----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Dari beberapa email pembaca , saya mendapatkan
kesan bahwa mereka beranggapan  saya adalah contoh
imigran sukses yang hidupnya senang di negara angkatnya
Amerika ini. Mungkin ada salah pengertian dengan membaca
tulisan saya yg terdahulu yang menceritakan tentang betapa
saya menikmati hidup di negeri ini. Tapi sekali lagi saya harus
bilang, bahwa saya jauh dari kaya. Yang saya maksud dengan
sukses adalah keberhasilan  saya melepaskan diri dari jeratan
kehidupan miskin ditanah air. Bukan sukses menjadi Young
Urban Profesional ( Yuppie ) yang  segalanya nampak mentereng.

Sebagai informasi, saya adalah seorang pekerja yang ber income
dibawah rata rata orang sini. Tapi walaupun demikian bukan berarti
saya miskin dan kekurangan gizi. Anda boleh tanyakan pada orang
yang tinggal di Amerika, bahwa susu dan daging itu hal yang murah.
mobil dan komputer itu mudah dibeli.

Gilanya semiskin saya di Amerika, bila saya pulang, peringkat
kasta saya jauh diatas 130 juta penduduk Indonesia. Saya dengan
mudah makan di restaurant manapun tanpa berkeringat dingin
ketika bill disodorkan, saya bisa membeli baju, sepatu dan barang
elektronik tanpa berkedip.

Ironis memang, di Amerika saya masuk golongan bawah,
di tanah air sendiri  saya melesat menjadi golongan lumayan.

Untuk menjadi kaya dengan bekerja di Amerika sebenarnya
tidak begitu sulit. Asal punya tenaga kuda dan mau sepelit Yahudi,
dan yang terakhir jelas membawa tabungan kita pulang ke Indonesia.
Hasil kerja dan menabung  mati matian selama 3 tahun jelas bakalan
membuat anda mudah membeli sebuah rumah ukuran lumayan
di pinggiran kota di Indonesia. Tidak , tidak perlu ke Arab sana untuk
menjadi budak belian, dan tidak takut diperkosa majikan.
Atau di rogoh rogoh kaum luth berkafiyeh. Di Amerika hak hak anda
sebagai manusia tetap dihargai.

Jangan salah, tidak semua imigran di Amerika itu berduit.
Banyak juga yang  setelah lama tinggal disini masih  luntang
lantung bekerja dengan upah minimum ,tanpa tabungan.

Saya sendiri adalah seorang contoh imigran yang gagal
menabung. Income saya banyak dihabisi dengan jalan jalan,
Travelling menjelajahi pelosok kota dan states. Berterbangan
dan menyewa kendaraan bagai lalat dan ulat. 2 minggu lagi
misalnya saya akan terbang ke Tampa, Florida. Saya akan
menjelajahi pantai barat mampir di Orlando,menjenguk kota
Miami,St Agustine,menembus Georgia dan barangkali mampir
ke Savanah selama seminggu penuh.

Terkadang memang muncul juga pikiran buruk agar saya
bisa kaya cepat tanpa bekerja keras. Ya  dengan menyikat
credit card meniru beberapa mahasiswa Indonesia yang saya
kenal disini. Setelah mengumpulkan credit bagus, begitu
selesai sekolah mereka menggayang Visa dan Mastercard.
Irfan, menggasak 20.000 dollar sehari sebelum pulang.
si Bugi, dengar dengar menguangkan 30 ribu dollar credit cardnya.
Dan lucunya beberapa mahasiwa yang menggasak bank adalah
mahasiwa dari keluarga berduit juga.

3 tahun yang lalu saya cuma punya 2 Credit card.
Sekarang saya memiliki 7 credit card. Lima diantaranya
Platinum card.dan 14 Store Card, 3 Gasoline Card,
Bila ditotalkan jumlah uang yang bisa saya bajak mungkin
mendekati 70 ribu dollar sekarang ini.Dan bila saya mau
rajin mengumpulkan tawaran credit card yang terus menerus
berdatangan sampai sekarang ini, saya yakin bisa mengumpul
kan uang credit lebih dari 100 ribu dollar. Ya saya bisa saja
membawa kabur itu uang, pulang ke tanah air dan hidup
lumayan dengan mendepositokan uang itu dalam rupiah.

Kenapa tidak? Menyikat dollar itu gampang. Yang susah
adalah stealing is not my nature. Walaupun bukan seorang
religious saya merasa mencuri itu adalah perbuatan pengecut.
Tidak butuh untuk menjadi pintar untuk mengetahui perbuatan
mencuri itu tidak baik. Apalagi suatu waktu nanti saya bakalan
naik haji, Jelas hati nurani ini bakalan menjerit jerit ketika
menyadari  bahwa saya bisa melihat Kabbah lantaran duit
hasil copetan credit card.

Nah sekarang anda tahu bahwa menjadi kaya secara illegal
gampang di Amerika. Caranya ya kumpulan credit point
sebaik baiknya. belanja dengan credit card sering sering.
Bayar cicilan sebaik mungkin, dalam 2 tahun seonggok
tawaran dari bank bank akan berdatangan pada anda
untuk memiliki credit card tanpa annual fee dengan suku
bunga yang kompetitif. Setelah menumpuk anda tunaikan
itu kartu, atau anda beli komputer, TV dan barang barang
elektronik dan menjualnya pada mahasiwa atau imigran
Indonesia. Uangnya anda bawa kabur ketanah air. Anda
bakalan senang,belum tentu bahagia.

Trus bila pikiran itu yang nyangkut ke otak anda,
apa beda antara anda dan Suharto dan para Korup lainnya?
Apa beda antara anda dan Edi Tansil ? Ibnu Sutowo?Beddu
Amang?Nurdin? Jelas tidak ada karena,

Anda dan mereka sama sama maling.
Anda dan mereka sama sama ingin kaya cepat.
Yang berbeda cuma objek curian anda.
Mereka menyikat rupiah orang kecil di tanah air.
Anda menyikat dollar pembayar pajak di Amerika...



Hasan Basri

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Feb 1999 jam 19:51:17 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke