---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Disalin oleh Lion dari Majalah Bahana No. 06 Vol. 92/Desember 1998 Pius Lustrilanang: "YESUS MENGGANTIKAN SAYA DI SEL" Tanpa melepas kalung salib yang selalu menggantung di lehernya, Pius memberi kesaksian di depan Komnas HAM, bahkan di dunia internasional. Perlu keberanian yang besar untuk melakukannya karena kemanapun ia pergi selalu diincar laras peluru. Pius yakin, bukan dia yang berbuat, melainkan Yesus. Yesuslah yang menggantikan dirinya meringkuk di sel yang didiaminya selama kurang lebih 2 bulan. Berikut kesaksian Pius di depan 15.000 umat Kristiani di Istora Senayan, 6 September 1998 yang ditulis dengan gaya "saya." Saya berbahagia sekali bisa hadir di sini untuk sharing pengalaman iman saya. Kiranya pengalaman ini dapat menguatkan iman kita semua. Pada tanggal 4 Februari 1998, saya diculik ketika saya sedang menunggu bis di depan rumah sakit Carolus. Saya diangkut oleh seorang yang bersenjata dan dibawa ke suatu tempat dan kemudian diinterogasi. Saya diperlakukan dengan tidak manusiawi. Disetrum, dipukuli, kemudian di sel pun saya masih mendapat perlakuan yang sangat tidak beradab. Setelah melalui hari pertama yang penuh kegoncangan, saya merenung sebentar kemudian saya pasrahkan diri saya sepenuhnya kepada Tuhan. Saya percaya penuh bahwa Tuhan adalah satu-satunya penolong saya. Saya menduga, orang yang menculik saya ini diperintah oleh Soeharto. Lalu saya berkata dalam hati: "Soeharto. Kamu bisa punya uang, kamu bisa punya kekuasaan, kamu bisa punya tentara, dan kamu bisa memerintahkan apa pun terhadap saya. Tetapi jika Tuhan saya berkehendak, kamu akan kalah." (Tepuk tangan meriah). Teman-teman seiman, mohon maaf, saya sudah sering memberi kesaksian semacam ini. Tetapi, setiap kali saya memberi kesaksian saya selalu terharu (mata Pius membasah dan dia berhenti lama). Karena saya tahu bahwa saya selamat hanya karena Tuhan. Jejak-jejak Tuhan dalam kesaksian dan perjuangan saya itu begitu jelas sehingga setiap kali mengingatnya, saya semakin terharu (suara Pius tersedak menahan air mata). Pada hari kedua, setelah saya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, saya berdoa. Saya hanya dapat berdoa karena di sana tidak ada satu buku pun atau Injil yang bisa dibaca. Dalam doa, saya senantiasa menyerahkan diri pada Tuhan dan saya minta dukungan Tuhan agar saya tetap setia dan siap menerima penderitaan ini. Saya belajar untuk menerima penderitaan ini sebagai anugerah dari Tuhan. Dulu kebiasaan saya, bersyukur ketika mendapat kebahagiaan, rejeki atau keberuntungan. Sebaliknya marah kepada Tuhan kalau saya mengalami penderitaan. Kemudian saya juga belajar bagaimana saya tetap bersyukur ketika saya menerima penderitaan dan siksaan karena saya yakin apabila saya kuat menerima cobaan maka di ujungnya Tuhan akan memberi kebahagiaan, keleluasaan kepada saya. Meski berada dalam suasana tidak menentu dan hidup di titik antara hidup dan mati hampir setiap hari, saya percaya bahwa Tuhan yang memanggil saya itu setia. Lama-lama timbul juga pengharapan bahwa suatu saat saya akan bebas. Tetapi saya tekan betul harapan ini dan tetap pasrah agar siap menghadapi segala risiko. Karena saya yakin, kalau saya punya harapan yang berlebihan untuk bebas, itu hanya akan menyiksa diri. Karena saya tahu tidak ada satu alasan pun yang bisa mengarah kepada upaya pembebasan ini. Hal ini bisa dimaklumi karena saya diculik bukan ditangkap secara legal, dan mereka bisa berbuat apa pun terhadap saya tanpa takut risiko. MINTA MIMPI Setelah sidang umum selesai, pengharapan untuk bebas itu semakin besar. Tapi, toh senantiasa tidak datang juga. Saya hanya berdoa dengan sisa pengharapan yang ada. Doaku, "Tuhan, beri saya petunjuk, dengan mimpi atau apa saja agar saya bisa tahu, saya bisa bebas atau tidak." Ada beberapa mimpi yang saya terima selama saya ditahan. Semua mimpi ini saya artikan, saya bakal bebas. Tetapi, saya belum yakin juga,. Maka saya minta supaya Tuhan memberi mimpi yang sederhana yang saya dapat artikan, mimpi yang tidak rumit-rumit. Beberapa saat kemudian saya mendapat anugerah mimpi. Dalam mimpi itu saya seakan-akan sedang bersiap-siap pergi naik haji. Mimpinya aneh. Saya berada di barisan yang siap naik pesawat. Seingat saya, saya duduk di deretan nomor dua paling belakang. Ketika sedang di-briefing, tiba-tiba ada yang protes. Awalnya protes itu tidak dihiraukan oleh yang memberi briefing. Lalu, orang yang protes tadi ngotot masuk ke dalam barisan, kemudian datang ke belakang saya. Saya lihat tempat duduk itu kosong, dia marah-marah Dan menunjuk-nunjuk sesuatu. Katanya, "Yang ini beda, enggak boleh ikut." Saya lihat, ternyata dia sedang menunjuk-nunjuk gambar, dan saya perhatikan, ternyata gambar itu gambar Tuhan kita Yesus Kristus. Lewat mimpi ini saya yakin bahwa saya nanti bisa bebas. Mimpi itu saya komunikasikan kepada teman-teman sebelah sel saya, yaitu Waluyo Jati dan Haryanto Taslam. Mimpi ini menjadi alat bagi kami untuk mengukur apakah kami punya harapan untuk bebas karena di sana tidak ada alasan rasional apapun yang bisa menjadi dasar atau patokan kapan kami akan bebas. Yang ada hanya bagaimana feeling kami hari ini, bagaimana perasaan kami apakah kami akan bebas. Itu saja. Jadi, ketika suatu saat Haryanto Taslam bertanya lagi, "Gimana Pius hari ini?" Saya jawab, "Baik, Pak." "Kapan kita bebas?" Saya jawab, "Kloter terakhir, Pak." Kebetulan waktu itu 'kan musim haji dan saya percaya bahwa karena saya berdiri di urutan belakang, saya mengartikan pada saat saya bebas nanti bertepatan dengan pemberangkatan haji kloter terakhir. Karena waktu itu masih lama, Pak Haryanto Taslam bilang, "Waduh, kok masih lama?" Lalu saya bilang, "Ya, sudah Pak. Mungkin malam ini." Tapi, saya tetap yakin kemungkinan besar pada saat kloter terakhir tersebut. Beberapa hari sebelum kloter terakhir diberangkatkan, saya berjanji di dalam diri sendiri: Tuhan bila mimpi ini benar dan saya bebas pada saat kloter terakhir, saya berjanji kepadaMu, mimpi ini akan saya ceritakan kepada banyak orang. Benar saja, pada tanggal 2 itu, saya mendapat kepastian bebas setelah saya dikeluarkan tiga kalinya dari sel, pagi, siang, dan malam. Untuk memenuhi persyaratan maka ada tiga persyaratan yang diajukan penculik. Pertama, saya akan dibebaskan, tetapi tidak boleh bicara pada siapa pun. Kemudian, saya tidak boleh mengadakan konferensi pers. Ketiga, saya harus tetap berada di Palembang sampai ada instruksi lebih lanjut. Saya baru dibebaskan pada tanggal 3 April. Keesokan harinya. Segera setelah saya bebas, saya menghubungi salah seorang teman untuk mencek apakah beberapa orang yang sudah dibebaskan itu masih ada atau tidak. Dari enam orang yang sudah dibebaskan, yakni Noval, Ismail, Dedy Hamdun, Ryan, dan Sonny, ternyata saat ini mereka belum pulang. Saat itu saya berpikir pasti ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada mereka. Saya lalu ingat ancaman dari penculik sebelumnya. Kata mereka, ada orang yang keluar hidup dan ada yang keluar mati dari tempat itu. Ketika saya bebas, saya diminta bersyukur pada Tuhan. Menurut mereka, Tuhan sudah menggerakkan diskusi mereka sehingga saya diputuskan untuk bebas. "Dan supaya kamu tahu, Pius," kata mereka, "bahwa keputusan untuk mengeksekusi orang dilakukan dengan sangat selektif." Seminggu pertama setelah dibebaskan saya dipenuhi kebimbangan. Saya bimbang apakah saya akan memberi kesaksian atau tidak. Kalau saya bersaksi saya harus berani menaggung risiko. Kebetulan, pada saat itu menjelang Paskah. Pada hari Jumat Agung, saya merasakan itu merupakan puncak kegelisahan apakah saya akan memberi kesaksian atau tidak. Saya pergi ke gereja, tapi tidak bisa konsentrasi pada misa. Tiba saatnya liturgi penghormatan pada salib, saya ikut berbaris. Saya mencium kaki Yesus lalu saya kembali berdoa. Tiba-tiba saya mendengar suara bisikan, bunyinya, "Pius, kalau Saya saja mau mengorbankan diri untuk menebus dosa manusia, dan sekali lagi mengorbankan diri agar kamu bisa keluar dan berkumpul bersama keluargamu, kenapa kamu tidak mau mengorbankan hidupmu agar mereka yang masih di dalam bisa keluar bebas seperti kamu dan yang masih berjuang tidak mengalami nasib seperti kamu?" Tiba-tiba saya sadar. Dengan bisikan ini berarti Tuhan menugaskan saya untuk bicara. Saya yakin bahwa saya harus bicara. Lalu, sepulang misa saya meminta diadakan rapat keluarga. Saya bilang pada ibu, "Bu, saya akan memberikan kesaksian." Ibu spontan menjawab, "Jangan. Tunggu yang lain bebas dulu. Kamu harus bergandengan tangan supaya kuat kesaksianmu." Ya, tapi hari ini saya sudah memutuskan akan memberi kesaksian. Saya merasa bahwa Tuhan menjadikan saya sebagai alat untuk memberitakan kebenaran. "Waduh, kalau kamu mau dijadikan alat sama Tuhan, kayaknya kamu lebih baik aktif di gereja dan persekutuan doa," sanggah Ibu. Lalu saya bilang, "Talenta orang kan lain-lain." "Kamu siap?" Risikonya dieksekusi setiap saat. Kamu siap?" "Saya siap, Bu." "Kalau begitu, mulai sekarang ibu hanya akan berdoa agar sewaktu-waktu kamu dieksekusi kamu sudah siap." Setelah itu Ibu langsung memeluk saya, "Duh, nak baru ngumpul seminggu kok harus sudah pisah lagi." Segera setelah itu saya mengontak teman-teman untuk menyiapkan segala sesuatunya. Saya tetap percaya dan saya menyiapkan sebuah doa yang ditemukan Ibu pada saat beliau tahu bahwa saya hilang, yaitu Mazmur 27. Mazmur inilah yang menguatkan saya. Doa itu betul-betul cocok dengan situasi saya. Seorang yang berada dalam pengejaran, yang diburu, tetapi dia tetap yakin karena perlindungan Tuhan. Imanuel.*** (Guido SP) -------------------------------------------------------------------------- Andaikata ada seorang raja yang mencintai seorang gadis sederhana, apakah yang akan dilakukannya? Jika raja itu langsung memanggil gadis itu dan meminangnya, apakah gadis miskin itu akan (berani) menolaknya? Jika raja yang berkuasa dan penuh kemuliaan itu menyatakan cintanya, apakah gadis itu akan menolaknya? Akhirnya, raja mengambil keputusan drastis, dia turun takhta, berpakaian lusuh dan menemui gadis itu dan menyatakan cintanya. (Agar cinta yang diperolehnya adalah cinta yang sejati. Bukan karena melihat dia seorang raja-- Lion). Cerita dramatis yang diceritakan oleh Kierkegaard di atas, sangat pas dengan apa yang Yesus lakukan dua ribu tahun yang lalu: "Kristus Yesus, yang walupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2:5-7). Itulah makna Natal yang sejati. Yesus yang dalam rupa Allah dan penuh kemuliaan sorga merelakan diriNya turun ke dunia untuk menebus dosa manusia. Tuhan Yesus Kristus, yang oleh karena kita menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya (II Kor.8-9). ��� (Dikutip dari sebagian pesan Natal Redaksi Majalah Bahana No. 06 Vol. 92/Desember 1998) ============================================ SELAMAT HARI NATAL 1998 DAN TAHUN BARU 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Dec 1998 jam 16:25:19 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
