---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- MODEL PERGANTIAN KEKUASAN BERDASARKAN BUDAYA JAWA Oleh : Ki Ageng Mangir Kata Pengantar Tulisan ini pernah dipublikasikan di milis 'Apakabar' pada tanggal 5 Mei 1998. Jadi mohon dicermati bahwa banyak kondisi dan contoh2 yang ada dalam tulisan ini adalah kondisi dan contoh2 yang ada sebelum terjadi peristiwa 13-14 Mei 1998 dan kejatuhan Soeharto pada tanggal 22 Mei 1998. Saat ini, masa-masa menjelang Pemilu Juni '99 penulis publikasikan sekali lagi, dengan sedikit editing terhadap informasi yang kurang akurat, yang mungkin bisa menjadi relevan kembali bagaimana pergantian kekuasaan akan bisa terjadi paska Pemilu Juni '99. Beberapa hal yang telah terjadi dan sejalan dengan apa yang penulis kemukakan dalam tulisan ini adalah: - pergantian kekuasaan dari Soeharto ke Habibie mengikuti model 'ngenger/suwito' dalam pengertian bahwa sebelum Habibie berkuasa sebelumnya merupakan abdi yang setia dari Soeharto - yang secara perlahan tapi pasti setelah kekuasaan ada ditangan akan berubah (mungkinkah akan mengkhianati Soeharto atau akan tetap sebagai pelindung Soeharto). - bahwa Soeharto mengatakan bahwa akan 'Lengser Keprabon, Madeg Pandito' dalam kenyataannya tidak seperti itu karena penyerahaan kekuasaan ke Habibie bukan atas keikhlasan, tapi tidak lepas dari desakan para mahasiswa yang menduduki gedung MPR, dan kepada siapa Soeharto menyerahkan kekuasaan tidak bisa lepas dari intrik para elite pemimpin disekitar Soeharto pada saat itu. Apakah Soeharto sekarang telah 'Madeg Pandito' hanya mendalami masalah 'spirituil' ? Pembaca bisa menilai sendiri (apakah ada hubungannya dengan segala macam kerusuhan antar agama, dan etnis yang beruntun di Ketapang, Kupang, Ambon, Sambas dan yang mungkin masih akan ada lagi - seperti indikasi dari Gus Dur?) - adanya usaha dari para pemimpin minta bantuan pihak asing adalah model yang tidak asing lagi dalam pergantian kekuasaan dimasa yang lalu (tapi mohon diingat pihak asing tidak akan membantu tanpa suatu konsesi tertentu dan model ini yang selama ini telah memecah-belah bangsa Indonesia). Apabila kita berhasil melakukan pergantian kekuasaan dengan merujuk pada hasil Pemilu Juni '99, adalah suatu prestasi yang bisa sangat dibanggakan oleh bangsa Indonesia, yang selama ini pergantian kekuasaan sangat terpaku dengan model pergantian kekuasaan masa lalu yang selalu dengan model kekerasan dan pertumpahan darah. Kalau memang kita berhasil dengan Pemilu Juni '99, hal ini bisa diartikan bahwa bangsa Indonesia telah berhasil melaksanakan suatu transformasi budaya yang radikal dari tata masyarakat tradisionil yang cenderung feodal menuju ke tata budaya masyarakat yang lebih modern dan lebih demokratis. Penulis - April 1999. Adalah sudah menjadi rahasia umum bahwa para pimpinan Negara Republik Indonesia yang Jawa pada umumnya mempunyai penasehat 'spiritual' atau bisa juga kata kasarnya adalah 'dukun'. Hal ini juga yang merupakan salah satu faktor kenapa budaya Jawa masih mempunyai pengaruh yang sangat luas didalam masyarakat Indonesia pada umumnya karena referensi penasehat 'kejawen' adalah tata cara budaya Jawa yang hidup dari jauh dimasa-masa yang lalu yang lestari dengan media 'wayang purwo/kulit', babad, serat, primbon, legenda, maupun cerita yang disampaikan turun menurun secara lesan. Faktor menoleh kebelakang adalah ciri 'budaya timur' yang bukan saja budaya Jawa/Indonesia tapi juga budaya Cina, India, dan Islam yang secara kontras berbeda dengan 'budaya barat' yang ber-orientasi melihat 'kedepan'. Beberapa contoh yang menunjang 'hipotesa' penulis bahwa budaya 'timur' adalah budaya menengok kebelakang : * Bangsa Indonesia tidak pernah melupakan bahwa pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun (walaupun yang benar adalah secara per-lahan2 dari sejengkal tanah di Jayakarta merambat secara perlahan dalam periode 350 tahun dengan segala perlawanan dan adu domba antara kerajaan di Indonesia, dan tidak pernah bisa menjajah Aceh). * Dalam membangun bangsa Indonesia mencari referensi masa lalu. Pada masa pemerintahan Soekarno referensinya adalah kebesaran kerajaan Majapahit sedangkan pemerintahan Soeharto mereferensikan dirinya ke kerajaan Mataram (atau khususnya Mangkunegaran/Solo). * Pada budaya Cina apabila kita membaca cerita silat (kalau cerita silat bisa dikatagorikan sebagai satu bagian dari budaya Cina) - para tokoh pesilat selalu menemukan buku kuno yang menjadikan dia lebih jago dari tokoh silat pada jamannya yang bisa diartikan bahwa manusia/tokoh Cina dimasa lalu lebih pintar dari tokoh manusia Cina pada zamannya. * Budaya India tidak juga bisa lepas dari legenda Ramayana, Mahabharata, Bhagawatgita, dll. dari masa kekinian dalam 'frame of reference' nya. * Islam dengan sunah Nabi-nya oleh sebagian pengikutnya berusaha meniru sacara harafiah kehidupan Nabi Muhammad selama beliau hidup pada abad ke enam. Kontras dengan 'budaya timur' adalah 'budaya barat' yang lebih radikal memandang kedepan dengan sangat sedikit melihat kebelakang bahkan kadang2 menghilangkan samasekali 'frame of reference' masa lalu : * Tehnologi sebagai tulang punggungnya mengharuskan setiap orang selalu harus 'update' dengan penemuan dan perkembangan baru kalau tidak mau dibilang ketinggalan zaman atau 'absolete'. * Dengan tekanan persaingan untuk tetap 'survive' dalam kehidupan individu yang keras, tidak ada waktu bagi mereka untuk menengok / melamun masa lalu kecuali berpikir keras untuk menemukan sesuatu yang baru yang punya nilai 'commercial' agar punya jaminan kehidupan yang baik pada masa kekinian ataupun dimasa depan. * Kelonggaran ikatan terhadap tradisi maupun agama, budaya barat adalah budaya yang labil yang selalu berubah sesuai dengan keadaan dari waktu ke waktu dan pencarian terhadap nilai-nilai yang tidak pernah ditemukan yang apabila dinilai dari sudut 'budaya timur' yang lekat dengan tradisi dan etika keagamaan merupakan budaya yang terlalu bebas dan liar. Bukan maksud penulis untuk membahas perbedaan antara 'budaya barat' dan 'budaya timur' - yang secara kebetulan penulis pernah berada dalam lingkungannya - yang dengan sendirinya punya kelemahan maupun kekuatannya masing2 tanpa bisa dikatakan baik atau buruk. Hal ini se-mata2 sebagai suatu 'prolog' bahwa dalam menganalisa situasi di Indonesia sebagai bagian yang tak terpisah dari 'budaya timur' akan lebih akurat untuk menengok jauh kebelakang dalam kurun tradisi dan budaya Jawa dimasa lalu karena keterikatan yang sangat kuat masalah kekinian dengan tradisi budaya Jawa yang berumur sangat tua. Kalau kita belajar dari referensi yang ada dalam kebudayaan Jawa dengan 'wayang purwo/kulit', babad, serat, primbon ataupun legenda yang hidup dalam budaya