---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Merdeka, 9 januari 1999 Revolusi Sosial Oleh: A Supardi Adiwidjaya SATU istilah yang mudah disebutkan saat ini tapi terdengar menyeramkan adalah revolusi. Gus Dur lebih spesifik menyebutnya revolusi sosial, sementara Sri Bintang Pamungkas mengatakannya sebagai 'people power' atau revolusi saja. Mungkinkah itu terjadi? Revolusi sosial adalah penjungkirbalikan suatu tatanan dan kehidupan sosial di dalam masyarakat dan menggantikannya dengan tatanan kehidupan sosial yang sama sekali baru, bahkan dengan kekerasan atau kekuatan bersenjata. Dalam kasus Indonesia, revolusi sosial akan terjadi kalau pemerintah Presiden Habibie tak bisa lagi menyelamatkan negeri ini, sementara di pihak lain, rakyat tidak bisa lagi menahan segala penderitaan, sehingga meletuslah perlawanan terhadap pemerintah. Itu syarat obyektif. Syarat obyektif itu belum cukup, karena ada syarat subyektif, yakni harus adanya pemimpin rakyat. Biasanya, yang muncul adalah pimpinan informal yang tanpa kompromi terhadap rezim yang gagal. Dalam konteks inilah, bukan kebetulan kalau kelompok mahasiswa radikal mencari pemimpin yang revolusioner ('Merdeka', 2/1-99). Pencarian ini dilakukan karena di tubuh mahasiswa itu sendiri tak mempunyai akar kuat di masyarakat. Sementara di pihak lain, para pemimpin informal yang ada saat ini (Megawati Sukarnoputri, Gus Dur, Amin Rais, atau bisalah kita sebut Sultan Hamengkubuwono X), semuanya menyatakan setuju terhadap Pemilu. Artinya, mereka sepakat untuk menunggu langkah pemerintah yang akan menggelar pemilu yang Luber dan Jurdil Juni tahun ini. Dus, syarat subyektif revolusi sosial di Indonesia saat ini tidak ada! Jadi, apa maksud di balik pernyataan Gus Dur tentang "bakal meletupnya revolusi sosial" tersebut? Wallahualam. Yang juga bisa dipertanyakan, mengapa Gus Dur justru sangat memperhatikan kekuatan bekas presiden Soeharto? Apa tidak sebaliknya Ketua PBNU itu menjalin kerjasama yang kuat dengan beberapa tokoh informal lainnya untuk melawan pendukung status quo? Bukankah akan lebih bijak kalau para deklarator Ciganjur tidak saling menumbuhkan kecurigaan di antara mereka sendiri? Keretakan, ketidak-kompakan dan pecahnya kekuatan kelompok reformis (deklarator Ciganjur), pada sisi lain akan menumbuhkan kekuatan pendukung status quo (terutama Soehartois). Akibatnya, mereka (pendukung status quo dan Soehartois) akan kembali melakukan konsolidasi, bahkan dengan menghalalkan cara apapun. Karena itu, hanya dengan persatuan, kekompakkan, tidak saling curiga, tidak saling menyerang, konsolidasi, pertemuan-pertemuan untuk menyatukan visi, dialog, saling mendukung dan kebersamaan-lah, yang bisa melancarkan gerakan reformasi ini. Karena, kita semua, siapapun juga, tak menginginkan meletupnya revolusi sosial, 'people power' ataupun 'chaos' yang bakal meluluhlantakkan bangsa dan negara ini.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 12 Jan 1999 jam 09:58:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
