----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 11/II/25-31 Maret 99
------------------------------

GERILYAWAN DI TUBUH MEGA

(POLITIK): PDI Perjuangan sedang ginjang-ganjing di beberapa daerah.
Benarkah ulah klik  "pasukan" tentara yang meyusup belakangan ini?

Tidak pernah Megawati Soekarnoputri uring-uringan seperti yang terjadi pada
Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDI Perjuangan, 10-12 Maret lalu. Ia menohok
para pembantunya di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpinan Daerah
(DPD) yang dianggapnya akan menjadikan Rakernas tersebut sebagai "alat" bagi
DPP dan DPD-DPD untuk memiliki kewenangan mem-veto usulan arus bawah
(DPC-DPC) dalam penentuan daftar calon legislatif (Caleg). Padahal AD/ART
dengan tegas menyebutkan, Caleg (DPR RI, DPRD Tingkat I, dan II harus
diusulkan tertulis oleh cabang-cabang.

"Tak ada rekomendasi-rekomendasian, tidak ada dropping-droppingan. Semua
masalah pencalonan sesuai UU diserahkan kepada DPC-DPC," kata Megawati dalam
pidatonya di pembukaan Rakernas dengan nada tinggi.

Kegusaran Megawati ini beralasan, tampaknya ia telah mencium adanya
manuver-manuver dari para pembantunya itu, untuk kepentingan faksi atau
golongannya sendiri, sehubungan dengan proses penjaringan Caleg tersebut.
Megawati "tepatnya PDI Perjuangan", menurut sumber Xpos, seorang pengurus
Balitbang PDI Perjuangan, sudah mengetahui orang-orang dekatnya yang berada
di balik kekisruhan di beberapa DPD dan DPC akhir-akhir ini. Tak
tanggung-tanggung sumber itu menunjuk klik Theo Sjafei, mantan Pangdam
Udayana sebagai orang dibalik kekisruhan itu.

Mulanya kekisruhan yang terjadi di beberapa daerah itu "Jateng, Jatim, NTB,
Timor Timur (Timtim), dan Sumut" ditengarai sebagai dinamika internal yang
biasanya terjadi setiap menjelang pelaksanaan Pemilu, yakni saling pengaruh
antar kader untuk masuk menjadi daftar Caleg. Tapi rupanya, sebagian kader
senior PDI Perjuangan memiliki analisis lain dari sekedar dinamika tadi.
Menurut mereka, ada klik anggota baru PDI dari mantan purnawirawan ABRI,
serta eks Golkar, yang berkonspirasi dengan kader lama, dalam upaya mereka
untuk memasukkan nama-nama orangnya ke dalam daftar Caleg. Caranya dengan
mengkup kepemimpinan sah para pengurus DPC atau DPD di daerah-daerah, untuk
mencapai maksud tersebut.

Lalu, apa harapan mereka seandainya orang-orang kliknya Theo itu masuk dan
terpilih menjadi Calon Legislatif? Masih menurut sumber tersebut, ada grand
strategy dari kelompok tersebut untuk menggeser kebijakan PDI Perjuangan
dari ideologi sebelumnya yang nasionalis populer ke arah nasionalis
integralis dan bahkan nasionalis negara yang berwatak fasistis itu.

Pergeseran sikap PDI Perjuangan itu sudah tampak dalam beberapa kesempatan
pernyataan DPP untuk isu-isu nasional yang digulirkan kaum
pro-reformasi/pro-demokrasi seperti soal dwifungsi ABRI, atau soal Timtim.
Untuk dwifungsi ABRI, PDI Perjuangan dikritik para pengamat politik sebagai
kalah progresif dari sikap yang ditampilkan komponen
pro-reformasi/pro-demokrasi lainnya, seperti kaum mahasiswa dan LSM. Padahal
sikap partai ini, untuk dwifungsi ABRI cukup jelas, yaitu pada saat Kongres
di Bali, akhir Oktober 1998 lalu.

"Bahwa fungsi sipil dan militer sudah jelas," demikian Mega dalam pidato
politiknya di kongres. Dan yang tak kalah populernya adalah statement partai
tentang Timtim.

Akibat pernyataan PDI Perjuangan yang tak populer tersebut, hubungan yang
selama ini sudah terbina baik dengan seluruh komponen pro-demokrasi menjadi
merenggang. Padahal hubungan baik itu merupakan buah keterbukaan "atau
tepatnya" kesesuaian pandangan antara tokoh-tokoh faksi nasionalis populis
di tubuh PDI Perjuangan dengan komponen pro-demokrasi, dalam menyikapi
kontroversi di seputar isu-isu nasional tersebut. Dan mereka yang berada di
faksi nasionalis populis itu adalah tokoh-tokoh senior PDI Perjuangan
seperti Soetardjo Soerjogoeritno, Aberson Marle Sihaloho, dan Sabam Sirait.
Juga yang punya persesuaian pandangan dengan tokoh-tokoh tersebut adalah
sejumlah kader di Balitbang PDI Perjuangan yang notabene representasi kaum
profesional/kaum sipil terdidik --termasuk antara lain Laksamana Sukardi--
yang melihat secara kritis kehadiran para purnawirawan ABRI (KBA), serta eks
Golkar di tubuh PDI Perjuangan. Ketika kongres di Bali, para kader itu sudah
mengingatkan, agar perlunya dilkarifikasi terlebih dahulu, "ideologi"
orang-orang baru tersebut sebelum masuk, apalagi menjadi pengurus partai.

Pergeseran --jika tak ingin menyebut perubahan-- sikap partai itu, menurut
pengakuan sumber Xpos di DPP PDI Perjuangan, memang sedikit banyak sebagai
hasil "gerilya" Theo Sjafei dkk. Ketika ingin mengeluarkan statement resmi
partai soal Timtim, Megawati Soekarnoputri, kata sumber itu, meminta masukan
dari dua orang yang dianggapnya paling menguasai permasalahan Timtim, yakni
mantan Menkeu Frans Seda dan siapa lagi kalau bukan Theo Sjafei. Frans Seda
bekas juru bicara mantan Presiden Soeharto di Eropa pada masa-masa awal
penyerbuan Timtim, dan Theo adalah perwira militer yang menyergap Xanana
Gusmao. Sudah jelas, Mega menerima masukan-masukan yang kiblatnya mendukung
naluri fasistis kedua orang mantan operator Soeharto itu.

Akibat pergeseran sikap tentang dua isu penting itu, yang jelas memukul
kader-kader muda PDI Perjuangan yang selama ini aktif berdemonstrasi
menentang praktek-praktek dwifungsi ABRI dan mendukung perjuangan hak-hak
fundamental rakyat Timtim untuk memerdekakan diri. Kader-kader muda yang
tergabung kedalam Komite Pendukung Megawati (KPM) itu, merupakan aliansi
dari para kader anggota PDI Perjuangan dengan kader Partai Rakyat Demokratik
(PRD), serta para aktivis mahasiswa. Hal ini juga disayangkan tokoh senior
Aberson Marle Sihaloho yang menyebutkan, bahwa kader-kader muda itu adalah
aset partai yang potensial dan mesti diakomodir partai.

"Mereka lah yang berada di garis depan sebagai konseptor sekaligus operator
lapangan dalam menjabarkan keinginan partai. Jangan dimatikan potensi
mereka," kata Aberson yang pernah diadili lantaran tuduhan penghinaan
terhadap diri Presiden Soeharto itu.

Pada saat pidato yang menghebohkan dari Theo Sjafei mencuat akhir Desember
1998 lalu, banyak pengamat politik menganalisis adanya upaya pembusukan PDI
Perjuangan dari dalam. Skenario terburuk ada kerenggangan dan ketegangan
yang meruncing antara kelompok-kelompok Islam fundamentalis dengan massa
militan PDI Perjuangan "yang jika memungkinkan, demikian skenario tersebut"
berakhir dengan konflik fisik.

Dengan demikian, faksi nasionalis integralis dan faksi nasionalis negara di
tubuh PDI Perjuangan bisa meyakinkan Mbak Mega bahwa Islam fundamentaslis
itu riil, ada dan berbahaya. Maka, peran politik ABRI itu masih signifikan
menentukan pada saat ini. "Tak mungkin dwifungsi ABRI dihapus sekarang ini,
begitu kira-kira masukan faksi fasistis itu," kata pengamat politik LIPI
Syamsudin Haris.

Jika skenario gerilya Theo Sjafei dkk. itu terus berlangsung tampaknya
mereka akan menghadapi batu sandungan dari arus bawah PDI Perjuangan. Tidak
seperti diduga banyak orang, kader-kader muda PDI Perjuangan di tingkat akar
rumput ternyata cukup pintar dalam mengikuti perkembangan yang terjadi di
tubuh partai. Rupanya dinamika dan percepatan dari gagasan-gagasan politik
progresif yang diserap kader-kader muda PDI Perjuangan di luar elite partai
menyebabkan terinternalisasinya paradigma baru kedalam sistem pengetahuan
mereka tentang gerakan menuju demokrasi kerakyatan.

"Tugas kami memenangkan PDI Perjuangan dan menghantarkan Mega sebagai
Presiden. Jika ternyata kemudian Mega dan PDI Perjuangan dalam
perkembangannya menjadi penindas-penindas baru, mereka akan kami tinggalkan.
Dan kami akan jadi oposan buat mereka," ucap seorang kader PDI Perjuangan
Tangerang kepada Xpos.

Peringatan itu jelas ditujukan, mungkin bukan hanya kepada Theo Sjafei dkk.,
tapi juga kepada PDI Perjuangan secara keseluruhan sebagai sebuah parpol
yang selama ini diidentifikasi sebagai partainya "wong cilik". (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Mar 1999 jam 22:26:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke