FYI,
Mohon Izin posting moderator

------Original Message------
To: IA Itb Pusat
To: Itb Jakarta
To: Senyum Itb
To: Itb Alumni
To: Itb 84
To: IA Ar Itb
To: ar 84 itb
Subject: Dasep Ahmadi - Dari Ciemas Sampai ke Bandung
Sent: Oct 19, 2011 12:51 PM

Tak kenal maka tak sayang. Sebagian orang sudah mengenal Kang Dasep, sebagian 
lagi hanya sayup sayup saja mengenalnya, dan sebagian lagi mungkin belum 
mengenalnya. Agar kita dapat lebih mengenal beliau, berikut akan ditampilkan 
narasi tentang Kang Dasep Ahmadi Calketum IA ITB 2011-2015 secara berseri. Kali 
ini adalah perjalanan hidup beliau dari lahir hingga lulus ITB: Dari Ciemas 
sampai ke Bandung.

Silakan diforward ke milis angkatan, milis jurusan maupun milis alumni ITB 
lainnya.

Terima kasih.

*****

Dasep Ahmadi
Dari Ciemas sampai ke Bandung
Oleh: Irwan Kelana

Ir Dasep Ahmadi dilahirkan di Desa Ciemas, Kecamatan Ciemas, Kabupaten 
Sukabumi, Jawa Barat,18 Januari 1965.  Alumnus Fakultas Teknik Mesin ITB 
Bandung angkatan 1984, selesai tahun 1990 itu,  menghabiskan masa kecilnya 
hingga tamat SD  Negeri Ciemas tahun 1978  di desa kelahirannya itu. “Masa 
kecil saya di kampung halaman sangat berkesan. Saya biasa mandi di sungai, 
mencari belut di sawah dan main laying-layang bersama teman-teman,” tutur Dasep.

Tak hanya itu. Seperti bocah kampung pada umumnya, Dasep kecil juga membikin 
mobil-mobilan  dari kayu. Lalu, mobil-mobilan itu dia kembangkan dengan 
menggunakan baterei. Rupanya sudah kecil dia sudah mulai menunjukkan minatnya 
ke bidang otomotif. “Tapi waktu itu saya belum tahu mau ke mana atau mau jadi 
apa nanti. Waktu itu di kampong yang ngetop adalah orang ingin jadi dokter,” 
ujar lelaki yang menyukai olahraga tenis, badminton dan berenang itu.

Masa kecil Dasep juga akrab dengan hewan ternak. Ia sering ikut menggembalakan 
kambing. Ia juga kerap ikut berburu burung dengan menggunakan katapel. Pendek 
kata, Dasep adalah anak desa yang mencintai desa dan kehidupan desa.

Dasep lahir dari orangtua yang mempunyai profesi berbeda. Ayahnya adalah 
seorang guru SD, yang sehari-hari lebih fokus pada bidang pendidikan. “Tapi 
sepulang dari sekolah, Beliau juga kerap menambang emas untuk mencari tambahan 
penghasilan buat sekolah anak-anaknya,” ujarnya. Disamping itu beliau juga 
kerap menjadi kontraktor bangunan. 

Sedangkan ibunya adalah seorang wirausahawati. Ia menekuni beberapa bidang 
usaha sekaligus, seperti angkutan umum, berkebun, jual-beli hasil bumi, 
berjualan kelontong, hingga menambang emas. 

Sesuai namanya, Desa Ciemas, desa kelahiran Kang Dasep,  memang mengandung 
potensi emas. “Sejak zaman Belanda sampai sekarang banyak warga Desa Ciemas 
yang mencari peruntungan dengan menambang emas. Nama Ciemas sendiri diberikan 
oleh Belanda, karena desa tersebut mempunyai potensi kekayaan berupa emas,” 
Dasep mengisahkan.

Dasep menyebutkan, sejak SMP ia sudah mulai belajar hidup mandiri. Waktu itu ia 
dititipkan oleh orangtuanya di rumah kakak ibunya, yang merupakan seorang kiai, 
di kota Sukabumi. Di sana ia menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Sukabumi, 
tahun 1978-1981.

Dasep mengaku semasa SD pernah menjadi juara kelas dan ketua kelas. Namun pada 
waktu SMP ia tidak terlampau berprestasi. “Meskipun begitu, nilai Matematika 
saya waktu di SMP tertinggi di sekolah saya,” ujarnya.

Barulah pada masa SMA, tepatnya SMA Negeri 1 Sukabumi,  prestasinya mulai 
terlihat. Ia menjadi ketua kelas. Nilai Fisika dan Kimia di buku raportnya 
masing-masing 10. “Waktu itu saya mulai menyadari bahwa bakat saya di bidang 
permesinan,” tutur lelaki yang menguasai bahasa Inggris, Jepang dan Jerman itu.

Selain itu, waktu di SMA Dasep dikenal supel bergaul. Ia mudah akrab dengan  
berbagai kalangan. 

Dasep mengaku sejak SMP  sudah mulai kenal ITB. Dan ia makin sering mendengar 
nama ITB saat SMA.  “ITB adalah perguruan tinggi yang sangat prestisius,” 
tuturnya.

Saat Dasep masih bersekolah di SMA Negeri 1 Sukabumi,  kakak tertua Dasep, 
yakni Sujono, kuliah di ITB. Ia angkatan 76, Jurusan Fisika. “Beliaulah yang 
menginspirasi saya untuk kuliah di ITB. Apalagi saya memang tertarik bidang 
mesin. Jadi kloplah,” ujarnya.

Dasep mengikuti Sipenmaru, dan berhasil diterima di Jurusan Mesin ITB. “Terus 
terang, ini prestasi yang sangat membanggakan bagi saya. Apalagi pada waktu 
itu, lulusan SMA di Sukabumi yang bisa kuliah di ITB bisa dihitung dengan 
jari,” ujarnya.

Ketika mengetahui Asep diterima di ITB, orang tuanya, terutama ibunya sangat 
berbangga dan bahagia. Demikian pula guru-gurunya.

Tahun pertama kuliah di ITB, Dasep belum banyak kegiatan di luar tugas 
rutinnya, yakni  kuliah. “Saya fokus kuliah, karena khawatir DO. Saya menyadari 
bahwa saya adalah harapan orang tua, guru maupun masyarakat Sukabumi. Maka saya 
harus sungguh-sungguh kuliah di ITB dan lulus dengan sebaik mungkin,” tegasnya.

Pada saat di Tingkat Persiapan Bersama (TPB), Dasep berhasil meraih nilai A 
untuk Kimia, Matematika dan Fisika.

Ketika tingkat II, barulah Dasep mulai aktif berorganisasi, baik di bidang 
keagamaan, sosial maupun yang terkait dengan hobinya. Salah satunya adalah 
Pusat Teknologi Tepat Guna (Pustena Salman) dan Lembaga Seni Sunda (LSS).

Ia pun mulai menunjukkan prestasinya. Antara lain, pada tahun 1987 ia meraih 
Juara I Lomba Inovasi Robotika Mahasiswa Tingkat Nasional melalui karyanya 
“Prototipe Robot dengan 5 Derajat Kebebasan”. Penghargaan tersebut diserahkan 
langsung oleh Menristek BJ Habibie. Ketika itu sudah duduk di tingkat III. 
“Saya bangga sekali,” ungkapnya.

Tahun 1987 ia mendapatkan beasiswa dari Freeport Inc, melalui Engineer 
Acceleration Program ITB.

Tahun 1989, ia menyabet Juara III Lomba Karya Inovasi Mahasiswa Tingkat 
Nasional dengan karyanya yang berjudul “Kontrol Elektronik Sederhana untuk 
Peningkatan Efisiensi Pemakaian Bahan Bakar pada Kendaraan yang Menggunakan 
Bahan Bakar Bensin”.    Lomba tersebut  diadakan oleh Ditjen Dikti. Atas 
prestasinya itu, ia diwawancarai sejumlah wartawan, bahkan sempat masuk TV.

Dengan berbagai prestasinya, Dasep memilih tugas akhir membuat robot yang 
memadukan teknologi mekanik, elektronik dan software computer. Tugas akhir 
tersebut berhasil diselesaikannya dalam waktu satu tahun. Ia lulus sebagai 
sarjana teknik mesin tahun 1990.***






Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
_______________________________________________
Indonesia mailing list
[email protected]
http://nextbetter.net/mailman/listinfo/indonesia
http://indonesia.nextbetter.net

Kirim email ke