Jawa, model pergantian kekuasaan bisa dibagi menjadi dua periode referensi yaitu : * Model Pergantian Kekuasaan Berdasarkan Model yang ada dalam cerita 'Wayang Purwo/Kulit'. * Model Pergantian Kekuasaan Berdasarkan cerita Babad, Legenda, mau-pun bisa dikatakan juga sejarah. Menurut pengamatan penulis, Model Pergantian Kekuasaan Berdasarkan Model yang ada dalam cerita 'Wayang Purwo/Kulit' paling tidak ada tiga Model Pergantian Kekuasaan : 1. Legitimasi 'Titisan Wisnu' 2. Legitimasi 'Wahyu Keraton' atau 'Wahyu Kerajaan' 3. Lengser Keprabon, Madeg Pandito. Sedangkan pada Model Pergantian Kekuasan Berdasarkan cerita Babad, Serat, maupun sejarah - sekali lagi bahwa ini adalah hipotesa dari penulis sendiri - juga paling tidak ada tiga Model Pergantian Kekuasaan : 1. Kutukan 'Empu Gandring' 2. Ngenger/Suwito 3. Bantuan Kekuatan Asing Mari kita menelaah satu persatu dan mudah-mudah-an kita akan bisa menyingkap Model yang mana dari keenam model pergantian kekuasan yang akan terjadi dalam waktu dekat ini di Indonesia. 1. Legitimasi 'Titisan Wisnu' Dalam agama Hindu, Wisnu adalah dewa pemelihara yang tugasnya adalah memelihara dan menjaga manusia dari ancaman angkaramurka atau ancaman dari ke-sewenang-wenangan. Dalam pewayangan diceritakan bahwa titisan (reinkarnasi) Wisnu yang akan memegang kekuasaan setelah mengalahkan raja yang Angkaramurka. Wisnu akan menitis kepada raja yang menegakkan kebajikan. Dalam wayang purwo periode Ramayana, Wisnu secara berurutan minitis (berinkarnasi) pada Arjuna Sasra Bahu, kemudian Ramabargawa, dan kemudian Ramawijaya. Setiap kali Wisnu akan menitis kepada pada periode berikutnya terjadi peperangan diantaranya, artinya Ramabargawa membunuh Arjuna Sasra Bahu dan Wisnu menitis padanya kemudian Ramawjaya membunuh Ramabargawa dan Wisnu memitis padanya. Kemudian biarpun dalam naskah asli dari India tidak ada hubungan antara Ramayana dan Mahabharata didalam pewayangan diceritakan bahwa Sri Kresna mengalahkan Ramawijaya dalam pererangan dan Wisnu menitis kepadanya. Kesimpulannya bahwa Model Pergantian Kekuasaan 'legitimasi titisan Wisnu' tidak lain adalah Model yang paling tua dalam kepecayaan animisme: * untuk merebut kekuasan seseorang secara harafiah harus memenangkan peperangan yang berarti membunuh musuhnya yang diharapkan secara spiritual jiwa musuhnya akan masuk dalam tubuhnya yang menimbulkan kekuatan magis yang lebih agar bisa dipercaya untuk memimpin. * kemudian kenapa dewa Wisnu yang dipilih sebagai simbol, dikarenakan ciri atau sifat kepemimpinan dari dewa Wisnu merupakan ciri ideal untuk seseorang pemimpin yang berkewajiban memelihara dan melindungi rakyatnya dari sifat-sifat angkaramurka. Dalam sejarah kerajaan-kerajan Hindu di Jawa paling tidak ada dua raja yang menganggap dirinya titisan Wisnu, yaitu: Raja Erlangga dari kerajaan Jenggala pada abad ke-10 dan Ken Arok dari kerajaan Singosari pada abad ke 12. Dalam masa kekinian Model Pergantian Kekuasaan dengan kekerasan dengan cara membunuh pimpinan yang sedang berkuasa bukanlah hal yang aneh yang mungkin saja masih bisa terjadi. 2. Legitimasi 'Wahyu Keraton' atau 'Wahyu Kerajaan' Dalam pewayangan juga diceritakan bahwa agar seseorang bisa jadi raja atau pimpinan negara, dia harus mendapatkan 'Wahyu Keraton / Wahyu Kerajaan'. Dalam salah satu cerita/lakon pewayangan 'Wahyu Cakraningrat' diceritakan bahwa barang siapa mendapatkan wahyu tersebut akan bisa menurunkan raja sampai dengan akhir zaman.Diceritakan bahwa ada tiga pemuda yang berambisi untuk mendapatkan wahyu tersebut, yaitu : * Lesmono Mondrokumoro (putera dari Duryudono - raja Hastinapura) yang pada saat itu bisa dikatakan sebagai putera mahkota kerajaan Hastinapura. * Samba (putera dari Sri Kresna - raja Dwarawati) yang saat itu juga sebagai putra mahkota kerajaan Dwarawati. * Abimanyu (putera Arjuna - ksatria penengah Pandawa) yang saat itu bukanlah anak raja tapi adalah anak ksatria. Pada cerita akhirnya Abimanyu yang bisa mendapatkan 'Wahyu Cakraningrat' yang biarpun dia sendiri tidak menjadi raja karena gugur dalam peperangan 'Bharatayuda' kemudian anaknya Parikesit yang akhirnya menjadi raja di Hastinapura. Kenapa akhirnya 'Wahyu Cakraningrat' lebih senang berada pada 'Abimanyu' sekali lagi ini adalah kwalitas moral dari pemimpin ideal yang dikehendaki adalah sifat-sifat dari Abimanyu yang saat itu adalah memiliki jiwa ksatria yang tahan dari ujian2 moral agar bisa mendapatkan Wahyu tersebut. Berbeda dengan sifat kedua putra mahkota Lesmono Mondrokumoro dan Samba yang arogan dan sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Wahyu dalam pengertian agama Islam hanya diterima oleh Nabi Muhammad ketika satu demi satu ayat suci Al-Qur'an diturunkan dari Allah SWT kepada beliau. Pengertian Wahyu dalam hal ini adalah berbeda dengan Wahyu dalam pengertian Islam (biarpun mayoritas manusia Jawa adalah Islam). Wahyu Keraton oleh kalangan yang mempecayai adalah 'cahaya cemerlang' yang apabila masuk dalam tubuh seseorang, orang tersebut akan mempunyai 'aura' yang bersinar dan penuh pengaruh dan hanya dipunyai oleh seseorang yang dipastikan akan menjadi pimpinan atau raja. Legitimasi 'Wahyu Keraton' menurut penulis adalah sekedar sifat-sifat ideal yang dicari agar seseorang bisa menjadi pimpinan atau raja dalam hal ini seperti sifat Wisnu pada legitimasi titisan Wisnu sedangkan dalam cerita Wahyu Cakraningrat adalah sifat-sifat Abimanyu. Bagi orang yang mendalami 'ilmu kejawen' barangkali 'Wahyu Keraton' secara harafiah memang ada dan semata-mata ini adalah kepercayan spirituil yang sangat sulit untuk dicerna dengan akal. Relevansi pada saat ini : Barangkali pembaca tidak usah heran bahwa ada yang meramalkan di milis 'apakabar' bahwa Wahyu Cakraningrat akan turun kepada seseorang - dan ini secara nyata masih kentalnya pengaruh wayang purwo dalam kehidupan manusia Jawa - yang akan menggantikan pimpinan saat ini yang oleh kalangan yang percaya bahwa Wahyu Keraton sudah tidak berada lagi didalam tubuh pimpinan/raja saat ini dari tanda-tanda 'aura' yang terlihat pada saat penampilan didepan umum yang juga barangkali dikarenakan sifat-sifat angkaramurka sudah meyelimuti beliau. Apakah akan ada seseorang yang mendapatkan 'Wahyu Keraton' dan kemudian menggantikan pimpinan saat ini. Mari kita sama-sama kita tunggu apakah betul-betul akan terjadi ? 