----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT:

                PROSES DISINTEGRASI MENAHUN DITAKUTI, DISEPELEKAN

Proses disintegrasi Indonesia sudah menahun, sudah berlangsung bertahun ta-
hun, sangat ditakuti namun dalam prakteknya tetap disepelekan berdasarkan
keyakinan bahwa cap "pengkhianat bangsa" dapat melumpuhkan mereka yang
mencoba coba menyalurkan ketidak puasan, kekecewaan daerah dalam salah
satu bentuk perjuangan.

Dalam praktek, para birokrat dan konglomerat jahat membabi buta terhadap pro-
ses disintegrasi yang sudah menahun itu seperti halnya dengan Liem Soei Liong,
dll yang dengan perlindungan sistem KKN fasis militeris Suharto merajalela me-
lahap kayu Indonesia, dll tanpa memperdulikan situasi dan kondisi ekonomi,
sosial dan politik setempat seperti yang dicanangkan oleh sejumlah LSM nasio-
nal dan internasional.
Sebelum Liem Soei Liong hampir semua birokrat dan konglomerat jahat berbuat
hal yang sama. Pembangunan yang berdasarkan rencana BAPPENAS tetap
menganak tirikan pembangunan daerah. Kalau ada daerah subur makmur se-
perti Irian Jaya dengan sumur minyak dan pertambangan emasnya yang terbe-
sar di seluruh Indonesia, maka cipratanpun tidak diberikannya jangankan ke-
pada propinsi Irja, kepada penduduk setempatpun mutlak tidak, malah mereka
yang menuntut keaddilan ditindas dengan pasukan Kopassus.
Demikian pula dengan penduduk Dayak di Kalimantan yang lingkungan hidup-
nya dirusak binasakan oleh KKN birokrat dan konglomerat jahat.

Kalau dibandingkan dengan daerah lain, mungkin Sumatera palilng lumayan
karena kehadiran konglomerat asing memberikan sarana hidup kepada pen-
duduk setempat, namun cipratan langsung sudah lama ditiadakan sehingga
mengakibatkan "eksodus" perantau ke Jawa yang dengan sendirinya menam-
bah buruk perekonomian yang menurut rencana harus disebarkan keseluruh
pelosok daerah.

Bagi birokrat yang tidak jahat seperti Hasnan Habib sebagai salah seorang
pembicara soal disintegrasi baru baru ini, memang didrasakan bahwa proses
disintegrasi tidak akan terjadi otomatis sebagai dampak proses Timtim atau
Aceh sekalipun. Mungkin selama ini ia belum bisa melihat proses "disintegrat-
ion by installment" (distegrasi secara mereteli) oleh para birokrat dan
konglo-
merat jahat yang telah berhasil memanipulasi kekayaan dan kekuasaan untuk
golongannya sendiri.

Sebagai "armchair general", Hasnan sibuk menekuni buku bukunya dan bersem-
boyan "see no evil hear no evil" dalam negara kesatuan dan karena sudah
terlalu
lama meninggalkan daerahnya sendiri, seolah olah sudah "out of touch" dengan
konstituennya sendiri yang menjerit kelangit minta keadilan dari pusat.

Proses disintegrasi belum pernah mencapai tahap sedahsyat sekarang ini, hanya
karena sifat dan watak bangsa Indonesia yang umumnya baik itu maka belum
terjadi letupan atau ledakan yang merupakan kejutan. Namun tidak berartti
bahwa
apa yang kita takutkan itu bisa terjadi pada suatu ketika tanpa mematuhi
timing
kita.

Dengan atau tanpa otonomi luas atau referendum Timtim dan Aceh, proses disin-
tegrasi Indonesia sudah kita cicil secara sadar atau tidak, it is a matter of
time
sebelum meletup atau meledak sekali di luar dugaan.

H.S. Hidayat Supangkat
New York

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Jan 1999 jam 16:30:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke