---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT: TEORI & PRAKTIK PRIORITAS, DAYAGEMPUR HABIBIE: INKONSISTEN Kabinet Habibie telah mengambil keputusan untuk menempatkan prioritas utama pada stabilisasi sembako, injeksi modal (rupiah) untuk mengupayakan pemuli- han kembali roda ekonomi sambil menciptakan UU Pemilu baru yang jurdil. Habibie sudah berada di jalan yang benar pada teorinya, namun pada praktek- nya masih jaung panggang dari api sehingga sate kita tidak bisa matang matang padahal perut sudah lapar, akibatnya protes dan demo mahasiswa semakin ma- rak merebak, bisul bisul kerusuhan meledak di mana mana, krisis ekonomi dan politik sosial semakin gawat. Rekapitalisasi bank bank yang terpuruk dan yang tidak patut dibantu telah me- nyedot pinjaman IMF secara tidak perlu. Mismanajmen dan korupsi dalam dis- tribusi sembako yang tidak seharusnya terjadi dalam situasi segawat ini malah menambah buruk krisis pangan bagi ratusan juta rakyat yang melarat dan yang sudah kelaparan. Krisis kita sudah melimpah keluar dari multidimensi hampir hampir uncontrollable. Banyak yang sependapat bahwa rejim Habibie ini lemah dan lamban, seringkali pula kurang responsif dan kurang spontan karena kurang pengalamannya sebagai politikus apalagi sebagai pemimpin tertinggi. Tidak mengherankan rakyat melarat, pengangguran, kelaparan, busunglapar yang disuarakan oleh mahasiswa sudah kehilangan kesabarannya. Hal ini membuat Habibie dan seluruh rejimnya semakin nervous semakin tak mampu berpikir tenang, tajam, mendalam. Sampai kapan situasi mandeg begitu da- pat dibiarkan? Krisis kita bukan main main lagi, gawat, gawat sekali. Dana dari pinjaman IMF tidak mungkin menolong kalau tidak disalurkan kepada prioritas utama: sembako, injeksi modal lewat bank bank yang sehat, menghi- dupkan kembali L/C untuk khusus untuk impor bahan baku industri bukan untuk impor barang non esensial apalagi untuk barang mewah, untuk biaya politik luar negeri yang kurang perlu. Bank Dunia sudah menangguhkan pinjaman $l milyar, dan sewaktu waktu IMF bisa berbuat demikian kalau pinjaman pinjamannya terdahulu tidak berhasil mencapai target yang diprioritaskan. Dalam krisis yang gawat ini kabinet Habibie tidak menunjukkan kemampuan yang menonjol untuk memilih "think tank", "brain trust" dari ribuan mungkin puluhan ribu pakar atau calon pakar dari para sarjana yang ada yang seharus- nya bisa dimanfa'atkannya untuk "brainstorming" masalah masalah berat yang sedang dihadapinya dan sedang menimpa mayoritas bangsa Indonesia. Namun baik Habibie maupun para menterinya, bahkan para politisi di luar kabinetnya sibuk sekali memperjuangkan kepentingannya masing masing menjelang pemilu untuk merebut suara sebanyak banyaknya. RUU Pemilu yang baru masih dalam tanda tanya besar kejurdilannya. Gus Dur ngalor ngidul untuk merebut simpati pengikut Suharto, jangan ja- ngan mengharapkan uang hasil KKN bukan dari Suharto saja tapi juga dari semua KKN-nya yang konon berjumlah sampai 20.000 orang itu untuk dana pemilu. Sudah pasti ada "quid pro quo" (imbalan) karena tidak mungkin ada "free lunch" dalam politik apalagi dalam politik Indone- sia yang terkenal paling mata duitan itu. Kita bisa raba raba sendiri apa kiranya imbalan kepada Suharto dan KKN-nya itu? Amien Rais sudah mengecam Gus Dur, Sultan dan Megawati masih bung- kam seribu bahasa. Dengan cerdiknya Habibie menjauhi Gus Dur dalam dialog nasional dengan Suharto itu. Hendak dibawa kemanakah perjuangan para reformis dan mahasiswa yang telah mengorbankan nyawanya itu? Hatinurani politisi harus segera dicetuskan dalam hal ini agar tidak menam- bah ketegangan. Yang diperlukan sekali dewasa ini bukan dialog nasional yang malah mengikut sertakan Suharto, tapi think tank yang segar bugar baik dipihak politisi maupun di pihak pemerintah, untuk mengatasi krisis ekonomi,sosial, politik dan RUU Pemilu baru yang paling demokratis. Habibie harus membentuk tim think tank baru untuk brainstorming krisis se- telah terbukti bahwa think tanknya yang lama (CIDES, dll) sudah tidak mam- pu lagi mengejar ketinggalannya oleh perkembangan karena waktu semakin mendesak, bahkan sudah kadaluwarsa. H.S. Hidayat Supangkat New York. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Dec 1998 jam 08:21:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
