Selamat Datang Profesor. Bedahlah Penyakit PSSI

 

Oleh Cardiyan HIS

 

Penantian lama mereformasi PSSI setelah tumbangnya rezim Nurdin Halid, untuk
sementara berakhir sudah dengan terpilihnya Ketua Umum PSSI Prof.DR. Djohar
Arifin Husein. Mantan pemain seangkatan breaker Nobon (PSMS/timnas) dan stopper
Risnandar (Persib/timnas), wasit FIFA dan pejabat tinggi serta profesor ini
diharapkan dapat melaksanakan semangat reformasi di tubuh PSSI.

 


Profesor Djohar sangat paham situasi sepakbola Indonesia.
Maka waktu yang sangat berharga yang hilang percuma selama kepengurusan rezim
Nurdin Halid harus segera diganti dengan kinerja yang serba cepat tetapi
sistematis. Perseneling sudah harus siap digerakkan dari gigi tiga dan gas siap
diinjak dalam-dalam untuk mengejar program mendesak terutama hajatan timnas 
Indonesia
di Pra Piala Dunia melawan timnas Turkmenistan (home and away) dan sepakbola SEA
Games 2011 di Jakarta-Palembang. 

 


Tetapi seperti sama-sama maklum program PSSI begitu menumpuk
untuk secara paralel harus dijalankan segera pula. Perhatian kepada Kompetisi 
Usia Muda harus menjadi
prioritas. Karena dari sinilah suplai bahan baku
terbaik bagi tim nasional secara sistematis dan berkesinambungan akan terjadi. 
Sejarah
membuktikan, mengapa prestasi timnas Indonesia
bisa berlangsung bagus dan lama sejak 1950-an sampai 1970-an karena ada
kesinambungan antara pembinaan timnas Indonesia Yunior dengan timnas Indonesia
Senior ketika itu. Peranan sponsor yang sebelumnya diperankan dengan konsisten
oleh Medco Group tentu akan semakin berlipat lagi karena perusahaan milik
Arifin Panigoro ini, suka atau tidak suka melalui Kelompok 78 sangat berperan
besar bagi terpilihnya Profesor Djohar Arifin Husein, sebagai Ketua Umum PSSI
dan Farid Rahman, sebagai Wakil Ketua Umum PSSI serta dominasi anggota Kelompok
78 di jajaran Komite Eksekutif PSSI. Tentu sponsor yang lain juga akan menyusul
seperti dari Salim Group, Coca Cola dsb.

 


Dualisme kompetisi Indonesia Super League (ISL) dan Liga Primer
Indonesia (LPI) juga optimis akan segera berakhir antara lain dengan terobosan 
ide
menggabungkan kepemilikan masing-masing klub melalui merger. Setidaknya pada
klub-klub sekota atau sepropinsi. Ini jawaban sangat logis atas fakta bahwa
klub sepakbola professional sudah sepatutnya dilarang memanfaatkan dana
bersumber APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) maupun APBN  (Anggaran 
Pendapatan dan Belanja Nasional). Karena
ini akan menjadi bibit korupsi sistemik dan penyalahgunaan kekuasaan para
politikus dalam melanggengkan kekuasaannya. Dana yang dimiliki Rakyat Indonesia
ini sangat adil bila dialihkan untuk pembangunan infrastruktur olahraga (tidak
hanya sepakbola) dan juga pembinaan sumberdaya manusia dalam membina para calon
olahragawan berprestasi melalui pencarian bibit unggul, program pelatihan calon
pelatih dan wasit di berbagai kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.

 


Pembenahan kompetisi dengan peleburan dua sistem kompetisi
menjadi satu kompetisi PSSI diharapkan akan mengerucut kepada meningkatnya
prestasi timnas PSSI. Namun ini tidak mudah karena menyangkut banyak hal
terutama profesionalisme pemain; wasit; pengurus klub; pengurus PSSI, Komite
Eksekutif dan Komisi Disiplin serta Komisi Banding PSSI; aturan pembatasan
jumlah pemain professional asing;  peranan
media cetak dan elektronik dan juga tentunya sikap dewasa penonton. Bila setiap
stake holder menyadari kedudukan dan tanggungjawabnya, masalah sponsor
kompetisi rasanya tidak akan terlalu sulit lagi. Mengapa? Karena lepas dari
pencapaian mutu kompetisi PSSI yang belum bisa dibanggakan, tetapi sepakbola 
Indonesia
memiliki keunggulan luar biasa dalam hal potensi nyata jumlah penonton yang
sangat luar biasa serta peliputan media yang luar biasa pula. Hanya dengan
kejelian dan profesionalisme pada pengurus PSSI, sepakbola Indonesia
akan menjelma menjadi industri sepakbola yang luar biasa di level dunia.

 


Kita berharap, dengan adanya “Pelajaran  Sepakbola Nurdin Halid”, jajaran 
pengurus PSSI
harus sejak awal kepengurusan di PSSI menjadikan organisasi PSSI sebagai “ladang
beramal” dan bukan malah sebaliknya sebagai “ladang mencari duit”. Kita akan
sangat mengapresiasi bila niat baik mereka diwujudkan dengan karya nyata
terwujudnya prestasi tim nasional Indonesia
di jajaran elite dunua.  Tentu pencapaiannya
secara bertahap dan sistematis. Sebab bukankah membangun Roma tidak bisa
diwujudkan dalam satu hari? 

 


Selamat bekerja Profesor Djohar Arifin Husein. Sampai ketemu
di stadion Senayan manakala timnas Indonesia
menjuarai sepakbola SEA Games 2011 dan timnas senior Indonesia
lolos Pra Piala Dunia.

 

www.cardiyanhis.blogspot.com
http://id.linkedin.com/pub/20/742/2a6


 

   

 

     

Kirim email ke