3. Lengser Keprabon, Madeg Pandito Bahwa kata-kata tersebut sudah pernah diucapkan oleh pimpinan tertingi Negara Indonesia adalah Model Pergantian Kekuasan secara damai yang terjadi didunia pewayangan dan sangat jarang terjadi dalam dunia nyata (bahkan sepengetahuan penulis tidak pernah terjadi didalam sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dimasa lalu). Dalam dunia pewayangan pada segmen cerita Mahabharata sepengetahuan penulis hanya terjadi tiga kali pergantian kekuasaan dengan cara ini, yaitu: * Kresna Dwipayana atau yang kemudian bernama Resi Abiyasa - yang dipercaya oleh sebagian orang sebagai pengarang buku Mahabharata - pada saat itu adalah raja Hastinapura yang menyerahkan kerajaan kepada anaknya Pandudewanata dan menjadi pendeta/resi yang hidup sampai pada masa Parikesit (cucu dari Arjuna - ksatria penengah dari Pandawa Lima). * Pandudewanata - ayah dari Pandawa Lima adalah raja Hastinapura pada saat itu, suatu saat mendapat kutukan - karena salah membunuh dua rusa yang sedang bersenggama yang ternyata adalah pendeta suami istri yang sedang menyamar - bahwa Pandu akan menemui ajalnya pada saat pertama bersenggama dengan istrinya (setelah kutukan itu diucapkan). Kemudian Pandu menyerahkan kerajaan kepada kakaknya yang buta Destrarata dan Pandu membawa kedua istrinya Dewi Kunti dan Dewi Madrim ketengah hutan untuk menjadi pendeta. * Setelah Pandawa Lima memenangkan peperangan Bharatayuda, Puntadewa diangkat menjadi raja Hastinapura. Pada saat Parikesit sudah dewasa, Puntadewa dan adik2-nya memutuskan untuk menyerahkan kekuasan kepada Parikesit dan Pandawa Lima pergi mengembara untuk mendalami spirituil sebagai pendeta. Bagi seorang pimpinan tertinggi menyerahkan kekuasaan kepada seseorang dengan damai dan ikhlas kepada penggantinya diperlukan kwalitas sifat kepemimpinan seperti Kresna Dwipayana, Pandudewanata maupun Puntadewa yang mempunyai sifat 'intropeksi' yang sangat mendalam terhadap kemampuan dirinya sendiri dan kepercayaan yang besar pada pihak yang akan menggantikan. Pembaca bisa menilai sendiri apakah pimpinan tertinggi Negara Indonesia saat ini punya sifat-sifat seperti Kresna Dwipayana, Pandudewanata, ataupun Puntadewa. Kalau tidak ada kemiripannya, pergantian kekuasaan secara ini kemungkinan akan terjadi dibumi Indonesia masa kini adalah sangat kecil sekali - dan seperti biasa pernyataan 'Lengser Keprabon, Madeg Pandito' ini hanyalah 'lip service'. 4. Kutukan Empu Gandring. Sumber dari cerita ini adalah gabungan antara fakta sejarah dan legenda yang masih hidup dikalangan masyarakat Jawa pada saat ini. Diceritakan bahwa Ken Arok yang semula menjalani kehidupan sebagai perampok oleh penasehat spirituilnya dianjurkan untuk mengabdi kepada Tunggul Ametung yang adalah penguasa didaerah Tumapel (Jawa Timur). Berkat rekomendasi dari penasehat sprituilnya Ken Arok diterima sebagai abdi dan dengan cepat mendapatkan kepercayaan dari tuannya. Tunggul Ametung mempunyai istri bernama Ken Dedes. Ken Arok tertarik pada Ken Dedes dan timbul niatnya membunuh Tunggul Ametung agar bisa mengawini Ken Dedes (note: dasar jiwa perampok). Untuk keperluan ini dia memesan keris kepada Empu Gandring yang saat itu sangat terkenal pembuat keris yang ampuh (berdasarkan budaya Jawa keris mempunyai kekuatan magis tertentu yang kepercayaan itu masih hidup sampai saat ini dikalangan masyarakat Jawa). Membuat keris yang ampuh adalah bukan pekerjaan mudah bagi seorang Empu. Ken Arok sudah menanyakan berkali-kali kepada Empu Gandring kapan kerisnya akan jadi, yang selalu dijawab belum jadi. Pada suatu saat habis kesabaran Ken Arok dan membunuh Empu Gandring menggunakan keris pesanannya yang dianggap belum selesai oleh sang Empu. Sebelum meninggal sang Empu mengutuk Ken Arok bahwa keris itu akan memakan korban tujuh turunan Ken Arok. Seperti diceritakan dalam sejarah akhirnya Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes dan memproklamirkan dirinya sebagai raja Singosari dengan gelar Rajasa dan menggangap dirinya titisan Wisnu. Dan berdasarkan legenda secara berturut-turut terjadi suksesi berdarah dalam perebutan kekuasaan diantara keturunan Ken Arok menggunakan keris Empu Gandring termasuk Ken Arok sendiri tewas karena tusukan keris Empu Gandring. Model 'Kutukan Empu Gandring' adalah refleksi dari Model suksesi berdarah yang terjadi dalam merebut kekuasaan dari pendahulunya dan banyak yang percaya 'Kutukan Empu Gandring' masih berjalan terus sampai saat ini yang pergantian kekuasan di Jawa/Indonesia akan selalu disertai dengan pertumpahan darah. Dan sejarah membuktikan bahwa pergantian kekuasaan pada masa kerajaan2 Hindu maupun munculnya kerajaan2 Islam di Jawa, suksesi selalu dilakukan dengan kekerasan berdarah. Hal ini terjadi apakah itu masa kerajaan Demak, Pajang , maupun Martaram dan hal ini yang sangat dimanfaatkan oleh Belanda pada saat itu untuk melebarkan teritory kekuasaan di Jawa dan seluruh Indonesia. Dalam dua periode pergantian kekuasaan pada abad ke 20, yaitu transisi dari penjajahan Belanda menuju ke Indonesia Merdeka, dan transisi dari Soekarno ke Soeharto, kedua-duanya adalah suksesi dengan pertumpahan darah yang sebetulnya adalah sangat kontras dengan sifat asli dari manusia Jawa / Indonesia yang sangat lemah lembut dan mengembangkan budaya yang dikatakan sebagai budaya 'halus'. Yang menjadi pertanyaan adalah bisakah kita sebagai bangsa melepas dari kutukan 'Empu Gandring' dan melakukan suksesi dengan cara damai? Melihat kondisi saat ini dimana dominasi militer yang sangat kuat dalam birokrasi kekuasaan, potensi suksesi secara kekerasan sangat mungkin terjadi apabila militer disatu pihak membela mempertahankan kekuasaan yang ada dan dipihak lain memihak desakan kearah reformasi. Dan secara nyata kita sebagai bangsa tidak pernah belajar dari sejarah. 5. Ngenger/Suwito. 'Ngenger/Suwito' adalah ungkapan bahasa Jawa yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah mengabdi atau magang. Beberapa peristiwa sejarah Jawa menunjukkan bahwa dengan cara 'Ngenger/Suwita' akan memudahkan seseorang untuk menuju ke puncak pimpinan atau pada kesempatan yang baik merebut kekuasaan dari raja/pimpinan yang di 'Ngengeri' atau yang dimana dia mengabdi. Beberapa contoh dalam kerajaan Jawa dimasa lalu : * Ken Arok sebelumnya 'Ngenger' kepada Tunggul Ametung yang kemudian membunuhnya dan merebut kekuasaan untuk dirinya sebagai raja Singosari. * Jaka Tingkir 'Ngenger' pada raja Demak dan menggulingkannya untuk mendirikan kerajaan Pajang dengan julukan Sultan Hadiwijaya. * Mas Karebet 'Ngenger' pada Sultan Hadiwijaya dari Pajang dan menandinginya dengan mendirikan kerajaan Mataram dengan julukan Panembahan Senopati. Contoh dalam abad ke ke 20 sejarah Indonesiapun ada : * Soekarno 'Ngenger' pada Jepang sebelum memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia biarpun dikatakan sebagai salah satu strategi perjuangan. * Soeharto juga pernah 'Ngenger' pada Soekarno dalam artian pernah bekerja sebagai salah satu panglima dibawah pimpinan Soekarno. Kelebihan dari sistim 'Ngenger' ini adalah, dikarenakan dekat dengan kekuasaan mereka tahu isi perut dan titik lemah dari penguasa yang sedang berkuasa sehingga bisa membuat strategi yang tepat untuk menggulingkan biarpun dari segi moral tidak 'etis' - berkenaan dengan ambisi kekuasaan apakah mereka peduli dengan kata-kata 'etis' ? Bagaimana prospek pergantian kekuasaan dengan Model 'Ngenger' pada saat ini untuk kondisi di Indonesia ? Soeharto adalah jagoan strategi dan punya penguasaan tentang budaya Jawa - sayangnya pengetahuan 'kejawen' yang dipunyai semata-mata ditujukan untuk melindungi dirinya sendiri kearah kelanggengan kekuasaannya bukannya untuk menanamkan kebajikan yang ikhlas seperti pada umumnya tujuan dari ilmu 'kejawen' - sehingga dalam memilih para abdi yang 'Ngenger' padanya sangat selektif dan hati-hati agar jangan sampai ada yang berani untuk merebut kekuasaan darinya. Seperti kata pepatah sepandai-pandai tupai melompat bisa jatuh juga, prospek bahwa salah satu dari abdi Soeharto sedang menyusun kekuatan untuk menggantikannya tetap ada mengingat usia beliau yang sudah cukup 'sepuh' untuk ukuran orang Jawa/Indonesia agar tetap menjadi pimpinan yang gesit untuk menganalisa masalah dengan cepat dan tepat. Dan siapakah mereka ? Kalau kita tahu siapa mereka, mereka sudah tidak akan berada lagi dalam jajaran yang 'Ngenger' pada Soeharto alias sudah digebuk. 6. Bantuan Pihak Asing. Model Pergantian Kekuasaan dengan menggunakan Bantuan Pihak Asing - sebetulnya sungguh memalukan untuk diceritakan dikarenakan : * Sebagai bangsa dimasa lalu (mungkin juga dimasa kini) tidak mampu mengatasi masalah dengan kekuatan sendiri. * Ikut campurnya pihak asing memungkinkan sebagai bangsa kita dipecah-belah. * Dalam campur tangan dalam masalah dalam negeri - domestic - dan biasanya diminta oleh salah satu pihak yang bersengketa tentunya bantuan pihak asing tersebut melakukannya tidak dengan sukarela dan minta imbalan tertentu. Contoh yang paling tepat untuk Model ini adalah sejarah Mataram, dimana pada masa kejayaan Sultan Agung pada abad ke 16 kerajaan Mataram hampir menguasai seluruh tanah Jawa. Dua abad kemudian disebabkan masalah suksesi selalu salah satu pihak minta bantuan kepada Belanda terpecah menjadi empat kerajaan kecil yang tidak cukup punya kekuatan yang memadai yaitu : Surakarta, Mangkunegaran, Yogyakarta, dan Pakualaman. Jadi sebetulnya kerajaan Mataram bukanlah kerajaan yang bagus untuk membangun referensi, karena olah raja-raja mereka menyebabkan bangsa Jawa lebih jauh terjerembab dalam penjajahan. Barangkali kerajaan Majapahit adalah yang lebih tepat untuk membangun referensi karena keberhasilannya menyatukan Nusantara pada masa kejayaan Gajah Mada. Mungkin juga kita bisa mencari referensi yang lebih jauh dimasa sebelum era Majapahit yang 'Jawadwipa' sudah dikenal sebagai kerajaan yang 'adil dan makmur' dan tidak bekelebihan bahwa referensi 'wayang purwo/kulit' masih relevan untuk digali untuk mencari negara ideal yang kita inginkan. Bagaimana prospek masa kini tentang Model Bantuan Pihak Asing ini akan bisa terjadi pada saat ini: * Pada saat suksesi dari Soekarno ke masa Soeharto beberapa publikasi asing - lepas benar atau tidaknya - mengindikasikan bahwa ada campur tangan dinas intelijen Amerika dalam membantu Soeharto mengambil alih kekuasan dari Soekarno. Kalau indikasi ini benar maka Model ini masih berlaku pada sejarah modern bangsa Indonesia. * Sekalipun bangsa Indonesia bisa dikatakan telah 'Merdeka' apakah dalam kenyataan telah 100% merdeka dikarenakan sistem tata politik dan ekonomi saat ini sangat besar ketergantungannya pada pihak2 asing: 1. Dominasi ekonomi dalam negeri masih dilakukan kelompok keturunan bangsa Cina (ini adalah faktanya, sebagai bangsa yang merdeka adalah seyogyanya bangsa Indonesia mempunyai kemampuan dan kekuatan ekonomi yang mandiri seperti dimasa lalu pada masa kejayaan kerajaan2 di Indonesia) 2. Ketergantungan hutang yang sangat besar kepada negara kreditor Barat (terutama Jepang and Amerika Serikat). * Pihak-pihak asing dikarenakan punya kepentingan melakukan proteksi terhadap investasi yang sangat besar di Indonesia, apapun akan dilakunan oleh mereka untuk melindungi kepentingannya, termasuk bila diminta oleh salah satu pihak untuk melakukan suksesi dan tentunya dengan imbalan ataupun konsesi tertentu. Kesimpulan. Perjalanan sebagai bangsa yang relatif masih muda setelah merdeka pada tahun 1945, bangsa Indonesia masih harus menjalani jalan yang panjang untuk menghayati kemerdekaan yang nyata bagi rakyatnya. Kita memerlukan seorang pemimpin yang betul-betul menghayati arti 'kemerdekaan' dalam pengertian yang seluas-luasnya bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga kenyataan yang ada jangan sampai hanyalah 'kemerdekaan yang semu' yang sebetulnya penjajahan masih berlaku dan hanyalah beralih muka : * yang tadinya dilakukan oleh Belanda sekarang dilaksanakan oleh para birokrat dibantu oleh kaum militer. * tidak pernah terjadi suatu kemandirian/kemerdekaan 'ekonomi' bagi bangsa Indonesia karena ketergantungan yang sangat terhadap pihak2 asing dan tidak ada langkah-langkah yang pasti untuk mengatasi masalah ini. Sebagai bangsa yang tidak bisa lepas dari 'tradisi ketimuran' yang selalu menoleh kebelakang 'Model Pergantian Kekuasaan' yang seperti penulis kemukakan diatas masih bisa terjadi dengan salah satu cara dari keenam Model diatas ataupun kombinasi diantaranya pada masa kekinian. Tidak banyak pilihan bisa dilakukan kita sebagai bangsa, yaitu : * Membiarkan 'tradisi' membelenggu kita dan peristiwa akan mengalir seperti roda pengulangan masa lalu yang akan terjadi tanpa kita pernah belajar darinya. * Lupakan masa lalu dan mencoba menggunakan cara berpikir 'budaya barat' yang hanya melihat kedepan yang berarti kita harus berani melakukan perombakan total cara berpikir (dan ini dilakukan secara sukses oleh bangsa Jepang). * Demokrasi - sebagai suatu cara melakukan suksesi secara damai setiap lima tahun - adalah bukan tradisi budaya timur maupun budaya Jawa. Kalau ini menjadi pilihan berarti kita sebagai bangsa harus siap untuk melepaskan keterikatan kita dengan masa lalu - dalam pengertian untuk melepaskan kecenderungan untuk mengikuti pola tata masyarakat tradisional yang cenderung feodal. Tulisan ini dengan segala kekurangannya dimaksud untuk memberikan masukan untuk para pemimpin maupun calon pemimpin dimasa depan agar dalam menentukan langkah kedepan bangsa Indonesia bisa belajar dari tradisi dan sejarah - tanpa harus terikat dengannya, dalam pengertian mengikuti pola lama - dan tidak mengulangi kesalahan yang sama dari pendahulu kita sehingga cita-cita kearah kebesaran bangsa Indonesia bisa lebih cepat terwujud. Mei 1998. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 6 Apr 1999 jam 10:40:50 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
