica atau juga
rumput Teki 


Hati-hatilah dalam memetik pucuk karena
bisa-bisa tercabut dengan pohonnya. Sebaiknya pergunakanlah pisau tajam.
Perhatikan pula jangka waktu memetik pucuk. Setelah pemetikan pertama,
pemetikan berikutnya hanya boleh dilakukan 3 bulan kemudian. Kalau Anda
berdisiplin, sebuah pohon Panama dapat menghasilkan pucuk berturut-turut selama
tiga tahun. Setelah tiga tahun, tentu saja Anda harus mulai memikirkan 
peremajaan
atau penanaman pohon baru.


Proses penanaman pohon Panama tidak
serumit menanam pohon Pandan. Itulah sebabnya pucuk pohon Panama harganya lebih
murah dibanding daun Pandan. Mungkin disebabkan soal harga inilah penanaman
pohon Panama tidak terlalu diusahakan secara besar-besaran.


Pohon Panama ini ditanam secara “iseng”
belaka. Sehingga para penanam “iseng” ini sudah merasa “untung” jika
pucuk-pucuk pohon mereka terjual pada saat panenan. Itulah pula yang menjadi
sebab, bahan baku topi Panama tidak menentu di pasaran Rajapolah. Hal ini
menyebabkan harga topi Panama meloncat-loncat tak dapat dipegang dan
kecenderungannya naik. Tak mengherankan permintaan pemakai terus mengalir ke
pengusaha-pengusaha “artshop” yang menjadi tempat penampungannya.


Proses
Pengolahan dan Pembuatan Topi Panama 

Pucuk Panama yang baru dipetik dari
pohonnya masih belum bisa dipakai sebelum diolah dulu. Proses pengolahannya
sederhana saja. Mula-mula Anda sediakan sebuah wadah. Wadah apa saja dipakai
asal kira-kira tepat untuk merebus pucuk. Misalnya blik bekas minyak goreng
atau bekas kue pun jadilah.


Setelah blik diisi air dan dijerangkan
di atas api, tunggulah supaya air mendidih dulu. Masukkan pucuk-pucuk Panama
yang hendak direbus itu ke dalam air mendidih. Tak usah lama-lama, seperempat
jam saja sudah cukup. Biasanya air rebusan akan memutih. Itulah tandanya
rebusan pucuk sudah matang. Pucuk yang sudah direbus ini pun bersalin rupa
menjadi helai-helai memanjang lurus. Kemudian barulah dikeringkan dengan
menjemurnya di udara terbuka.

 

Proses selanjutnya ialah mengayar.
Mengayar artinya menyobeki daun-daun pucuk ini menjadi helaian-helaian kecil.
Dalam membuat ayaran Pandan, orang menggunakan suwakan (micro stome) agar
ayarannya seragam ukurannya. Tetapi pada ayaran Panama, para pengrajin
Rajapolah mengayar pakai kuku-kuku tangannya sebagai pengiris. Entah “alah bisa
karena biasa” kata pepatah atau entah apa, irisan-irisan atau ayaran-ayaran
yang dihasilkan pengrajin Rajapolah benar-benar mengagumkan. Oleh karena itu
kuku-kuku ibu jari para pengayar yang juga merangkap penganyam, biasanya
panjang-panjang.


Proses mengayar selesailah sudah. Kini
tinggal lagi proses menganyam. Para penganyam memulai pekerjaannya dengan
menganyam dulu bagian atas topi. Mulai di tengah-tengah bagian atas topi ini,
penganyam membuat anyaman berbentuk bintang. Apabila bentuk bintang ini terus
dilanjutkan, maka anyaman akan merupakan sebuah hamparan yang berbentuk bujur
sangkar dengan ukuran 10 cm kali 10 cm. Barulah sekarang penganyam meneruskan 
pekerjaannya
ke badan topi. Menganyam bagian badan ini dikerjakan dengan pertolongan alat
Sunglon yakni alat pembentuk badan topi dari kayu. Penganyaman di bagian ini
dilakukan dengan menurutkan lekuk-lekuk pola Sunglon.  Proses menganyam topi 
Panama lebih sulit    sulit dari pada menganyam topi Pandan atau
topi Bambu. Kesulitannya terletak pada pendeknya ayaran Panama ini, sehingga
sambungan-sambungan di bagian topi harus disisipkan ke sebelah dalam.     
Begitulah pekerjaan menganyam topi Panama
ini berlangsung hingga akhirnya rangka topi pun selesailah sudah. Sebuah topi
Panama dapat memakan tujuh helai pucuk.


Topi Panama yang menghiasi etalase
toko-toko eksklusif, sudah tentu lebih putih warnanya dari pada ketika topi ini
masih berada dalam proses penganyaman. Topi Panama yang telah selesai dianyam,
masih harus diputihkan lagi dengan obat-obat pemutih kimiawi tertentu. Proses
pemutihan ini boleh dikatakan merupakan proses “finishing touch” dalam proses
pembuatan topi Panama setengah jadi. Oleh karena itu disarankan, agar Anda
jangan sekali-kali memakainya topi Panama pada waktu hujan. Air hujan dapat
menimbulkan proses kimiawi yang akan menyebabkan topi berubah tidak bersih
lagi. Kecuali..... tentu saja jika Anda banyak duit untuk membeli topi Panama
yang baru!

 

www.cardiyanhis.blogspot.com

Http://id.linkedin.com/pub/cardiyan-his/20/742/2a6.

 



Kirim email ke