----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Media Indonesia, Selasa, 29 Desember 1998

Beli Senjata Api atau Hengkang dari Jakarta

PENYELUNDUPAN senjata api dalam jumlah besar akan membanjiri Jakarta. Rasa
takut memancing masyarakat mengambil sikap over defensif dengan
mempersenjatai diri. Gejala ini sudah terlihat dengan masuknya 6.000 senjata
api melalui Sulawesi Utara dan penyelundupan 400 senjata sejenis,lewat
Bandara Soekarno-Hatta, pekan lalu.

Masyarakat mencoba bertahan dengan berbagai cara agar tidak menjadi obyek
kejahatan. Cermin ketakutan ini sudah tergambar dalam perjalanan 1998.
Berlarut-larutnya situasi politik secara struktural telah menelantarkan
ekonomi rakyat. Sikap keras masyarakat sudah terlihat, main cekik, main
bunuh, gampang menyakiti, jambret, todong, rampok, dan kasus pemerkosaan,
sudah mewarnai.

Mayjen (Purn) Polisi Koesparmono Irsan, mantan Deputi Operasi Kapolri,
melihat, penyelundupan senjata api yang digambarkan di atas, masih kecil
dibandingkan dengan kejadian yang membayangi 1999. Masyarakat tak lagi
merasa aman hanya dengan membangun pagar rumah tinggi-tinggi.

''Yang lebih buruk kalau eksodus dari Jakarta mulai terjadi,'' ujarnya.
Kecemburuan sosial semakin terbentang karena pagar tetangga semakin tinggi.
Penghuni akan diintai, sehingga tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan
Ibu Kota.

Badai krisis ekonomi menghantarkan kejahatan tahun 1999 tetap berorientasi
kepada uang. Menurut Koesparmono, Anggota Komnas HAM, kasus pencurian,
perampokan, korupsi, manipulasi, dan coorporate crime akan merebak.

Besar kemungkinan, kejahatan di tahun 1999 semakin membesar, baik kuantitas
maupun kualitasnya, dibanding 1998. Cerminannya terlihat dari faktor
korelatif kejahatan yang tumbuh subur. Pengangguran besar-besaran menjadi
ancaman karena rakyat tak lagi punya harapan memenuhi kebutuhan ekonominya.

Faktor lain yang menurut Rektor Universitas Bhayangkara ini bisa menjadi
sumbu pemicu kejahatan berkaitan dengan hajatan kampanye dan pemilu. Akibat
tidak puas terhadap pelaksanaan kampanye maupun pemilu, bentuk kegiatan
masyarakat bisa tidak terkontrol sehingga terjadi tindakan di luar batas.

Koesparmono sependapat, ancaman ini terjadi atau tidak, sangat tergantung
antisipasi aparat. Tapi melihat kekuatan polisi di Jakarta, mantan Kapolda
Jawa Timur ini, cukup pesimistis. Sebab, 40% anggota Polda Metro sekarang
ini berada di lapangan mengatasi gangguan dan demonstrasi.

Sebesar 30% merupakan tenaga administratif yang mengurusi SIM, STNK, tahanan
dan lain-lain. ''Jadi tinggal 30% yang bisa diperbantukan,'' ungkap Dosen
Pascasarjana UI ini. Dibandingkan kecepatan pertumbuhan faktor kejahatan
tadi, jumlah polisi sangat kurang.

Apakah mau disebut Ratih atau Kamra, bagi Koesparmono bukan persoalan. Yang
penting ada suntikan tenaga dari masyarakat untuk mengatasi persoalan
keamanan. ''Di negara Barat disebut community police. Rakyat dilatih untuk
membantu polisi mengatasi masalah yang timbul,'' katanya.

Sebab tugas polisi sangat menumpuk pada 1999. Selain menghadapi pemilu dan
pascapemilu, kehadiran community police dibutuhkan masyarakat menghadapi
kejahatan internasional yang selalu berkembang di negara dalam kondisi
negara dilanda internal konflik. ''Sabu-sabu masuk Jakarta karena negara
mengalami internal konflik,'' ujarnya mencontohkan.

Persoalan lain yang tak kalah pentingnya menyangkut kesatuan penegak hukum
membentuk kekuatan pengimbang. Aparat penegak hukum harus jadi satu
kekuatan. Peran masyarakat juga dominan dalam menekan lajunya kejahatan.
Jika masyarakat guyub (bersatu), apa pun tidak akan tembus. Sistem swakarsa
lingkungan akan menyulitkan penjahat beraksi.

Maling atau pencuri akan terus meningkat di permukiman, baik jumlah maupun
modus operandinya. ''Dulu dapat Rp 10.000 sudah tenang, sekarang ingin
lebih,'' tambah Koesparmono yang memastikan kejahatan di permukiman akan
berakhir bila akselerasi kebutuhan ekonomi masyarakat mulai terpenuhi. Namun
penjahat profesional tetap akan beroperasi karena sumber penghidupan mereka
memang dari situ.

Khusus di Ibu Kota, menurut Koesparmono, penjahat yang beroperasi tahun
depan terbagi dalam dua kelompok. Penjahat profesional dan penjahat musiman.
Penjahat musiman tumbuh karena desakan kebutuhan hidup. Mereka sangat
tergantung pada kesempatan yang ada.

Tentunya untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan tersebut, purnawirawan
Polri yang ahli di bidang reserse ini, sangat menaruh harapan kepada
pemerintah untuk memperbesar jumlah polisi. Ide Ratih yang digulirkan
Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto, menurutnya, harus lebih luas.
Sebaiknya diserahkan kepada polisi untuk disekolahkan.

Bila sewaktu-waktu perlu tenaga untuk kepentingan penjagaan atau pengamanan,
misalnya di pos-pos pemilu, mereka bisa diambil. Setelah pemilu dikembalikan
lagi kepada polisi untuk melanjutkan pendidikan.

Sehingga tamat dari pendidikan, mereka bisa menjadi polisi yang baik. Tidak
seperti sistem Ratih yang digaji di atas upah minimum regional (UMR), tapi
tanpa hak dan tanggung jawab. Sehingga jika disikat penjahat, mereka tidak
bisa berbuat apa-apa.**

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Jan 1999 jam 09:01:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke