---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Duh Gusti, 200 Tewas Di Sambas Reporter : Nurul Hidayati dan Hestiana Dharmastuti detikcom, Jakarta - Duh Gusti! Sambas kian membuat hati mengenas. Bayangkan saja, bentrokan tak juga padam, tapi justru luas. Sampai Senin (22/03/1999) pukul 18.00 WIB, tercatat sudah lebih 200 orang tewas. Sementara Gus Dur kembali menuding, bahwa pemicunya adalah pengikut Soeharto. Di sisi lain, Pangab Jenderal Wiranto menegaskan, Pangdam Tanjungpura Mayjen Zainuri Hs, akan dipanggil ke Mabes ABRI. Untuk dimintai penjelasan. "Saya berharap kepada siapa pun perorangan ataupun kelompok untuk tidak mengeluarkan komentar,"tandas Wiranto. Memang, pergolakan berdarah di Sambas, Kalimantan Barat itu, menurut Kapolda Kalbar, Kolonel Chairul Rasidi, sudah lebih terkendali. Hanya saja, itu bukan berarti bentrokan sudah padam sama sekali. Soalnya, secara sporadis, masih ada sekelompok orang yang mencoba melakukan penyerangan terhadap masyarakat yang berada di tempat pengungsian. Bentrokan antar-etnis ini merupakan yang terbesar sejak 1970. Dan ini tercatat sebagai bentrokan yang ke-7 kalinya, sekaligus yang terbesar baik dari sisi jumlah korban maupun massa yang terlibat langsung dalam bentrokan berdarah ini. Angka korban tewas 200 orang itu, sifatnya masih sementara. Diperkirakan jumlah korban yang tewas akan melebih angka 200 orang. Ini disebabkan pencarian korban tewas masih belum bisa dilakukan secara intensif. Bentrokan itu sendiri tercatat meluas di 9 kecamatan. Di samping di kecamatan Sambas sendiri, bentrokan juga pecah di Kecamatan Pemangkat, Sungai Raya., Samalantan, Sangau Ledo, Selakau, Tujuh Belas dan di kecamatan Jawai. Bahkan bentrokan itu sudah meluas hingga di kawasan yang berbatasan dengan Serawak, Malaysia, yakni di Kecamatan Sungai Ambawang dan Teluk Keramat, Kabupaten Pontianak. Pengungsian besar-besaran, khususnya dari etnik Madura, terus berlanjut. Setidaknya lebih dari 23.000 warga masyarakat keturunan Madura, mengungsi ke Pontianak maupun ke Singkawang. Kapal TNI AL yang diperbantuan untuk melakukan evakuasi pun sempat kewalahan. Maklum, pengungsian berlangsung secara serentak. Sampai-sampai Polda Kalbar meminta bantuan TNI AU untuk mengirim armada Hercules untuk mengevakuasi para pengungsi yang jumlahnya terus berjubel itu. Di sisi lain, masih ada kelompok-kelompok tertentu dari warga Dayak, yang masih terus memburu warga Madura. Bukan hanya jiwa yang menjadi korban. Harta benda pun tak luput dari sasaran ledakan emosi yang berlebihan dan tak terkendali. Setidaknya sudah tercatat sekitar 1.600 rumah yang dibumihanguskan, 190 rumah dirusak dan ratusan lumbung padi yang berada di sepanjang jalan provinsi Pemangkat dibumihanguskan. Dan yang membuat orang mengelus dada, bentrokan atau lebih tepat disebut pembantaian yang terjadi di Sambas, tergolong sudah sangat keji dan dilakukan secara terbuka. Banyak saksi mata yang menyebutkan, tidak sedikit korban pembantaian tersebut yang kemudian diarak keliling kota dengan menggunakan truk-truk. Dan di beberapa tempat, korban pembantaian itu digantung di pinggiran jalan, atau di jembatan-jembatan. Duh Gusti! Sementara bentrokan di Sambas belum juga padam, di Jakarta, Ketua Umum PBNU, Gus Dur kembali melontarkan kontroversi sekaligus mengundang kembali teka-teki. "Bentrokan di Sambas itu berkaitan dengan para pengikut Soeharto,"kata Gus Dur di hadapan sejumlah wartawan saat mengikuti diskusi panel Qua Vadis Indonesia yang diselenggarkan oleh majalah Forum di Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (22/03/1999). Dan seperti biasa, begitu melontarkan tudingan, siapa-siapa orangnya, Gus Dur lantas mengelak. "Tidak perlulah disebutkan namanya,"kata Gus Dur. Benar atau tidaknya, nampaknya yang jauh lebih penting adalah pemadamkan bentrokan itu dulu sebelum korban jiwa berjatuhan lebih besar lagi. Betapa tidak! Tercabik-cabiknya kerukunan masyarakat Indonesia sudah berada dalam ambang yang mengerikan. Ketapang, Kupang, Banyuwangi dan Ambon, nampaknya sudah cukup jadi pelajaran yang begitu mahal harganya. Dan entah mengapa, justru hal itu dibiarkan terjadi di Sambas dan korbannya pun juga tidak sedikit. Duh Gusti! Satu nyawa melayang saja sudah membuat hati menjadi perih. Apalagi jika korban jiwa itu ratusan atau pun ribuan. Apa pun agamanya, dari mana pun sukunya, dia adalah saudara sendiri, bangsa sendiri. Tapi siapakah yang mau mendengarkan! Duh Gusti! Hak Cipta ) detikcom Digital Life 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Mar 1999 jam 07:21:11 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
