----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Hasil Reformasi Terasa 20 Tahun Lagi

Nurcholish Madjid Paparkan Siklus 20 Tahunan

Kairo, JP.-

Cendekiawan Prof Dr Nurcholish Madjid (Cak Nur) memaparkan siklus 20 tahunan
dalam sejarah modern bangsa Indonesia ketika berbicara di depan mahasiswa
Indonesia di Kairo, Senin malam. Menurut Cak Nur, sejarah Indonesia
mempunyai siklus 20 tahunan, dimulai sejak berdirinya Boedi Oetomo 1905 yang
kemudian menghasilkan Sumpah Pemuda 1928. Berdasarkan teori siklus itu, Cak
Nur memprediksi bahwa buah reformasi 1998 baru akan dirasakan bangsa
Indonesia 20 tahun mendatang. "Proses reformasi itu memiliki dimensi waktu.
Jadi, kita akan mengetahui hasil reformasi ini 20 tahun lagi," paparnya.

Cak Nur yang telah memimpin Tim Sebelas itu menyebutkan, banyak kalangan
yang menginginkan hasil reformasi secepatnya. Hal itu dianggapnya sebagai
kesalahpahaman. "Padahal, proses reformasi itu berjenjang, dan sekitar 2025
baru kita mengetahui hasilnya," tambah Cak Nur.

Rektor Universitas Paramadina Mulya ini lantas menguraikan proses
perkembangan sejarah Indonesia modern mulai berdirinya Boedi Oetomo pada
1905 hingga munculnya tuntutan reformasi dengan jatuhnya Soeharto, Mei 1998.
"Boedi Oetomo merupakan pijakan awal proses berdirinya negara Indonesia
modern," kata Cak Nur.

"Perjuangan itu melahirkan Sumpah Pemuda 23 tahun kemudian, yaitu pada 1928.
Proses itu berlangsung terus hingga kemerdekaan Indonesia pada 1945, juga 23
tahun kemudian."

Cak Nur melanjutkan, Indonesia telah memiliki tiga presiden sejak merdeka:
Soekarno, Soeharto, dan B.J. Habibie. "Bung Karno dan Pak Harto sama-sama
gagal dalam menata Indonesia modern, meski menjabat presiden berpuluh
tahun," ungkapnya.

"Kini, meski tidak memulai dari nol, tapi proses reformasi ini diharapkan
menghasilkan negara Indonesia modern yang bakal menyaingi negara maju
lainnya," cetus Cak Nur. Ia mengesampingkan spekulasi beberapa kalangan
bahwa nasib Yugoslavia, yang mengalami disintegrasi, bakal muncul di
Indonesia. "Spekulasi itu terlalu jauh," tuturnya.

Kemudian Cak Nur menjelaskan, kendati belakangan ini meletus kerusuhan di
beberapa daerah, bangsa Indonesia senantiasa memiliki persatuan yang sangat
kuat. Karena itu, pemilu multipartai pada 7 Juni nanti merupakan pijakan
awal untuk menata Indonesia modern yang jauh dari sikap kolusi, korupsi,
juga nepotisme.

Mengenai Presiden B.J. Habibie yang notabene bukan orang Jawa, Cak Nur
menilai itu telah mematahkan satu mitos. "Sejauh ini ada mitos bahwa
presiden itu harus selalu dari Jawa. Nah, terangkatnya Pak Habibie sebagai
presiden menggantikan Pak Harto, paling tidak, telah mematahkan mitos itu,"
sebut Cak Nur. Mitos itu, lanjut dia, sebenarnya telah terpatahkan sejak
1965, seandainya Jenderal A.H. Nasution kala itu siap menjadi presiden
menggantikan Bung Karno.

Alumnus Universitas Chicago ini menyayangkan sikap Jenderal Nasution yang
saat itu menolak tawaran menjadi presiden.

"Seandainya Pak Nas saat itu setuju diangkat menjadi presiden, mitos harus
orang Jawa telah terpatahkan sejak itu. Tapi

sayangnya, Pak Nas ketika itu hanya menjawab singkat,  saya kan bukan orang
Jawa, " ungkap Cak Nur

Cak Nur sependapat, pro-status quo adalah mereka yang mempertahankan sikap
politik Orde Baru yang diwariskan rezim Soeharto. Namun, mantan ketua HMI
(Himpunan Mahasiswa Islam) ini tidak sependapat anggapan bahwa Partai Golkar
saat ini adalah kelompok pro-status quo.

Menurut dia, Partai Golkar kini juga telah mematahkan satu mitos, yakni
pimpinannya bukan orang Jawa. Karena itu, ia menilai permintaan maaf Akbar
Tanjung adalah sikap bijak, meski sebetulnya tidak perlu. Sebab, kesalahan
masa lalu itu tidak diperbuat Partai Golkar sekarang.

Mengenai siapa yang layak menjadi kepala negara nanti, Cak Nur menolak
menyebut nama.

"Saya tidak perlu menyebut nama karena jelas, Mbak Mega punya potensi; Gus
Dur punya potensi; dan Amien Rais punya potensi," sebutnya lagi.

"Siapa pun yang jadi presiden, tidak ada masalah. Yang lebih penting adalah
pemilu harus luber dan jurdil." Menyangkut Habibie, Cak Nur pun berpendapat
bahwa ia juga memiliki potensi untuk itu.

Hanya, lanjut dia, bagaimanapun, banyak kalangan reformis curiga bila
Habibie menjadi presiden nanti. Sebab, Pak Habibie dinilai sangat dekat
dengan Pak Harto. Karena itu ada anggapan bahwa ia akan mempertahankan
status quo. Sementara itu, dalam kunjungannya selama tiga hari ke Mesir atas
undangan ICMI-Orsat Kairo, Cak Nur didampingi mantan Atase Pendidikan dan
Kebudayaan KBRI Kairo Muchlis Dasuki. Cak Nur melakukan serangkaian dialog
dengan mahasiswa. Selain dialog dengan mahasiswa Indonesia tentang
perkembangan reformasi di tanah air, Cak Nur melakukan temu ilmiah dengan
mahasiswa ASEAN di Mesir. (an)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Mar 1999 jam 10:28:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke