Pak Zainal Hasibuan dan Kawan2 Yth, Terimaksih atas tanggapan Bapak.
Pada kesempatan ini, kepada kawan2 yang beragama Islam kami ucapkan Selamat Idul Fitri 1432 H, mohon maaf lahir bathin, dan semoga amal ibadah bapak2 dan ibu2 sekalian diterima Allah SWT. Saya mendukung usulan pak Zainal Hasibuan, Ketua Harian DeTIKNas, agar Indonesia berpartisipasi dalam pengembangan dan penerapan Open Educational Resources (OER), seperti halnya saat ini Indonesia telah aktif dalam pengembangan dan penerapan Open Source Software (OSS/FOSS) dengan pembentukan organisasi Asosiasi Open Source Indonesia. Langkah untuk mengadopsi OSS maupun OER oleh Indonesia sebagai negara berkembang yang terbatas sumber dana keuangannya adalah langkah yang terbaik untuk menghemat biaya akuisisi sumber-sumber daya yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara, tanpa harus melakukan rekayasa ulang atau "re-inventing the wheel", tetapi dengan cara sharing sumber daya/knowledge ini yang diukembangakan bersama oleh komunitas nasional dan internasional secara sangat murah/gratis. Keberhasilan konsep resource/knowledge sharing ini telah terbukti sukses untuk Open Source, dengan sangat banyaknya Distro2 Linux yang di-update hampir tiap minggu/bulan. Salah satu bentuk Distro ini adalah Operating System Android yang berkembang sangat pesat dalan waktu dua tahun terakhir yang dipakai oleh banyak produsen Ponsel Cerdas (Smartphones). Bentuk nyata implementasi OER ini adalah OpenCourseWare (OCW) dari Massachusett Institute of Technology, Connexions dari Rice University, OCW China dan OCW Japan. Materi pengajaran yang bisa di download secara cuma2 ini juga sudah dirintis di Indonesia berupa Buku Sekolah Elektronik (BSE) oleh pak Onno W Purbo dan kawan2. Baik OCW dan BSE hanya akan dapat disebar-luaskan secara efektif dan efisien bila Indonesia sudah memiliki jaringan Broadband yang berkecepatan tinggi, namun berbiaya murah, dan dengan terselenggaranya Distance Education/Learning. Jaringan Broadband inilah juga yang dapat membuat TELEWORK berjalan secara efektif dan efisien. Beberapa waktu yang lalu juga telah ditandatangani MoU antara The Habibie Center dan MASTEL untuk mengembangkan konsep Meaningful Broadband, jaringan Broadband yang bermanfaat bagi kemajuan perekonomian dan sosial bangsa Indonesia. Oleh karena eratnya keterkaitan keberhasilan pengembangan Jaringan Broadband, Telework, Distance Education, OCW/OER, BSE, dan kemajuan perekonomian dan sosial bangsa Indonesia, maka kami sarankan agar dalam pertengahan bulan September 2011 ini dapat dilakukan Pertemuan Koordinasi antara berbagai pemangku kepentingan, yaitu: DeTIKNas, DEPKOMINFO, Kementrian Koordinator Perekonomian, DEPDIKNAS, MASTEL, The Habibie Center, APJII, FTII, FKBWI, ATSI, Para Operator Telekomunikasi, AOSI dan lainnya yang terkait. Mohon agar dapat ditanggapi dan didukung. Wassalam, S Roestam http://mastel.wordpress.com From: "[email protected]" To: [email protected] Sent: Friday, September 2, 2011 9:54 AM Subject: Re: [Telematika] TELEWORK dalam 10-Tahun mendatang (2021) Pak Roestam n Kawan2 Telematika Yth. Mumpung masih suasana lebaran, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, semoga amal ibadah kita diterima Allah Swt. Untuk merespond realisasi "ramalan" telework 10 tahun mendatang, masyarakat Indonesia mau tak mau harus punya grand social strategy agar kehadiran TIK nantinya tidak serta merta menggerus budaya2 lokal dan tatanan nilai bangsa Indonesia. Salah satu yg kami perjuangkan adalah mensosialisasikan dan mengimplementasikan Open Educational Resources (OER). Dengan OER, setiap orang bisa belajar dimana saja, kapan saja, dan bagaimana saja, tanpa kehilangan hak2 mereka utk mendapatkan ijazah disetiap jenjang pendidikan. Disamping itu, OER sangat cocok itu Indonesia yg secara geografis tersebar dan secara kultur beragam. Sehingga proses belajar mengajar bisa di customize sesuai dg sikon setempat. Saya appeal ke para pakar TIK di tanah air ini agar secara bersama kita respond telework ini sesuai dg nature-nya. Gimana? Salam, Ucok (Zainal A. Hasibuan) ----Original Message---- From: [email protected] Date: 02/09/2011 10:55 To: Subj: [indonesia] TELEWORK sepuluh tahun mendatang (Tahun 2021) Kawan2 Anggota Milis Yth, Kita saat ini sudah berada pada Era Broadband, dimana untuk Fixed Broadband sudah dapat dicapai kecepatan transmisi rata-rata diatas 10 Mbps (bisa diatas 100 Mbps bila digunakan kabel serat optik), sedangkan untuk Mobile Broadband kita sudah banyak menerapkan layanan 3G dengan kecepatan transmisi puncak sebesar 14,7 Mbps (untuk satu pengguna, tetapi menurun secara proposional bila penggunanya bertambah). Namun pada kenyataannya untuk Mobile Broadband, kecepatan transmisi secara efektif masih jauh dibawah 1 Mbps, karena besarnya pengguna layanan Seluler di Indonesia, yang mencapai hampir 200-juta perangkat seluler, sedangkat pita frekwensi yang dialokasikan bagi tiap operator seluler tidak lebih besar dari 15 MHz total (3x5 MHz). Beruntung bahwa Pemerintah akhirnya membolehkan para Pemenang Tender Broadband Wireless Access (BWA) untuk memilih teknologi netral, apakah 16d (fixed) atau 16e (nomadic/mobile)., dimana mayoritasnya akan memilih 16e disebabkan oleh keunggulan teknologinya dan sudah makin murahnya perangkat terminal pelanggan (CPE). Dengan demikian dapat diharapkan bahwa Data Overload yang selama ini terjadi pada jaringan Mobile Broadband 3G dapat di Off-load ke jaringan BWA melalui kerjasama yang WIN-WIN diantara operator Seluler dan Operator BWA yang jumlahnya 5 operator tersebut. Diperkirakan dalam waktu 3-5 tahun mendatang, kecepatan transmisi untuk Mobile Broadband 4G dapat ditingkatkan menjadi 100 Mbps saat bergerak dan 1000 Mbps saat stasioner, sesuai definisi 4G menurut ITU, dimana perangkat-perangkatnya yang sudah teruji di laboratorium adalah perangkat LTE Advanced dan WiMAX 2.0 atau Standar IEEE 802.16m. Pada sebuah kesempatan pertemuan di DEPKOMINFO, penulis sempat menyarankan kepada Bapak Menkominfo agar Indonesia segera memanfaatkan Telework atau Homeworking menggunakan jaringan Broadband yang ada, dimana akan dapat dicapai peningkatan produktivitas nasional dan penghematan biaya transportasi dari/ke kantor, penghematan waktu perjalanan yang bisa mencapai 3-4 jam perjalanan tiap hari, Jawaban yang klasik baik di Indonesia maupun di banyak negara lain, adalah bahwa para Eksekutif belum bisa mempercayai apakah dengan diberlakukannya Telework para pekerja jarak jauh itu akan berkerja dengan lebih rajin dan tekun, dan bukan malah bermalas-malasan, sehingga tujuan peningkatan produktivitas itu tidak akan tercapai. Terlepas dari masih ragunya para Eksekutif ini dalam menerapkan Telework, seorang Ahli Teknologi dan Inovasi dari Perusahaan Force 3, yaitu Mr. Chris Knotts, membuat 10-ramalan tentang Telework di tahun 2021, dimana telework menjadi budaya kerja sehari-hari masyarakat, sbb: Para Operator Wireless akan meningkatkan kecepatan transmisinya menyamai Fixed Broadband, sesuai uraian kami tersebut diatas. Pengguna jaringan telekomunikasi akan selalu "Online". Tidak akan ada lagi istilah off-line, karena semua pengguna akan selalu tersambung ke jaringan. Komputer Tablet akan menggantikan PC dan Laptop, karena ukurannya yang semakin tipis dan ringan (seperti Mac Book Air dan iPad 2), serta akan dapat dilipat (Sony Tablet S). Akan muncul Smartphone yg dapat dilipat-lipad, kemudian dapat dibuka menjadi selebar sampai 50-inchi, tanpa keyboard dan hanya ada tombol on-off. Tanpa storage fisik, karena semua data ada di "Cloud" Internet. Semua software aplikasi akan disimpan di "Cloud" Internet. Semua software aplikasi akan dikemas sebagai Software as a service (SaaS) yang disewa bebasiskan penggunaannya dan tidak ada lagi paket-paket software khusus yang mahal, seperti SAP di pasang di server pelanggan. Text Messaging seperti SMS, IM, Chat, email akan tetap exist. Video 3D akan menjadi tampilan layar pada tiap perangkat, dan menjadi hal yang biasa. Akan sering dilakukan Video Conferencing diantara para pekerja Telework dari rumah masing-masing tiap saat, sehinggan memaksa mereka selalu mandi dan berdandan agar terlihat rapi dan cantik/tampan saat ada video conferencing. Sistim transmisi BlueTooth untuk menghubungkan pengguna ke earphone akan ditinggalkan, sebab banyak yang memasang perangkat penerima audio dengan menanamkannya kedalam tubuh pengguna (implant). Ini seperti anak2 muda sekarang yang suka pasang anting-anting di telinga, hidung atau bibir... Akan muncul kelompok-kelompok yang tidak ingin terus-menerus tersambung ke jaringan telekomunikasi/grid. Mereka ingin bebas dari gangguan komunikasi dan mencari ketenangan hidup. Generation Gap antara yang tua dan yang muda akan makin berjarak jauh. Yang muda makin mahir dalam mengadopsi teknologi, sedangkan yang tua akan makin sulit untuk mengejar ketertinggalannya. Silahkan ditanggapi (Trims buat pak Ardi Sutedja atas infonya) Wassalam, S Roestam http://mastel.wordpress.com
