----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Dalam wawancara dengan puluhan wartawan di kediamannya, Selasa, 5
Januari 1999, Gus Dur juga mengatakan bahwa salah satu maksud mutasi
besar-besaran di tubuh ABRI tersebut di atas adalah untuk mengantisipasi
dan menggeser kekuatan golongan radikal kanan di tubuh militer. Di dalam
pernyataan ini Gus Dur hendak mengatakan bahwa golongan ektrem kanan,
bukan hanya terdiri dari orang-orang sipil dengan berbagai ormas mereka,
tetapi juga terdapat di kalangan militer, termasuk perwira tinggi, yang
bukan hanya mendukung, tetapi banyak juga yang mempunyai pandangan
serupa (antara lain bercita-cita mendirikan negara agama).

Gus Dur memang tidak setuju dengan cita-cita mendirikan negara agama di
Indonesia. Karena itu dia acapkali tidak cocok dengan kelompok-kelompok
yang dituduh sebagai bercita-cita demikian.   Tidak heran, kalau
kemudian Gus Dur dalam komentarnya tentang transkrip ceramah Theo
Syafei, malah mengatakan bahwa Theo tidak melakukan penghinaan terhadap
umat Islam, tetapi malah membela Islam. Banyak orang terperangah dengan
pernyataan kyai yang suka melawan arus itu.

Sebenarnya ceramah Theo itu memang kebablasan. Apalagi mengingat keadaan
di Indonesia seperti ini, yang sangat peka dengan soal-soal yang
berkaitan dengan SARA. Terutama kalau menyinggung agama Islam. Tetapi di
antara ceramahnya itu terkandung pandangan yang sama dengan Gus Dur,
yakni soal kecurigaan (tuduhan?) bahwa kelompok-kelompok Islam tertentu
memang mempunyai cita-cita mendirikan negara Islam. Cita-cita ini tentu
saja tidak mewakili semua aspirasi umat Islam di Indonesia. Bahkan
menurut perkiraan saya, lebih banyak umat Islam yang berpandangan
nasionalis/moderat, yang juga tidak setuju kalau didirikan suatu negara
agama. Apalagi mengingat kemajemukan bangsa ini yang sedemikian
besarnya.

Jadi sebenarnya bukan hanya Theo Syafei, atau ABRI saja yang mempunyai
pandangan/ketakutan bahwa ada kelompok-kelompok tertentu yang
bercita-cita mendirikan negara Islam. Yang sering dikatakan kelompok
yang phobia-Islam. Tetapi juga Gus Dur beberapa kali dalam berbagai
tempat dan kesempatan juga mengutarakan tudingannya itu (ada yang
bercita-cita mendirikan negara Islam).

Orang-orang militer yang disebutkan di atas (terutama perwira tinggi)
juga mempunyai hubungan-hubungan khusus dengan orang-orang beraliran
ekstrem tersebut. Bahkan diketahui ada beberapa kali terjadi pertemuan
rahasia di antara mereka. Jenderal Wiranto, mungkin tidak termasuk di
antara mereka. Oleh karena itu pandangan-pandangan Wiranto sering tak
sejalan dengan mereka. Maka itu sempat terjadi upaya-upaya untuk
menjatuhkan Wiranto. Antara lain melalui tangan Presiden Habibie.
Sayangnya, Habibie tidak mempunyai kekuatan dan keberanian yang cukup
untuk memecat Wiranto. Secara formal Habibie memang mempunyai kedudukan
yang lebih tinggi daripada Wiranto, tetapi secara de facto, di bidang
kemiliteran Wiranto lebih kuat daripada Habibie sendiri yang orang sipil
itu.

Kelompok-kelompok inilah yang termasuk gencar melakukan berbagai seruan
meminta Habibie memecat Wiranto ketika terjadi tragedi Semanggi. Padahal
dalam tragedi Semanggi itu, Habibie pun seharusnya bertanggung jawab.
Dia juga sebelum peristiwa itu meledak memberi mandat kepada Wiranto
untuk menindak secara tegas dan keras aksi-aksi mahasiswa tersebut.

Di bulan Oktober-November 1998 lalu sempat beredar isu bahwa ada
sekelompok elit politik yang pernah dituduh Gus Dur sebagai "Naga Hijau"
telah menyerahkan proposal kepada Habibie untuk mengganti Pangab
Wiranto, karena Wiranto ternyata sangat sulit diatur sesuai dengan
kehendak atau skenario mereka. Agus Misbach, Ketua Umum Partai Rakyat
Indonesia, kepada majalah Prospektif, bertanya, "Apakah ada konspirasi
politik yang mengendalikan pemerintah Habibie untuk membawa negara ini
menjadi negara agama Islam?" (Prospektif, 27 November 1998).

Kelompok-kelompok fundamentalis  inilah yang tidak menyukai Wiranto.
Karena sebagai orang militer Wiranto juga tidak setuju dengan negara
agama, yang bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan sebagai negara
kesatuan berdasarkan Pancasila. "Kelompok ini, menginginkan berlaku
kembalinya Jakarta Charter. Jika itu yang tercapai di negara ini akan
tercipta perang saudara," kata Agus Misbach.

Yang dimaksud dengan Jakarta Charter, atau Piagam Jakarta itu adalah
ikrar bersama beberapa pemuda pada tahun   1945.   Pada 22 Juni 1945
sembilan pemuda (antara lain Ir. Soekarno, M. Hatta, H. Agus Salim, dan
M. Yamin) yang juga tergabung dalam Dokuritsu Zyunbi Toosakai (Badan
Usaha Persiapan Kemerdekaan (Indonesia) -- BPUPKI menandatangani Jakarta
Charter. Mula-mula ikrar tersebut antara lain berbunyi: "negara RI
berdasarkan KeTuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat-syariat
Islam bagi pemeluk-pemeluknya " Dalam prosesnya, pada persidangangan
BPUKI membentuk Dokuritsu Zyunbi linkai (Panitia Persiapan Kemerdekaan
<Indonesia>) yang diketuai Ir. Soekarno dan M. Hatta, dengan mengingat
bahwa negara yang dicita-citakan adalah negara kesatuan yang mempunyai
kemajemukan yang besar, serta tak ada cita-cita mendirikan negara
berdasarkan agama, maka konsep Jakarta Charter itu disempurnakan, dengan
menghapus kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariat-syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya." Keputusan akhir yang berhasil ditelorkan pada
tanggal 18 Agustus 1945 adalah pengesahan berlakunya konstitusi negara
kesatuan RI yang disebut UUD 1945. Tanggal ini yang kemudian dikenal
sebagai tanggal lahir UUD 1945 dengan preambule (pembukaan) seperti yang
bisa kita baca sekarang.

Cukup banyak posting di media Apakabar ini, maupun suara-suara di media
lain, yang (seolah-olah) menghendaki bahwa negara ini memang harus
berlandaskan hukum Islam. Alasanya antara lain karena Islam itu
mayoritas. Bahkan tak jarang mereka menyuarakan hal demikian, sambil
mengecam dan mengejek kaum Kristen. Ada yang mengutip berbagai ayat
dalam Al-Quran yang pada intinya mengajak memusuhi atau tidak bersahabat
dengan orang-orang kafir (Kristen dan Yahudi -- di Indonesia ditambah
dengan Cina). Seperti berbagai posting dari  Wiseman. Padahal dalam
Islam sendiri, tidak semua mempunyai pandangan radikal dan ekstrem
seperti itu. Bahkan saya berani mengatakan, mayoritas orang Islam
sendiri tidak setuju dengan pandangan-pandangan picik dari Wiseman cs.
Sebab kalau "ya," tentu saja cita-cita mereka itu tak akan sulit
dilaksanakan.

Mereka ini juga seolah-olah tidak mau tahu, bahwa beberapa wilayah lain
negara kesatuan ini mayoritasnya berpenduduk non-Muslim. Seperti Irian
Jaya, Sulawesi Utara, Maluku. Apabila mereka mau benar-benar konsekuen
dengan pandangan dan konsepnya itu, tentu saja tidak akan sejalan dengan
daerah-daerah yang mayoritasnya non-muslim itu. Penduduk daerah-daerah
itu tentu akan menolak keras suatu konsep yang pada intinya menindas,
atau tidak memberi kesempatan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
bagi mereka yang non-muslim. Misalnya tidak mempunyai hak sebagai
pimpinan negara.

Umpamanya saja, konsep tersebut benar-benar mau dilaksanakan, maka
daerah-daerah tadi tentu akan sangat senang untuk berpisah (pecah) dari
negara RI ini, dan membentuk negaranya sendiri, yang jauh dari konsep
negara agama manapun, dengan hukum dan pemerintahan yang benar-benar
demokratis. Yang harus diingat, kebetulan daerah-daerah ini justru yang
mempunyai kekayaan alam yang sangat besar, yang selama ini selalu dibawa
ke pusat (Jawa). Apabila benar-benar terjadi perpecahan, maka akan
banyak daerah yang akan menginginkannya juga. Pada akhirnya mungkin
hanya Pulau Jawa yang masih bernama Republik Indonesia. Kalau ini yang
terjadi yang akan menderita kerugian paling besar adalah Jawa sendiri.
Mungkin Republik Indonesia yang terdiri dari Pulau Jawa saja itu akan
menjadi negara termiskin di dunia, mlebihi Ethiopia, atau negara miskin
manapun juga. Apakah yang bisa dihasilkan dari bumi Jawa ini?

Kecuali umpamanya, jika orang-orang ekstrem tadi, setelah benar-benar
berkuasa, akan menempuh cara kekerasan (militer) dengan alasan
(kamuflase) agama (lagi) memaksa daerah-daerah yang menghendaki
pemisahan diri tadi untuk tetap bergabung dalam satu kesatuan negara
agama itu. Apabila ini yang terjadi saya kira akan tidak menyenangkan
banyak negara, termasuk AS dan negara-negara Eropa. Demikian juga dengan
negara-negara tetangga yang juga anggota negara-negara ASEAN.

Singkatnya ide/konsep negara agama, jika benar-benar ada, sangat tidak
realistis. Melawan zaman, dan hanya akan menghancurkan negara kesatuan ini.

Bersambung
Salam
Lion

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Jan 1999 jam 09:46:49 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke