---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- From: sidik pamungkas Assalamu'alaikum Wr Wb Awal minggu ini kembali meledak bentrokan massa di kab Sambas propinsi Kalimantan Barat bagian Utara, bentrokan yang diawali sekitar 12 Februari 1999 (sebenarnya sudah dingin) kembali merebak dan bahkan meluas. Pada awalnya hanya dua suku (yaitu penduduk asli pesisir Kalimantan dengan salah satu suku pendatang yang notabene sesama Muslim, namun tadi malam dari informasi yang diterima ternyata sudah melibatkan sedikitnya empat suku yang beragam agama. Waduh... seperti dalam tulisan2 terdahulu ( a.l Ambon pahite & Diobok obok?) ternyata bukan cuma Indonesia kawasan Timur yang dijadikan modal oleh sang dalang, saya luput mengamati adanya potensi di kawasan Barat Indonesia (dalam hal ini Kalbar) yang cukup kuat untuk dijadikan tumbal oleh sang dalang. Meledaknya kembali keributan ini kayaknya sepele, yaitu ada oknum dipihak pendatang yang terlibat dalam keributan Februari 99, mencegat warga dari suku/kelompok lain yang tidak ikut2 pada keributan dimaksud, hasilnya mudah diterka .... apalagi korbannya adalah dari suku yang beberapa kali pernah bertikai dengan pihak pendatang itu (terakhir diujung 1996 sampai 1997 yang mengorbankan ribuan jiwa), nah nah .... akibatnya jadi fatal. Ribuan orang diungsikan baik ke Singkawang maupun ke Pontianak, korban berjatuhan ratusan rumah terbakar dan aparat kembali muntang manting mengatasi situasi yang sampai hari ini 19 Maret 1999 belum pulih kembali. Heran.. heran .. lha wong sudah dua minggu reda, kok mendadak bisa meledak lagi meluas sampai pedalaman (Samalantan dan Sanggau Ledo) dan menyangkut pihak yang lebih banyak, waktunya pas disaat Ambon mulai teduh. Kata pak Syamsul Ma'arif kapuspen ABRI, kerusuhan2 tadi tidak ada kaitan satu sama lain, memang betul kalau dilihat secara physik dan geografisnya, namuni doktrin intel khan nggak bilang gitu pak. Kesamaan ciri, pola kerja dan koneksitas timing perlu ditelaah alias dicek dan re-cek, ibarat iblis yang muncul dalam berbagai tempat dan visi bentuk serta waktu yg berbeda, namun intinya sama ....ya iblis itu. Kalau diteliti bentrok awalnya si A orang pesisir dengan si B pendatang, lha mendadak sontak si B kok mukul si C orang pedalaman yang resminya nggak ikutan serta notabene mantan musuh lama dan banyak perbedaannya? Apa maksudnya? Apa tujuannya? Kalau kita tanya ke B selaku kelompok, mereka juga bingung akan anggotanya yg begitu bodoh dan ceroboh, tapi nasi sudah terlanjur jadi rahwana ... eh bubur, mau diapakan? Disini kita lihat sistem kerja provokator yang dikendalikan oleh oknum elite dalang, melihat Ambon mulai dingin dan Indonesia Timur sulit diledakkan, maka untuk meningkatkan sentimen SARA akibat kaum seiman disakiti direkayasalah agar keributan yang dulunya antar suku yang seagama berubah menjadi frontal yang melibatkan umat lain. Memang potensi Kalimantan Barat cukup baik buat berladang rusuh, disamping daerahnya yg luas dan prasarana jalan masih kurang, juga salah satu suku asli pedalamannya yaitu Dayak mempunyai sifat cukup spontan dan tegas, dengan populasi yang cukup banyak serta mayoritas beda agama, ditambah lagi punya sejarah sengketa dengan pendatang tersebut. Lhah suku Cina dan suku Pak Habibie disono cuma kena imbasnya saja, namun cukup membuat mereka ikut terlibat. Buntutnya, salah satu suku pendatang yang semula cuma bertikai dengan kelompok Melayu (suku asli pesisir Kalimantan, yang umumnya tidak menyukai keributan), menjadi seolah olah dikeroyok oleh beberapa pihak, hanya karena ulah segelintir orang yang dipanasi oleh provokator lapangan. Barangkali maunya kaum dalang ada kasus lain (cadangan buat Ambon) yang bisa dibikin lahan baru buat rintihan dan ratapan, yang bisa diharap menambah sentimen yang mulai merebak di beberapa wilayah Indonesia. Dibarengi proses pengkristalan dibidang politik yg baru saja dimulai, lihat saja dimulainya issue pemisahan partai2 politik mana yang dianggap sekuler dan mana yg keagamaan, mana kawanku mana yang bukan kawan . Proses pemecahan bangsa guna meratakan jalan menuju puncak serta mempertahankan status telah dimulai, masa bodoh rakyat setengah modar menderita .... khan dipolitik hanya ada kepentingan abadi, soal kebenaran tergantung untung rugi, soal moral entar aja urusannya. Sepertinya lawan/saingan politik identik dengan musuh besar yang harus dibenci, dijauhi dan kalau perlu dimusnahkan. ABRI sudah tidak bisa diharap buat mengendalikan politikus dan Rahwana2 yang lepas kontrol, karena mereka juga lagi dihujat serta disorot habis2an, kalau toh ABRI masih mau campur tangan .....tuding saja bahwa tugas mereka adalah kestabilan dan keamanan ......liat tuh demo dan kerusuhan disono sini ...urus saja itu. Mampu nggak? Kalau tetap mas Wir nekat mau ngerem Rahwana, bikin aja cerita dia mau kudeta atau bikin demo buat minta dia turun ... hehehehehe kayak kuda catur dipanteng kagak bisa bergerak. Sedang politikus maupun tokoh2 yang berniat baik masih saling curiga dan tidak cukup punya power untuk berhadapan dengan Rahwana2 yang sedang tiwikrama menyembur api..... lha duwitnya banyak dan anteknya banyak (ada gula ada semut). Hanya niat dan tekad baik kita dalam berbangsa dan bernegara kesatuan saja yang bisa mengerem Rahwana2 murka itu. Guna lebih melemahkan ABRI, dibuat perpecahan antara petingginya kemudian bangkitkan sentimen sipil militer (tuntutan ABRI keluar dari MPR/DPR dan kembali masuk barak) sambil menaikkan rasa persaingan antar korps/angkatan (dimailing list aja sudah terjadi polemik antara korps kodok ijo dan kodok putih) serta dilanjutkan dengan pengebirian anggaran walau volume operasi meningkat akibat kerusuhan/keributan dan demo2 (khan bisa bikin frustasi bawahan biar nggak seneng sama atasannya, kalau laper dalam tugas) ....... potong ABRI masak dikuali .. gosok kekanan gosok kekiri ....tra lalalalala ....lala........, dilengkapi al. adanya rekaman telepon Djadja S dengan presiden. Kayaknya kok disatu sisi seperti tidak mau mencampuri ABRI dalam menjalankan tugas keamanan, namun disisi lain rajin ngobok obok kedalam ABRI supaya nggak solid. Mas Wir.. gimana nih, ku lihat anda seperti orang ngumpulin pecahan gelas, cuma dibelakang anda ada yang mecahin gelas terus.... lalu kapan bisa bersihnya dong? Dengan terpecahnya masyarakat, dengan salah tingkah dan salah omongnya beberapa politikus, dengan kesibukan dan tidak solidnya ABRI, dengan menguasai dan mengatur hukum, dengan naiknya sentimen antar agama/suku, dengan nyebar duwit (hasil korupsi dan utangan) disaat krisis menimpa rakyat guna mencari dukungan .... maka situasi akan menjadi chaos serta menguntungkan .... lalu aku dan kawan2ku akan berdiri tegak menunggangi mu semua ....sambil tiwikrama untuk melibas satu persatu yang merintangiku. Hahahaha ..aku dkk. ingin duduk seribu tahun lagi... namun dengan wajah bersih tanpa kelihatan noda belangku. Mas Wiranto... berani sumpah bahwa anda nggak ikut2 begituan kan?. Jangan mau disuruh menjalankan jurus silat "Tangan menggapai langit , kaki menginjak taik", awas2 ya .... sedikit saja temperamen aparat dilapangan naik...terus ada tindakan yang kasar (terutama terhadap sebagian mahasiswa yang lagi dijejelin nonton film dan liat photo2 sadis Ambon, sambil dikipasi terus .... nunggu waktu aja mereka turun) maka lengkaplah sudah rapor merah anda. Tumpukan kotoran yang dilempar ke anda sudah banyak, terakhir ditambah dengan issue tentang ambisi anda jadi RI-1 akibat hasil musyawarah salah satu partai belakangan ini ( madu dan racun), tunggu mas Wir ....ada beberapa partai lagi yang mau menjadikan anda balon (bakal calon) nomor sekiannya ..... jangan banyak2 makan madu dan racun deh. Emangnya pada ikhlas naikkan anda? lha wong mereka sendiri juga pada ijo matanya ngincer kekuasaan, mereka cuma bermain keseimbangan .....disatu sisi membantu agar anda terbuai akan pencalonan supaya diem atau gampang dilibas, sedang disisi lain siapa tau anda benar2 pegang kendali ..hehehe kita khan kawan ..buktinya anda pernah ku calonkan .. ikutan dong. Buat mahasiswa yang lagi dalam proses dipecah belah, adanya pendapat dari sebagian mhsiswa tentang tidak bergunanya pemilu karena ada indikasi partai berkuasa kembali akan menggunakan wahana money politics dan sarana birokrasinya buat merekayasa, akan dikipas serta dicampuri oleh provokator sehingga rencana turun kejalan -mu bisa heboh dan mungkin diwarnai adanya martir atau korban guna menjatuhkan petinggi ABRI yang tidak disukai. Sekali tepuk dua (bahkan bisa tiga atau empat kalau AR , Mega atau GD ikut campur) lalat tewas........... Apa kalian kira kalau petinggi ABRI yang ini diganti, terus penggantinya pasti lebih baik? Yang jelas bakal lebih baik buat sang Rahwana. Adik2ku mhsiswa jangan mengulang cerita angkatan 66 dan sesudahnya, yang terlanjur dicap berjuang buat dapet kursi pangkat dan duwit. Kayaknya beberapa tokohmu saat ini mulai menikmati jadi magang birokrat, duduk diruang AC dan ngepas pakaian safari sambil gayeng rengeng2 melagukan tangkur ...eh pangkur jenggleng ... hehehehe ada yang mau ikut? Mumet deh.... orang bawah taunya cuma menjalankan, yang mikir khan atasan, jadi please jangan nggebyah uyah dan selalu bawahan yang jadi tumbal. Nggak bosenkah kaum bawahan? Orang yang sengaja memecah belah bangsa, makan duwit negara seabreg abreg dan membuat banyak kurban harta & nyawa rakyat didiamkan saja, malah disanjung ......lha orang yang saking capek dan laparnya salah nembak mecahkan satu kepala saja (tanpa sengaja lho ..... sumpah deh, abis latihan nembak setahun cuma dua tiga kali dengan jatah sepuluh peluru .....mana bisa nembak dengan tepat? Kalau tembakan yang bisa tepat jelas bukan dari aparat biasa deh .. apalagi memakai peluru khusus high velocity ) dikutuk ...dihujat, disumpahin abis2an, dihukum dan dikucilkan. Kita lihat saja kasus2 peradilan masalah penyalah gunaan koperasi dan BUMN/BUMD kayak Nurdin Halid & PAM Jaya dll, penyalah gunaan uang negara dan kredit bank (yang gede2 kayak Hasyim dll malah ada yang belum diperiksa), penyelewengan dana JPS, impor sembako dan OPK beras murah hilang tertiup angin, pengedar dan boss narkotik yang tertangkap proses peradilannya kayak orang impoten ber onani, provokator2 Banyuwangi, Ketapang dan Ambon yang tertangkap mana prosesnya? Mari kita bertanya dengan hati bersih serta jujur, apakah keadilan atau peradilan sudah diberlakukan secara sama pada setiap insan di negeri ini. Wassalamu'alaikum Wr Wb Sidik Pamungkas ( Minumanku cuma air putih, nasi bungkus makananku..... bukan bintang emas dan berlian) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Mar 1999 jam 10:28:38 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
