----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

LEBIH LANJUT DENGAN REVOLUSI KULTUR
MENUJU KULTUR KESETARAAN (7)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Revolusi Kultur sebagai gerakan moral.

Bahwa  suatu kenyataan demontrasi mahasiswa yang
telah  berhasil  menumbangkan  rezim  Soeharto pada
tanggal 21 Mei 1998. Tuntutan  sebenarnya  dari  para
mahasiswa    sebagai    wakil   dari   generasi    muda
maupun intelektuil muda adalah sangat 'relevan'  untuk
dicermati  karena  mahasiswa  dari  lembaran  sejarah
Indonesia telah memainkam peranan pendobrak  yang
murni dikarenakan mahasiswa dalam tata masyarakat
Indonesia menempati suatu posisi yang unik :
- mempunyai kedekatan dengan rakyat jelata
- mempunyai   tingkat   pendidikan  /  intelektuil  yang
cukup  memadai  dibandingkan lingkungan sekitarnya
(rakyat awam)
- kemudaannya  menyebabkan  tidak tercemar 'vested
interest' dalam pengertian biasanya gerakannya murni
sebagai  refleksi  keinginan  rakyat  jelata  yang  tidak
mampu bersuara.
- berciri 'radikal' untuk mengangkat issue yang sangat
sensitif     dalam     masyarakat     dan     mempunyai
keberanian mengambil risiko karena kemudaannya.

Tujuan utama mahasiswa saat ini  adalah  melakukan
REFORMASI   TOTAL   terhadap   'orde   baru'    yang
masih  belum  sepenuhnya   terlaksana   dikarenakan
baru  berhasil  menurunkan  Soeharto tapi 'orde  baru'
dengan  back-up  'ABRI'-nya masih  bercokol  sebagai
'structural vested interest' yang menjaga  'status  quo'
karena  diuntungkan  dengan  kultur  bangsa  saat  ini
dengan  kekuasaan   tanpa  batas,  banyak  hak - hak
istimewa yang  dipunyai dibandingkan  dengan  rakyat
jelata,    pengetarapan   hukum   yang   membedakan
terhadap   ABRI,  penguasa,  atau  rakyat  biasa, dan
yang  paling  utama  tetap  aman melanjutkan praktek
ber-KKN.

Dalam tulisan-tulisan terdahulu, penulis  menekankan
bahwa kelemahan  utama  bangsa  kita  ada  didalam
diri  bangsa  kita  sendiri  yang  adalah  kultur  negatif
(kultur feodal, kultur budak, dan  kultur  hidup  santai)
yang    sangat   mengakar    plus   'structural    vested
interest' yang menjaganya  agar  tetap  terjadi  'status
quo' karena  sangat  diuntungkan  dengan kultur yang
ada saat ini.

Perubahan  kultural yang sangat 'radikal' yang pernah
terjadi pada bangsa Indonesia adalah akibat langsung
dari   Revolusi  Kemerdekaan  yaitu  dari   kultur  alam
penjajahan menjadi kultur  kemerdekaan.  Dalam  dua
dekade  pemerintahan  setelah  kemerdekaan -  Bung
Karno,  dan  Soeharto   -   bangsa   Indonesia   belum
mampu   mengisi   kemerdekaan   ini   dengan  kultur
kesetaraan    bagi    rakyat     secara    luas  sebagai
manifestasi   nyata   dari    makna   kemerdekaan  itu
sendiri.

Gerakan - gerakan  yang  ada   -   terkecuali  gerakan
mahasiswa   yang    mungkin   masih   murni   -  yang
dilakukan   oleh   organisasi  sosial  politik  umumnya
bertujuan   jangka  pendek  yaitu  dalam  rangka  ikut
berpartisipasi       didalam      lingkaran     kekuasaan
pemerintahan baik di eksekutif,  legislatif dan judikatif
(tentunya  untuk  kultur  saat  ini  target  paling utama
adalah apabila bisa menguasai eksekutif  yang punya
kedudukan  lebih  tinggi   baik dari  lembaga  legislatif
maupun judikatif) . Tidak  ada suatu gerakanpun yang
mencoba   melakukan   suatu   program  transformasi
kultural dari kultur yang  negatif  menjadi  kultur  yang
menunjang   kearah   tercapainya  cita - cita  bangsa,
padahal  pada  hakekatnya  pokok  persoalan bangsa
adalah   disitu. Karena   itu    gerakan   politik   selalu
mempunyai pola seragam  dengan pamer pengerahan
massa     dengan     pemimpinnya   sebagai    sentral
kekuatannya  - karena kultur partenalistic yang feodal
masih   sangat  kental   mempengaruhi    masyarakat
bangsa  Indonesia, padahal  organisasi  sosial  politik
adalah  sangat   potential   dan   lebih   effektif   untuk
dijadikan      sarana     perubahan     kultur     dengan
melaksanakan perubahan kultur mulai dari dalam  diri
organisasi tersebut  dengan semangat  pembaharuan
dan  mencanangkan  program  perubahan kultur yang
lebih   luas   dalam  masyarakat  (dimasa  lalu  justru
hanya partai komunis yang mendasari perjuangannya
dengan   target    utama   perubahan    kultur   -  yang
kebetulan  sama    yaitu    kultur    kesetaraan   yang
membedakan  adalah  cara  pelaksanaannya  dengan
cara sentralisasi kekuasaan dalam satu partai secara
paksa).

Barangkali       memang      sudah    waktunya    kita
mencanangkan suatu  REVOLUSI KULTUR  sebagai
gerakan  moral untuk merubah secara kultural semua
kelemahan kultural yang ada  terutama kultur  feodal,
kultur   budak,   dan   kultur    hidup   santai  menjadi
KULTUR KESETARAAN   bagi   masyarakat  bangsa
Indonesia secara keseluruhan.

Boleh  dikatakan  bahwa  REFORMASI TOTAL  yang
berkonotasi  reformasi  terhadap  struktur kekuasaan
bisa   diperluas  jangkauannya   menjadi  REVOLUSI
KULTUR    menuju    KULTUR   KESETARAAN  yang
menyentuh     perubahan      kearah     akar    budaya
masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

REVOLUSI KULTUR  sebagai  gerakan moral menuju
KULTUR      KESETARAAN         haruslah     mampu
melakukan  perubahan  yang   lebih  mendasar  yang
akan   mengakar  dalam   masyarakat sebagai  kultur
yang   baru,  cara-cara   yang  ditempuh  adalah  bisa
dengan   berbagai   hal  yang  secara  umum sebagai
berikut :

- mengerti  makna kultur kesetaraan manusia dengan
lebih baik (penulis jelaskan dalam seri ke 5).
- mengevaluasi ulang kultur ataupun kebiasaan2 lama
yang    bertentangan    dengan     kultur    kesetaraan
manusia.
- memberikan  contoh   bagaimana    bersikap  setara
terhadap siapapun juga.
- merubah  kebiasaan masyarakat yang  tidak sesuai
dengan kultur kesetaraan.
- berjuang  menghapuskan  hambatan  'struktur'  yang
tidak sesuai dengan kultur  kesetaraan yang mungkin
berupa   peraturan   ataupun   per-undang - undang-an
yang ada.
- menyebarluaskan kesadaran kesetaraan manusia.
- menghilangkan sikap memperbudak dan diperbudak.
- memperjuangkan    sistim   ke-tata - negaraan yang
mengacu    kepada   kesetaraan   kekuasaan   antara
lembaga negara eksekutif, legislatif, dan judikatif.

Perubahan kultur yang sangat mengakar memerlukan
suatu    'driving   force'   yang    sangat    kuat    untuk
melakukan dobrakan. Gerakan  REFORMASI  TOTAL
oleh mahasiswa adalah salah satu embrio dari 'driving
force'  yang  bisa   diharapkan  melakukan  perubahan
termasuk   perubahan   kultur,   tapi   ini   tidak cukup
apabila     tidak     mendapat     dukungan    kalangan
masyarakat yang lebih luas karena disamping budaya
lama  yang  kuat  mengakar  dalam  masyarakat juga
ada   unsur   struktur  yang  menghalangi  perubahan.
Oleh karena  itu  apabila  mahasiswa  tidak  didukung
oleh kalangan organisasi sosial politik yang ada pasti
akan mengalami kegagalan.

Seharusnya kalangan oposisi yang  sempat terefleksi
dengan adanya kelompok empat Ciganjur melakukan
dukungan     terhadap       perjuangan      mahasiswa,
sayangnya    kelompok     empat      Ciganjur     yang
seharusnya melakukan oposisi dan bersikap  sebagai
oposan  ternyata  sangat  kompromistis yang dengan
sendirinya  mementahkan  kembali   perubahan  yang
ingin  digulirkan  -  dan  dengan  sendirinya  kekuatan
'status quo'  makin  kuat  menancapkan pengaruhnya
kembali  dan  perjuangan  bagi  kalangan  yang  ingin
melakukan   perubahan   akan   makin   sulit   karena
'driving force'  yang diharapkan ter-pecah-pecah hanya
karena  ulah  para  pemimpin2-nya    yang   bertindak
sendiri2 ataupun terlalu pasif menunggu  yang  adalah
suatu refleksi budaya paternalistic yang  feodal masih
kuat mengakar dalam masyarakat bangsa Indonesia.

Oleh    karena    itu    mahasiswa    apabila   memang
tujuannya murni   REFORMASI   TOTAL   yang   bisa
diperluas jangkauannya  kearah  gerakan  REVOLUSI
KULTUR   menuju   KULTUR   KESETARAAN   harus
mencari  partner baru kalangan organisasi politik yang
lain yang mampu dan mau  berperan  sebagai  'driving
force'     untuk     melaksanakan     dobrakan   kearah
perubahan atau 'agent of change'.

Adanya    secara      sporadis    eskalasi    kerusuhan
diberbagai kota di  Indonesia  adalah juga suatu gejala
bahwa organisasi sosial politik yang ada saat ini tidak
mampu      menampung     aspirasi     semua  lapisan
masyarakat. Massa mengambang  telah  menentukan
dirinya   sendiri   atau    mengikuti     suatu   golongan
'organisasi  tanpa  bentuk'  yang   memang  tujuannya
hanyalah   memang   sekedar    bikin    rusuh.   Kalau
memang organisasi sosial politik yang ada  mengakar
dalam   masyarakat   tentu   mampu    mengendalikan
anggotanya  untuk   ikut   mengendalikan  kerusuhan,
tapi   kenyataannya   adalah   tidak,  oleh   karena  itu
mitos   kepemimpinan    para    pemimpin   karismatik
organisasi sosial politik - termasuk kelompok Ciganjur
- patut  dipertanyakan  apakah  mereka  masih  punya
pengikut   yang   loyal,   atau   tanpa    disadari   para
pengikutnya  sudah  meninggalkan para pemimpinnya
karena  'tidak sabar' menunggu  para  pemimpin  yang
'berkutek'   dengan   'manuver'   yang    mereka   tidak
mengerti  yang  berkisar pada 'elite kekuasaan'  tanpa
menyentuh rakyat sebagai subjek samasekali - dalam
kata lain kredibilitas para pemimipin oposan  terutama
tokoh   empat   Ciganjur   juga    patut   dipertanyakan
sebagai mana juga kredibilitas  para  tokoh  pemimpin
formal  penjaga   'status   quo'   yang   masih   berada
dalam struktur  pemerintahan  (dan   ini   juga  kenapa
issue Satrio Piningit ataupun Ratu Adil  bisa  mencuat
kembali     karena     kerinduan    masyarakat    untuk
datangnya       seorang     pemimpin    yang    mampu
menampung kepercayaan rakyat luas).

Budaya Jawa dan Kultur Kesetaraan.

(Bersambung)

January 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 05:12:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke