----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

    Sekjen PAN Menilai Pemerintahan Habibie
    Reporter : Nurul Hidayati
    detikcom, Jakarta - Sudah sepatutnya pemerintahan Habibie menyadari
betapa legitimasi dan kredibilitasnya sudah sangat terpuruk. Demikian pula
yang dialami oleh mayoritas lembaga-lembaga tinggi negara dan jajaran
Pemerintahan yang terendah.

    Pendapat itu dilontarkan oleh Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Feisal
H.Basri dalam seminar bertema "Qua Vadis Indonesia: Mau (dibawa) Kemanakah
Bangsa dan Negara Kita" yang diselenggarakan oleh majalah Forum di Hotel
Grand Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (22/03/1999). Seminar tersebut
juga menghadirkan Gus Dur sebagai pembicara.

    Lebih lanjut Feisal mengatakan, semua tatanan yang menaunginya masih
dalam format politik lama, yang telah menjerembabkan bangsa Indonesia ke
lembah krisis yang amat dalam. Mengingat fakta sejarah moderen tak pernah
ada rezim yang mampu menyelesaikan krisis yang diciptakannya sendiri, maka
tak pantas memberikan keleluasaan bagi pemerintahan Habibie, untuk menata
kembali pembangunan kelembagaan yang menyeluruh dalam rangka transformasi
menuju masyarakat Indonesia baru.

    Persoalannya, menurut Feisal, sederhana saja. Yakni terlalu banyak
kepentingan pribadi dan kelompok yang bercokol, yang berusaha keras
mempertahankan status quo. "Sehingga pada gilirannya justru menghambat
proses reformasi yang sudah merupakan tuntutan yang tak lagi bisa
ditawar,"tandas Feisal.

    Masih menurut Feisal, bagi rezim yang ketumbangannya sudah hampir bisa
dipastikan tinggal dalam hitungan bulan saja, dan kenyataannya masih tetap
berkuasa karena keberuntungan saja, pilihannya hanya ada dua. Pertama,
melapangkan jalan bagi proses transisi kepemimpinan nasional yang damai.
Sehingga paling tidak masih ada sedikit kebajikan yang bisa dikenang rakyat
kala menutup lembaran kelam sepanjang sejarah perjalanannya.

    Kedua, mewariskan keadaan yang lebih buruk lagi justru dengan
memanfaatkan waktu yang sedikit tersisa, untuk lebih mementingkan
penyelamatan diri dan atau kelompok, ketimbang bagi kemaslahatan bersama.
"seandainya Habibie memilik yang pertama, maka semua pihak yang terlibat
dalam proses pengambilan keputusan dituntut untuk memilah-milah persoalan
berdasarkan kepentingan jangka pendek, menengah dan panjang,"kata Feisal.

    "Prasyarat untuk itu adalah dengan melihat persoalan secara jernih dan
menyeluruh serta terpadu,"tambah Feisal. Dan Pemerintahan Habibie serta
seluruh kekuatan pelopor reformasi dan prodemokrasi harus menyadari
pilihan-pilihan pahit di atas. "Khususnya bagi pemerintah, masih ada sedikit
waktu, untuk menjaga agar bangsa ini tak sampai terjadi revolusi,
disintegrasi bangsa atau justru kembali ke rejim otoriter,"kata Feisal.

    Hak Cipta ) detikcom Digital Life 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Mar 1999 jam 07:20:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke