---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Kejahatan, Bergeser dari Rumah ke Jalan KEJAHATAN di Ibu Kota cenderung meningkat. Peta kriminalitas sepanjang tahun 1998 bahkan mengalami perkembangan dan pergeseran. Dari permukiman ke jalanan dan sebaliknya. Kenaikannya, menurut Kapolda Metro Jaya Mayjen Pol. Noegroho Djajoesman dalam wawancara khusus dengan Media, memang tidak terlalu tinggi. Tetapi melihat angkanya cenderung naik. Kenaikan ini tidak terlepas dari suatu kondisi yang sedang terjadi. Pengaruh krisis ekonomi sangat dominan mendorong terjadinya kegiatan masyarakat. ''Pelaku tindak kriminal selalu menumpangi kegiatan masyarakat. Setiap ada kegiatan, di belakangnya ada kegiatan kriminal. Ini merupakan modus baru. Kalau ada kemacetan, pelaku kejahatan mengambil manfaatnya,'' tambahnya. Misalnya, terjadi unjuk rasa yang menyebabkan kemacetan selalu ada pihak yang memanfaatkan. Kaca spion mobil disambar, pejalan kaki dipalak, dan bentuk street crime lainnya. Berangkat dari peta rawan inilah, maka Polda Metro Jaya berupaya mengajak masyarakat untuk menekan angka kriminalitas. Antara lain dengan peningkatan siskamling di permukiman, sentra-sentra ekonomi, di pertokoan, dan lain-lain. Mantan Kapolda Jawa Tengah ini mengaku kesadaran masyarakat cukup tinggi untuk menjadi 'polisi' bagi diri dan lingkungannya. Terlihat, kejahatan di permukiman berkurang tapi meningkat di jalanan. Sebab akibat ini harus diantisipasi. Polda Metro memandang perlu penempatan petugas kepolisian dan aparat keamanan lainnya di titik-titik rawan. Dilihat dari peta konfigurasi titik-titik rawan jelas terjadi perubahan, dari titik rawan di permukiman ke titik-titik lain. Polisi dengan keterbatasan personelnya terpaksa menggunakan pola prioritas sebab pada saat bersamaan energinya tersedot menangani aksi unjuk rasa. Petugas berpakaian dinas betul-betul berada di titik paling rawan, sedangkan titik kejahatan musiman cukup ditempatkan petugas masyarakat. Masyarakat juga ikut mengatur. ''Saya harapkan pihak lalu lintas dibantu Supeltas (Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas). Supeltas sudah mulai turun mengisi titik yang dianggap tidak terlalu rawan,'' ujar Kapolda mengungkapkan rahasia pola operasinya. Ruang-ruang yang masih kosong akan diisi petugas berpakaian seragam. Mereka juga diharuskan membantu tugas lalu lintas. ''Keterlibatan petugas ini mempertebal penanganan sebagai langkah preventif.'' Sementara tindakan represifnya, lanjut mantan Waka Polda Jawa Barat ini, merupakan tugas reserse. Reserse sudah diterjunkan untuk menentukan titik-titik atau wilayah-wilayah rawan yang betul-betul meresahkan masyarakat. Kehadiran reserse di penghujung tahun ini sudah mulai tampak dengan berkurangnya aksi kejahatan di pertigaan atau lampu merah. Penangkapan dan penembakan terhadap pelaku kejahatan mulai berhasil menekan laju kejahatan. Tercatat tersangka yang berhasil ditangkap sejak operasi digelar pertengahan November hingga 22 Desember, hampir 400 orang ditangkap. Belum termasuk 19 orang tewas ditembak petugas dan 30 tewas dikeroyok massa. Keberhasilan yang bentuknya masih sesaat ini, menurut Kapolda Metro, karena bekerjanya seluruh fungsi secara serentak. Baik fungsi represif maupun preventif. Meski demikian, ia berharap banyak bantuk partisipasi masyarakat bersama-sama menanggulangi kejahatan. ''Saya harapkan ada keberanian masyarakat melawan tindak kejahatan. Kita bukan melawan orangnya, melainkan kejahatannya,'' ujarnya. Pola kerja Noegroho didukung Kapolri Letjen Pol Roesmanhadi mengingat kejahatan di Jakarta cenderung meningkat. Upaya keras akan dilakukan untuk menekan dengan menggelar berbagai macam operasi. Seperti Operasi Kilat Jaya, Operasi Bersih, dan operasi lainnya. Bukan muluk-muluk kalau Pangdam Jaya Mayjen TNI Djadja Suparman kemudian memprediksikan situasi Jakarta tahun 1999 dapat lebih aman. Tentu saja ada syaratnya yakni apabila semua lapisan masyarakat mau bersatu, memikirkan kepentingan bangsa, untuk menekan kejahatan. ''Kita awali dari atas sampai bawah. Elite politik yang mempunyai kepentingan sendiri-sendiri atau golongan mengesampingkan kepentingannya. Kita sama-sama memikirkan kepentingan bangsa. Kalau kita dapat berkomunikasi satu sama lain, insya Allah aman. Tidak akan ada apa-apa,'' harap Djadja. *** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 5 Jan 1999 jam 09:01:53 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
