---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Assalbmu'alaikum warahmatullbhi wabarakbtuh. Ada artikel dari emha yg menarik. Semoga berkenan, dan mohon maaf kalo sudah membacanya. ============================================ Hanya Yang Pernah Jatuh Mengetahui Apa-apa Yang Diperlukan Untuk Dapat Berdiri Kokoh ============================================ Perjalanan Panjang Selalu Diawali Dengan Sebuah Langkah Kecil ============================================ Republik Indonesia Diobok-obok ------------------------------------------------------------------------ Seratus persen saya tidak percaya bahwa saudara saya kaum Kristiani bisa membunuh saudaranya kaum Muslim karena mereka Kristiani dan karena yang dibunuh itu Muslim. Juga saya tidak percaya saudara-saudara saya orang Islam membunuh saudaranya orang Kristen karena ia Islam dan karena saudaranya itu Kristen. Seandainyapun, atau ketika senyata-nyatanya hal itu terjadi, ada tiga sebab yang mendorongnya. Pertama, karena mereka tidak sempat merenungi alasan itu. Kedua, mungkin masing-masing belum sempat menjadi seorang Kristiani dan menjadi Muslim. Imam besarnya orang Islam, yaitu Rasulullah Muhammad saw. tidak pernah melakukan atau menganjurkan perang Islam-Kristen, bahkan negeri Madinah (yang Cak Nur pakai sebagai wacana sejarah untuk menumbuhkan fenomena Masyarakat Madani) dibuka lebar oleh beliau bagi pemeluk Ketiga, ada faktor lain dari luar yang 'memabukkan' mereka -- yang, umpamanya, Pangab Wiranto menyebutnya sebagai provokator lokal, provokator elite-nasional dan provokator internasional. Alhasil, substansi peristiwa berbunuh-bunuhan itu bukan konflik Agama, melainkan kejadian politik. Sejumlah teman dari Ambon mendatangi saya, sebagian mereka menangis tersengguk-sengguk, menyodorkan daftar sangat panjang masjid yang dibakar, rumah dan keluarga yang diratakan ke bumi, menginformasikan berbagai hal, termasuk foto-foto. Umpamanya ada tulisan di salah satu foto: "Yesus Yes! Muhammad Puki!"... Puki' adalah kemaluan wanita. Seratus persen saya tidak percaya saudara-saudara kita Kristiani, jika ia memang Kristiani, kuat hatinya menuliskan kalimat itu. Saya juga terus meragukan segala peristiwa keiblisan penumpasan ratusan ribu lelaki Muslim dan pemerkosaan ratusan ribu Muslimat di Bosnia, Kosovo, Nagorno-Karabach, sebagai inisiatif murni Kekristenan suatu kaum. Cinta uluhiyah dan kasih sayang kemanusiaan di dalam jiwa saya masih sangat melimpah-limpah untuk tetap menyayangi saudara-saudara seduni Republik Indonesia sedang empuk-empuknya untuk diobok-obok. Pengobok internasional dari utara mengaduk-aduk Ambon, Maluku dan Irian Jaya. Pengobok dari selatan siap mencaplok Timor Timur. Pengobok dari barat siap mengiris Aceh dari Indonesia. Pangkalan Militer asing dirancang di Maluku. Target maksimalnya adalah desintegrasi, mengiris wilayah-wilayah itu untuk menjadi bagian dari 'persemakmuran' mereka. Target minimalnya adalah hegemoni perekonomian, kebudayaan dan 'Agama'. Yang sedang dihancurkan bukan hanya Ummat Islam Ambon dan Maluku. Juga bukan hanya Ummat Islam Indonesia. Lebih dari itu, yang diganyang pada kenyataannya adalah kedaulatan dan kesatuan Republik Indonesia. You never know, Dear, akan betapa parah kehancuran cinta nasionalisme kita. Mustahil ABRI tidak sanggup membereskan masalah Ambon. Tentu langkah Wiranto dipotong sendiri oleh oknum di bawahnya yang merupakan kepanjangan tangan dari yang ia sebut provokator internasional. Kegaguan ABRI menangani Ambon mungkin karena semacam ketidakberdayaan para 'Jagabaya' kita ini oleh tekanan-tekanan adikuasa yang mempolisii dunia dengan lipstik keangkuhan 'firman-firman' demokrasi. Dan jika Wiranto menganggukkan kepala atas kebenaran hal itu, semua komponen bangsa ini perlu bersegera menyatakan Pada tingkat dan skala nasional harus segera dipertemukan semua tokoh Protestan, Islam dan Agama-agama lain, pemuka-pemuka adat Maluku, para sesepuh masyarakat nasional, serta pemerintah dan ABRI -- untuk mengkonfirmasikan bahwa kita menginginkan kedamaian dan kesatuan nasional. Atau kalau memang menghendaki yang sebaliknya, kita segera perjelas: apakah kita akan bermesraan, ataukah berjuang untuk saling memusnahkan. Sebab kalau memang perang Kristen-Islam confirmed secara nasional, maka setiap Kristiani di mana-manapun di negeri ini, di Banyuwangi, Ternate, Pematang Siantar, Pasuruan, Plered, Mandar atau manapun tinggal mengindentifikasikan setiap Muslim sebagai musuhnya. Demikian juga kalau yang confirmed adalah sebaliknya: setiap Muslim di mana-manapun saja di negeri ini tinggal membatin bahwa tetangganya yang Kristen itu adalah orang yang memusuhinya dan ia butuh membela diri dari agresinya. Pada tingkat lokal, teman-teman Ambon yang mendatangi saya itu juga berkata: "Demi Allah kami tetap menawarkan kedamaian dan persaudaraan. Tapi kami tidak akan sampai pada batas untuk tidak mungkin bersedia terus menerus dianiaya. Kalau memang keputusan final kita adalah perang, kami minta waktu empat jam saja untuk perang total, di mana ABRI berdiri netral. Kalau kami kalah, kami akan menyingkir dari Ambon. Sebaliknya kalau kami menang....." Dalam perspektif ne-kolonialisme internasional, saya terharu membaca nasehat ahli Indonesia dari Cornell University, yakni Pak Ben Anderson, bahwa kontinuitas kita sebagai bangsa bergantung pada kebesaran jiwa kita menghadapi diri kemajemukan kita. Thank's a lot, dan kami memohon Pak Ben membantu kami dengan berkonsentrasi mengurusi pemerintah Amerika Serikat dalam hubungannya dengan keutuhan Republik Indonesia. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Mar 1999 jam 03:46:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
