---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Dalam 3 hari terakhir, ada 26 email yang masuk merespon tulisan saya. Ada dari Jakarta, Medan, Makasar,Bogor,Aceh,Tokyo,Paris, Berlin,Semarang, Denver,Jogjakarta,Kualalumpur,Menado,dan Boston. Saya cukup tertegun, betapa sebuah jarak kehilangan arti dalam jaman informasi seperti sekarang ini. Lebih dari separuh email yang masuk menanggapi tulisan " sebening air mata " yang lalu itu. Saya meneliti satu persatu, hampir semua respon dari netter di tanah air seperti yang telah saya duga, mengatakan bahwa saya adalah muslim gendeng,munafik, sableng, kurang iman dan terlalu banyak bergaul dengan orang barat,bahkan ada yang menganjurkan saya untuk tobat. Memang ada juga beberapa surat yang menyatakan keharuan dan mengerti benar tentang isi perasaan saya, karena mereka mengalami hal yang sama. Tapi ada yang unik, hampir semua yang menggugat ke Islaman saya, dari yang mencaci maki sampai yang memberikan setumpuk ayat ayat Quran untuk membuktikan bahwa " manusia selain muslim ,tempatnya di neraka " adalah para netter yang bernama sangat Islam. Seperti Hasan Basri nama yang sangat Islami ini, nama nama mereka Zulfan, Husni Musanif,Syahrani, Zulkarnain,Abdullah Hasan dll. Saya tidak tahu apa hubungan nama dengan tingkat kepicikan. Atau apa hubungan antara alamat menetap dengan keluasan berpikir. Yang jelas nama nama agamais diatas sungguh membuat galau perasaan ini.Bila mayoritas orang satu agama dengan saya berpikiran seperti mereka, maka saya sekarang mengerti negara negara Islam itu begitu nampak mundur, dan mengapa tingkat toleransi beragama cuma menjadi hiasan di Indonesia agar dunia terkagum kagum pada kita. Barangkali memang benar tuduhan seorang netter kepada saya bahwa " iman saya spoiled karena bergaul dengan manusia barat" Tapi dari pendapat dia itu saya justru menemukan kesimpulan baru " Islam mereka spoiled karena tidak luas bergaul ", karena mereka terlalu lama menetap secara lokal, karena pergaulan mereka sangat domestik, tertutup dan terlalu gampang curiga dengan segala yang non Islam. Bila saya bilang Surga itu untuk semua orang, Mereka bilang cuma buat Islam, jika saya bilang Tuhan itu untuk semua orang, mereka bilang Tuhan orang Islam berbeda dengan Tuhan Tuhan lainnya. Jika saya bilang Tuhan maha pengasih pada semua umatnya tanpa memandang agama, mereka bilang Tuhan maha pengasih, tapi cuma pada pemeluk agama yang di janjikan yaitu Islam. Semua ini mendorong saya menyetujui pendapat bahwa " Sebenarnya kita tidak menyembah Tuhan, tapi menyembah Agama " Saya tentu saja bukan sedang membanggakan diri karena tinggal di luar negri. Dan saya juga bukan sedang menclaim bahwa wawasan saya sudah begitu luas.Saya sebenarnya cuma ingin berbagi pengalaman dari pertualangan yang saya telah tempuh yg telah memberikan saya banyak pemikiran baru. Menempuh hidup, sekolah, bekerja dan bergaul adalah proses belajar.Begitu juga traveling dan jalan jalan. Tapi satu yang paling penting jangan kita hilangkan, yaitu bergaul. Tanpa pergaulan hidup itu sunyi, sekolah itu beban,bekerja itu siksaan, dan jalan jalan cuma proses pindah dari satu tempat ke lain tempat untuk foto foto, mem beli oleh oleh kemudian pulang. Saya harus katakan, semakin anda banyak bergaul dengan bule, dengan negro,cina,vietnam dan korea, semakin anda akan mendekat pada suatu keyakinan bahwa pada dasarnya manusia itu sama. Yang berbeda cuma adat istiadat dan budaya belaka. Semakin anda bergaul dengan orang Nasrani,Yahudi,Budha Hindu,penyembah batu,Kong hu cu,kejawen, zoroaster, semakin anda tahu bahwa nilai nilai Ketuhanan mereka sama dengan kita semua. Bergaul dengan mereka saya kira malah akan memperluas cakrawala berpikir.Tidak seperti penceramah jumaat yang melarang umat Islam untuk menyalami natal orang nasrani, mengharamkan mereka untuk datang ke gereja,kuil dan temple, saya malah menganjurkan supaya kita datang dan masuk, melihat dan belajar memahami kepercayaan dan agama orang lain. Karena toleransi yang murni selalu berasal pemahaman.dan untuk paham kita jelas harus melihat dan belajar. Mungkin ancaman penceramah itu bertujuan supaya iman orang muslim tidak goyah, tapi bukankah dengan menghindar begitu menandakan bahwa iman kita labil ?tidak percaya diri? Lemah kepercayaan? Anda muslim dan datang ke gereja. Apakah anda berhenti menjadi muslim karena itu?apakah Tuhan murka gara gara dia cemburu takut anda akan meyembah Tuhan yang lain? Yohanes datang ke Mesjid, duduk dan mendengarkan pengajian.Apakah Yohanes bakalan dikutuk Allah? Kalau Tuhan main kutuk ,cemburuan dan marah marah begini, ini jelas bukan Tuhan asli, Tapi Tuhan yang dibuat manusia dalam pikirannya sendiri. Manusia diciptakan berbangsa bangsa, berlainan bahasa, dan agama. Jauh di lubuk hati setiap orang kita semua memimpikan untuk bisa bertemu dgn Tuhan dan bisa masuk surga. Hidup ini memang melelahkan ,kawan. Masuk surga jelas bakalan membuat kita nyaman dan tentram. Tapi Tuhan dan Surga itu abstrak. Yang real adalah yang nampak sekarang ini. Tuhan menciptakan manusia berbeda beda. Sebenarnya juga dia sudah memberikan surga surga kecil untuk kita nikmati bersama. Mencintai orang lain itu nikmat. Dicintai orang lain itu lezat. Mencintai tanpa dicintai adalah obsesif. Dicintai tanpa mencintai namanya arogan. Kebahagian seorang pencinta yang damai adalah memiliki dua duanya. Dan disitulah sebenarnya surga berada. Ketika anda bisa mencapai yang satu itu. Seketika hidup ini tidak serumit yang seperti anda bayangkan. Karena sebenarnya anda telah menemukan surga semua orang.. Surga surga kecil diantara kita...... Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 7 Jan 1999 jam 19:32:55 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
