----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

SERUAN PRD
No.01/Februari 1999
--------------------

Pemilu Bulan Juni Sudah Pasti Tidak  Jurdil !

Pemilu adalah ukuran sebuah bangunan demokrasi  sudah ditegakan atau sedang
dilecehkan dalam sebuah negara modern. Rejim Orde Baru dibawah kediktaktoran
Suharto sudah membunuh demokrasi dengan cara merekayasa pemilu yang curang
dan
hanya melegitimasi kekuasaan kediktatorannya. Sekarang, dimasa transisi dari
kediktatoran menuju demokrasi yang sejati, warisan struktur politik dan
pendukung rejim
Suharto yang dipimpin oleh pemerintahan Habibie sedang mempunyai hajat
nasional
memaksakan pemilu di bulan Juni nanti.  PRD sudah sejak awal menyatakan
bahwa
pemilu tersebut sudah jauh dari jujur dan adil sejak awal perencanaannya.
Ada beberapa
persyaratan untuk menjamin sebuah pemilu yang jurdil dapat diselenggarakan.

        Pertama, Seharusnya pemilu yang demokratis dan jurdil
diselenggarakan oleh
Pemerintahan Sementara. Sejak semula rakyat dengan dipelopori oleh mahasiswa
menolak pengalihan kekuasaan dari presiden Soeharto kepada Habibie. Rakyat
menilai
Habibie merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari struktur
kekuasaan lama yang
diktatorial sehingga menerima Habibie sebagai presiden bukanlah perubahan
yang
diinginkan oleh rakyat. Lebih-lebih lagi, sepanjang Habibie mengambil-alih
jabatan
presiden telah terjadi pembantaian terhadap rakyat secara besar-besaran di
berbagai kota
melalaui serangkaian kerusuhan dan teror. Tentu saja kejadian-kejadian ini
semakin
memberikan bukti bahwa rejim Habibie tidak mampu mengendalikan keadaan yang
kacau dan delegitimated.
        Kedua, Seharusnya pemilu yang demokratis dan jurdil ditandai dengan
dihapuskannya Dwifungsi ABRI. Sepanjang sejarah Orde Baru, Dwifungsi ABRI
telah
menjadi sumber legitimasi yang digunakan oleh penguasa saat itu secara
sistematis untuk
melakukan teror, represi, dan penindasan terhadap lawan-lawan politiknya.
Semua
Tapol/Napol yang sudah dibebaskan maupun yang masih berada di penjara
merupakan
korban langsung dari adanya Dwifungsi ABRI. Begitu juga dengan
diberlakukannya
Daerah Operasi Militer terhadap rakyat Maubere, Aceh dan Papua Barat yang
telah
memakan korban ribuan rakyat tak berdosa.
Ketiga, Seharusnya pemilu yang demokratis dan jurdil didasarkan pada undang-
undang yang diputuskan secara demokratis. UU Pemilu yang menjadi landasan
diselenggarakannya Pemilu 1999 dibuat dan disahkan oleh lembaga legislatif
dan
eksekutif yang merupakan warisan rejim kediktaktoran Suharto yang tidak
diakui oleh
rakyat legitimasi dan fungsi politiknya. Partai politik-partai politik yang
berdiri pada
masa reformasi sama sekali tidak diberikan tempat untuk ikut berpartisipasi
dalam
merumuskan dan memutuskan UU Pemilu tersebut. Selain tidak terbuka terhadap
partai
politik, proses penyusunan UU Pemilu itu juga menutup peluang partisipasi
aktif dari
elemen-elemen demokrasi seperti organisasi mahasiswa, serikat buruh, dll.
Polemik yang
terjadi hanyalah sekitar anggota DPR/MPR bukan berkembang secara luas dan
konstruktif di tengah-tengah masayarakat.
        Keempat, Seharusnya pemilu yang demokratis dan jurdil didasarkan
pada
undang-undang yang isinya tidak bertentangan dengan asas-asas demokrasi.
Jika kita
menilik isi dari UU Pemilu yang telah disahkan itu maka akan dapat
disimpulkan bahwa
undang-undang tersebut masih jauh dari demokratis. Yang paling memalukan
adalah
ABRI masih mendapat hak istimewa dengan pengangkatan 38 kursi untuk duduk
di DPR
tanpa harus melalui proses pemilihan oleh rakyat. Pengangkatan ini telah
membuktikan
bahwa militer berupaya untuk mempertahankan kepentingan politiknya meski
harus
memperkosa parlemen sekalipun. Syarat-syarat untuk mengikuti pemilu masih
diskriminatif dan membatasi partisipasi luas semua partai politik untuk
ikut serta dalam
pemilu nanti. Penyelenggara pemilu juga masih memberikan wewenang yang luas
dari
eksekutif, yang mewarisi rejim lama untuk menjadi penyelengara pemilu.
        Kelima, Seharusnya pemilu yang demokratis dan jurdil mensyaratkan
dibebaskannya seluruh Tapol/Napol tanpa syarat. Kenyataannya, rejim masih
bersikukuh
dengan keputusannya untuk tetap tidak membebaskan seluruh tapol/napol
bahkan dengan
alasan kemanusiaan sekalipun. Pembebasan Tapol/Napol beberapa waktu yang
lalu lebih
merupakan proyek diplomasi belaka ketimbang sebagai upaya menegakkan
demokrasi
secara sungguh-sungguh. Hal ini menjadi kontradiktif jika PRD menjadi
peserta pemilu
sementara jajaran pimpinan pusatnya masih dipenjarakan oleh rejim Habibie.
Budiman
Sudjatmiko dkk harus dibebaskan tanpa syarat jika rejim Habibie
menginginkan PRD
terlibat aktif dalam pemilu nanti.
Keenam, Seharusnya pemilu yang demokratis dan jurdil diselenggarakan bukan
pada saat rakyat sedang dihimpit penderitaan dan kesusahan. Menjadi sangat
kontradiktif,
penyelenggaraan pemilu yang menghabiskan dana sangat besar sementara
rakyatnya
sangat sulit membeli bahan kebutuhan pokok. Berjuta-juta dollar dikeluarkan
"hanya"
untuk pembiyaan pemantauan pemilu sementara rakyat menganggur dan kekurangan
makan. Jika yang terjadi demikian maka besar kemungkinan terjadinya money
politics
ataupun politik adu domba diantara rakyat sendiri demi memenangkan salah
satu peserta
pemilu.

Bila syarat-syarat seperti diatas tidak terpenuhi maka seluruh lembaga
pengawas pemilu
yang ada  harus secara jujur berani menyatakan bahwa sejak awal pemilu
sudah tidak
jurdil. Jangan sampai pengawasan hanya akan melegitimasi pemilu yang
diselenggarakan
oleh rejim Habibie yang mewarisi kepentingan rejim lama yang anti
demokrasi. Rakyat
harus diingatkan dari sekarang, bila dari proses perencanaan awal sudah
tidak
jurdil, apakah mungkin pemilu nanti akan jurdil? Silakan rakyat yang menilai
sendiri!

------------------------------------------------------------
Salam hormat setinggi-tingginya kepada para Pahlawan Reformasi
yang gugur di pangkuan rakyat tertindas
dan kawan-kawan seperjuangan yang hilang diculik oleh militer :
Penjara tak membuat Kau jera,
Penculik tak membuat Kau panik,
Peluru tak membuat Kau ragu,
Perjuanganmu dengan militansi tanpa batas...!
-------------------------------------------------------------

PEMBEBASAN
Diterbitkan oleh : Partai Rakyat Demokratik (PRD)
Jl. Utan Kayu No.17 A, Jakarta Timur

E-mail : [EMAIL PROTECTED]
Web-page : http://www.pegasus.com.au/~prdint1

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Mar 1999 jam 09:11:15 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke