---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Info-PEMBEBASAN =============== Arie Maulana, Ketua Divisi Jaringan Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMUR), Aceh : HARUS ADA REVOLUSI SOSIAL UNTUK BISA MENYELESAIKAN BERBAGAI PERSOALAN RAKYAT GERAKAN aksi mahasiswa di Aceh tumbuh sekitar dua bulan setelah Soeharto terguling. Gerakan itu dipelopori oleh Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMUR). Sebelumnya, rakyat di Aceh, dan juga para mahasiswanya, pada posisi diam karena represi militer yang begitu kuat berhubung diterapkannya Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM), yang banyak menelan korban jiwa dan mental itu. Selama Aceh dijadikan DOM, pembunuhan, penculikan, pemerkoasaan dan berbagai macam tindakan militeristis lainnya begitu gencar, terutama dilakukan oleh Kopassus. Sekarang DOM sudah dicabut. Namun perjuangan belum selesai. Bagaimana kondisi gerakan mahasiswa di Aceh sekarang dan apa tuntutan mereka ? Berikut wawancara PEMBEBASAN dengan Arie Maulana, dari SMUR, salah seorang pelopor aksi mahasiswa di Aceh yang menelorkan ide agar Soeharto dituntut sebagai penjahat perang, bukan hanya penjahat KKN semata. ------------------------------------------------------------- PEMBEBASAN : Dulu ada berita DOM di Aceh dicabut, tapi ada kerusuhan. Lalu terdengar lagi banyak kasus pelanggaran HAM. Sebenarnya, bagaimana kondisi HAM di Aceh akhir-akhir ini ? ARIE MAULANA : Memang setelah Soeharto turun, kawan-kawan mahasiswa di Aceh yang tergabung didalam SMUR mulai mencoba mengangkat isue lokal, yaitu tentang pemberlakuan DOM sejak tahun 1989. Dalam prakteknya ternyata DOM hanyalah merupakan sebuah sistem yang diterapkan Rezim Soeharto untuk melanggengkan praktek-praktek kapitalisme. Dan kini setelah DOM dicabut memang mulai tampak perubahan dalam kehidupan rakyat Aceh, kini sedikit demi sedikit rakyat Aceh sudah mulai berani bersikap kritis. Tentang kerusuhan yang terjadi ketika upacara pelepasan pasukan di Lhokseumawe itu jelas merupakan rekayasa ABRI. PEMBEBASAN : Apakah tingkat represifnya masih seperti sebelum DOM dicabut atau sudah berkurang ? ARIE MAULANA : Sekarang memang sudah jauh berkurang dibanding dulu. PEMBEBASAN : Kami mendengar di banyak perempuan yang menjadi korban militer di Aceh, ada yang diperkosa, di aniaya, dan sebagainya. Kami juga mendengar berita bahwa di Aceh ada beberapa desa yang isinya hanay janda dan anak-anak, karena kaum lelakinya sudah habis dibunuh tentara dan dipenjara. Apakah ini benar atau suatu hal yang didramatisir ? ARIE MAULANA : Memang ada sebuah perkampungan yang bernama Desa Cot Keng di Aceh Pidie, yang mayoritas penduduknya adalah kaum wanita. Desa ini memang terkenal dengan sebutan desa Janda. Dan memang sebahagian besar kaum lelakinya telah dibantai oleh ABRI ketika operaasi militer. PEMBEBASAN : Kalau kami-kami ini mendengar berita perjuangan rakyat Aceh, kebanyakan adalah perlawanan bersenjata. Apakah sebenarnya perjuangan bersenjata oleh GAM masih kuat ? ARIE MAULANA : Sepertinya kekuatan mereka sudah mulai melemah. Tapi baru-baru ini mereka telah mencoba melakukan perlawanan bersenjata lagi, walaupun aksi ini dapat dilumpuhkan oleh ABRI. Memang kasihan melihat pola gerakan mereka yang sangat emosional dan tidak memiliki strategi seperti yang dilakukan oleh rakyat Timor Timur. PEMBEBASAN : Apakah ada metode perjuangan yang lain, semacam aksi massa, perjuangan lewat partai, perjuangan melalui LSM, dan lain-lain ? ARIE MAULANA : Sampai saat ini tidak ada. Tapi kemarin ketika kita berdiskusi dengan salah seorang aktivisnya (aktivis GAM -Red), mereka mengatakan akan mencoba dengan pola aksi massa damai. PEMBEBASAN : Soal keinginan rakyat Aceh merdeka. Di sini banyak berita bahwa Gerakan Aceh Merdeka ingin memisahkan diri dan ingin mendirikan Negara Islam. Tapi, ada yang bilang bahwa GAM timbul karena kecewa terhadap pemerintah pusat, terutama karena eksploitasi ekonominya dan perilaku pemerintah pusat yang seperti kolonial. Sebenarnya yang benar yang mana ? ARIE MAULANA : Kalau dilihat dari sejaraah pergolakan rakyat Aceh, mulai dari yang dilakukan oleh Daud Beureeh sampai yang dipimpin oleh Hasan Tiro, memang akar persoalannya adalah praktek-praktek imperialisme-kapitalisme yang dilakukan oleh Rezim Orla maupun Orba. Memang ada perbedaan antara konsepnya Daud Beureeh dengan Hasan Tiro. Kalau Daud memang ingin membentuk negara Islam Aceh namun masih merupakan bagian dari Negara Islam Indonesia dibawah pimpinan Imam Kartosuwiryo. Sedangkan Hasan Tiro memang benar-benar ingin memisahkan diri dari Negara Republik Indonesia. PEMBEBASAN : Nampak sekali bahwa memang perlawanan rakyat Aceh terhadap pemerintah sangat kuat. Apakah ini berarti suatu dukungan terhadap Aceh merdeka atau sebenarnya suatu perjuangan yang tujuannya lain, bukan kemerdekaan ? ARIE MAULANA : Sebenarnya kalau ditanya pada setiap rakyat Aceh, maka pasti mereka akan menjawab setuju jika Aceh memisahkan diri dari Negara RI. PEMBEBASAN : Beberapa bulan yang lalu kampus Universitas Syah Kuala diserbu militer. Aksi-aksi mahasiswa Aceh juga sangat gencar. Sebenarnya seberapa kuat gerakan mahasiwa di Aceh? ARIE MAULANA: Sebenarnya aksi-aksi mahasiswa di Aceh baru muncul sekitar 2 bulan sebelum turunnya Soeharto. Dan kebetulan kawan-kawan di SMUR yang mempelopori aksi-aksi tersebut. Kita mulai dengan melakukan aksi mimbar bebas pada 18 Maret 1998 di kampus Unsyiah. Sekitar 2 minggu kemudian kita langsung mencoba untuk turun ke jalan dengan ribuan massa. Dan aksi ini juga dimotori oleh kawan-kawan SMUR. Sebenarnya kondisi gerakan mahasiswa di Aceh masih sangat memprihatinkan. Sebahagian besar mahasiswa Aceh ikut aksi hanya untuk melampiaskan kemarahaan yang selama ini terpendam. Mereka tidak mau mengkaji lebih dalam tentang apa yang harus diperjuangkan dan bagaimana cara memperjuangkannya. Bagi mereka yang penting bisa teriak-teriak untuk melampiaskan kekecewaannya selama ini. Dan sekarang sepertinya mereka sedang mengalami kejenuhan untuk terus ikut turun ke jalan. PEMBEBASAN : Dalam gerakan mahasiswa di Aceh, kelompok mana yang paling besar dan paling aktif? Bisa digambarkan apa-apa saja kelompok mahasiswa di Aceh dan bagaimana kharakter dan tuntutan masing-masing ? ARIE MAULANA : Kalau paling besar, dalam arti memiliki massa yang solid, tidak ada. Tapi kalau yang paling intens melakukn aksi-aksi adalah SMUR. Bahkan sekarang kita dicap sebagai kelompok paling radikal di Aceh. Tapi sebahagian besaar kawan-kawan mahasiswa sangat respek dengan gerakan SMUR.Kelompok-kelompok lain yang bermunculan adalah KARMA yang merupakan kumpulan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) se-Aceh. Gerakannya cenderung esklusif dan elitis, tidak memiliki basis massa. Kerja mereka kebanyakan melakukan lobby-lobby ke penguasa. Kemudian ada Farmi-DIA (Forum Aksi Reformasi Mahasiswa Islam Di Aceh). Kelompok ini sejalan dengan konsep SMUR dan kita sering melakukan aksi bersama. Kebetulan Kautsar (Ketua SMUR) adalah salah seorang yang membidani lahirnya kelompok ini. PEMBEBASAN : Apakah ada hubungan antara gerakan mahasiswa dengan rakyat ? Bagaimana pula hubungan mahasiswa dengan LSM, parpol, pers dan lain-lain ? ARIE MAULANA : Selama ini aksi yang kita lakukan belum menyatu dengan rakyat, tapi ketika aksi 10 Desember kemarin kita telah mencoba untuk mengajak rakyat ikut bersama-sama melakukan aksi turun ke jalan. Tapi belum ada rakyat yang mau bergabung. Ini dikarenakan kita belum matang dalam mempersiapkan aksi tersebut. Tapi sekarang SMUR telah mencoba turun mengorganisir rakyat yang tanahnya dirampas oleh rezim. Dan kemarin (11 Des 1998 ) kita telah melakukan aksi menduduki kembali tanah yang dirampas tersebut. Aksi tersebut dilakukan di Aceh Timur (bekas DOM). Sedangkan hubungan dengan LSM, juga kami lakukan. Dengan kawan-kawan pers kita sangat baik. Dengan Parpol-Parpol kita tidak pernah berhubungan. PEMBEBASAN : Sekarang kita menghadapi Pemilu. Bagaimana sikap dan pandangan SMUR terhadap Pemilu ini ? ARIE MAULANA : Salah satu program kerja SMUR adalah mengkampanyekan pemboikotan pemilu, apabila kasus Aceh tidak diselesaikan. PEMBEBASAN : Soeharto sudah mulai diperiksa oleh Kejaksaan Agung karena kasus Yayasan dan Mobil Timor, dan beberapa kasus KKN yang lain. Tapi tidak ada tuduhan dia sebagai penjahat perikemanusiaan yang bertanggungjawab terhadap serangkaian pembunuhan massal dan pelanggaran HAM lain. Rakyat Aceh adalah salah satu korban terparahnya. Bagaimana sikap SMUR soal ini ? ARIE MAULANA : Kita juga mencoba mengkampanyekan melalui stiker-stiker yang kita buat bahwa Soeharto harus diadili sebagai penjahat perang, untuk itu kami mohon kawan-kawan seperjuangan membantu mengkampanyekan hal ini di tingkat nasional. PEMBEBASAN: Apakah Anda yakin di pengadilan nanti Soeharto akan mendapat ganjaran yang setimpa dengan kejahatannya ? ARIE MAULANA : Tidak. Karena yang ada di Indonesia sekarang ini adalah demokrasi semu. Indonesia harus mengalami revolusi sosial untuk bisa menyelesaikan berbagai persoalan Rakyat. PEMBEBASAN : Lalu, kalau tidak, apa sikap dan langkah ke depan SMUR dan rakyat Aceh yang lain ? ARIE MAULANA : SMUR akan terus melakukan pengorganisiran dan pemberdayaan rakyat agar dapat melakukan aksi-aksi massa. Karena kami sadar bahwa sebuah revolusi hanya dapat terjadi melalui aksi massa yang sadar akan arti sebuah perubahan. PEMBEBASAN : Apa rencana SMUR untuk masa mendatang? Tuntutan apa yang menjadi prioritasnya ? ARIE MAULANA : SMUR akan terus memperjuangkan tegaknya Demokrasi di negeri ini serta terciptanya sistem ekonomi-politik kerakyatan. Untuk itu kita masih melihat, bahwa yang menghambat semua cita-cita kita adalah Dwi Fungsi ABRI. CABUT DWI FUNGSI ABRI ! PEMBEBASAN : SETUJU!!! (END) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Dec 1998 jam 09:21:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
