----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

LION - Mencoba Memahami Gus Dur dan Peristiwa Sekitarnya (8)

Kembali kepada perihal kecaman terhadap Gus Dur ketika dia bertemu
dengan Soeharto. Seperti saya katakan di atas, jangan-jangan yang benar
justru apa yang diutarakan kubu Gus Dur. Seperti yang dilontarkan oleh
Syaifullah Yusuf, Sekjen Angkatan Muda NU, kepada DeTAK. Bahwa mereka
yang mengecam Gus Dur , sebenarnya karena langkah Gus Dur yang melawan
arus itu (bertemu Soeharto) telah mementahkan skenario mereka yang
sedang berjalan (DeTAK, 22-28 Desember 1998).

Skenario apa yang dimaksud? Mungkin saja yang dimaksud adalah skenario
mereka itu dalam bentuk berbagai rekayasa, termasuk rekayasa hukum yang
menjadikan Soeharto cs sebagai obyeknya. Dengan maksud dari rekayasa
tersebut (seolah-olah mereka akan menindak Soeharto cs -- seperti yang
diinginkan banyak orang), mereka akan mempunyai nama, dan memperoleh
simpatik dari rakyat. Semuanya demi mendapat dukungan dalam rangka
mempertahankan status quo-nya. Singkatnya tekad untuk memeriksa Soeharto
itu hanya bohong-bohongan dan diulur sampai pemilu nanti.  Dengan
demikian diharapkan akan muncul rasa simpatik dan dukungan rakyat
terhadap mereka. Tetapi sayangnya, rakyat saat ini tidak gampang lagi
dibohongi, atau sudah hilang kepercayaannya terhadap semua yang berbau
Soeharto. Termasuk dengan pemerintah sekarang yang memang masih sangat
kental dengan "polusi" Soeharto. Sehingga sandiwara mereka untuk
memeriksa dan mengadili Soeharto tidak laku dijual. Termasuk bagian dari
hal ini adalah begitu gencarnya pemeriksaan yang dilakukan terhadap
beberapa mantan menteri dan anak-anak Soeharto.  Tapi semuanya hanya
sebatas memeriksa, atau meminta keterangan saja. Tanpa ada kelihatan
tanda-tanda untuk ditindaklanjuti menurut prosedur hukum yang ada.

Memang Habibie mengatakan pemeriksaan terhadap Soeharto harus tuntas
sebelum pemilu. Tetapi apakah kata-katanya itu bisa dipegang? Lagipula
yang disebut "tuntas" itu yang sebenarnya bagaimana? Tuntas dalam artian
Soeharto harus diadili, atau "tuntas" dalam artian hasil pemeriksaan
membuktikan Soeharto tak bersalah, atau sejenisnya? Atau bisa saja
dengan hasil "Soeharto resmi menjadi tersangka," tetapi pengadilan
terhadapnya tak akan kunjung tiba. Pada waktu pemilu semakin dekat,
ketika pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa Soeharto resmi sebagai
tersangka dan akan diadili, tentu akan sangat menguntungkan posisi
mereka di mata rakyat (yang melihat ternyata Habibie benar-benar akan
mengadili Soeharto). Tetapi siapakah yang menjamin setelah pemilu nanti
pengadilan tersebut akan benar-benar ada? Kita lihat saja bagaimana
dengan kasus mantan tiga direktur Bank Indonesia (Paul Sutopo dan
kawan-kawan). Mereka pun sudah lama dinyatakan sebagai tersangka. Tetapi
sampai sekarang tidak terlihat ada tanda-tanda pengadilan akan digelar
untuk mereka. Yang ada justru isu bahwa kasus mereka telah dibekukan.

Demikian pula dengan nasib persidangan "tersangka" penembakan mahasiswa
Trisaksi dan persidangan kasus penculikan yang sangat kentara unsur
sandiwaranya. Kalau untuk mengadili orang-orang yang jauh lebih lemah
daripada Soeharto saja (termasuk Prabowo Subianto), pemerintah sudah
bersikap demikian. Apakah kita bisa percaya pemerintah akan bersikap
sungguh-sungguh dan tegas terhadap Soeharto yang jauh lebih kuat?

Bukan tidak mungkin semua itu juga bagian dari sandiwara bersama yang
melibatkan Soeharto. Artinya semua itu, termasuk beberapa menteri yang
tiba-tiba berani mengungkapkan harta-karun Keluarga Soeharto, baik yang
berbentuk perusahaan, yayasan, dan properti, terlebih dahulu direstui
Soeharto

Hal ini (sandiwara pemeriksaan Soeharto cs) mirip dengan isu konsep
ekonomi kerakyatan yang dilontarkan Menkop dan Pengusaha Kecil Menengah,
Adi Sasono, yang ditengarai hanya dipakai sebagai alat politik kubu
Habibie, maupun dirinya sendiri. Hal ini berkaitan erat dengan isu bahwa
Adi Sasono bercita-cita menjadi wapres. Skenarionya adalah dengan
menggunakan konsep ekonomi kerakyataan yang katanya menguntungkan rakyat
ekonomi lemah, akan membuat rakyat dari golongan ini yang merasa
diuntungkan akan memihak kepada kubu Habibie. Harus diingat memang
rakyat dari golongan ini (ekonomi lemah) jumlahnya sangat banyak, dan
sangat potensial untuk diraih sebagai pemilih dalam pemilu yang tinggal
enam bulan lagi itu.

Jika ini yang terjadi, maka potensi Habibie untuk terpilih kembali cukup
besar. Atas dasar konspirasi Habibie-Adi ini, sebagai "balas jasa,"
Habibie akan menempatkan Adi Sasono sebagagai wakilnya (wapres).

Ide konsep ekonomi kerakyatan ini bukan main-main. Mereka bahkan telah
berencana membentuk pendirian Dewan Pengembangan Ekonomi Rakyat (DPER)
yang langsung dipimpin oleh B.J. Habibie, dengan ketua harian Adi
Sasono. Langkah yang akan ditempuh antara lain dengan melakukan
redistribusi aset dari konglomerat yang sebagian besar keturunan Cina,
kepada rakyat ekonomi lemah yang  pribumi. Namun dalam praktek, rupanya
nanti bukan hanya konglomerat yang kena. Tetapi juga pengusaha besar
lainnya, yang lagi-lagi keturunan Cina. Contohnya adalah rencana
redistribusi aset oleh Adi Sasono di bidang pertekstilan di Jawa Barat.

Langkah-langkah Adi Sasono inilah yang dicurigai sebagai salah satu
manifestasi sikap anti-Cinanya. Walaupun dalam berbagai kesempatan dia
menolak tudingannya itu. Namun dalam kenyataan di lapangan, walaupun
agak tersamar atau terkamuflase dengan berbagai hal lain, kemungkinan
besar tudingan tersebut bukan asal menuding. Apalagi ada yang mengatakan
bahwa sejak masih aktivis mahasiswa, Adi sudah dikenal dengan sikap
anti-Cinanya.

Ketika Gus Dur menjadi salah satu pihak dalam acara Dialog Interaktif
RCTI, tanggal 17 Agustus 1998, Gus Dur secara terang-terangan mengatakan
bahwa ada lima menteri di kabinet yang anti-Cina. Ketika dikatakan itu
hanya merupakan sinyalemen. Gus Dur berkata, itu bukan suatu sinyalemen.
Sebab mereka itu sejak masih menjadi aktivis mahasiswa sudah dikenal
dengan sikap anti-Cinanya. Walaupun di situ tak disebut siapa mereka
yang dimaksud Gus Dur, tetapi umum sudah maklum bahwa yang dimaksud Gus
Dur, salah satunya adalah Adi Sasono.

Yang menarik disimak pula adalah berita yang dilansir majalah Tempo.
Majalah ini menurunkan berita bahwa ada seorang fund manager di lembaga
sekuritas asing bercerita, kliennya -- investor di 50 negara -- sangat
berminat berdiskusi dengan pejabat yang bisa menjelaskan secara detail
konsep ekonomi kerakyatan tersebut. Sayangnya niat tersebut gagal
dilaksanakan karena beberapa pejabat yang dihubungi mengaku tidak tahu
persis duduk perkara ekonomi kerakyatan itu. Sedangkan Adi Sasono
sendiri telanjur mengeluarkan pernyataan yang defensif, yakni "siapa
yang melawan ekonomi kerakyatan, berarti anti-rakyat." Akhirnya rencana
diskusi dengan sistem teleconference itu gagal, karena yang bersangkutan
takut dicap anti-rakyat.

Apakah konsep ekonomi kerakyatan (keberpihakan penuh kepada ekonomi
lemah) itu akan bisa berhasil? Diragukan. Karena pertama, apakah ini
tidak bedanya dengan pemberian fasilitas negara kepada golongan
tertentu? Bedanya hanya dulu yang menerima golongan konglomerat,
sekarang dari golongan ekonomi lemah. Tetapi tetap sama membebankan
anggaran belanja negara. Lagipula apakah dalam penerapannya bisa dijamin
tidak terjadi KKN gaya baru? Apakah pengusaha baru itu memang bisa
diciptakan begitu saja? Apakah bisa dijamin ketangguhan pengusaha
pribumi yang ditopang oleh fasilitas dari negara? Kalau konglomerat saja
bisa tumbang, bagaimana dengan mereka yang berasal dari golongan ekonomi
lemah tersebut?

Lagipula yang menjadi pertanyaan kita adalah kok dalam keadaan krisis
ekonomi yang juga amat sangat memberatkan keuangan negara, sampai-sampai
RAPBN yang disusun pun mengandalkan pinjaman luar negeri, mengapa Adi
Sasono begitu ngotot dengan meminta pemerintah (Departemen Keuangan)
untuk mengucur dana segar sebesar Rp 20 triliun (bahkan katanya itu
sebenarnya masih kurang -- seharusnya Rp. 30 triliun) untuk menjalankan
ekonomi kerakyatannya itu?

Kengototannya ini sampai-sampai menyebabkan dia dengan Menteri Keuangan
(Bambang Subianto) dan Menko Ekuin (Giandjar Kartasasmita) yang tidak
setuju dengan konsep Adi itu, sempat berselisih. Akibatnya Bambang
Subianto didemonstrasi (rekayasa) oleh kaki-tangan Adi, yakni Eggy
Sudjana dan anak-anak buahnya. Hal janggal pun terjadi ketika Istana
Negara yang katanya hendak disterilkan dari aksi-aksi demo (waktu itu
sedang diproses RUU-nya), malah dibuka lebar-lebar untuk para demonstran
pimpinan Eggy Sudjana itu. Tambah aneh lagi ketika Habibie sendiri
berkenan menerima Eggy dan kawan-kawan didampingi Adi Sasono sendiri.
Padahal materi demonya sendiri berkaitan dengan masalah keuangan, bukan
wewenang Adi yang Menteri Koperasi itu. Akhirnya "hanya" Rp. 10,5
triliun yang didrop ke rekening Departemen Koperasi untuk memenuhi
ambisi Adi. Itu pun besar kemungkinan dilakukan dengan terpaksa.

Ironisnya setelah itu pemerintah pun kalang-kabut meminta bantuan ke
beberapa negara dan lembaga keuangan   untuk mengucur dananya guna
memenuhi RAPBN-nya yang sangat tergantung dari dana-dana tersebut. Menko
Ekuin pun sampai harus pergi "mengemis" ke Jepang untuk mendapat 5
miliar dollar AS dalam kerangka Miyazawa Plan yang hendak dibatalkan
Jepang itu.

Tak heran bila majalah  Far Eastern Economic Review  "mencurigai" Adi
Sasono sebagai "The Most Dangerous Man?" Atau majalah AsiaWeek yang
menurunkan cover story-nya tentang Adi Sasono dengan judul "Watch This
Man."

Skenario-skenario seperti inilah yang bisa menjadi mentah lagi, kalau
sampai usulan Gus Dur untuk mengadakan dialog nasional dengan melibatkan
dirinya sendiri, Habibie, Wiranto, dan Soeharto, benar-benar direalisir.
Oleh karena itu orang-orang di kubu tersebut mencak-mencak dan menuduh
Gus Dur dengan berbagai tudingan negatif seperti yang sudah kita ketahui
bersama.

Bersambung

Salam
Lion

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 05:16:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke