----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
From: Suara Sosialis
REVOLUSI DAN KONTRA-REVOLUSI: PELAJARAN BAGI INDONESIA
Oleh: Tony Cliff
Bagian kedua
[Tulisan ini terbit di International Socialism no 80, 1998 dan
audience-nya adalah para pembaca Inggeris. Jika anda ingin memberi
komentar, silakan disampaikan kepada [EMAIL PROTECTED] atau (jika
ditulis dalam bahasa Inggeris) kepada [EMAIL PROTECTED]]
PARTAI REVOLUSIONER DAN KELAS BURUH
Inti ajaran Marxisme adalah bahwa emansipasi kelas buruh harus berasal
dari tindakan kaum buruh sendiri. Manifesto Komunis menyatakan:
"Semua gerakan sejarah yang terdahulu adalah gerakan minoritas, atau
demi kepentingan minoritas. Gerakan proletar adalah gerakan yang
sadar-diri, gerakan independen yang berasal dari mayoritas yang
berjumlah besar, demi kepentingan mayoritas tersebut."
Pada waktu yang bersamaan, Manifesto Komunis juga menyatakan:
"Pikiran-pikiran yang menguasai dalam tiap-tiap zaman adalah senantiasa
pikiran-pikiran kelas yang berkuasa." Ada kontradiksi antara dua
pernyataan itu, tetapi kontradiksinya tidak ada di kepala Marx dan
Engels. Kontradiksi itu muncul dalam realitas. Seandainya hanya satu
dari pernyataan itu benar, maka kemenangan kelas buruh akan menjadi
pasti atau mustahil. Kalau para buruh tidak terpengaruh oleh ide-ide
kapitalis yang egoistis, apati terhadap buruh lain, rasisme, seksisme,
dll, maka sosialisme tidak bisa dielakkan, dan akan datang dengan
sendirinya walaupun kaum revolusioner tidak mengangkat jari mereka.
Sedangkan jika kaum buruh setuju sepenuhnya atas ide-ide kelas yang
berkuasa, sosialisme tidak mungkin terjadi dan keadaan akan tetap
seperti itu selamanya. Keseimbangan antara kedua faktor, yakni aktivitas
kelas buruh sendiri dan pengaruh ide-ide kapitalis tidak statis.
Keseimbangan itu akan berubah setiap waktu. Kadang-kadang perubahannya
lambat dan tidak terasa dalam jangka waktu lama, tapi kemudian bisa
berubah secara dramatis dalam sekejap.
Menajamnya perjuangan kelas yang menyebabkan naiknya kepercayaan diri
para buruh dapat melemahkan pengaruh ide-ide borjuis. Sebaliknya,
kecenderungan menurunnya semangat tempur para buruh diikuti dengan
kekalahan yang serius dan terus menerus, atau pengangguran massa yang
berjangka waktu lama (hal itu mengikis kepercayaan diri para buruh),
membuat mereka lebih siap untuk mengikuti ide-ide reaksioner.
Namun demikian, perubahan keseimbangan antara kedua faktor tersebut
tidak hanya bergantung pada apa yang terjadi di tempat kerja, atau di
bidang ekonomi. Engels menulis bahwa perjuangan kelas ada dalam tiga
bidang: ekonomi, politik dan ideologi. Ketiga bidang itu tentu saja
saling berkaitan, dengan masalah ekonomi sebagai basis dan masalah
politik dan ideologi sebagai suprastrukturnya. Tetapi semangat tempur
buruh bisa meningkat atau bahkan meledak, bukan hanya karena mereka
menang dalam memperjuangkan masalah upah atau dalam melawan
pemecatan-pemecatan, tetapi juga karena kejadian-kejadian di bidang
politik.
Revolusi Rusia pada bulan Februari 1917 bukanlah merupakan hasil dari
sebuah peningkatan dalam pemogokan-pemogokan, melainkan merupakan reaksi
langsung dari perang. Empat juta tentara Rusia telah tewas, dan negara
dilanda kelaparan. Kerusuhan dan demonstrasi di Petrograd pada awal
Februari menyalakan revolusi, tetapi kejadian-kejadian ini kecil sekali
hubungannya dengan meningkatnya perjuangan industrial.
Keseimbangan antara kedua faktor -- yakni cara berpikir baru yang
berkembang dari tindakan buruh sendiri, dan beban ide-ide kapitalis --
tidak hanya bergejolak dengan perubahan dalam keadaan sosial secara
umum, tetapi juga mempengaruhi masing-masing buruh secara berbeda. Dapat
dikatakan bahwa dalam setiap situasi yang ada, ada sebagian buruh yang
menerima betul-betul ide-ide kaum borjuis, mereka itu adalah para buruh
konservatif. Sebagian yang lain betul-betul menolak ide-ide kaum
borjuis, mereka itu adalah para buruh revolusioner. Secara skematis,
kita bisa berkata bahwa kedua kelompok itu diwakili oleh dua partai yang
terpisah yakni partai konservatif dan partai buruh revolusioner. Di
antara kedua partai ini ada kelompok buruh yang ketiga yang merupakan
dasar sosial untuk partai reformis (contohnya Partai Buruh Inggris atau
Australia). Dalam pidatonya di Kongres Kedua Internasional Komunis tahun
1920, Lenin mendefinisikan Partai Buruh sebagai "partai buruh
kapitalistik". Menurut Lenin partai ini adalah partai "kapitalistik"
karena garis politiknya tidak putus dengan sistem kapitalis, tetapi
sekaligus merupakan partai yang berkaitan dengan kelas buruh. Kenapa?
Bukan karena partai ini dicoblos oleh kebanyakan buruh. Pada waktu itu
justru partai konservatiflah yang memperoleh dukungan terbanyak dari
golongan buruh. Lenin menyebut partai itu sebagai partai kelas buruh
karena timbulnya partai tersebut mencerminkan aspirasi kelompok buruh
yang lebih sadar untuk membela diri melawan kapitalisme.
Tentu saja ini merupakan sebuah klasifikasi kasar. Di antara
partai-partai revolusioner dan partai reformis, ada juga satu macam
partai lainnya yang disebut partai tengah (centrist). Sifat utamanya
adalah kecurangan dan kebimbangan. Partai tengah ini kadang-kadang
bergerak dari kanan ke kiri, atau dari kiri ke kanan, dan bisa mengubah
tujuannya dalam waktu sekejap. Partai tengah ini seperti bunglon, selalu
berubah warnanya dan tidak pernah konsisten.
Bahaya terbesar bagi sebuah partai revolusioner adalah bahwa partai ini
beradaptasi dengan partai tengah, padahal partai tengah mengekor para
reformis dan para reformis ini mengekor partai kapitalis.
Salah satu contohnya: selama pemogokan umum tahun 1926 di Inggris,
pemimpin Partai Komunis melunakkan diri dan menyesuaikan kebijakan kunci
mereka, dengan harapan bahwa dengan metode ini mereka dapat mengambil
hati para pemimpin serikat buruh yang ikut aliran "tengah". Sebagai
akibatnya mereka mengekor orang-orang seperti A.J. Cook, George Hicks
dan Alfred Purcell, para pimpinan berhaluan "kiri" dari dewan umum
Trades Union Congress (TUC - Kongres Serikat Buruh). Pada gilirannya
Cook, Hicks dan Purcell mengekor pimpinan sayap kanan dari TUC yakni
Jimmy Thomas, Arthur Pugh dan Ben Turner. Ketiganya mengekor Ramsay
MacDonald (pemimpin Partai Buruh) dan pada gilirannya si Ramsay
MacDonald memberi dukungan tidak langsung kepada kebijaksanaan Stanley
Baldwin, perdana menteri dari Partai Konservatif saat itu. Penyesuaian
Partai Komunis terhadap unsur-unsur "tengah" itu akhirnya menyebabkan
kekalahan besar kelas buruh Inggris. Partai revolusioner yang menghadapi
kebimbangan para pemimpin partai tengah harus menunjukkan kejernihan dan
ketabahan. Seseorang harus tetap tabah untuk memantapkan
ketidakmantapan.
Sejarah dibuat oleh kelas buruh sendiri, makanya partai revolusioner
harus menghindari dua bahaya: yang pertama adalah sikap yang disebut
"substitutionism", yakni kepercayaan bahwa partai itu bisa bertindak
sebagai pengganti kelas buruh, atau bertindak atas nama kelas buruh
tanpa partisipai kaum buruh sendiri. Yang kedua adalah oportunisme,
penyesuaian diri untuk pandangan-pandangan yang bertahan di kelas itu.
Satu macam dari "substitutionism" itu adalah sikap sektarian. Misalnya:
seandainya terjadi aksi mogok kerja dan kaum buruh berkumpul di depan
gerbang pabrik, seorang revolusioner mungkin melakukan tugas jaga
bersama mereka dan di sebelahnya ada seorang buruh yang berkomentar
rasis. Si revolusioner itu dapat melakukan satu dari tiga hal. Bisa
mengatakan: "Aku tidak mau berdiri bersebelahan dengan orang rasis ini;
aku pulang." Itu adalah sektarianisme, mentalitas bahwa kaum
revolusioner mampu bergerak secara berpisah. Ini salah, karena
emansipasi kelas buruh merupakan tindakan kelas buruh sendiri, jadi kita
harus selalu mendampingi para buruh itu melawan para majikan.
Kemungkinan yang lain adalah mengelak, dengan berbuat seolah-olah tidak
mendengar komentar rasis itu dan membelokkan percakapan ke arah lain
dengan mengatakan "Cuaca hari ini bagus, ya?" Ini adalah oportunisme.
Kemungkinan ketiga adalah kita mendebat orang itu untuk melawan rasisme.
Kalau dia bisa diyakinkan, bagus. Kalau tidak, apa daya; tetapi bila
sekelompok preman datang untuk menyerang kaum buruh, kita harus
mempertahankan diri bahu-membahu bersama si buruh yang rasis itu. Karena
kaum buruh sendiri yang harus memperjuangkan emansipasi mereka, dan
seorang yang revolusioner tidak boleh berpisah dari kaum buruh. Setelah
itu kita bisa berdebat lagi dengan buruh itu. Seorang revolusioner
harus menghindari baik sikap "substitutionism" dan mentalitas sektarian
maupun sikap yang mengekor pandangan reaksioner yang ada dalam kelas
buruh.
Kesuksesan revolusi juga bergantung pada peranan partai revolusioner
yang bertindak sebagai "universitas" kelas buruh. Situasi kelas buruh
yang berhadapan dengan kelas borjuis sangat berbeda dengan posisi kelas
borjuis jaman dulu pada saat mereka memberontak melawan tuan-tuan tanah
feodal. Kaum kapitalis, bahkan sewaktu kelas mereka masih muda, terdiri
dari orang-orang yang secara intelektual independen dari kaum bangsawan.
Memang benar bahwa kaum kapitalis harus menyingkirkan kaum bangsawan,
seperti kelas buruh sekarang harus menyingkirkan kaum kapitalis. Tetapi,
kaum buruh kurang beberapa keuntungan seperti yang dimiliki kaum
bourjuis saat mereka ingin membuat sebuah revolusi.
Kaum borjuis memiliki sejumlah kelebihan saat itu dibandingkan degan
kelas buruh sekarang. Musuhnya, kaum bangsawan, tidak sekaya kaum
kapitalis. Kaum kapitalis bisa menghadapi kaum bangsawan dengan
mengatakan, "Baiklah, kalian punya tanah, tetapi kami punya uang, kami
juga punya bank-bank. Kalau kamu bangkrut, bagaimana caramu
menyelamatkan diri? Kamu mencoba mencampuradukkan darah birumu dengan
emasku. Kamu mencoba mengawini anak perempuanku." Kalau terjadi
pertikaian intelektual, kaum kapitalis bisa mengatakan: "Baiklah, kalian
punya gereja, tetapi kami punya universitas. Kalian punya pastor, tetapi
kami punya profesor. Kalian punya Kitab Suci, tetapi kami punya
ensiklopedia. Ayo, minggir!"
Lebih banyak pengaruh kapitalis terhadap bangsawan daripada sebaliknya.
Revolusi Perancis berawal dari sebuah pertemuan Estates General (Tiga
Tingkat Sosial: bangsawan, gereja dan kelas menengah). Pada saat
pemilihan, banyak bangsawan dan pastor/pendeta memilih aliran kapitalis,
bukan sebaliknya. Apakah posisi kaum buruh vis-a-vis kapitalis sekarang
seperti itu? Tentu saja tidak. Kaum buruh tidak dapat mengatakan kepada
kaum kapitalis: "Baiklah, kalian punya Ford, General Motors, Salim Group
dll. Kami mempunyai..." Dalam hal ide-ide, hampir tidak ada pengaruh
pers sosialis terhadap kaum kapitalis, sementara itu jutaan buruh
terpengaruh propaganda kapitalis.
Ketika kita mengatakan bahwa partai revolusioner adalah "universitas"
bagi kelas buruh, itu berarti kita harus belajar dari pengalaman
historis dan internasional kelas buruh, baik kemenangan-kemenangan
maupun kekalahan-kekalahan mereka. Partai revolusioner harus menjadi
"the memory of the working class", harus selalu mengumpulkan dan
menyimpan pengalaman dan ingatan kelas buruh. Jadi melihat keadaan di
Indonesia saat ini, kita harus memikirkan pengalaman pemerintahan kaum
buruh pertama di dunia, yakni Komune Paris 1871, di mana buruh memegang
kekuasaan selama 74 hari. Kita harus belajar dari Revolusi 1905, bahkan
juga dari kemenangan Revolusi Oktober. Pada saat yang sama kita harus
belajar dari kekalahan Revolusi Jerman 1918-1923, kekalahan pemogokan
umum di Inggris tahun 1926, pembunuhan seluruh pimpinan Partai Bolshevik
oleh Stalin setelah kematian Lenin, penghapusan dewan-dewan buruh dan
penggantian rejim proletar Bolshevik dengan orde kapitalis-negara di
bawah rejim Stalinis. [Rejim Stalin itu memang mengatasnamakan
sosialisme, tetapi intinya kapitalis.] Kita harus belajar dari
malapetaka di Jerman pada tahun 1933, ketika gerakan buruh yang paling
kuat dan paling terorganisir di dunia menyerah tanpa perlawanan kepada
Nazi, karena dipimpin oleh dua partai di mana salah satunya adalah
partai reformis sayap kanan dan satunya lagi partai stalinis. Kita harus
belajar mengapa masyarakat di Cina berkembang sedemikian rupa sehingga
di puncak ada banyak jutawan, sementara itu di bawah ada ratusan juta
yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Untuk memberikan kepercayaan diri pada perjuangan kaum buruh, Partai
revolusioner harus mengembangkan pikiran yang tajam dan jernih.
Sedangkan skeptisme yang teoritis tidak cocok dengan tindakan
revolusioner. Tentu saja kita tidak boleh berpikiran dogmatis; tetapi
kita juga tidak boleh plin-plan di bidang teori. Seperti yang dikatakan
Lenin, "Yang paling penting adalah percaya diri bahwa jalan yang dipilih
merupakan jalan yang paling benar. Kepercayaan ini melipatgandakan
energi dan antusiasme revolusioner yang dapat menampakkan keajaiban."
Tanpa memiliki pengetahuan tentang hukum-hukum perkembangan sejarah,
kita tidak dapat berjuang secara mantap. Selama tahun-tahun yang sulit
dan mengecewakan, dalam keadaan kelaparan dan terisolasi, kaum
revolusioner tidak akan dapat bertahan tanpa keyakinan bahwa tindakan
mereka cocok dengan tuntutan jaman. Supaya tidak tersesat, kita harus
mantap secara ideologis.
Skeptisme teoritis dan kemantapan revolusioner tidak cocok. Kekuatan
Lenin adalah bahwa dia selalu menghubungkan antara teori dan proses
pembentukan manusia. Dia menilai setiap gagasan teori dalam hubungannya
dengan kebutuhan-kebutuhan praktek. Demikian juga dia menguji setiap
langkah praktek apakah cocok dengan teori Marxis. Dia mengombinasikan
teori dan praktek secara sempurna.
Lenin percaya akan improvisasi. Tetapi supaya improvisasi ini tidak
hanya bersifat reaktif, harus sesuai dengan perspektif umum yang
berdasarkan pada teori yang dipikirkan secara baik-baik.
Menjalankan praktek tanpa teori bisa mengakibatkan ketidakmenentuan dan
kesalahan. Di lain pihak, belajar Marxisme dengan melepaskan perjuangan
sosial berarti memisahkan diri dari tindakan yang mendorongnya - aksi.
Dan kita bisa menjadi para kutu buku yang tidak berguna.
Praktek harus diklarifikasikan dengan teori revolusioner, dan teori
harus diuji melalui praktek. Tradisi Marxis dapat diasimilasi ke dalam
pikiran dan darah manusia hanya dengan cara berjuang.
- bersambung
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 04:44:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++