DH,

Hal yang sama terjadi pada anak saya. Dia di paspal (gaya lama) dan
memilih jurusan HI (hubungan Internasional). Ketika ikut UMPTN, saya sama
sekali tidak mengetahui jurusan yang dipilih. Justru saya baru diberitahu
ketika ada pengumuman di Internet.

Selanjutnya pada tahun pertama saya baca bukunya, ternyata banyak yang
menarik yang kita orang PASPAL ngak pernah belajar :

1. Mengenai hukuman mati.
2. Traktat antara Indonesia dengan negara tetangga agar tak saling
menyerang dengan senjata nuklir.
3. Kerjasama India dan China yang tak akan saling menyerang karena
kebutuhan masalah air.
4. Kerusakana lingkungan di danau kaspia karena penanaman Jagung (?) serta
penggunaan peptisida yang berlebihan ...

Wah banyak sekali lainnya. Bagi saya yang penting anak saya mau berusaha,
apapun jadi.
Sebenarnya banyak profesi yang menarik agar dilakukan secara profesional.
Anak saya memeproleh penghasilan dari mengajar piano, arangement lagu.
membuat lagu dsb.. dan menurut saya ini sangat menarik karena memang saa
tak mengetahuinya.

wassalam,


Wassalam,

On Sat, July 16, 2011 01:56, Susanto Panggah wrote:
> terimakasih atas kiriman artikel ini yg mencerahkan.. Saya akhir2 ini
> bersitegang dg anak sy yang msh di SMA, lebih memilih jurusan IPS padahal
>  nilai2nya sangat bagus ( ranking 2 si sekolah). Pandangan sy sbg
> generasi kolot akan lebih baik memilh jurusan IPA, tp bagi anak saya tdk,
> karena menurut pamdangannya belajar itu yg penting enjoy, dia sdh melihat
> betapa beratnya kondisi yg dihadapi para pelajar di Indonesia dg sistem
> belajar mengajar yg diterapkan, membuat stress, sementara soal kualitas
> nanti dulu. Sy tahu anak sy cukup pintar dan kreatif, insyaallh tdk
> masalah dg masa depannya, tdk spt bapaknya yang msh kolot yang ngotot,
> masa depan ditentukan oleh jurusan2 dan ranking2, yang berlaku dlm sistem
> pendidikan yg msh banyak dieprtanyakan. Membaca artikel ini maka timbul
> pertanyaan mengapa dilingkungan kita ini banyak kelirunya dari benarnya,
> saya mencurigai adakah  kekeliruan2 bersumber dari cara pandang/doktrin yg
> salah kaprah yg telah  bersarang dan menghujam jauh di otak bawah sadar
> kita?
>
> Salam
>
>
> Panggah S
>
>
> 2011/7/13 Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
>
>
>> Sebuah artikel Ketua Program MM-UI, Prof. Rhenald Kasali. Semoga
>> tergugah.
>>
>> Salam,
>> CA
>>
>>
>> Sekolah untuk Apa?
>>
>>
>> Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak
>> mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati.
>> Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata
>> banyak yang “salah kamar”.
>>
>> Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam
>> perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan
>> yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN)
>> masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana
>> saja.
>>
>> Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi
>> sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun
>> sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu saya
>> hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi
>> masalah hari ini.
>>
>> Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal
>> memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah
>> biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong.
>> Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan
>> tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.
>>
>> Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan
>> untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat
>> sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa
>> di negeri yang serbasulit ini?
>>
>> Kesadaran Membangun SDM
>>
>>
>> Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM)
>> Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber
>> daya manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar
>>  S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.
>>
>>
>> Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai 10 tahun,lulusan terbaik
>> itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya Anda bisa lihat
>> sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula
>> perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di
>> situ.
>>
>> Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform
>> sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways
>> teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis,serta peran
>> brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan.
>>
>> Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan
>> seterusnya.Tak mengherankan kalau sekolahsekolah di berbagai belahan
>> dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat
>> terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus
>> begitu mudah menerima mahasiswa.
>>
>> “Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak,
>> jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di
>> Erasmus.
>> Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk
>> mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.
>>
>> Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari
>> lulusan yang asal masuk ini? “Mudah saja,” ujar dekan itu. “Kita
>> potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali.
>> Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua
>> orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan
>> berbeda,”ujarnya.
>>
>> Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski
>> murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka
>> drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi.Mereka pindah ke
>> politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah. Yang lebih mengejutkan
>> saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di Selandia
>> Baru.
>>
>>
>> Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10
>> besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan
>> waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu
>> masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan
>> mengintip bagaimana pelajaran diajarkan.
>>
>> Di luar dugaan saya,pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
>> Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah
>> kita yang terlalu kognitif, dengan guruguru yang merasa hebat kalau
>> muridnya bisa dapat nilai ratarata di atas 80 (betapapun stresnya
>> mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun tak
>> menguasai semua subjek.
>>
>> Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan
>> kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah di mana keguruan itu muncul
>> kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan
>> yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.
>>
>>
>> Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar
>> negeri,mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus.
>> Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta
>> transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah
>> terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang
>> baik di luar negeri.
>>
>> Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? “Undang-undang menjamin
>> semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di
>> Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya?
>> “Itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung
>> saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.
>>
>> Maksudnya,tes masuk tetap ada,tetapi hanya dipakai untuk penempatan
>> dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua
>> mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu Matematika dan Bahasa Inggris.
>> Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori:
>> akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.
>>
>> Sekolah dilarang hanya menerima anakanak bernilai akademik tinggi
>> karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak,
>> khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka
>> hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.
>>
>> Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya
>> diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran
>> pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masingmasing.
>> Bagi mereka yang bercita- cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia
>> wajib dikuasai.
>>
>> Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia.
>> Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting,
>> statistik,dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu
>> belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus
>> mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya
>> diwajibkan lulus di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).
>>
>> Bayangkan, bukankah citacita pembuat kurikulum itu orangnya hebat
>> sekali? Mungkin dia manusia super.Seorang lulusan SLTA tahun pertama
>> harus menguasai empat bidang sains (biologi,ilmu kimia, fisika, dan
>> matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu
>> bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama,
>> geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.
>>
>> Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat
>> menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan
>> sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti
>> kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1 yang
>> digabung hingga S-3 di Amerika.
>>
>> Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga
>> tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan
>> di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa
>> lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga
>> demikian, tapi tak ada masalah kok!
>>
>> Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah.
>> Teknologi telah mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi
>> yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan
>> lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari segala
>> resources.
>>
>> Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu
>> sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik.
>> Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk
>> dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru,
>> lifelong learning.
>>
>> Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West
>> Lake Boys School di Auckland mengatakan, “Kami sudah meninggalkan old
>> ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka itu, sekolah sekarang harus
>> memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak
>> pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah,metode
>> diperbarui,fasilitas baru dibangun,” ujar seorang guru.
>>
>> Masih banyak yang ingin saya diskusikan,tapi sampai di sini ada
>> baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah dan
>> untuk apa kita bersekolah? Mudahmudahan kita bisa mendiskusikan lebih
>> dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depan yang
>> lebih baik.
>>
>> RHENALD KASALI Ketua Program MM UI
>>
>>
>> http://www.seputar-indonesia.c​om/edisicetak/content/view/411​134/
>>
>>
>> --
>> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi
>> serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia
>> dan akhirat.
>>
>> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
>> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
>>
>>
>




PT.CITRA SARI MAKMUR
SATELLITE & TERRESTRIAL NETWORK

Connecting the distance - anytime, anywhere, any content
http://www.csmcom.com


--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke