----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: d maruto
Adili Radinal dan kembalikan harta jarahan kepada Negara.

Biang keladi KKN sudah turun tahta, namun tugas untuk mengadakan
reformasi di segala bidang belumlah selesai tugas itu masih sangat
panjang. Barangkali parahnya penyakit yang telah ditimbulkan sangat
sulit untuk disembuhkan. Namun tentunya kita harus terus berusaha
sekuatnya agar praktek KKN hilang atau paling tidak bisa diredam sekecil
mungkin, kalau memang hal ini sudah tidak mungkin dihilangkan akibat
sudah masuk ke dalam darah dan daging pejabat dan sekelompok orang yang
dekat dengan kekuasaan.
Mungkin luput dari perhatian para netter, dimana selama 2 periode lalu
dalam Kabinet ke 5 dan 6, Soeharto dibantu oleh seorang Menteri di
Departemen Pekerjaan Umum Ir. Radinal Mochtar. Departemen ini merupakan
departemen yang paling basah dan sumber KKN. Selama menjabat selama 10
tahun tersebut berapa banyak uang rakyat yang di selewengkan dengan
berbagai cara dan jalan melalui cara dan teknik yang canggih, dan
prosedur yang mengandalkan kekuasaan.
Tahukah anda dibawah kepemimpinan Radinal Mochtar, Tutut dapat dengan
mudah menumpuh uang melalui pembangunan jalan Tol. Bayangkan BUMN Jasa
Marga yang didirikan tahun 1978 dan telah berpengalaman membuat jalan
Jagorawi. Kemudian diteruskan jalan Tol Cawang Grogol dan di kota lain
seperti Bandung, dan tentunya kemampuannya sangat andal dalam bidang
ini. Namun Kenapa Tol Cawang Tanjung Priok harus diserahkan ke Tutut ?.
dan lucunya lagi bagi hasil pendapatannya sangat tidak fair. Jasa Marga
yang menguasai operasi Cawang Grogol (ini merupakan jalur yang paling
padat lalu lintasnya) beberapa tahun ini harus menyerahkan pendapatannya
sebesar 75% ke Citra Marga. Sebaliknya Citra marga menyerahkan 75%
operasinya di Cawang Tanjung Priok ke Jasa Marga. Adilkah ini?. Bahkan
Kompas 27 Mei 1997 menulis bagaimana surat saktinya mampu menembus PDAM
untuk bekerja sama dengan Sigit Suharto. Barangkali itulah sebabnya
Radinal bisa jadi menteri dua periode, karena memang sangat
menguntungkan keluarga cendana.
Bagi Radinal tidak masalah menguntungkan keluarga Cendana asal
keluarganya juga kebagian. Mulai dari kakak ipar, adik ipar, dan
terutama anak-anaknya semua berbisnis dilingkungan Departemen PU. Kalau
dihitung kasar barangkali lebih dari Rp 3 trilyun berhasil mereka jarah.
Sedikit dibeberkan disini bisnis anak-anaknya yang telah mampu meraup
uang rakyat dengan mudah.

- Renny Nurkomaria Radinal, anak pertamanya mempunyai perusahaan
kontruksi Aji Baraga Utama, dengan mudah mendapatkan kontrak kerja di
Bidang Binamarga seperti pengaspalan  jalan, pelebaran Jalan tol dll.
Namun perusahaan ini sebetulnya tidak mempunyai kemampuan teknis dalam
rekayasa, apa yang dia lakukan adalah sekedar meng'goal'kan proyek
setelah itu di sub kontrakkan dan terima uang bersih dengan mudah tanpa
capek kerja. Inilah makanya kualitas jalan dari Sabang sampai Merauke
tidak pernah sesuai mutu yang disyaratkan. Bahkan akhir tahun lalu putri
pertama ini digugat oleh kontraktor daerah di Ujung Pandang. (lihat
Gatra 13 September 1997). Diapun pernah dapat proyek pelebaran jalan Tol
Kebon Jeruk Tomang, namun pelaksanaannya di sub kontrakkan ke kontraktor
lain, dengan serta merta minimal Rp 2 Milyar masuk kantong. Enak kan..?
Saat ini ia terlibat pembangunan lain seperti jalan tol di atas kali
malang dan masih banyak lagi yang lain seperti dalam kota Bandung,
Surabaya dll.

- Rafiq Hakim Radinal, Rashid Hanif Radinal, dan Rina Handayani Radinal
ini merupakan anak kedua, ketiga dan keempat bergabung bersama paman
dari bunya dibawah bendera Arthayasa Group. Sama seperti perusahaan
kakak mereka perusahaan ini hanya merupakan "broker" proyek dilingkungan
Departemen PU pengaspalan jalan mulai Bagian Barat Indonesia hingga
Timur adalah kekuasaan mereka, bagaimana mungkin pimpinan proyek berani
menolak permintaan mereka. Namun sama mereka hanya mendapatkan proyeknya
dan dikerjakan kontraktor lain. Jangan heran kalau mutu jalanan seperti
itu, bagaimana kontraktor daerah bisa untung wong uang proyeknya sudah
disunat sana sini. Paling banter uang untuk pembangunan itu cuma 40%
dari nilainya. Dari hasil menjadi broker tersebut dalam waktu singkat
mereka mampu mempunyai Arthayasa Stable, yaitu ranch untuk pacuan kuda
di desa Limo sawangan, konon kabarnya ini yang terbaik di Asia Tenggara.

- Rida Radinal, putri bungsu mantan menteri PU inipun terjun dan
terlibat di proyek Pekerjaan Umum, dan menganut pola yang sama yaitu
bagaimana bisa mengeruk uang Departemen yang notabene uang rakyat dengan
cepat dan mudah.

Berapa banyak tepatnya uang yang telah mereka kumpulkan, hanya mereka
yang tahu persis, namun jelas ini merupakan bentuk Nepotisme yang harus
di berantas tuntas dari bumi Indonesia. Bagaimana sebuah keluarga dapat
dengan mudah dan cepat mengumpulkan uang dengan memanfaatkan kekuasaan
yang  seharusnya dipakai untuk mensejahterakan rakyat ternyata hanya
untuk lingkungan keluarga dan kerabatnya saja.
Ayo kita rame-rame menuntut mantan menteri terkaya di Indonesia ini
untuk mengembalikan hasil jarahannya kepada negara dan kalau perlu adili
mereka untuk memberikan contoh agar para pejabat tidak berbuat
semena-mena.
Saya akan sambung hasil penelitian lainnya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 10:22:18 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke