---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Irwansyah Syukri Assalamualaikum wr wb, rakan Aceh netters. Saya sungguh sangat setuju dengan pendapat Menkop Adi Sasono di Harian Waspada 25 Februari 1998: "Keikutsertaan Hasan Tiro dalam musyawarah kerukunan rakyat Aceh perlu dipertimbangkan secara arif dan dewasa." Janganlah terlalu emosional dengan usulan untuk mendatangkan Hasan Tiro, mengapakah kita harus terhanyut dengan arus gelora muda para mahasiswa yang sebenarnya cuma "rindu" ingin berkenalan dan berjabat tangan dengan orang yang mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai "Wali Nanggroe" Atjeh Sumatra Merdeka. Tanya rakyat Aceh, apakah mereka ada yang ikut mentasbihkan Hasan Tiro sebagai Wali Nanggroe. Tanya orang tua-tua di desa Tiro, Pidie, apakah mereka kenal dengan wajah/suara Hasan Tiro. Agaknya kebanyakan dari kita-khususnya rakyat Aceh-telah mengidolakan tokoh yang semu. Dalam hal ini sengaja saya pakai "idola" bukan "pemimpin" karena kalau pemimpin tidak akan bersembunyi dalam kemewahan sementara rakyatnya menderita tiada henti. Rakyat Timtim punya Xanana, yang rela dipenjara demi tumpah darahnya. Sedangkan rakyat Aceh bingung siapa yang akan diidolakan, kebetulan sejarah pernah mengenalkan kepada mereka sosok Hasan Tiro, jadilah ia sebagai simbol penderitaan rakyat Aceh. Sengaja tidak saya sebutkan simbol perjuangan rakyat Aceh. Mengapa?. Rakyat Timtim punya struktur organisasi yang jelas dalam perjuangan meraih kemerdekaan mereka. Meraka punya Falintil, CNRT, Fretilin dsbnya. Dan itu dipublikasikan luas diseluruh dunia, program mereka jelas, diplomasi politik mereka terbuka dan diketahui masyarakat luas baik didalam dan diluar negeri. Tapi bagi rakyat Aceh, mereka masih terkesima dengan ke-sempalan Hasan Tiro dimasa dulu, itu 45 tahun yang lalu, 1954, saat pertama kali Hasan Tiro membangkang dan mengangkat dirinya sebagai Menteri Berkuasa Penuh dan Dubes Republik Islam Indonesia untuk PBB, sampai akhirnya ia memproklamirkan berdirinya negara Aceh pada tahun 1976. Tidak banyak yang tahu bahwa pada saat itu banyak masyarakat Aceh sendiri yang tidak setuju dengan langkah Hasan Tiro. Malahan mereka menuduh Hasan Tiro sebagai pengkhianat. Ya, dia berkhianat terhadap Abu Daud Beureueh, dia mencoreng muka Abu yang telah berjanji kepada pemerintah RI bahwa Aceh adalah bagian dari RI. Saat ini usia Hasan Tiro 70 tahun, masihkah dia berambisi dengan cita-cita mudanya dimasa lalu. Tidakkah ia lebih tenang dan nyaman menikmati masa tuanya bersama keluarganya dan terhindar dari krisis seperti yang kita alami?. Lihatlah Xanana, dia berjuang bersama rakyat Timtim sebelum akhirnya dia ditangkap ABRI. Bandingkan dengan idola kita ini: Apa kontribusi Hasan Tiro untuk masyarakat Aceh, apakah dia ikut merasakan kepedihan dan luka hati kita, dimanakah dia selama ini, mengapa dia tidak pernah berbicara langsung sewaktu diwawancarai oleh mass media, apakah dia sedang sakit berat sehingga tidak mampu berkomentar?. Tidakkah kita berpikir bahwa pemerintah RI sendirilah yang membesar-besarkan Aceh Merdeka, membesar-besarkan Hasan Tiro, membesar-besarkan Robert, Ahmad Kandang dan lain-lainnya. Ah, kita terlalu cepat melupakan siapa kreator/provokator kerusuhan di Aceh Lhok Seumawe menjelang penarikan pasukan DOM baru-baru ini, juga kerusuhan-kerusuhan lainnya yang terjadi secara sistematis dan beruntun diseluruh tanah air. Dan kita, rakyat Aceh sudah termakan oleh isu pemerintah. Seolah-olah Aceh Merdeka itu sungguh eksis dan powerful, seolah-olah Hasan Tiro masih mengorganisir Gerakan Aceh Merdeka, seolah-olah Gerakan Aceh Merdeka berlimpah pendukung dan amunisi. Yang pada ujungnya itu semua akan memberikan legalitas bagi pemerintah/ABRI untuk terus bercokol di tanah Aceh. Seperti insiden yang baru-baru ini terjadi di Idi Cut maka gampang sekali, "Ada anggota GAM yang duluan meletuskan senjata!". Atau yang ini, "Ada peluru AK milik GAM tercecer di sekitar lokasi". Padahal semua orang tahu itu semua bohong besar, ribuan orang yang sudah ada di lokasi tersebut tidak pernah menemukan sebutir peluru-pun, begitu giliran Pak ABRI nongol, kok tiba-tiba ditemukan peluru. Biar saja mereka berkicau dan membusuki nurani kejujuran mereka. Lihatlah, mudah sekali bagi ABRI untuk mencari pembenaran atas dirinya sendiri. Jadi tidak sia-sia mereka membesarkan GAM, Hasan Tiro dan yang lain-lainnya. Jadi ide untuk mendatangkan Hasan Tiro untuk hadir di Musyawarah Kerukunan Masyarakat Aceh adalah sama sekali ide yang mubazir/sia-sia, istilahnya "Jak beuoh-beuoh peng" (buang duit percuma). Lagipun apalagi yang akan dimusyawarahkan dengan pemerintah (lagi-lagi "Jak beuoh-beuoh peng), tuntutan kita sudah jelas: ADILI MAKHLUK-MAKHLUK YANG MEMBUNUHI, MEMPERKOSA, MENYIKSA, MENJARAH RAKYAT ACEH SELAMA DOM BERLANGSUNG, LALU PERIMBANGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH. Itulah tuntutan utama dan paling mendasar dari rakyat Aceh. Sungguh saya geli dan tak habis pikir, apalagi yang kelak akan dibicarakan dalam munyawarah-musyawarahan itu. Apakah data temuan dari Komnas HAM yang berkunjung ke Aceh itu belum cukup, apakah data dari LSM-LSM yang ada di Aceh juga tak layak pakai, apakah temuan-temuan TPF-TPF daerah cuma jadi penghuni tong sampah?. Sudah berapa dana/tenaga yang dikeluarkan untuk itu semua?. Ha..ha..ha......., dan kini dilanjutkan lagi dengan musyawarah-musyawarahan ala pemerintah. Benar-benar pemerintah pandai menina-bobokkan rakyat Aceh. Dan nyatanya rakyat Aceh yang dimotori oleh orang-orang yang intelek cendekia ikut terbobok, mumpung dapat popularitas langsung saja mereka menyatakan rakyat Aceh minta referendum, rakyat Aceh minta agar pemerintah mengundang Hasan Tiro, rakyat Aceh minta dibuatkan "mainan" MKMA. Sebenarnya rakyat Aceh yang mana yang mereka suarakan?. Tidakkah itu semua nantinya justru akan menimbulkan friksi-friksi baru?. Selesaikan dulu masalahnya satu persatu dengan cara menekan pemerintah agar melaksanakan butir-butir tuntutan rakyat Aceh, jangan mau di ulur-ulur begini dan begitu. Yang dimaui rakyat Aceh adalah: SEMBUHKAN HATI MEREKA DARI TRAUMA DOM. Santuni para janda dan yatim korban DOM, dan jangan lupa pengadilan/hukuman untuk makhluk pelaksana DOM. Jelas dan simpel bukan, lalu mengapa harus diper-rumit-kan kelok sana, kelok sini?. Kasihan yang bingung rakyat juga, sementara mereka asyik bermusyawarah di hotel mewah sambil minum kopi susu. (Kopi susu kini menjadi minuman super mewah bagi yatim korban DOM). Jangan undang Hasan Tiro, karena-percayalah-dia tidak akan memberikan kontribusi yang berarti bagi rakyat Aceh. Apa yang rakyat Aceh tuntut sudah jelas tanpa perlu "menyeret-nyeret" Hasan Tiro untuk terlibat. Entah apa urusan dia dengan rakyat Aceh. Gobnyan disideh tanyoe disinoe, peu pasai jinoe ta meuhoi gobnyan, hana meupeu urosan droe neuh wahai Abu, neu jak eh eh bak kasho mantong keudeh leh. Sekian. Triadia ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Feb 1999 jam 03:51:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
