----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Ini analisa tragedi Sambas yang saya kira cukup layak untuk
diketengahkan di ruangan ini. Sebuah analisa dari seorang putera daerah
Kalimantan Barat yang sekarang ini tengah menuntut ilmu di Jepang,
saudara Hasanuddin Abdurrahman , dosen di
Universitas Tanjungpura, Pontianak (Kalbar).

Salam,

moderator
-------------
QUO VADIS SAMBAS ?

     KABAR  terakhir dari Pontianak sangat memprihatinkan, dan membuat
bulu  kuduk kita merinding. Apa yang sebetulnya terjadi? Perselisihan
Dayak-Madura adalah cerita lama, yang seingat saya sudah berlangsung
sejak tahun 50-an. Kesadisan orang Dayak pun bukan barang baru. Mereka
biasa membantai kelompok suku tertentu, bahkan memakan dagingnya. Korban
pertama mereka adalah orang  Cina. Waktu itu semua orang Cina di daerah
pemukiman Dayak dibantai. Uniknya kalau Cina tersebut masuk Islam, ia
akan selamat.
    Dayak dan Melayu secara tradisional sudah bermukim di Kal-Bar
beberapa abad belakangan ini. Melayu umumnya tinggal di daerah pesisir,
dengan mata pencarian bertani dan nelayan. Dayak tinggal di pedalaman,
umumnya masih hidup dengan pola berburu dan meramu. Keadaan suku Dayak
ini tidak banyak berubah hingga sekarang. Selain itu masih ada suku-suku
lain seperti Cina dan Bugis.
    Seingat saya tidak pernah ada konflik yang berarti antara Dayak dan
Melayu hingga saat ini. Dayak yang animis, menghormati Melayu yang
muslim. Kalau ada orang Dayak masuk Islam, mereka (Dayak) menyebutnya
masuk Melayu. Demikian pula, orang Melayu tidak pernah mencoba mengusik
orang Dayak, atau memperalatnya, walaupun dari segi pendidikan rata-rata
orang Melayu lebih tinggi.
    Belakangan berbagai faktor luar masuk. Orang-orang dari  Jawa (baca
: Madura) datang ke Kal-Bar. Dalam banyak hal, terutama pendidikan,
penduduk asli memang banyak tertinggal dari mereka yang dari Jawa.
Praktis jalur birokrasi dan militer dikuasai mereka. Kemudian masuk pula
missionaris. Banyak orang Dayak masuk Kristen sehingga identitas Dayak
bergeser dari animis ke Kristen.
    Kembali ke persoalan konflik tadi, pertanyaan kita, kenapa selalu
timbul konflik Dayak-Madura. Orang Madura memang unik karakternya. Bagi
kami, orang Melayu, (maaf kalau ada yang tersinnggung. saya tidak
bermaksud menjelek-jelekkan suku tertentu, hanya menyampaikan image yang
umum di Pontianak) budaya kekerasan orang Madura sangat menonjol.
Kekerasan biasanya  jadi bahasa utama mereka dalam menyelesaikan
persoalan. Terus terang, citra orang Madura di Pontianak sangat buruk.
Ini yang menyedihkan.  Di sisi lain orang Dayak juga punya budaya
kekerasan. Kita tahu bahwa mereka belum lama (atau bahkan masih)
meninggalkan budaya kanibalnya.
    Jadi, ketika terjadi perang suku Dayak-Madura, suku-suku lain
cenderung tidak peduli. Karena bagi mereka, hal itu biasa terjadi.
Artinya perang antara dua suku "primitif" adalah hal biasa. Menyedihkan
bahwa orang Melayu tidak merasa memiliki kesamaan identitas dengan orang
Madura yang juga sama-sama Muslim.
    Belakangan, berbagai faktor lain menambah runyam persoalan.
Proyek-proyek HPH, kebun kelapa sawit dan sebagainya semakin
menyingkirkan orang Dayak. Hutan-hutan dibabat, mereka yang biasanya
carai makan di hutan, sekarang dilarang masuk hutan. Kebanyakan orang
Dayak tidak siap  memanfaatkan infrastruktur yang dibangun pemerintah di
wilayah mereka. Akibatnya orang lain yang mengambil keuntungan, di
antaranya Madura. Mereka, yang tinggal di pedalaman, pintar berdagang
dan berkebun. Orang Dayak entah kenapa lamban secara ekonomi.
Pembangunan memang hanya dilakukan disektor fisik, bukan budaya.
    Lalu ada lagi faktor lain, petualang politik. Ada sekelompok
intelektual Dayak yang saya kira memanfaatkan situasi untuk kepentingan
politik. Ide bahwa Dayak harus diberdayakan diterjemahkan dalam bentuk
posisi politik harus di pegang oleh suku Dayak. Apakah orang Dayak di
pedalaman itu
mengerti politik? I dont think so. Jadi kalau ide itu diterima, mereka,
yang memang siap untuk menduduki jabatan, akan memperoleh keuntungan.
Tapi ada pertanyaan, kenapa belakangan orang Melayu juga terlibat dalam
budaya kekerasan ini. Orang Melayu setahu saya anti kekerasan. Kenapa
sekarang berubah. Wallahu a'lam.
    Siapa sekarang yang mau berpihak pada orang-orang Madura itu.
Saudara-saudara mereka yang Melayu sekarang membunuh mereka. Pihak pemda
juga cenderung menyalahkan mereka. Gubernur Kal-Bar berkomentar bahwa
kerusuhan ini akibat para pendatang tidak menghormati budaya lokal.
Selesaikah persoalan dengan mengalihkan orang Madura dari lokasi
kerusuhan? Bagaimana dengan hak  mereka untuk hidup. Rumit.

ANALISA II :

KANIBALISME DALAM KASUS SAMBAS

Oleh : Sukamto

    Tragedi Sambas membuat kita menangis. Alhamdulillah, kerusuhan tidak
sampai ke Pontianak dan mudah-mudahan tidak terjadi. Salah satu analisis
skenario besar dialik ini adalah pembentukan Negara Borneo Raya yaitu
Dayak Malaysia, Brunai dan Kalimantan yang sempat terpendam sejak 60-an.
Sekarang ini setelah mulai banyak intelektual Dayak mulai banyak maka
isu-isu Putra Daerah mulai sering diangkat memang kekuatan militansi
dayak sangat dimanfaatkan oleh mereka. Bahkan isu agama juga ikut
bermain yaitu antara Kristen-Dayak dan Islam-Melayu. Pertarungan elite
seperti kursi Bupati dijadikan test case untuk menguji kekuatan mereka.
    Saat ini orang-orang Dayak tersebut berhasil  menguasai dua
Kabupaten dan terakhir mengincar Kab. Pontianak beberapa waktu lalu. Dan
karena gagal dibuatlah kerusuhan dengan cara membakar DPRD II dan aparat
praktis tidak berkutik, pemadam kebakaran pun dihalangi sehingga gedung
tersebut ludes.
    Kasus Sambas ini sebenarnya dimulai antara Melayu dan Madura,  namun
momen ini sepertinya tidak disia-siakan oleh mereka untuk mengambil
peran disana dan sekarang ini praktis sebenarnya perang antara Dayak dan
Madura. Karena militansi Melayu sangat diragukan. Sehingga kalau tidak
hati-hati sangat mungkin Dayak akan menyerang Melayu juga jika
keinginannya untuk memperoleh kekuasaan politik tidak tercapai. Ini akan
dilihat nanti apakah posisi Bupati Kab. Pontianak ditempati Melayu atau
Dayak kerena prolehan suara kemarin di DPRD 50%-50% sehingga sekarang
terjadi mobilisasi untuk memenangkan Calonnya. Dan apabila orang-orang
Dayak menang maka mereka
akan mengincar Gubernur ini terlihat dari peryataan mereka melalui
tokohnya DR. Piet Herman di Seminar Menggagas Putra Daerah menyatakan
bahwa Gubernur harus digilir antara melayu dan Dayak, jelas jawaban ini
tidak mencerminkan pemikiran yang cerdas dari sosok Intelektual. Namun
ini juga mengindikasikan bahwa cara pandang kelompok Intelektual Dayak
saja seperti itu apalagi kalangan awamnya.
    Skenario ini sebetulnya sudah tercium oleh Intel ABRI namun belum
ada tindakan yang jelas menyikapi hal ini. bahkan sangat mungkin
aparatpun bermain dalam kondisi tersebut sesuai dengan
kepentingan-kepentingan ekonomis mereka berkaitan dengan keamanan HPH
dan perkebunan-perkebunan besar di Kalbar. Iini juga terlihat dengan
enggannya mereka menghadang para perusuh untuk mencegah kerusuhan dengan
lebih mengambil tindakan mempercepat mengungsinya suku Madura dengan
isu-akan diserang kampung-nya. bahkan banyak terjadi mereka membiarkan
saja rumah-rumah dibakar setelah penghuninya diungsikan dahulu, yang
penting tidak ada korban jiwa. memang kondisi sekarang ini telah masuk
berbagai kepentingan sehingga menambah kusut suasana disini, tanpa
penanganan yang jelas terutama peran ulama yang sangat jelas
kemandulannya ketua MUI Kalbar adalah Kepala Depag Kalbar.

---------------
BAGAIMANA KOMENTAR ANDA ?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Mar 1999 jam 05:02:15 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke