----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Onze Wereld Juli/Agustus 1998
No. 7/8, hal.8-12
terjemahan: Harsono-Darmini
_____________________________


                      Willy van Rooijen:

                     Ziarah Ke Pulau Buru
            Eks-Tapol Meninjau Kamp Tawanan Suharto
                      (sebuah reportase)

'Mengapa  aku  gelisah? Aku toh sudah pernah di ambang  maut?'
Hersri  Setiawan,  penyair berasal Jawa, bertahun-tahun  hidup
sebagai  tapol  di Buru di Kepulauan Maluku. Dua  puluh  tahun
sesudah  bebas,  sekarang tinggal di Belanda,  ia  kembali  ke
Buru.   'Aku   ingin  melihat  lahan  sawah  yang   aku   ikut
mencetaknya.  Ziarah ke makam kawanku yang  mencoba  melarikan
diri dari kamp.'

Willy van Rooijen mengikuti perjalanan ziarah itu.

      RUANGAN sempit KM 'Kerapu', kapal malam antara Ambon dan
Buru  di  perairan  Maluku, penuh penumpang. Keluarga  lengkap
dengan  segala harta milik mereka, masing-masing di atas  alas
tidur  plastik  merah  yang ratusan  banyaknya.  Bau  keringat
bercampur dengan minyak kapal dan pesingnya WC menusuk hidung.
      'Ini  sama sekali lain dari perjalanan lautku dua  puluh
tahun  lalu',  kata Hersri. 'Tujuh hari tujuh  malam  di  atas
kapal  barang  dari Jakarta ke Buru dengan 1500  tapol.  Dalam
satu  dua hari saja WC sudah mampat, dan tinja meluap ke mana-
mana.'

      Menyusul  sesudah  Suharto berkuasa  dalam  tahun  1965,
terjadilah pengejaran besar-besaran terhadap semua orang  yang
dipandang kiri. Sekurang-kurangnya setengah juta mati dibunuh,
khususnya di Jawa dan Bali; ratusan ribu lainnya meringkuk  di
belakang trali penjara. Hersri ketika itu anggota Lekra,  satu
organisasi  kebudayaan berhaluan kiri. Lima tahun  ia  di  Sri
Langka,  sebagai wakil untuk organisasi pengarang Asia Afrika.
Kembali ke Jawa Agustus 1965 ia ditangkap, dan dijebloskan  ke
penjara  karena  pendiriannya yang 'bersimpati pada  Komunis'.
Mula-mula dipenjara di Jakarta, dan sejak 1971 dideportasi  ke
Pulau Buru.

      Sepanjang  sepuluh tahun lamanya, 1969-1979, Pulau  Buru
menjadi  tempat  pembuangan yang mengerikan bagi  lebih  12000
tapol. Rezim Orde Baru berusaha menjadikan Buru sebagai  pulau
pembuangan  selama-lamanya. Tapi berkat tekanan  terus-menerus
Amnesti  Internasional dan organisasi-organisasi  pembela  HAM
lainnya, hampir semua tapol buangan di sana, dalam akhir 1970-
an dibebaskan. Begitu pun halnya dengan nasib Hersri.
      Ia  kembali  ke  Jawa yang dicintainya,  menikah  dengan
seorang  perempuan  Belanda dan, dengan membawa  seorang  anak
perempuan,  pada  sekitar pertengahan tahun  80-an  pindah  ke
Belanda. Di negerinya ini istrinya meninggal tak lama  sesudah
itu.
      'Sekarang  aku sudah 62 tahun. Aku tidak ingin  menunggu
lebih  lama  lagi. Seorang teman paranormal di  Jakarta,  juga
bekas  tapol,  memang  memperingatkan. 'Belum  datang  waktumu
untuk  pulang',  katanya. Kupikir ia masih di  bawah  bayangan
rasa takut yang tak disadarinya. Kata 'Buru' masih menimbulkan
perasaan  kengerian. Ini juga disebabkan karena  sampai  akhir
tahun  80-an - berarti sepuluh tahun sesudah pembebasan  tapol
terakhir  -  Buru  masih tetap tertutup bagi orang  dari  luar
pulau ini.'

Jangkrik di telinga

Dengan  'harga khusus' kami dapat menyewa kamar mualim  kapal.
Tapi  Hersri tidak bisa tidur. Bukan karena udara yang terlalu
panas,  atau  kokok  ayam-ayam  jantan  yang  bersahut-sahutan
terus.  Musik pop yang diputar keras di 'kafetaria'  juga  tak
didengarnya.  Telinga kirinya sama sekali tuli, karena  pernah
dimasuki jangkrik oleh tonwal ketika di Buru. Ia harus menebus
dosa temannya yang melarikan diri dari kamp.
      'Berbagai kenangan dan perasaan campur aduk di kepalaku.
Dulu  ketika  di  kapal  sebagai budak, kami  dijaga  tentara.
Sekarang aku merasa aneh. Lain dari penumpang-penumpang  lain.
Aku  bekas  tapol. Siapa tahu, ada juga intel di  antara  awak
kapal  itu.  Baru saja seorang penumpang menanyai  aku:  siapa
kamu, apa kerjamu, punya istri atau tidak.'
      'Tapi Hersri, sebagai orang asing, mendengar rasa  ingin
tahu orang, kau toh sudah biasa?'
      'Ah, aku selalu siap menghadapi apa saja dari sudut yang
paling  sulit'.  Kata  Hersri  tertawa,  membuang  rasa  takut
sendiri. 'Itu aku belajar dari kehidupan di penjara. Tapi  aku
tidak  boleh  melarikan  diri dari rasa  takut.  Karena  kalau
perasaan  demikian tetap mengeram di bawah sadar, justru  bisa
menjadi beban psikis. Sekarang aku ke sini untuk bertemu teman-
teman  lamaku,  yang  sesudah  dibebaskan  tahun  1979,  tetap
tinggal  di  Buru  menjadi petani. Ingin aku  melihat  kembali
lahan sawah dan jalan-jalan yang dengan kerja paksa telah kami
buka.  Melihat  barak tempat aku pernah disiksa,  ketika  Heru
temanku  mencoba  melarikan  diri. Katakanlah  ini  perjalanan
ziarah.  Tidak  ke Mekah, tapi ke pulau simbol perbudakan.  Ke
tempat penyucian untuk membersihkan diri. Ibarat belajar  dari
segala gambaran melalui cermin balik'.

       Matahari  masih  belum  terbit  ketika  Hersri  bangun.
Wajahnya menatap ke kejauhan, ke garis pantai Pulau Buru  yang
mulai  tampak.  Pulau  ini  satu  setengah  kali  lebih  besar
daripada Bali. Tapi sampai saat akhir-akhir, Buru masih sangat
terisolasi.  Berpenduduk jarang, karena hanya sekitar  seratus
ribu  orang  saja. Penduduk pribumi tinggal di pedalaman  yang
berbukit-bukit,  sedangkan  daerah  sepanjang  pantai   dihuni
pendatang dari Ambon, Bugis, Buton dan pulau-pulau sekitar.
      Sesudah tapol dibebaskan, lahan dan kediaman mereka yang
bekas  sabana  dan hutan itu, diambil alih oleh  puluhan  ribu
transmigran 'biasa' dari Jawa yang padat penduduk. Mereka tiba
di  tempat  yang sudah cukup memberi jaminan: bentangan  lahan
sawah  dan  ladang, jaringan jalan dan prasarana lain-lainnya,
semua  sudah  tersedia oleh sepuluh tahun keringat  kerjapaksa
dua belas ribu tapol.
      KM Kerapu mengitari tanjung dan masuk Teluk Kayeli 'yang
luas  dan  indah, seperti pelabuhan armada yang sudah berabad-
abad   ditinggalkan',   sebagaimana   Pramudya   Ananta   Toer
melukiskannya dalam 'Nyanyi Sunyi Seorang Bisu' itu.
      'Taksi!' Sapa seorang muda berambut cepak pada  kami  di
dermaga.  Sopir  benar,  atau intel? Tanya  Hersri  pada  diri
sendiri  sepanjang jalan. Apakah tidak akan langsung membawaku
ke  Jiku Kecil, bekas Markas Komando dan barak transito  tapol
dulu?
     'Kenapa aku takut?' Pikirnya. 'Aku toh mengantongi paspor
Belanda?  Dan sudah mengalami segala, bahkan berada di  ambang
maut?'

Cawat dan tombak

Mikrobus  memasuki  jalan utama di antara sederetan  toko-toko
Tionghwa. 'Ikutilah kursus komputer kita!' Terbaca di  spanduk
yang  baru  direntang melintang jalan. Hersri  terheran-heran.
'Luar  biasa, semuanya berubah sudah! Ketika aku datang  tahun
71,  selain jip Komandan tidak ada mobil atau becak satu  pun.
Yang  nampak  hanya  atap-atap daun  sagu  dan  sedikit  seng.
Penduduk  pedalaman  Buru  dulu berjalan  hanya  bercawat  dan
bertombak.  Bibir mereka merah karena pinang dan  sirih.  Aneh
juga rasanya. Tidak ada satu tentara pun tampak di jalan!'
     Semua berubah. Hanya panas terik luar biasa udaranya yang
tetap sama saja.

      Kami  tinggal di hotel milik orang Tionghwa.  Kecil  dan
baru,  terletak di pinggir pantai. Terlepas dari sampah-sampah
yang  menyelimuti  pasir di tepi pantai, kami  bisa  menikmati
pemandangan  Teluk  Kayeli yang indah, di  mana  perahu-perahu
nelayan berlabuh.
      Hersri:  'Di pelabuhan lama dekat mesjid sana itu,  dulu
tempat  kami  jongkok sepanjang hari di bawah  sengatan  panas
matahari.  Dengan  sembunyi-sembunyi  penduduk  memberi   kami
makanan  dan  minuman, walaupun propaganda pemerintah  menamai
kami para pembunuh dari Jawa. Di seberang sana itulah terletak
desa  Sanleko.'  Katanya diam-diam merenung.  'Dari  pelabuhan
nelayan  itu  kami  sepanjang hari, dengan menggendong  bawaan
masing-masing,  berjalan  kaki ke  pedalaman  menuju  bangunan
barak-barak  di  unit.  Berjalan  dengan  kaki  telanjang  dan
telapak  yang belum kapalan, menginjak tunas-tunas alang-alang
yang tajam menusuk seperti paku.'

      'Unit! Unit! Teriak sopir-sopir Daihatsu, yang bertrayek
dari  pasar ikan Namlea ke daerah sabana di pedalaman.  'Mako!
Mako!
      Dua  kata itu, 'Unit' dan 'Mako', adalah istilah-istilah
lama  yang tetap lazim digunakan sesudah selang dua dasawarsa.
Begitulah!  Walaupun dua puluh unit barak-barak yang  tersebar
di  sana-sini  di  seluruh lembah Wai  Apu  itu  sudah  diubah
menjadi  'desa biasa' dengan penghuni yang transmigran 'biasa'
pula.
      Tujuan kami pertama ialah Savanajaya. Di sini sejak awal
tahun 70-an didiami sekitar dua ratus tapol yang, sering  kali
melalui  'paksaan halus', telah disusul keluarga mereka.  Pada
akhir  tahun  70-an sebagian besar dari dua belas  ribu  tapol
pulang kembali ke tempat asal masing-masing. Tapi ada sebagian
kecil  yang  tetap  tinggal di sana. Terkadang  karena  alasan
pribadi,  misalnya  karena istri telah kawin  lagi.  Terkadang
karena  menyerah  pada tekanan pemerintah, yang  menggambarkan
hari  depan  di  rumah semula yang tak lagi  menentu.  Sebagai
imbalan  kesediaan mereka tetap tinggal di sana, masing-masing
keluarga tapol mendapat sebuah rumah dan tanah dua hektar.
      Di  antara  keluarga itu yang pertama  kita  cari  ialah
keluarga  suami-istri Purwadi. Bagiku kunjungan ini  merupakan
yang  kedua  kali  dalam lima tahun. Ketika  itu  aku  membawa
titipan surat Hersri untuknya.
      Hersri: 'Bagi kami rumah mereka di Savanajaya ketika itu
menjadi  semacam  pos perhentian ilegal pada saat  korve.  Ibu
Purwadi selalu menghidangi kami dengan minum dan makan.'

Buku sebagai azimat

Kami  mendaki  pegunungan karang di atas kota  Namlea,  menuju
kampung  Batuboi. Dulu, sebelum perang, di sini Beb  Vuyk  dan
suaminya   mempunyai  konsesi  kebun  kayuputih.   Roman-roman
karyanya,  Het laatste huis van de wereld (Rumah  terakhir  di
dunia) dan Het hout van Bara (Kayu dari Bara), aku rawat baik-
baik  bagaikan azimat. Dengan begitu kalau ada pertanyaan yang
macam-macam  tentang  kehadiranku di  sini,  aku  selalu  bisa
menjawab untuk meriset penulis perempuan Indo ini.
      Tanah  di  sana-sini kelihatan hitam hangus, dan  pohon-
pohon   bertunas  hijau  segar  sehabis  mengalami  pembakaran
peremajaan.  Hersri  tenggelam  dalam  pemandangan  yang  sama
sekali tak menarik itu.
      'Di  sana  itu  gunung  Nona,'  kata  seorang  penumpang
bertubuh kurus dan berwajah hitam keras. Ia baru kembali  dari
pasar  Namlea  menjual gula merah. Ternyata ia  orang  berasal
Yogya, seperti juga Hersri.
     'Sudah berapa lama Bapak di sini?" Tanyanya.
     'Sejak 1969!'
     'Begitu lama sudah?'
      'Ya,  ya.  Saya transmigran khusus.' Kata laki-laki  itu
menahan tawa.
     Hersri menyenggol aku dengan penuh arti.

      Satu  jam  kemudian  kami turun di  jantung  Savanajaya.
Purwadi  menyilakan  kami mampir ke rumahnya  yang  berdinding
papan   bercat  putih.  Seorang  perempuan  kurus  mengulurkan
salamnya kepada kami.
     'Bu Purwadi!' Seru Hersri.
      Kebingunganku menjadi lenyap, karena seketika aku  ingat
laki-laki  itulah  Purwadi. Suami perempuan  ini.  Semula  aku
pangling. Tapi bagi Hersri sudah terang sejak masih di  tengah
perjalanan tadi. Purwadi sendiri tak mau membuka mulut, karena
ada banyak penumpang lain.
      'Saya  pernah  sakit  pendarahan  otak',  kata  Purwadi.
'Karena itu saya kelihatan lebih tua dari umur saya'.
      Dahulu,  selain  bekerja sebagai buruh  pabrik  gula  di
Yogya,  Purwadi  pemimpin klub sepakbola dari  Pemuda  Rakyat,
organisasi pemudanya PKI.
     'Saya sudah tua. Enam puluh tahun sekarang. Ketika datang
di  sini  saya baru umur tiga puluh. Jalan raya ke Namlea  itu
saya dan kawan-kawan yang mengerjakannya.'
      Walaupun mengaku pernah diserang pendarahan otak,  namun
gerak gerik wajahnya begitu hidup seperti pemain pelawak dalam
pertunjukan  wayang. Istrinya baru 24 tahun,  ketika  menyusul
pada tahun 1972, dan dalam keadaan mengandung. Juga anak laki-
lakinya yang berumur enam tahun diajaknya.
      'Saya  dipanggil  penguasa militer  di  Yogya.  Ditanya,
apakah  saya  tidak ingin menyusul suami. Saya bingung.  Tidak
tahu  persis, apa di sana cukup makan. Karena itu  ibu  mertua
melarang, dan juga melarang saya mengajak anak perempuan kami.
Walaupun begitu saya memberanikan diri, karena ketika itu kami
masih pengantin baru.'

      Terhadap  ibu-ibu  istri tapol umumnya  penguasa  selalu
melakukan   tekanan.  Seluruhnya  sekitar  dua   ratus   istri
disusulkan  ke  Pulau Buru. Terkadang terjadi  pertemuan  yang
menyakitkan,  karena  si istri datang  dengan  anak-anak  yang
lahir dari laki-laki lain.
      'Penguasa  berjanji, di Buru kami akan dibebaskan.  Tapi
nyatanya kami tidak boleh keluar dari unit tanpa surat  jalan.
Saya sering merasa di sini saya bahkan ikut menjadi tapol.'
      'Istri saya orangnya ulet lho!' Kata Purwadi bangga. 'Ia
selalu berani melawan tonwal!'
      'Saya kan datang sebagai orang bebas. Tapi pada akhirnya
saya  selalu  kalah.  Habis? Mereka  selalu  membawa  besi  di
tangan. Bedil!' Tambahnya sambil tertawa besar.

Tak  lama  kemudian  kamar tamu Purwadi  segera  penuh  dengan
sesama  bekas tapol. Mereka datang masih dalam pakaian  kerja.
Berita  tentang  kedatangan tamu dari Belanda segera  menjalar
cepat. Dengan perasaan galau mereka merangkul Hersri.
     'Jadi Pak Hersri tidak melupakan kami?!'
     Tiba-tiba masuk seorang laki-laki bertubuh gempal.
      'Unit  14!' Serunya sambil menudingkan jari telunjuknya.
Sementara  itu ia membungkuk di depan kaki Hersri, dan  hendak
mencium punggung tangannya. Hersri menolak penghormatan ini.
      'Aku  toh bukan haji!' Gumamnya kepadaku. 'Muid  berasal
Surabaya, Jawa Timur. Orang Jawa Timur lebih spontan  daripada
kami yang dari Jawa Tengah.'
      Muid mengingat kembali ketika Hersri menjadi koordinator
unit. Dengan cerdiknya ia memprakarsai ledingisasi dari bambu,
sehingga  tapol  tidak perlu lagi susah payah  membuang  waktu
memikuli  air dari bawah ke atas. Unit itu terletak di  puncak
ketinggian. Unit 14, semasa Hersri menjadi koordinator,  untuk
pertama  kali  panen  padi berhasil dan  bahkan  overproduksi.
Ketika itu Hersri benar-benar pahlawan mereka.

Menteri Pronk

Satu  demi satu kenangan dan anekdot dituturkan kembali sambil
tertawa, namun dengan nada pahit.
      'Anda  tahu,  Menteri Pronk tahun 91 mengunjungi  kami?'
Ngantung,  pocokan  guru bahasa Inggris  di  Savanajaya,  ikut
dipanggil untuk menemuinya.
     'Apa yang masih diperlukan?' Tanya Menteri Pronk.
     'Saluran irigasi.'
       Pronk  menyanggupi  memberi  bantuan  untuk  itu.  Tapi
akhirnya  urung  karena Suharto pada musim semi  1992  menolak
bantuan pembangunan Belanda.
      Muid:  'Juga  Pronk tanya, apakah kita  senang  dan  mau
tinggal  di  Buru.  Tentu saja! Jawab kami. Mau  menjawab  apa
lagi, jika intel-intel ada di sekeliling kita?'
      Udara  di kamar tamu semakin bertambah panas.  Di  dapur
sebelah,  nira  aren  sudah mendidih  merah  kecoklatan.  Siap
dicetak menjadi gula, untuk dijual ke pasar Namlea esok  hari.
Membuat  gula  sekarang menjadi matapencarian mutlak  keluarga
Purwadi,  karena kemarau panjang yang belum pernah  sebelumnya
dialami  telah membuat sawah dan ladang menjadi  bera.  Tahun-
tahun  yang  sudah penghasilan cukup dipetik dari sawah.  Tapi
sekarang  tidak  ada seorang pun yang bisa  bersandar  sebagai
petani  sawah.  Tambahan lagi banyaknya  penebangan  hutan  di
atas, mengakibatkan erosi tanah semakin menjadi-jadi.
      'Sebagai  bekas tapol kami sulit mendapat  kredit  usaha
dari bank. Beda dengan transmigran biasa'. Keluh mereka. 'Anak-
anak  bisa  kami  sekolahkan.  Tapi  pintu  pekerjaan  sebagai
pegawai negeri tertutup buat anak-anak kami, karena masa  lalu
orangtua 'yang tidak bersih'.

      Ya,  melalui  Wereldomroep  Hilversum  mereka  mengikuti
berita  pasang  surut gerakan demokrasi yang sedang  bergolak.
Ngantung:   'Cuma   saya  harap,  jika  nanti   perang   sudah
dimenangkan, pikirkanlah juga kami kaum paria Orde Baru ini.'

Muid  membawa kami ke rumahnya. Bukannya gambar Yesus  disalib
yang  tampak,  seperti  di rumah Purwadi  yang  Katolik,  tapi
kaligrafi  Islam. Tapi selebihnya, keadaan rumah  bekas  tapol
hampir  sama saja - terbuat dari papan-papan jadi yang  dipaku
satu sama lain dalam sehari.
      Belum  lagi  kami  masuk  rumah,  air  mata  Muid  mulai
mengalir.  Demikian  juga istrinya. Anak  gadisnya  yang  lima
belas tahun duduk dengan mulut terkunci. Akhirnya Muid memecah
kesunyian.
      'Pak  Hersri, kok justru sampeyan yang jauh dari Belanda
datang  menengok kami di sini. Tidak ada satu orang  pun  dari
teman-teman kita dulu pernah datang. Juga Pak Pramudya tidak!
      'Sebenarnya  sampeyan itu datang menengok bangkai,  Pak!
Dulu saya masih bisa berpikir. Tapi sekarang? Sesudah bertahun-
tahun  di  Buru, otak saya sudah menjadi kosong.  Sama  sekali
kosong.'  Kata  Muid sambil memukul kepalanya  sendiri.  'Hari
depan  kami  sudah  gagal  sama sekali.  Hidup  kami  sekarang
tinggal  untuk anak-anak. Kami sangat mengutamakan  pendidikan
mereka.  Agar  dengan begitu mereka bisa  mendapat  tempat  di
tengah   kehidupan.  Itu  lah  yang  membedakan  kami   dengan
transmigran  biasa.  Mereka  itu  lebih  tertarik  pada   teve
berwarna  dan barang-barang mewah. Anak-anak kita harus  lebih
sungguh-sungguh lagi membuktikan, bahwa mereka anak-anak  eks-
tapol. Bukan anak-anak kriminil.'
      Ketika  Hersri  dan  aku berjalan ke  jalan  besar  Muid
menyusul.
      'Jangan banyak bicara dengan orang lain,' katanya. 'Kita
masih tetap harus selalu berhati-hati.'

Rasa bersalah

     'Emosiku? Tidak ada! Biasa-biasa saja!' Kata Hersri suatu
petang,  ketika  kami  duduk di 'Lily', satu-satunya  restoran
sekaligus bar-karaoke di Namlea. Tampak satu dua pelacur  sia-
sia menunggu langganan mereka.
      'Atau mungkin justru terlalu banyak emosiku sehari  ini?
Apa  yang  kuhadapi terasa lebih besar. Ada perasaan  bersalah
padaku  di depan kawan-kawan lamaku itu. Mereka dari  hari  ke
hari  harus membanting tulang untuk bisa hidup, sedangkan  aku
dapat  terbang  dari Belanda ke Jakarta. 'Kami senang  bertemu
sampeyan,'  tegas  mereka kepadaku. 'Dan  kami  bangga  ketika
mendengar, sampeyan mendapat hadiah nomor satu untuk  karangan
tentang anak-anak di Buru'.
        'Saudara-saudara   semua   hanya   orang-orang    yang
terlupakan.'  Kataku  kepada  mereka.  'Saudara-saudara  tidak
mati'.  Kepada  mereka aku berjanji akan menceritakan  tentang
keadaan  mereka  setibaku di Jakarta.  Tulislah  surat  barang
sepucuk untuk mereka. Cerita dan harapan ini sudah kusampaikan
juga kepada Pramudya di Jakarta.'

      Tiba  di  hotel Hersri menulis sebuah sajak,  Pertemuan:
'(...)  semua  angan-angan / semua  perasaan  /  tenggelam  di
kedalaman / biru teluk Kayeli / kelabu bukit Palatmada / semua
mencari jalan / keluar (...)'

      Sesudah  hari  pertama  Hersri  kelihatan  lebih  merasa
santai.  Kami  tidak perlu menyerahkan paspor ke pos  militer,
beda  dengan  pengalamanku lima tahun  yang  lalu.  Tidak  ada
seorang turis pun kami jumpai.
     Hari-hari berikutnya lebih banyak lagi kami bertemu kawan-
kawan lama sesama tapol dan keluarga mereka. Di mana-mana kami
dijamu makan, minum, dan macam-macam makanan kecil.
      Pada suatu siang yang terik kami, bersama beberapa kawan
sekamp, jongkok di bawah naungan pohon-pohon kemboja di puncak
bukit,  di  depan  makam kawan-kawan yang mati  terbunuh  atau
karena  kecelakaan.  Pohon-pohon  kayuputih  di  sekitar  kami
menyebarkan  baunya yang harum dan tajam. Di  kejauhan  tampak
gunung  gunung  membiru, menjadi pagar alam  yang  membentengi
'kamp kerja' Buru.
      Sekalipun  alamnya tidak bersahabat, toh  ada  sementara
tapol yang berusaha melarikan diri dari unit.
      'Heru  kawan  baikku  selama di  tahanan.'  Kata  Hersri
berkisah.
      'Ia  bernomor deportasi 438, sedang aku 437.  Jadi  kami
harus selalu tidur berdekatan satu sama lain. Pada suatu  hari
Heru  melarikan  diri.  Kepala barak  dan  aku  harus  menebus
dosanya:  semalam  suntuk kami direndam berbaring  di  saluran
pembuangan   yang   kotor.  Terkadang  terlentang,   terkadang
tengkurap.  Menurut  aba-aba  tonwal-tonwal  yang  berdiri  di
pinggir got, sambil mengancamkan karaben masing-masing.  Kalau
pantat  sedikit  saja  terangkat  di  atas  air,  sepatu  lars
menginjaknya.  'Ampun!  Ampun!'  Temanku  senasib  itu  terus-
menerus  sesambat.  Aku  tetap diam. Tapi  pada  akhir  kisah,
ketika hukuman sementara disudahi, justru aku yang congkak dan
tak  mau  minta ampun ini tak bisa lagi berdiri. Aku  terpaksa
harus digendong teman-teman untuk kembali ke barak. Sebaliknya
temanku  senasib itu! Tanpa susah sedikit pun ia berdiri,  dan
terus lari ke barak.'

      Unit  14  mendapat  nama resmi Unit Bantalareja.  Hersri
ingin melihat kembali baraknya, Barak IX, dan tempat ketika ia
disiksa,   tapi  sudah  tak  ada  lagi  jejaknya.  Rumah-rumah
transmigran  telah  menggusur hilang tempat-tempat  bersejarah
baginya itu.
      'Aku baru dengar, ternyata kuburan Heru di Air Mendidih.
Sangat  jauh. Ia ketika itu memutuskan lari, karena toh merasa
tidak akan kehilangan apa-apa. Ayahnya sudah mati. Ibunya, Ibu
Munapsiah, dijatuhi hukuman mati sebagai pimpinan Gerwani  dan
karena  Peristiwa  Blitar  Selatan, istrinya  diperkosa  opsir
tentara.  Heru akhirnya meninggal di Buru karena sakit  lever,
ketika  aku  sudah  kembali  ke Jawa.  Ketika  pada  1978  aku
dibebaskan,   kepada   Unit  aku  tawar.   Supaya   dia   bisa
menggantikan aku. Karena di Buru ia tidak akan mungkin  sembuh
dari  penyakitnya  itu.  Tapi usulku itu  ditolak.  Pada  batu
nisannya   kawan-kawan  memahatkan  beberapa   baris   sajakku
untuknya.  Sayang sekarang aku tak bisa melihatnya. Tapi  jika
benar,  bahwa  sesudah mati orang berubah  menjadi  roh,  Heru
pasti tahu kalau aku sudah datang di sini.'

Para komandan kamp

Pada  hari  kami  bertolak kembali ke Ambon,  Hersri  mengirim
surat  ke Belanda, untuk anaknya yang enam belas tahun. 'Surat
dari  orang yang bebas', katanya dengan nada kemenangan. Untuk
perpisahan dengan bekas teman sebaraknya, Ngantung,  aku  ikut
mereka  bernostalgia berjalan-jalan mengelilingi Namlea.  Tapi
hujan turun. Kambing-kambing berteduh di bawah emper.
     Mula-mula menuju ke Mess Pattimura, bekas losmen tentara,
tempatku menginap lima tahun yang lalu. Ketika itu losmen  ini
merupakan losmen satu-satunya di Namlea yang bebas dari nyamuk
malaria. Di halaman dalam dulu tumbuh semak-semak melati  yang
berbunga  harum.  Tapi sekarang sudah tidak  ada  lagi,  habis
dicabut sampai ke akar-akarnya.
      Hersri sibuk mengambil foto. Ketika dilihatnya, di sudut
halaman  itu, ada satu prasasti. Di atasnya terpahat nama-nama
semua  komandan  kamp di Buru. Sementara itu  aku  mengalihkan
perhatian   pelayan   dengan  mengajaknya   bicara.   Ngantung
menyingkir, entah di mana.

      Kemudian kami bersama Ngantung berdiri di dekat  gudang,
di  pelabuhan  lama  yang sudah tidak lagi  digunakan.  Dahulu
Ngantung awak motorbot Unit, alat pengangkut beras, papan  dan
sagu  - hasil produksi Unit yang hanya menjadi manfaat militer
penguasa. Tapi kemudahan ini dimanfaatkan juga oleh dua zuster
Gereja  Katolik, seorang Indonesia dan seorang Belanda,  yaitu
Zr. Fransiska dan Zr. Sesilia. Mereka dengan diam-diam mencari
obat-obatan  dan menyelundupkannya ke unit-unit tapol  melalui
motorbot-motorbot itu.
     Bangunan Susteran Namlea masih tetap ada sampai sekarang,
dan  dipakai menjadi sebuah sekolah menengah. Tapi dua  suster
itu sudah lama meninggal.
      'Kami selalu mengingat beliau sebagai Dan Unit dan Wadan
Unit  nomor  sekian. Sebutan penghormatan  itu  kami  berikan,
karena  mereka  selalu  berani  mengecam  keras  jika  terjadi
penyiksaan  terhadap  tapol  oleh para  penguasa.  Berkat  dua
suster  ini juga sesungguhnya naskah-naskah Pramudya  berhasil
diselundupkan keluar.'
     Menyelundupkan obat-obatan dan koran, diam-diam memonitor
radio,   semuanya  menjadi  tugas  sampingan   tapol   seperti
Ngantung,  yang  kadang  kala  mendapat  kesempatan  turun  ke
Namlea.
     'Membaca, selain Kuran dan Injil, sama sekali terlarang.'
Kata Hersri.
      Ia  merasa sedih melihat antene parabola besar-besar  di
mana-mana  di segenap sudut Namlea. Tapi tidak ada koran  atau
majalah dijual di toko-toko.
     'Mengapa justru sekarang budaya membaca menjadi hilang di
kalangan  eks-tapol.  Padahal ketika itu  teman  kita  Munajid
diborgol  dan  dilempar  mayatnya  ke  kali  Wai  Apu,  karena
tertangkap basah membaca sesobek harian Kompas!'

