---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: deddi membet Negara Ku Indonesia atau Negara Ku Aceh atau Papua atau Timor atau Mataram atau �.. Reformasi sudah digaungkan yang dimulai oleh para mahasiswa dan puncaknya pada tanggal 20 Mei 1998, dimana Presiden Suharto lengser. Supaya dikatakan mendukung reformasi dan mendengarkan suara rakyat, maka pemerintahpun membentuk kabinet reformasi ala Habibie. Apakah yang terjadi sampai dengan hari ini ? Pelecahan aparat terjadi dimana-mana, cukup ada provokasi, maka terjadilah seperti : Di Aceh terjadi pemeriksaan KTP yang dilakukan oleh penduduk untuk mencari anggota ABRI (begitu yang dicari ketemu, langsung dirajam ramai-ramai seperti pesta rakyat), masyarakat Jawa (pendatang) yang bertani di gunung diburu, pembakaran atas Polsek, pengadilan dan fasilitas pemerintah lainnya, penduduk Aceh berdemontrasi dengan meneriakkan Aceh Merdeka, suku Aceh bukan bangsa Indonesia, tapi bangsa Aceh. Akibat adanya kebrutalan masa penduduk dengan menganiaya ABRI, membuat peristiwa balas dendam ABRI terhadap para tahanan digedung KNPI. Betulkah hal ini yang diinginkan bangsa ini. Mengapa hal ini terjadi, betulkah ada sesuatu yang sangat mendalam tertanam dihati penduduk Aceh, sehingga menimbulkan peristiwa berdarah ? Betulkah peristiwa berdarah ini diinginkan bersama, baik oleh penduduk Aceh maupun ABRI, atau adanya Vested Interest dari pihak tertentu. Dimanakah letak moral dan iman dari daerah yang disebut Serambi Mekah ??? Di Madura pos polisi diserbu ramai-ramai dan fasilitas pemerintah dirusak, karena polisi akan menangkap pencuri motor yang berasal dari Madura. Di Tasikmalaya penjarahan Toko Cina dan pos polisi diserbu, karena adanya isu tahanan dianiaya. Di Karawang terjadi penjarahan Toko Cina lagi dan perusakan fasilitas pemerintah, karena adanya provokasi, bahwa seorang pengojek ditahan dan dianiaya di Polsek. Di Jalan Sabang terjadi peledakan bom di Ramayana Department Store. Peristiwa SARA mempunyai catatan yang panjang, dimana rumah ibadah kaum minoritas dibumi hanguskan, kejadian di Ujung Pandang dan Garut, setelah warga Kupang membalas dendam atas perusakan rumah ibadah di Ketapang Jakarta. Terakhir kerusuhan kriminil di Ambon yang mengarah SARA (19 Januari 1999, saat hari Raya Idul Fitri), kerusuhan meluas kepulau Seram dan menjadi perkelahian antar agama dengan 20 korban, ratusan luka, 3 gereja, 3 mesjid, toko, mobil, motor dll dibakar. Penulis menunggu hujatan atau provokasi apa lagi yang akan dilontarkan oleh para pemuka agama, agar dapat membenarkan perbuatan masa. Dalam salah satu peraturan internasional Human Right, tempat ibadah adalah tempat yang paling dilindungi didunia. Perusakan tempat ibadah adalah melanggar Human Right. Bagaimana dengan para pejuang HAM, adakah pejuang HAM di negeri Indonesia ???? Fenomena pembenaran atas penjarahan yang dilakukan oleh masyarakat, seperti di Ancol atau penjarahan truk yang berisi sembako, penjarahan toko-toko dengan alasan kebutuhan perut. Asumsi ini diambil, karena aparat tidak menangkap para pelaku kriminal tersebut, hanya berjaga-jaga. Benarkah mengambil benda yang bukan miliknya, menyakiti orang yang tidak dikenal adalah hal yang wajar dan tidak melanggar hukum serta tidak dilarang oleh agama di negara ini ??? Pers bebas menulis tanpa kontrol dan moral, sehingga terjadi pengadilan pers (Justice by Press). Pers melakukan hal ini, karena pers harus pandai melihat nilai jual kemasyarakat, mengejar oplag katanya. Pers yang pandai memberikan opini yang ekstrim akan laku dijual, contoh berita majalah Tempo Edisi 19-26 Januari 1999 (majalah yang mempunyai akurasi berita tinggi dan digemari penulis), pada halaman 20 tentang peristiwa tanggal 21 Desember didesa Bayu-Lhokseumawe (apakah wartawan tersebut sudah melakukan cek recek atas kejadian sebenarnya atau hanya opini). Cerita sebenarnya bukan seperti yang ditulis, apakah wartawan tersebut menyadari akan akibat tulisan yang tidak benar terhadap masyarakat yang tidak mengetahui peristiwa di desa Bayu-Lhokseumawe. Kalau majalah sekelas Tempo saja menyajikan berita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, bagaimana dengan majalah ekstrim yang tumbuh dengan subur dibumi pertiwi ini. Politisasi dan opini yang terjadi atas kasus Syaifuddin, Theo Sjafei yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat dan agama melalui pers, agar peristiwa SARA menjadi suatu tujuan dan pembenaran. Penulis jadi bertanya kepada diri sendiri, kenapa para tokoh fundamentalis harus takut dan malu mengatakan, bahwa ada suatu keinginan yang besar agar Indonesia dapat dijadikan negara ISLAM dan ARAB. Bersikaplah jujur (be honest), sebagai orang yang mengaku beragama. Pernahkah kita menelaah secara jujur, bahwa di Indonesia tidak ada lagi toleransi antar agama, salah satu contohnya : Dengan dihilangkannya ucapan Selamat Natal, Selamat Galungan, Selamat Waisak, karena mengucapkan hal itu adalah suatu dosa besar bagi umat Islam, tetapi perbuatan yang nyata menyalahi hukum dan melanggar hak asasi manusia adalah tidak dosa (larangan ucapan selamat hari raya atas fatwa MUI dengan dasar pandangan yang sempit dan diambil dari kitab Alquran, jadi Yasser Arafat dan Saddam Husein berdosa besar, karena mengucapkan selamat natal). Penggunaan kata sambutan dengan bahasa Arab. Pertemuan dengan cium pipi antar pria (diambil dari adat Jazirah Arab). Penghilangan kata Punten, Sugeng Rawuh, Kulo Nuwun, dimanakah rasa kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Bagi generasi tahun sebelum 70 an tentu masih ingat, dimana kala itu dikampung sering terjadi penduduk saling melakukan kunjungan ke tetangga yang beragama berbeda, mengucapkan selamat hari raya dengan mengirim makanan. Apakah yang terjadi sekarang, malukah Gus Dur, Amien Rais, Megawati, Sri Sultan ataupun Nurcholis Madjid ataupun Emha untuk memulainya bertoleransi dengan mengucapkan selamat hari raya, ataukah mereka takut kehilangan masa pada saat pemilu. Penulis tidak tahu, apakah perbuatan itu dosa terhadap yang di ATAS, berdoa seribu kali dalam sehari tidak akan diterima apabila tidak diikuti perbuatan dibumi. Tentu ingat para tokoh agama selalu mengatakan, janganlah takut terhadap manusia, takutlah terhadap yang di ATAS, benarkah ??? atau hanya lips service. Masalah ekonomi dan perut rakyat, dengan bangga pemerintah mengatakan keberhasilannya dalam hal memperbesar hutang kenegeri lain (siapakah yang akan menanggung hutang), kurs US Dollar menjadi Rp. 7.000,00 - Rp. 8.000,00 (hal ini terjadi dikarenakan berkurangnya kepercayaan asing melakukan transaksi rupiah, penulis jadi ingat pada tahun sekitar 1970 an, uang rupiah sekopor tidak laku ditukarkan di Jerman Barat atau Eropa Barat, sehingga harus dibawa kembali ke Indonesia). Inflasi tidak menjadi diatas seratus persen pada tahun 1998, jadi kalau tahun 1999 inflasi bisa ditekan menjadi dibawah 50 % (menurut badan statistik pemerintah), maka itu merupakan keberhasilan pemerintahan ala Habibie. Lah, artinya selama dua tahun inflasi menjadi diatas seratus persen, sedangkan kita lihat bagaimana kemampuan daya beli masyarakat. Boro-boro karyawan swasta mau naik gaji, malah trend sekarang para pengusaha melakukan perampingan usaha artinya PHK. Rakyat mau makan apa, seandainya di PHK. Bagaimana dengan Om Robby Johan, restrukturisasi atau penyengsaraan rakyat ? Suatu keputusan yang berat. Pegawai negeri akan dinaikkan gajinya diatas 30 %, dimana saat ini sektor riil tidak berjalan yang disebabkan politik suku bunga tinggi dan pengetatan rupiah. Perbankan mengalami negative spread besar dan tidak tahu sampai kapan, dimana para debitur tidak mampu dan tidak mau memenuhi kewajiban hutangnya kepada Bank. Bagaimana dengan sang profesor Adi Sasono yang dengan bangga membagi-bagi hutang negara (kata bahasa pejabat adalah bantuan yang harus dikembalikan generasi mendatang) kerakyat kecil dengan semboyan Ekonomi Rakyat, betulkah itu ??? Sudahkah rakyat menjadi makmur ??? Bagaimana mungkin, pabrik-pabrik pada bangkrut dan rakyat menjadi makmur ??? Tahukah Anda, bahwa negara maju melakukan boikot atas hasil hutan yang diambil secara serabutan tanpa melihat faktor lingkungan . Yang aneh para tokoh masyarakat, pemuka agama, LSM, Kontras, Komnasham, pemerintahan, militer dan MPR/DPR saling memberikan opini dan sering saling menghujat dalam rangka perebutan kekuasaan dan politisasi. Opini selalu diarahkan ke Pemilu yang luber dan jurdil serta RUU politik. Presiden dipilih tidak berdasarkan kualitas dan talenta, tapi berdasarkan agama dan gen, dimana perempuan menurut agama dilarang menjadi Presiden, Non Muslim juga dilarang jadi Presiden, bagaimana nasib suku yang mayoritas non muslim, mereka harus menerima menjadi suku kelas dua atau mendirikan negara sendiri ???. Penyaluran beras dari bantuan Jepang mempunyai cerita yang sangat memalukan, sehingga pemberi derma dari Jepang melakukan protes keras dan apa yang dikatakan Kabulog sekarang (Mr Rahadi), bahwa beras Jepang berkualitas nomor satu, karena itu akan dijual dengan harga mahal, sedangkan tujuan bantuan rakyat Jepang adalah membantu rakyat kecil yang kelaparan. Penulis jadi bertanya-tanya, apakah pengalaman di Australia oleh Ibu Leila yang ditulis di Kompas Minggu pada tahun lalu, adanya tulisan disalah satu tempat umum di Sidney yang berbunyi "IF YOU ARE INDONESIA DAMM YOU", memang realitanya dinegeri kita seperti itu, sungguh menyakitkan. "Dont be shame, if we are like that." Sampai hari ini masih sering dalam diskusi dan tulisan yang menyatakan seorang tokoh merupakan "PANUTAN" dengan kata lain kultusisasi seseorang, loh dimana itu namanya reformasi yang didengungkan. Order Baru menciptakan adanya istilah "PANUTAN", apa yang DIA dikatakan, diperbuat dan diperintahkan oleh "sang PANUTAN" adalah absolut benar. Harap selidiki kasus peristiwa yang sebenarnya terjadi di Buleleng-Bali, Banyuwangi, Mataram-Lombok, Puso. Apabila kita menyeberang ke negara tetangga Singapore, maka akan ditemui peringatan yang berbunyi, menginjak atau merusak tanaman ditaman umum akan dihukum denda S$ 500,00. Ada teori yang mengatakan, apabila tanaman kita rawat dengan penuh perhatian, maka tanaman tersebut akan tumbuh dengan subur. Jadi perhatian kita terhadap tanaman mempengaruhi pertumbuhannya. Di pantai Australia penduduk ramai-ramai menolong ikan paus yang terdampar dipantai. Saat masih menjadi mahasiswa, penulis berjalan-jalan dengan teman seorang Jerman dihutan kota di Jerman, saat itu kita melihat barisan semut sedang naik kepohon. Apa yang dilakukan sang teman, dia memberikan tangannya ke barisan semut tersebut dan sang semut berjalan diatas sang tangan tersebut tanpa menggigit. Adegan ini benar-benar merupakan suatu pelajaran moral yang sangat berharga, bahwa semut tidak akan menggigit, apabila kita perlakukan dengan penuh kasih sayang dan kita tidak mengganggu sang semut. Haruskah bangsaku belajar kepada sang semut ???. Bagaimana dengan negeriku tercinta yang sementara ini kusebut Indonesia, karena prediksi dan analisa akan mengarah adanya perpecahan, hal ini sangat mungkin terjadi, apabila para tokoh masyarakat berbuat, bersikap dan suka berbicara retorika seperti hari ini. Dinegeriku anda diperbolehkan korupsi, memperkosa, menjarah barang orang lain, membakar tempat ibadah, menyiksa bahkan membunuhpun tidak dilarang. Pernahkah aparat menangkap para pelakunya, dimana wajah pelaku dengan jelas ada dimedia masa. Para pemuka agama saling membakar rasa kebencian dan dengki terhadap penganut agama lainnya dengan memberi kotbah, bahwa penganut agama lainnya adalah orang kafir. Siapakah pelaku pengrusakkan rumah ibadah dan penjarahan toko yang terjadi di Tasikmalaya, Garut, Situbondo, Ketapang dan Kupang, tolong lakukan pendekatan dan mencari informasi kependuduk disana. Hakim dan hukum saat ini adalah masa rakyat, jadi hukum rimba yang berlaku, apakah mungkin hukum ini dipakai dalam satu negara yang berpenduduk besar. Penulis dengan segala rendah hati ingin mengajak yang namanya Gus Dur, Megawati, Amien Rais, Sri Sultan Hamengku, Habibie, Akbar Tanjung, Wiranto, Nurcholis Madjid, Emha, Romo Mangun, Gunawan Muhamad, Munir, para pemuka agama (kiai, pastor, pendeta) ataupun tokoh yang mempunyai masa untuk tidak hanya berbicara secara retorika dengan vested interest menjadi para penguasa yang akan datang. Ajarkanlah dirimu dan pengikutmu agar menjadi manusia yang beragama, karena orang beragama tidak akan mengatakan kakek tua bangka, mengajar menjarah atau korupsi, memperkosa, membunuh, menyakiti manusia lainnya, menghujat agama lain. Janganlah hanya berdoa seribu kali sehari, tapi perbuatan dan hati nuraninya tertutup oleh rasa iri serta dengki. Tengoklah di TV atau media masa lainnya, dimana manusia dirajam beramai-ramai seperti pesta rakyat, para pelakunya mukanya berseri-seri dan bebas dari hukum. Hal ini sudah terjadi sampai dipelosok-pelosok, penulis pernah melihat dan mengalami sendiri. Penulis hanya ingin bertanya ada dimanakah hati nurani manusia Indonesia yang katanya beragama, karena secara physik berdoa dan berkotbah seribu kali sehari, tempat ibadah selalu penuh dengan umatnya. Negara ini mengalami krisis moral yang sangat mengkhawatirkan, mengatakan yang utopie, idealisme, retorika dan populis menjadi kegemaran para tokoh masyarakat dan penguasa, yang penting kata-kata nya dapat enak didengar dan dapat dijual. Janganlah bangga mengatakan Indonesia kaya raya, subur makmur, penuh sopan santun, ramah terhadap orang asing, mempunyai peradaban yang tinggi, lihatlah dan berkacalah disekelilingmu. Hargailah manusia tanpa memandang ras dan agama, seperti engkau menghargai dirimu sendiri. Sangatlah berbahagia, apabila kita dapat hidup bersama seperti iklan di TV Si Joko, Si Acong dan Si Sitorus. Manusia abad ini sudah tidak berbicara bangsa apa, warna kulit apa dan agama apa, tapi kita adalah semuanya manusia. Belajarlah konsep globalisasi dan berpartisipasilah dengan kegiatan Sosial Internasional dalam rangka humanity. Menolong orang atau bersedekah janganlah melihat siapa dan golongan mana manusia tersebut. Marilah para pencinta humanity bergabung dalam membangun kembali krisis moral yang telah hancur lebur ini, kita tidaklah melawan penjajahan, musuh kita adalah ahlak dan moral diri sendiri. Kepada insan pers agar saat menulispun dilakukan dengan moral dan ahlak yang menyejukkan, jangan lah menjadi provokator, tapi berilah informasi yang proposional, apabila opini tulis lah sebagai opini, sehingga masyarakat tahu, bahwa tulisan tersebut merupakan opini seseorang. Mari kita dirikan Partai Hijau (bukan partai fundamentalis) yaitu partai pencinta lingkungan dan kasih sayang sesama, sadarkan saudara kita yang berkarakter iri dan dengki, tetapi mengaku beragama. Penulis mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, tapi malu mengatakan "Mohon Maaf Lahir Batin". Adios. Suatu opini kecil disaat hari Raya Lebaran 1419 Jakarta, 20 Januari 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Jan 1999 jam 09:03:49 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
