----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: Hotland Hutajulu

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) terancam pecah setelah lima
orang polisi (tiga diantaranya perwira) menembak mati warga yang sedang
sholat subuh di-rumah ibadah (mushola) di-Ahuru, Ambon, Senin (1/3) pukul
05.00 WIT dalam suatu penyerbuan yang dilakukan bersama ratusan massa
Kristen. Tokoh ulama Maluku HM Yusuf Ely menilai penembakan warga sipil oleh
anggota POLRI itu sebagai tindakan keberpihakan aparat dalam mengatasi
kerusuhan Ambon yang jadi berlarut-larut.  Tampaknya massa dan beberapa
oknum polisi/tentara kristen sudah mulai frustasi,jengkel,mangkel dan gelap
mata karena perlawanan dari fihak muslim seakan tidak pernah surut.  Di-mata
orang kristen ambon sudah mulai terbayang bahwa apa yang direncanakan dan
dipersiapkan secara matang walaupun telah mengorbankan nyawa keluarga mereka
ternyata gagal total, apalagi satu batalyon marinir akan segera masuk ambon.
Siapa menanam angin harus siap siap memanen badai.

Kecurigaan warga sipil yang bertikai bahwa aparat keamanan berpihak
mula-mula disuarakan para tokoh agama dan tetua adat beragama Kristen
menyusul insiden di
Desa Waimital pada pertengahan Pebruari 1999 lalu. Pada insiden tersebut
pasukan Kostrad untuk menguasai keadaan terpaksa menembak beberapa warga
desa Waimital yang tidak bisa dikendalikan.

Indikasi telah muncul bibit-bibit perpecahan di tubuh kesatuan-kesatuan
ABRI itu semakin tampak ketika terjadi penyerangan massa desa Kudamati yang
dikenal sebagai sarang preman Ambon Kristen ke Asrama Tentara Kelurahan OSM,
Senin (1/3) malam sekitar pukul 22.00 WIT, sejumlah saksi mata menyebutkan
beberapa oknum militer dan polisi setempat turut bersama warga menyerbu
Asrama Tentara Kelurahan OSM.

"Anggota militer dan polisi yang ikut bersama warga sipil penyerbu itu
adalah mereka yang ingin balas dendam atas tewasnya anggota keluarga mereka
selama kerusuhan ini," ucap Sapulete, seorang tetua adat.

Akibat penembakan warga sipil di dusun Ahuru, Forum Silaturahmi Ulama dan
Pengasuh Pondok Pesantren Indonesia (Fosuppi) melalui ketuanya KH Hasib
Wahab Chasbullah dan Sekretaris umum KH Hamdan Rasyid menuntut
Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto untuk mengundurkan diri dari
jabatannya, jika memang aparat keamanan dinilai tidak mampu menyelesaikan
dengan segera kerusuhan di bebarapa daerah, termasuk di Ambon.

Terhadap indikasi adanya perpecahan di antara pasukan ABRI yang mengamankan
kerusuhan Ambon, Kapuspen ABRI Mayjen Syamsul Ma'arif membantah hal itu.
"Kita masih kompak kok. Siapa bilang pecah," katanya menjawab pertanyaan
para wartawan

Hati-hati terhadap disinformasi SiaR !

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 10:24:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke