---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- DIAGNOSA PENYAKIT INDONESIA (III) Tidaklah berkelebihan kalau dikatakan bahwa ekonomi Indonesia dewasa ini sudah koma walaupun disuntik pinjaman baru IMF, dll. Sebenarnya para pemimpin Indonesia terjebak oleh pinjaman IMF. Mula mula Su- harto mengira pinjaman baru IMF dapat menolong survivalnya, malah sebaliknya dia terguling karena melangitnya harga sembako dan membangkitkan kemarahan rak- yat dan mahasiswa. Pinjaman IMF pada saat kritik seperti sekarang ini hanya merupakan seember air kedalam samudera raya karena: KKN, birokrasi dan konglomerat jahat masih me- rajalela, Menurut Amien Rais rekapitalisasi bank swasta Rp 250 trilyun itu merui- pakan kejahatan karena rekapitalisasi oleh rejim Suharto sebanyak R150 trilyun lenyap tak ada pertanggung jawabannya. Tidak mustahil jumlah Rp400 trilyun itu diambil dari pinjaman baru IMF yang seharusnya digunakan untuk dana sta- bilisasi sembako yang kini sudah menipis kembali dan pembiayaan esensial lainnya. Kita tidak mungkin mengikuti Korea Selatan dan Thailand dalam soal rekapitali- sasi bank swasta ini karne mereka tidak dilanda penyakit sosial KKN dan de- mokratisasinya keterbukaan management dan politiknya sudah terlalu jauh me- ninggalkan kita di belakang. Begitu krisis melanda, rakyat Korea Selatan lang- sung mengganti rejimnya melalui pemilu yang pada gilirannya melaksanakan demokratisasi dan pemberantasan waste, mismanagement, korupsi. World Bank baru sadar apa yang disebut KKN setelah diketahuinya sampai 30% pinjaman Indonesia jatuh di tangan KKN. IMF masih ignorant atau belaga pilon seolah olah "everything is OK" di Indonesia di bawah rejim Habibie. Perbankan adalah uratnadi perekonomian sehat tapi rekapitalisasi tanpa screening yang jujur adalah waste, mismanagement, apalagi kalau sampai ada KKN lagi. Waste Rp 400 trilyun ditambah Rp1.7 trilyun KKN menurut laporan DPR baru baru ini dilahap oleh KKN padahal rakyat melarat meningkat sampai lk 140 juta, pe- nganggguran lk 20 juta, busunglapar lk 10 juta. Di mana keadilan dan hatinurani? Disamping itu perekonomian kita masih saja mengidapkan penyakit dalam inten- sive care yang malah ditambah buruk dengan KKN baru. Mahasiswa tidak tahu perincian ini, mereka hanya tahu secara naluri dan kalau demo mereka dianggap berlebihan menentang KKN baru itu sehingga ditindak keras, ada yang mati dan bergelimpangan yang luka luka berat, ratusan ditang- kapi pula, maka rejim Habibie ini tidak ada bedanya dengan rejim Suharto dan "deserved" (sepatutnya) didemo mahasiswa terus sampai KKN diberantas dan perekonomian dipulihkan kembali. Namun untuk memulihkan ekonomi, Indonesia harus keluar dulu dari intensive care dan jangan sampai ditambah tambah lagi dengan KKN baru. Barulah kita bisa tertatih tatih berjalan menuju rehabilitasi yang memang mahaberat, dan harus diakui kabinet Habibie tidak akan mampu melaksanakannya karena rehabilitasi ekonomi hanya mungkin dilaksanakan tanpa KKN baik secara konvensional melalui program yang bertanggung jawab, sekaligus secara in- konvensional dengan mengatasi pula krisis politik dan sosial yang sedang bergejolak panas. Krisis politik dan sosial ayang hanya bisa diatasi oleh pimpinan baru yang mencerminkan persatuan semua kekuatan masyarakat. Secara konvensional rehabilitasi ekonomi harus dimulai dengan injeksi modal kepada swasta sedangkan sumber modal, pemerintah dan perbankan justru menyedot rupiah terus sehingga sirkulasi uang merosot padahal pemerintah sudah mencetak uang melebih plafon internastional kenaikan 4% setahun. Pemanfa'atan pinjaman IMF yang dapat dibenarkan sedemikian jauh hanya stabilisasi rupiah terhadap USDollar. Penggunaan pinjaman luar negeri (pinjaman dari IMF?) untuk membentuk Ratih adalah waste yang paling terkutuk, apalah Ratih ini beritikad jahat untuk mengadu domba rakyat yang mendukung mahasiswa dengan yang mendukung peme- rintah. Bagaimana kita bisa keluar dari intensive care kalau KKN baru, waste, mismanagement merajalela terus? New York, 18 Desember 1998. H.S. Hidayat Supangkat ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Dec 1998 jam 09:16:52 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