     Kapal malam menuju Ambon kembali penuh sesak.
      'Lihatlah!', kata Hersri. 'Alangkah banyak sayuran  yang
diangkut  para  transmigran  ke Ambon,  walaupun  dalam  musim
kering  begini! Diakui atau tidak, itulah berkat  hasil  kerja
kepeloporan  tapol.  Sebenarnya ingin  aku  kembali  turun  ke
sawah.  Tapi  sayang  tanah di mana-mana sama  sekali  kering.
Ingin  aku  mencium  bau lumpur lagi, dan merasai  cipratannya
yang segar ke kulit tubuh yang telanjang!'

Yuris memanjat pohon kelapa

Kami  membenahi  alas  tidur yang bersarung  plastik  berwarna
merah.  Udara  sarat  dengan  campuran  berbagai  bau:  sengak
keringat,  pesing kamar mandi, oli mesin kapal. Ditambah  lagi
minyak   kayuputih,  keistimewaan  Pulau  Buru,  yang   dibawa
penumpang dalam botol-botol besar.
      Aku  ingat  kembali pada Ngantung. Dan Ibu Purwadi  yang
gagah  dan periang, meninggalkan kesan sangat mendalam padaku.
Air   matanya  berlinangan  ketika  ia  mengucapkan  kata-kata
perpisahan dengan Hersri.
      'Hidup  saya di Buru sekarang sudah lebih lama dibanding
hidup saya di Jawa. Saya seorang yuris yang sekarang dua  kali
setiap  hari  harus memanjat pohon kelapa. Demi mempertahankan
hidup.  Perasaan balas dendam tidak ada pada saya.  Hati  saya
hanya  sedih.  Di  Jakarta mungkin saya bisa  mengajar  bahasa
Inggris.  Tapi pertama-tama memang harus menunggu perkembangan
situasi  politik. Baru bisa bicara tentang pulang  kembali  ke
rumah. Mudah-mudahan kita sempat bertemu lagi dalam saat  yang
sudah lebih baik.'

Tidak  lama setiba kami kembali di Belanda menggeloralah suara
protes  para mahasiswa. Kekuasaan Suharto pun berakhir.  Sudah
datangkah saat bagi Hersri untuk kembali dan tinggal  lagi  di
Indonesia?  Negeri  yang  selalu ia  rindukan,  dan  betapapun
selalu memberi rasa kerasan kepadanya?
      'Ancang-ancang  sudah dibikin. Tapi keadaan  masih  jauh
dari pasti. Orde Baru Suharto baru akan lewat jika semua tapol
sudah   dibebaskan,  termasuk  orang-orang  tua  yang   pernah
dijatuhi  hukuman  seumur  hidup  atau  hukuman  mati,  karena
dituduh terlibat kudeta tahun 1965; jika eks-tapol tidak  lagi
harus  memikul  stigma sebagai warganegara klas kambing;  jika
mereka  memperoleh kembali hak memilih dan hak  dipilih;  jika
mereka tidak lagi terkena wajib lapor setiap waktu; jika semua
lapangan  kerja  terbuka  bagi anak-anak  mereka,  baik  untuk
jabatan-jabatan   pemerintahan  maupun  untuk   'sektor-sektor
vital', yang sampai sekarang tertutup bagi mereka itu.
     'Selama hal-hal itu belum terwujud, waktuku untuk kembali
selamanya ke kampung halaman masih belum datang.'***

Reportase  ini dimungkinkan berkat bantuan Dana Untuk  Proyek-
Proyek Jurnalistik Khusus.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Mar 1999 jam 15:59:14 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke