---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk KONTROVERSI PERNYATAAN XANANA GUSMAO JAKARTA (MateBEAN, 12/1/99), Polemik seputar pernyataan pemimpin perlawanan Timor Timur, Xanana Gusmao yang menyetujui pemberian status otonomi bagi Timor Timur, terus bergulir di kalangan aktivis pro-kemerdekaan Timor-Timur. Sejumlah kelompok aktivis radikal menilai pernyataan Xanana itu sebagai sangat kontroversial, bahkan ada yang menuduhnya sebagai pengkhianatan. Sementara, kelompok moderat masih berhati-hati untuk mengeluarkan pernyataan politik menanggapi sikap Gusmao. Perbedaan pendapat antara kelompok radikal dan moderat itu sampai memicu beberapa insiden kecil di Timor Timur, dan juga di Indonesia. Insiden di Katedral Baucau pada malam Natal 1998 lalu meletus antara kelompok yang masih mendukung Xanana dengan para kelompok radikal yang tidak lagi percaya kepada Xanana. Konon, di beberapa kota di Indonesia, Surabaya dan Malang, terjadi pembakaran dan perobekan poster Xanana oleh sebagian pemuda radikal yang menamakan diri Aliancia Juventude Maubere, Aliansi Pemuda Maubere (AJM). Salah satu anggota CNRT, Dewan Nasional Perlawanan Timor, Roque Rodrigues dari Partai Fretilin menilai pernyataan Xanana itu suatu sikap yang tidak hanya menunjukkan sikap seorang politikus yang hebat, tapi juga seorang ahli strategi. Sebaliknya, Ketua partai UDT, Joao Carrascalao menuduh Xanana telah berubah sikap politiknya. Lebih lanjut Carrascalao menuntut pemerintah Indonesia membebaskan Xanana agar ia dengan bebas memberi penjelasan mengenai sikapnya itu. Pernyataan senada, bahkan lebih radikal lagi muncul dari jurubicara luar negeri Partai Sosialist Timor (PST), Azancot de Menezes. Menezes, atas nama partainya menilai pernyataan Xanana itu sebagai pengkhianatan terhadap prinsip perjuangan rakyat Maubere. Ia menegaskan, partainya tidak akan melakukan kompromi apa pun dalam mencari solusi bagi masalah Timor Timur. Dari Timor Timur, David Dias Ximenes meragukan kebenaran pernyataan Xanana tersebut, mengingat status Xanana adalah tahanan politik, dan sebagaimana Carrascalao, ia menuntut Xanana dibebaskan agar pernyataan politiknya bisa dianggap kredibel karena dibuat tanpa tekanan dan paksaan. Sementara itu, Mahasiswa dan Pelajar Timor Timur yang tergabung dalam organisasi Renetil (Resistencia Nacional dos Estudantes de Timor-Leste) menyatakan dukungan sepenuhnya kepada pernyataan Xanana tersebut. Dalam pernyataan sikapnya, Renetil melalui Koordinator Presidiumnya Rama Metan menyatakan "kaum euforis, radikal tak memberi jaminan apa-apa bagi penyelesaian damai masalah Timor-Leste". Menurut salah satu anggotanya (Renetil) yang tak mau disebut identitasnya, pernyataan Xanana dalam ukuran Renetil bukanlah kontroversial. "Jika ingin melihat kadar kontroversialnya, maka kebijaksanaannya pada 1988 untuk membentuk CNRM adalah yang paling kontroversial. Karena mengubah orientasi perjuangan dari membela sebuah negara yaitu Republica Democratica de Timor-Leste (RDTL) yang diproklamirkan Fretilin pada 28 November 1975, ke orientasi politik yang memperjuangan kemerdekaan sebuah bangsa," jelas pemuda Renetil itu. Lebih lanjut ia mempertanyakan orang-orang radikal yang mati-matian mengklaim diri sebagai penegak atau pembela kemerdekaan "mengapa tidak melakukan protes atau kritik terhadap kebijakan Xanana pada 1988 itu. Justru satu-satunya orang yang mengritiknya waktu itu, Abilio Araujo kini malah menyatakan dukungannya kepada pernyataan Xanana", jelasnya. Namun, menanggapi reaksi yang muncul sehubungan dengan pernyataannya, Xanana Gusmao malah menganggapnya sebagai "proses alamiah" dalam sebuah perjuangan. Ketika menrima pengunjungnya yang sebagian besar adalah kaum muda, Xanana menjelaskan bahwa beragamnya reaksi yang muncul mencerminkan keprihatinan orang terhadap nasib perjuangan. "Saya senang kalau setiap pernyataan politik saya jadi bahan perdebatan di kalangan masyarakat Timor-Leste. Namun, dalam hal pernyataan saya mengenai otonomi transisi, saya harap agar perdebatan yang terjadi terfokus pada karakter otonomi yang saya maksud. Bukan menghabiskan waktu dan energi untuk memperde- batkan jangka waktu 3 atau sepuluh tahun masa transisi," jelasnya kepada mahasiswa dan pemuda Timor Timur yang datang untuk meminta klarifikasi tentang pernyataannya itu. Ia juga menganjurkan agar perdebatan tidak menjurus kepada kerusuhan. Ketika ditanya apakah betul ia menyatakan 10 tahun sebagai jangka waktu transisi masa otonomi, secara diplomatis ia menjawab "seharusnya kita bertanya pada diri kita, apakah dalam jangka waktu tersebut kita dapat mempersiapkan diri untuk menyongsong kemerdekaan atau tidak. Apakah kita mampu mendidik rakyat kita untuk membangun dirinya sendiri dalam suasana keakraban dan saling menghormati tanpa menaruh dendam satu sama lain, akibat tragedi masa lalu. Saya tidak memperjuangkan sebuah kemerdekaan yang nantinya hanya dinikmati sekelompok orang elit, sementara rakyat kecil terus menderita kelaparan dan penyakit. Saya ingin kemerdekaan yang kita perjuangkan adalah kemerdekaan untuk semua orang Timor-Leste, termasuk Armindo Mariano, Lopes da Cruz, Abilio Osorio atau semua orang yang selama ini kita anggap sebagai pengkhianat," tegasnya. "Hakekat kemerdekaan bukanlah memiliki satu bendera nasional, satu lagu kebangsaan atau atribut lain, atau menjadikan kota Dili seperti Jakarta, tapi adalah sarana bagi rakyat untuk memperoleh kesempatan hingga setiap orang bisa membangun "kota dalam setiap rumahnya". Kepada para pemuda Xanana berpesan agar tetap percaya diri dan terus meningkatkan ketrampilan sesuai dengan bakatnya masing-masing agar bisa disumbangkan bagi rekonstruksi bangsa. "Sekarang bukan waktu untuk meneriakkan slogan, tapi waktu untuk mewujudkan slogan-slogan itu dalam praktek, agar rakyat kita tahu bahwa yang pernah kita teriakkan bukanlah omong kosong belaka, seperti yang selama ini dituduhkan tentara Indonesia. Saya telah bersumpah menyerahkan hidup saya untuk pembebasan rakyat saya, dan hingga kini saya masih hormati aspirasi rakyat", tegas Xanana berapi-api. Pernyataan Xanana termuat dalam wawancaranya dengan kantor berita Portugal LUSA, dan Kantor berita Indonesia ANTARA, Desember 1998 lalu di penjara Cipinang, Jakarta Timur.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Jan 1999 jam 02:38:50 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
