---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- From: Gandhi Moehammad MARHABAN YAA RAMADHAN DEMONSTASI JALAN TERUS Serombongqn mahasiswa yang sedang pulang ke kampusnya sehabis demo bertemu dengan serombongan aparat keamanan bersenjata di Cawang atas. Panas masih membara di kepala masing-masing. Maklum habis saling bentrok di jembatan layang depan Taman Ria Senayan. Mahasiswa terus bernyanyi untuk mempertahankan semangatnya sambil mengejek aparat. Tiba-tiba aparat turun dari kendaraannya dan mengarahkan senjata apinya ke bus mahasiswa. Dor dor dor . Mahasiswa berlompatan dari dalam dan atas bis menyelamatkan diri. Yang terlambat keluar dari bis dihujani pukulan dan tembakan. Satu mahasiswi mengalami pecah kepala. Beberapa yang lain terkapar ditembaki. Semua kejadian itu di tengah kemacetan lalu-lintas dan disaksikan warga sekitar yang juga membantu menyelamatkan mahasiswa. Nyaris warga pun bentrok dengan aparat. Baik aparat dan mahasiswa masih sama-sama muda. Bedanya mahasiswa membangun sikapnya sendiri. Mereka bebas memilih sikap bagaimana yang mereka sukai. Sedang aparat tidak. Pilihan sikap cuma satu, yaitu yang ditanamkan ke kepala mereka sejak hari pertama mereka menjadi prajurit. Hari demi hari secara sistematis ditanamkan sikap kepatuhan pada atasan secara mutlak. Ditanamkan juga bahwa mereka adalah prajurit pembela negara. Saat mereka bertemu dengan mahasiswa yang kerap mengejek mereka, pandangan aparat menjadi bias atau memang sengaja dibiaskan dari atas. Kelompok mahasiswa adalah "musuh negara". Mahasiswa adalah sekelompok orang radikal yang digerakkan beberapa atau kelompok "musuh negara". Demikian pandangan aparat. Sehingga tidak heran aparat bisa sangat tega melakukan tindakan brutal. Jadi meski aparat adalah pelaku kebrutalan namun mereka juga korban permainan politik di atas. Berbeda dengan aparat, sangat kecil kemungkinannya mahasiswa dikendalikan oleh beberapa atau kelompok lain. Mungkin mereka dipengaruhi oleh pihak di luar, namuin itu lumrah dan tak terhindari. Siapa pun lumrah dipengaruhi oleh misalnya banjir kebudayaan asing di tv kita. Atau dipengaruhi oleh beraneka gagasan yang sekarang terpampang di media cetak dan elektronik. Mahasiswa adalah kelompok di masyarakat yang sangat peka dan paling reaktif dengan situasi simpang siurnya aneka gagasan dan manuver politik di media massa. Demonstrasi adalah salah satu bentuk reaksi mereka. Sehingga tidak mungkin menghimbau mereka untuk menghentikan demonstrasi sebagaimana yang dihimbau oleh Gus Dur baru-baru ini. Demonstrasi bagi mereka seperti menelan ekstasi atau narkotika untuk mengobati kegalauan pikiran mereka. Galau itu terus berkecamuk dipicu oleh misalnya tidak kunjung dicabutnya dwi fungsi ABRI, masih berkeliarannya tikus-tikus jahanam penggerogot duit rakyat, atau gagasan keblinger Rakyat Terlatih. Jadi demonstrasi akan terus berlangsung hingga negeri ini hancur atau Suharto dan gerombolannya mengalah. Bahkan pertemuan Gus Dur dengan si biang kerok, Suharto, malah akan memicu demo mahasiswa, karena langkah Gus Dur ini sangat membingungkan dan memancing kemarahan. Gus Dur boleh mengembangkan hidung ketika disebut sebagai politikus yang sudah malah melintang sedemikian lama, namun bijak kah langkah nya? Media kita sekali lagi terus dibakar oleh gagasan dan langkah politik yang kontroversial. Meski semua bermaksud untuk memberi sumbangan tentang bagaimana mengelola negeri ini. Sebagian orang mengatakan inilah ekses dari kebebasan berpendapat yang tiba-tiba menyeruak. Seolah-olah negeri ini tidak pantas mengusung kebebasan berpendapat. Seolah-olah Suharto benar ketika menetapkan kebijakan pers yang bebas dan bertanggung jawab. Padahal kekacauan yang kita alami sekarang ini adalah akibat tidak pernah dibukanya kesempatan untuk semua orang berpartisipasi mengelola negeri ini. Suharto dan gerombolannya yakin mereka lah satu-satunya yang memiliki kebenaran untuk mengelola negeri ini. Sekarang semua berlomba untuk melemparkan dan memaksakan gagasannya masing-masing. Karena sebelumnya kita memang tidak memiliki pengalaman untuk mengemukakan gagasan politik. Dimulai dengan ambruknya ekonomi, disusul dengan politik, lalu sosial, situasi ini menjadi lebih berat dibanding saat kita baru merdeka. Sekarang kita harus memperjuangkan gagasan masing-masing kepada bangsa sendiri dan mudah terjebak pada kecurigaan satu sama lain. Sayangnya belum juga muncul tokoh yang bisa merangkul semua. Harapan itu barangkali cuma mimpi di siang bolong. Karena berdialog pun kita tidak mampu. Belum ada yang menemukan cara dan siapa yang akan berdialog. Langkah Gus Dur "berdialog" dengan sang biang kerok, Suharto, malah menghasilkan tuduhan dan hujatan. Siapa yang berdialog dan apa yang didialogkan menjadi masalah baru bagi bangsa ini. Padahal mungkin kita bisa menentukan siapa yang berdialog dengan semacam survey atau referendum yang kita sepakati metodeloginya. Mungkin dalam dua minggu kita sudah mendapatkan "siapa yang akan berdialog". Jika metodologi nya benar kita bisa mendapatkan orang-orang yang paling representatif. Selanjutnya mari serahkan topik dialog pada mereka. Gandhi Moehammad http://www.angelfire.com/id/partaiamanatnasional ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:09:04 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
