---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk ACEH TERUS TETESKAN DARAHNYA ............... Oleh: Bagus Ali (Anggota Forum Diskusi Kebudayaan Islam, Cina dan Yahudi di SINGAPURA) Maha suci Tuhan yang menciptakan alam beserta seluruh isinya sebagai sumber pengetahuan yang tak pernah habis, bagi seluruh manusia tanpa membedakan agama yang dianutnya ataupun ras yang dibawanya. Betapa tingginya penghargaan Tuhan bagi orang2 yang menuntut ilmu demi kedamaian , keadilan, kasih sayang guna terciptanya peradaban manusia yang patuh terhadap hukum alam dan hukum Tuhan. Tuhan akan memberikan akibat terhadap orang2 yang merendahkan, memanipulasikan dan mengacuhkan, nilai-nilai keilmuan di tengah kehidupan Masyarakat. Apresiasi nilai ilmu dan pengetahuan yang rendah oleh ABRI dan masyarakat Aceh telah mengakibatkan kehancuran peradaban masyarakat aceh khususnya dan indonesia umumnya. Hal ini tentunya menimbulkan keprihatinan dalam bagi orang-orang yang menginginkan hidup dalam suasana cinta damai, kasih sayang , kejujuran dan keadilan. Sama halnya yang terjadi pada masyarakat Irian Jaya, Timtim, Banyuwangi, Minoritas cina., dan tragedi yang menimpa mahasiswa. Prilaku para elit politik orang aceh yang berada di daerah maupun di Jakarta, pemerintahan daerah Istimewa Aceh, dan elit edukatif yang berada di Universitas Syiahkuala hingga SD, yang relatif rendah dalam mengappresiasikan nilai keilmuan di tengah kehidupan masyarakat aceh sendiri, telah memberikan contoh dan konstribusi yang negatip bagi kalangan masyarakat awam kebanyakan. Pada akhirnya masyarakat awam yang tidak mempunyai panutan lagi mengambil tindakannya menurut jalan pikiranya masing-masing yang harus dibayar dengan tetesan darah dan kematian. Fakta tersebut dapat dilihat langsung betapa tingginya nilai-nilai kebendaan, kekuasaan dan simbol kedudukan bagi elit aceh dewasa ini hingga untuk memperoleh hal tersebut terjadilah benturan tradisi masyarakat Aceh yang telah berkembang sejak dulu kala. Lebih parah lagi hampir sebahagian besar elit Aceh, menganggap dirinya paling hebat, paling kuat dan paling mampu, yang akibatnya hampir tidak ada celah dihati dan pikirannya, untuk dikritik orang luar aceh ataupun orang Aceh sendiri yang sadar, terlebih lagi si pengkritik itu orang Kristen (kafe) meski kritikannya tidak semua jelek. Memang sungguh tragis, akibat penyikapan pada nilai-nilai keilmuan yang rendah elit Aceh dan elit ABRI, sejak rejim Soeharto telah menimbulkan malapetaka yang sangat biadab pada rakyat kecil yang juga telah menghilangkan marwah khususnya yang merasa dirinya orang Aceh dan umumnya orang2 yang cinta damai dalam kehidupan kemasyarakatan yang majemuk.. Rezim Soeharto, telah meninggalkan sikap mental goblok pada berbagai lapisan masyarakat di berbagai daerah propinsi Indonesia, hanya demi menjaga supremasi Jakarta. Imbauan khususnya bagi elit yang merasa dirinya orang aceh dan masyarakat Aceh pada umumya, perlu diambil kebersamaan sikap terhadap situasi saat ini dengan dasar untuk cinta damai dan marwah aceh tanpa merasa diri paling pintar. Meski banyak simpatisan datang terhadap tragedi ini, rakyat Aceh harus mempertimbangkan pikiran sebagai berikut: Jauhkan pikiran bahwa ICMI, KISDI, ataupun organisasi islam lainya akan mengambil peran dalam kasus Aceh, alasanya meski umat Islam mayoritas di RI tetapi sangat lah lemah, untuk menjalankan agenda mereka saja pun terseot-seot, dikarenakan apresiasi keilmuan yg rendah dikalangan umat islam sendiri di RI. Lembaga yang menangani hak asasi yang ada di Aceh atau pun di Jakarta , seperti Komnas HAM, Kontras dan lain sebagainnya tetap diberi penghargaan atas usahanya, tetapi ketahui lah bahwa saat ini sangat banyak masalah yang harus mereka proritaskan dengan berbagai alasan politis atau pun alasan lainya. Amnesti Internasiaonal atau pun UNHCR, terlalu kecil untuk memikirkan tentang aceh, banyak hal lain dibelahan dunia yang perlu ditanganinya. Hanya masyarakat aceh yg sadar akan marwahnyalah yang dapat mengembalikan nilai positip kehidupan masyarakat aceh ditengah kemajemukan ras lainnya dengan dasar keilmuan bukan emosional , keadilan, kesabaran dan penuh keyakinan. Untuk mempercepat perlu konsolidasi bagi elit Aceh dan simpatisan yang cinta damai dalam mencari strategi penyelesaian masyarakat aceh. Sosialisasi dan penerapan hasil pemikiran oleh para elit aceh ke sejumlah daerah rawan secara kontinyu mudah-mudahan akan mempercepat pulihnya luka masyarakat gampong bukan omong-omong di Jakarta ataupun di lembaga2 dalam bentuk2 seminar dan diskusi saja. Pada Gubernur Syamsuddin Mahmud perlu mencari tahu anak-anak muda Aceh yang sedang studi di luar negri dan perlu dicanangkan program pemberantasan kebodohan berpikir pada generasi muda Aceh dengan megirim para pemuda Aceh yang brilyan ke berbagai negara dalam berbagai bidang pengetahuan tanpa ada unsur KKN dalam pengirimannya.(Harus dijadikan prioritas untuk mencegah darah rakyat aceh menetes sia-sia). Semoga Tuhan memberkahi usaha orang yang menginginkan keadilan dan kejujuran dalam rangka memerangi kebodohan.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Jan 1999 jam 13:07:03 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
