JARAK TIDAK COCOK SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF

 

Sekitar enam tahun lalu marak fenomena pencarian energi alternatif untuk
mengatasi kekurangan bahan bakar konvesional seperti minyak dan lain-lain.
Salah satu sumber energi alternatif adalah jarak pagar atau jatropha curcas.
Jarak ini dikatakan berpotensi besar dan ramah lingkungan. Benarkah
demikian?

 

Menurut Henky Widjaja mahasisa S3 di bidang agriculture beyond food atau
pertanian non pangan, dua-duanya tidak benar.

 

Lebih lanjut ia  menjelaskan, sekitar tahun 2005 ada cetak biru pemerintah
Republik Indonesia tentang energi alternatif. "Tanaman-tanaman yang
dikembangkan itu adalah ubi kayu, jagung, tebu, kelapa sawit dan tanaman
jarak, yang menjadi sumber bahan baku pembuatan bahan bakar nabati. Dan
tanaman jarak mendapat dukungan utama," katanya kepada Radio Nederland.

 

Alasan yang disebut saat itu adalah bahwa tanaman jarak sangat cocok bagi
daerah pinggiran atau marginal. "Daerah marginal, daerah yang tanahnya
tandus, itu cocok ditanami tanaman jarak," katanya menirukan ucapan para
pendukung jarak sebagai sumber energi alternatif.

 

Euforia

Bukan hanya pemerintah Indonesia yang mendukung jarak sebagai sumber
alternatif, tapi juga dunia internasional. Dukungan global masa itu menjadi
semacam euforia. Malah ada yang menyebut tananam jarak sebagai tanaman
proletar atau tanaman untuk rakyat miskin, jelas ilmuwan yang melakukan
studinya di Belanda ini.

 

Pada tahun 2006 pemerintah RI menyediakan dana khusus untuk menggalakkan
penelitian potensi tanaman jarak sebagai sumber energi nabati. Dan investasi
pun digalakkan, sehingga orang berlomba-lomba untuk terlibat. Namun Henky
meragukan motif mereka. Ia menilai mereka ikut-ikutan karena mau meraih
subsidi, bukan motif komersial yang murni.

 

"Motif komersial yang murni tidak ada. Dan lebih digerakkan oleh motif untuk
mendapat subsidi," jelasnya.

 

Henky menambahkan sebagai contoh, pernah ada investor dari Belanda  yang
menawarkan MoU di Indonesia, demi uang, bukan  untuk ditindaklanjuti.
"Karena MoU itu sendiri sudah menghasilkan uang," jelas Hengky.

 

Produktivitas

Menurut para pendukung, tanaman jarak per hektar bisa menghasilkan sampai
sembilan ton per tahun. Namun menurut Henky Widjaja, berdasarkan penelitian,
bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri, maksimal hasilnya hanya
400 kg. 

 

Ilmuwan asal Sulawesi Selatan ini juga mengkritik cara pihak-pihak terkait
menyebar informasi. Menurut dia, baik aktor internasional maupun aktor lokal
melakukan manipulasi dan eksploitasi penduduk lokal. Misalnya warga ditawari
bibit unggulan dengan harga mahal, padahal bibit unggulan untuk jarak sampai
sekarang sebenarnya tidak ada, tambahnya.

 

Selain itu jarak yang dikampanyekan juga tidak jelas jenisnya. Para petani
mengira jarak pagar yang dimaksudkan adalah jarak yang dulu pernah
digalakkan Jepang pada akhir masa penjahanan Jepang dulu.

 

Menurut Henky tidak jelas apakah jarak yang digalakkan ditanam oleh mantan
penjajah Indonesia itu jarak pagar atau jenis lain. "Apakah itu jarak pagar
atau jarak kastor," ia bertanya-tanya.

 

Tidak ramah lingkungan

Terakhir Henky menilai penanaman jarak pagar tidak ramah lingkungan sama
sekali. Untuk memenuhi sepuluh persen kebutuhan konsumsi solar di Indonesia
diperlukan berhektar-hektar lahan tanaman jarak.

 

Ini akan ada akibatnya bagi lahan produktif. Karena supaya produktif, jarak
juga harus ditanam di lahan produktif. Selain itu, tambah Henky, para petani
di daerah marginal banyak tertipu. Setelah mereka ramai-ramai meninggalkan
tradisi menanam ubi kayu untuk menggeluti tanaman jarak, beberapa tahun
kemudian, ternyata hasilnya tidak memadai. 

 

Sejak tahun 1997 Dr. Robert Manurung dari Institut Teknologi Bandung (ITB)
meneliti ektraksi minyak dari tanaman jarak. Sejak tahun 2004, penelitian
ini mendapat dukungan dari Mitsubishi Research Institute (Miri) dan New
Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dari
Jepang.

 

Menghadapi krisis BBM dan kenaikan harga BBM di Indonesia, Pemerintah mulai
menggali sumber-sumber energi alternatif. Minyak jarak ini pun mulai
mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah.

 

Peluang pasar minyak jarak ini cukup terbuka dengan munculnya pernyataan
Direktur Utama Pertamina yang menyebutkan bahwa Pertamina siap menampung
minyak jarak dari masyarakat untuk diproses lebih lanjut sebagai Biodiesel.

 

Bahkan Jepang yang terikat komitmen Protokol Kyoto bersiap-siap membeli
produk energi alternatif dari minyak jarak ini.

 

Sumber: http://www.irwantoshut.net/info_jarak.html

 

 

 

_______________________________________________
Indonesia mailing list
[email protected]
http://nextbetter.net/mailman/listinfo/indonesia
http://indonesia.nextbetter.net

Kirim email ke