----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Berawal dari temuan Gerakan Masyarakat Peduli Harta Negara (Gempita),
maka beredarlah berita menghebohkan: Eddy Tansil  yang mendapat gelar
"mega koruptor," yang diberitakan melarikan diri dari penjara Cipinang,
Jakarta Timur, Mei 1996,  ternyata berada di Fujian, Cina. Bukan hanya
itu di sana dia mempunyai pabrik dan sekaligus distributor bir dengan
nama Putian Golden Key Brewery Co.

Orang yang pertama kali mendapat informasi tentang keberadaan Eddy
Tansil ini adalah Hidayat Jati, staf Gempita. Dia mengaku, di bulan
Desember lalu, dia mendapat info dari koleganya yang berbisnis di Fujian
bahwa nama Tansil sedang mencuat dalam pembuatan dan pemasaran bir di
sana. Bahkan telah mendapat julukan "Bapak Bir Fujian," karena sukses
berbisnis bir di sana. Selanjutnya Hidayat Jati mencoba menelusuri
informasi itu lebih mendalam di internet. Hasilnya, ternyata nama Eddy
Tansil memang ada di sana, menjalankan bisnis birnya di Fujian, Cina,
bekerjasama dalam bentuk production licence agreement dengan produsen
bir kenamaan dari Jerman, Beck's Beer Co sejak 1992. Sayangnya tidak
dijelaskan di mana alamat di internet yang bisa membuat kita juga bisa
mendapat informasi tentang perusahaan bir tersebut. Kabar lebih jauh
lagi? Belum ada.

Maka sebenarnya berita tersebut masih mentah untuk bisa diambil suatu
kesimpulan mutlak, bahwa memang benar Eddy Tansil itu masih hidup dan
berada di Cina. Walaupun Gempita mengatakan sangat yakin dengan hasil
temuannya itu.  Temuan seperti ini harus sesegera mungkin
ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan perburuan secara lebih mendalam
dan "agresif." Masalahnya apakah pihak pemerintah (berwajib)
sungguh-sungguh mau melakukannya? Sebab berita-berita semacam ini
(keberadaan Eddy Tansil) bukan baru kali ini saja. Beberapa tahun lalu,
juga beberapa kali pihak berwajib Indonesia disibukkan dengan informasi
tentang keberadaan Eddy Tansil di Jakarta. Ternyata setelah dilacak,
orang itu bukan Eddy Tansil, tetapi hanya nama, nama belakang, atau
wajahnya yang mirip. Juga Oetojo Oesman (sewaktu masih Menteri
Kehakiman) pernah memergoki Eddy Tansil di Kanada. Tetapi setelah
dilacak tim yang ditugaskan ke sana, mereka kecele. Orang tersebut sama
sekali bukan Eddy Tansil, hanya wajahnya yang mirip.

Apa yang ditemukan oleh Gempita hanya informasi bahwa Eddy Tansil
(masih) memiliki saham di pabrik bir di Cina. Namanya "Putian Golden Key
Brewery." Tidak ada bukti dan fakta yang meyakinkan bahwa Eddy Tansil
benar-benar masih hidup (di Cina). Bisa jadi Putian Golden Key yang
berdiri tahun 1992 itu memang dulunya dimiliki Eddy Tansil, tetapi bisa
jadi dia sendiri sekarang sudah mati. Sedangkan nama dan profil
perusahaan tersebut dalam data bisnis belum diubah oleh pemilik yang
lain.

Kalau juga misalnya Eddy  masih hidup dan menjalankan bisnis birnya
dengan tetap memakai embel-embel "Golden Key", pertanyaan yang perlu
dijawab  adalah mengapa Eddy  bisa sebodoh dan seceroboh itu? Dia adalah
buronan super kakap pemerintah RI, dia lari dari penjara, tentu saja
orang seperti ini akan berupaya dengan berbagai cara untuk menghilangkan
jejaknya. Ini kok, malah meninggalkan jejak dengan tetap memakai nama
perusahaan lamanya itu? Lebih parah lagi, kok bisa-bisanya namanya (Eddy
Tansil) tetap dipakai? Bukankah ini namanya dia meninggalkan jejak yang
teramat jelas? Ada yang mengatakan mungkin karena dia  terlalu percaya
diri. Tetapi anehnya di sisi lain, pihak yang sama mengatakan Eddy
Tansil memang masih hidup dan mungkin sekarang sudah bedah plastik untuk
mengubah wajahnya. Kok bisa? Dia mau bersusah-susah melakukan operasi
bedah plastik wajahnya, tetapi bersamaan dengan itu dia tetap
meninggalkan jejak yang teramat jelas itu: nama "Golden Key" dan "Eddy
Tansil."

Yang disayangkan pula di antara media-media cetak yang memberitakan
temuan Gempita ini tidak pernah (sejak dulu) menganalisis  kemungkinan
lain, atau misteri di balik kejadian tersebut.  Termasuk majalah Tempo
dan Tajuk yang mengandalkan berita investigasinya. Misteri di balik
peristiwa korupsi itu sendiri, dan misteri di balik larinya Eddy Tansil
dari penjara. Benarkah hanya dengan peran (surat sakti) dari Sudomo,
Bapindo menjadi gentar dan dengan mudah mengucurkan kredit yang
sedemikian besar dan kemudian disalahgunakan itu? Benarkah hanya Sudomo,
Sumarlin, dan Adrianus Mooy yang patut dicurigai keterlibatannya?
Benarkah Eddy Tansil lari dari penjara, atau malah sebenarnya sudah
dibunuh?

Pihak mahasiswa pun demikian. Mereka seolah-olah menelan bulat-bulat
semua berita media Indonesia tentang Eddy Tansil itu. Seolah-olah tidak
tahu ada berbagai misteri, dan pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab
di balik semua itu.

Menurut beberapa sumber berita yang dekat dengan dunia inteljen dan
tabloid Tekad, sebenarnya Eddy Tansil tidak lari. Tetapi sudah dibunuh.
Awalnya, ketika masih di penjara, Eddy Tansil kedatangan tamu wartawan
Radio Australia. Dalam wawancara tersebut Eddy Tansil banyak
mengungkapkan hal-hal yang sebenarnya merupakan rahasia besar tentang
siapa saja pihak-pihak yang ikut terlibat dalam korupsi maha besar itu.
Di antaranya yang disebut adalah anggota Keluarga Cendana, yang bukan
lain adalah Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto). Tommy diketahui
bekerjasama dengan Eddy  dalam perusahaan yang bernama PT Hamparan
Rejeki, yang juga adalah anak perusahaan Golden Key milik Eddy.

Maka ketika mendengar berita tentang adanya wawancara tadi, pihak Tommy
dan/atau pejabat tinggi lainnya menjadi kelabakan. Mereka ketakutan
kalau sampai Eddy nanti akan  ceplas-ceplos semakin jauh lagi, sampai
akhirnya permainan kotor di antara mereka terkuak. Maka jalan yang
ditempuh adalah melenyapkan Eddy untuk selama-lamanya dengan rekayasa
bahwa dia melarikan diri dari penjara.

Kalau ini yang terjadi, mungkin Eddy sengaja ditawarkan untuk melarikan
diri. Setelah dia berada di luar penjara, ada yang mengjemputnya. Eddy
mengira dia akan dibawa ke tempat yang aman. Tapi dalam perjalanan, dia
langsung dihabisi. Setelah itu mayatnya dimusnahkan. Misalnya dibakar,
dan abunya disebarkan ke laut, atau dikubur entah di mana. Seperti para
aktivis politik yang diculik dan sampai sekarang belum kembali. Ada yang
mengatakan bahwa mereka yang belum kembali itu sebenarnya sudah
dieksekusi dan mayatnya dibuang di perairan Kepulauan Seribu. Bahkan
disebut pula Sjafrie Sjamsoeddin adalah salah satu komandan yang
memerintah eksekusi tersebut (Tajuk No. 23, Januari 1999).

Pada tahun 1993, tidak lama setelah diketahui adanya wawancara tadi,
mendadak , dengan alasan cost of run proyek mencapai 100 persen, Tommy
melepaskan sahamnya di sana. Hanya beberapa bulan kemudian kasus korupsi
yang maha besar itu tiba-tiba terkuak lewat seorang anggota DPR yang
bernama A.A. Baramuli, yang sekarang menjabat sebagai Ketua DPA.
Baramuli di hampir setiap kesempatan selalu membangga-banggakan
temuannya itu. Padahal sebenarnya temuan dan pengungkapannya itu sendiri
mengandung misteri tersendiri. Bukan tak mungkin, dalam permainan kotor
itu dengan maksud tertentu, pihak Tommy lah yang sengaja menyerahkan
segala dokumen kepada Baramuli untuk "mengungkapkan" kasus tersebut.
Jadi bukan murni hasil kerja keras Baramuli. Pengungkapan itu sendiri
merupakan permainan rekayasa tersendiri. Dalam hal ini Baramuli hanya
dipakai sebagai alat. Seolah-olah hasil penyelidikannyalah yang berhasil
menemukan bobrok tersebut. Bukankah bagaimana caranya sampai Baramuli
bisa menemukan dan membongkar skandal tersebut tidak pernah trasparan?

Sebenarnya sebelum Baramuli "dipakai" untuk berperan sebagai pahlawan
pembongkar skandal raksasa itu, ada sebuah media cetak nasional
(Kompas?) yang dihubungi untuk berperan sebagai pihak yang membongkar
skandal tadi. Tetapi entah kenapa, dengan berbagai dalih, media itu
menolak. Maka muncullah Baramuli sebagai pahlawan pembongkar skadal.

Seperti layaknya anggota keluaraga Cendana lain. Saham Tommy di Golden
Key Group pun merupa saham kosong. Mungkin ini sebagai imbalan dari jasa
Tommy yang memuluskankan pengucuran dana kredit (430 juta dollar AS)
dari Bapindo tersebut. Tetapi karena Tommy merasa persentase saham
(kosong)nya itu terlalu kecil, dia minta tambah. Karena tidak ada
kesepakatan. Tommy gusar, dan menjual seluruh sahamnya. Setelah itu dia
menyatakan mengundurkan diri.  Sebagai balas dendamnya dia akan
menghancurklan Golden Key bersama orang-orangnya. Demikianlah beberapa
bulan setelah Tommy mundur itulah, tiba-tiba Baramuli muncul sebagai
pahlawan yang membongkar skandal tersebut lengkap dengan berbagai
dokumen yang mendukung. Dari mana Baramuli bisa tiba-tiba memperoleh
dokumen-dokumen itu?

Eddy Tansil bersama para petinggi di Bapindo pun ditangkap dan masuk
penjara. Cerita selanjutnya sudah kita ketahui.

Kasus yang mirip dalam skala yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan
kasus Golden Key adalah kasus pembobolan Bank Perniagaan sebesar Rp. 1
triliun. Menurut keterangan resmi pihak berwajib, Hindoro Halim, pemilik
bank yang disangka membobol banknya sendiri itu tewas bunuh diri dengan
meloncat dari jendela hotel, ketika digerebek polisi. Isu pun merebak
bahwa banyak keganjilan pada peristiwa penggerebekan yang menewaskan
Hindoro Halim itu. Ada dugaan Hindoro sebenarnya sengaja dibunuh, karena
jika sampai tertangkap dan disidangkan akan banyak nama-nama pejabat
tinggi yang keluar dari mulutnya, yang ikut terlibat dalam pembobolan
banknya sendiri itu.

Apakah pengungkapan keberadaan Eddy Tansil di Fujian, Cina kali ini
hanya merupakan suatu upaya pengalihan perhatian masyarakat dari
masalah-masalah sosial-politik sekarang ini? Bisa jadi demikian. Mungkin
saja pihak Gempita sendiri tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah
diperalat oleh pihak-pihak tertentu dengan maksud-maksud tersembunyi di
dalamnya. Kita lihat saja bagaimana tingkat keseriusan pemerintah dalam
mengungkapkan atau meneruskan penyelidikan tentang hal ini.***

Salam
Lion

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Jan 1999 jam 10:02:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke