----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

PANDITA : PAPAN CATUR NUSANTARA

Lebaran telah usai, dan masa time-out sudah lewat.  Mainkan lagi.  
Jangan Basa Basi.
Para blackies malah sudah nyuri start dengan provokator moves, Ambon.  
Bodycount Ambon resmi 30an, tak resmi 200 an.  Korban provokator sejauh 
ini nol.  Di Krawang dulu, ketangkep se-ekor abri, pasti dilepas lagi.  
Karena abri yang masih saja lempe.  Sementara itu habibi tetap 
cengengesan makro : rakyat sih, tidak pintar sehingga di provokasi 
gampang ! (jika rumah anda tahu2 di serbu manusia2 berkelewang panjang, 
apa anda ingat untuk menasehati bliow kelewang dengan keluhuran budi 
habibi ?).  Juga bacot2 pendeta (bukan pandita !) dan ulama berkhotbah.  
Sia2 diujung bedil abri yang oleh Perwira dibilang reformasi belum ke 
periferi itu (kita lihat rokade militer nanti dibawah ini).   Memang 
para pendeta bisanya mbacot saja, jadi harus kita maafkanlah tuwek2 gak 
iso apa-apa itu, cuman kalau dituruti ya ndak perlu niat2 amat, kalo 
bikin seger ya setuju.
Apa sesungguhnya yang dapat dilakukan ?  Real sesungguhnya bagi rakyat 
kecil tanpo bedil modal besar maupun kroni SDM ?  Berlainan dari novel 
Sherlock Holmes, jawabannya langsung sekarang didepan : tidak ada ! 
Secara mikro bila tahu2 ada preman provocateur muncul di desa anda, ya 
cabutlah keris simpanan, keluarkan to liong to. Ini yang penting, secara 
makro kita harus mampu membaca permainan Catur Nusantara Era Blawur ini.  
Supaya kalau kau mengeluarkan ie thian kiam bukan salah tusuk orang 
baik.  Dan kalau kau modar kena elmu gelap, kau tahu siapa kau harus 
laporkan kepada Malaikat Jibril (atau santo petrus) pas nyawamu 
nyelonong ke perberhentian bis terakhir.
Game ini, Catur Nusantara, bukan milik kita.  Sekelompok manusia elit 
politik (=silit pithik) main secara kolektif, dengan menggunakan kita 
semua sebagai chip.  Tidak fair ?  Lha mending, kalau di brunei mungkin 
malah cuma 5 orang.  Di jaman soeharto orang ada banyak, tapi nomornya 
se-seri semua, bacotnya model koor, jadi pemainnya ya cuma soe 
sekeluarga.  Plus ajudan militer.  Bagaimanapun, menjadikan politik ini 
jadi catur adalah perbaikan bagi Indonesia, yang tadinya politik 
dianggap perang suku.  Inilah fenomena yang harus kita amati kini.  
Topik dari artikel ini.  
Membaca maksud barus beberapa langkah kedepan, dan mengamati tindakan, 
bukan bacot. 
Yuk kita nonton, nyorakin pihak2 yang lucu atau kalah.  Untuk itu perlu 
pengetahuan.  Mari.

PARA PEMAIN PAPAN CATUR
Sekarang ini, sejak lengsernya you-know-who, papan jadi agak bergairah.  
Jaman / Era Blawur, yang Pandita lihat sejak Q4 1998.  Hal yang paling 
menarik adalah bahwa pemainnya naik jumlahnya, bukan sekedar wayang 
purwa hitam putih konsumsi balita budaya (yang tak mampu membaca nuansa, 
harus jelas �ja�atnya mana?� seperti anak kecil baca komik).  Sudah 
meningkat ke Samkok, perang banyak sisi dari pihak2 yang tidak jelas 
baik jeleknya, pokoknya mau menang.   Jelas ada netter2 yang kesinggung 
dengan ucapan Pandita bahwa di samkok semua bajingan, lau pie baek dong, 
katanya.  Yah, itu tergantung siapa yang menulis cerita, kalau si anwar 
asisten habibi itu ya habibi = lauw pie.  Kalau yellowribbon ya sasono = 
lauw pie.  Kalau Perwira ya boyo SBY = lauw pie.  Kalau wisemen ya  
kisdi = lauw pie.  
Dunia benar2 indah (dan fatwa2 rasialis partisan bisa hidup seger) kalau 
dunia begitu simpel.  Dunia model 2 dimensi ini yang di subya2 para 
kere-uteg dari jaman mesir purba sampai kini.  Jika sampai seratus tahun 
lalu masih afdol, masuk 2000 sangat tidak pas.   Apalagi dulu soe juga 
sangat menyederhanakan masalah kompleks menjadi 2 dimensi ini, agar 
masuk ke otak kemusuknya yang minim.  Proses ini juga tetap jalan di 
abri sampai kini.  Di kalangan2 pemerintah.  

Namun sejak bangkitnya Era Blawur, oasis2 real player (bukan berarti 
mereka baik ! cuman mainnya lebih nguteg !) muncul.  Golkar misalnya, 
berusaha bal2an dengan teknik, bukan dengan okol hajar kaki lawan, modal 
paku sepatu.  Tentu saja teknik yang belum terlatih membuat mereka kaya 
badut.  Isu Ham dari Marzuki ku malang, misalnya.   Seperti biasa, orang 
main teknik hanya kalau kefefet.  Di manapun di dunia, jika cari uang 
cara preman masih bisa pasti itu digunakan orang.  Kalau misalnya di 
Amerika sekarang cari uang canggih2 make global hedging funds segala itu 
kan karena kefefet.  Mau ngampog success-rate nya rendah.  Kaya Moffet 
sih mudahan ngerampog di freeport katimbang macem2 fcpa.
Demikian juga dimasa Jaman Blawur.  Walau belum semua, militer paling 
susah melepas premanismenya, lepas dari retorika wir.  Real militer 
adalah mereka semua termasuk para blangpak di jalanan, karena wir bisa 
saja main elmu sengkun (nama ilmunya lihat di artikel Perwira!) jual 
badan teman keuntungan sendiri.  Dan kalau dia pinter dia pasti lakukan, 
atau malah harus dia lakukan (bukan sinis nih !) biar menang, baik 
menang untuk pribadi eksplisit maupun menang �untuk abri�.

Lalu Gerombolan Pseudo Islam (GPI) yang di komandanin sasono sebagai 
hulubalang medan kurusetra.  Pada awalnya mereka berusaha total maling 
garong, cara termudah.  Pelan2, setelah mulai kefefet, mereka meningkat 
ke intrik2 akal2an dasamuka pam-swakarsa dan penguasaan media.  Setelah 
kefefet lagi, mulai kampanye bolo-cino non-rasialis non-sequitur itu.   
Dengan mempertahankan sayap ekstrim kisdi, mulai membuka front2 lunak.  
Setelah lebih kefefet lagi, dengan putusnya hubungan dengan wiranto dan 
akbar ? Main alus sekarang sasono.  Sama seperti pemain lain, itikad sih 
tetap, cara aja ganti.

Habibi, dari minder total awalnya, menjadi arogan berat di tengah, dan 
dihajar keras (moga2 saja artikel Pandita ikut memberi dorongan moral 
soal penghajaran orang tak athu diri ini) sekarang gibi juga meningkat 
pemblawurannya.  Move dia adalah membuka jalur katub2 penyelamatan 
melalui soehartois dan militeris wiranto.  Untuk itu dia harus 
mengendorkan jaran arab-ijo nya, sasono.  Sambil keep everything open, 
strategi baik bagi incumbent.  Kurcaci dari Timur ini akan menjadi 
faktor dalam catur, terutama dalam posisinya sebagai engsel pivot, yaitu 
titik temu kekuatan2 dan laiknya engsel, memutar daun ke kiri kekanan 
tanpa tenaga sendiri.  Daun pintu nya cukup variatif, abri, ijo2-item, 
golkar dan birokrat.  Tapi dibanding soe ini Engsel Kere.

Soeharto, saat ini adalah Sang Engsel Besar.  Walau dia bukan incumbent, 
dan tampang sosialnya sudah amblas sehingga tidak mungkin ngadeg nata 
secara pribadi, soe mempunyai all what it takes to be a sengkun (dari 
cerita to liong to), yaitu keji licik tersembunyi ala sengkuni di 
astina.  And he is well trained !.  Tanpa adanya tampang sosial langsung 
adalah handicapnya sementara ini (yang bisa di rectify dengan bangkitnya 
partai2 cendana).  Faktor penekannya yang sangat besar adalah ancaman 
untuk membalik Papan Catur.  Pressure premanisme barji barbeh (bubar 
siji = aku, bubar kabeh, semua).  Provokator Agung adalah gelar yang 
cocok.  Dengan lewatnya lebaran, pastilah pesta preman dimulai sebagai 
alat penekan.  Tentu saja anda jangan berharap ada memo soe terlibat 
dalam semua gegeran.  Paling mirip ya Ketapang, dan Ambon sekarang.  
Kipas2 sikit, ongkos2 pada orang2 yang tepat, bisa2 para pelaksana 
lapangan tidak tahu siapa boss mereka.  Sangat khas pada rahayat kita 
yang super-kere ini.   Peran gelap soehartois ini, sampai sekarang (dan 
nantinya juga, divisi edan mereka) terbatas pada ancaman2 negatif, dan 
preman pressure.  Nantinya setelah punya corong sosial tentu lain, 
karena mereka inilah mbahnya intel2 edan di Indonesia.
Peran gelap soe ini, yang masih terkonsentrasi kepada ancur2an 
masyarakat, lewat semua jenis retakan (lihat artikel Pandita terdahulu), 
ya agama ya rasial, ya sukuisme, ya anti-birokrat , anti militer, anti 
apa saja yang dulu2 ndak bisa, sekarang los.   Pelaksananya ?  Ya 
militer aktif yang utang nyowo, ya militer purnawira, ya militer 
desersi, ya paramiliter, ya preman militer ya preman asli ya politikus.   
Dan seperti umumnya sistem manusia, system complex diatas system 
complex.  Soe tidak perlu mengipas semua lapis, sebagian besar akan 
lahir sendiri �proyek2� yang menguntungkan pelakunya pasti dijalankan 
sendiri tanpa perintah lagi.   Ini sudah dari dulu, di militer, selain 
jendral2 nggarong negoro, kolonel2 bupati nggarong rakyat, mayor2 
nggarong cino pedagang, kopral2 nggarong pasar2, bintara2 nggarong 
beneran.  Sistem ini self-running, dan �upeti� juga tidak direct.   
Sekarangpun demikian.  Preman2 ambon itu mungkin reportnya mentog di 
cina judi, yang dapat instruksi juga lewat perwira intel desersi.  Link 
ke soe tersembunyi.  Para pengusustnya (kapolri kapolda) juga super 
sungkan menggocoh orang yang lebih kuat dari dirinya, sehingga semua 
provokator setelah ditangkap harus �dilindungi�, tanya bos dulu boleh 
digorok ngga.  Salah2 leher sendiri tergorok.   Klop sudah lingkaran 
pengawutan bangsa.
Peningkatan level aktifitas soeharto, menuju yang lebih alus dari 
sekedar nggorok cino, nggorok kristen, nggorok islam adalah perkembangan 
kini yang harus kita amati dalam konteks Catur Nusantara ini.

Militer.
Menarik sekali membaca artikel Perwira yang terakhir. Jelas bahwa 
pengajaran sang empu masuk ke dia, lumayan dia kini.  Benar seperti si 
Lion yang improve a lot.  Jusfiq yang blas ngga berkembang.  Pengawutan 
di militer adalah suatu tonggak prestasi soe di orbaniyah.  Benar sekali 
ucapan Perwira bahwa semua kere di abri kalau mau naik harus kesruwung 
soe.  Ini justru sumber per-ngelu-an kita.  Para patih yang disebut oleh 
Perwira itu memang punya bakat2 baik, terutama calon-boyo SBY.  Calon 
baik sama sekali tidak cukup.  Karena apa ?  Karena hukum besi militer 
mereka juga baik, yaitu memenangkan korps, dan diri sendiri didalam 
korps.  Militer adalah makluk2 dua dimensi.  Kecuali tuwo banget, sangat 
sulit ada mental pandito muncul dikalangan militer, yaitu kemauan untuk 
melihat bird-view dan melepas keuntungan kelompok abri (beberapa ad 
ayang bisa melepas keuntungan pribadi).   Militer kita rusak mendalam, 
bukan hanya jendral2 nya (yang cuma sedikit) kolonel2nya, tetapi blas 
kebawah (terutama dikalangan non-elite) rata2 preman semua, justru yang 
tidak yang �oknum� (yang selalu ada)..  Ini yang Pandita maksudkan 
dengan premanisme militer.  Bukan individu2nya.  Perwira tampaknya sudah 
bukan (walau dulu awalnya masih emper2) sekarang.  Masalah besar 
berikutnya adalah pembongkaran premanisme ini membutuhkan suatu gerakan 
pembesaran kemaluan, yaitu mengaku salah sama orang luar.  Buat habibi 
atawa akbar, bacot logro soal maap2 ini aja kagok, apalagi buat militer2 
lulusan top.  Selain bahwa mereka tidak merasa bersalah, merasa linuwih 
dari orang kebanyakan, dan merasa kecukupan banget (artinya makn minum 
se-ari2 jauh dari Perwira yang pas2 an, atau Pandita lah, supaya 
netral).   Plus semangat ngumpetin kesalahan korps.  Dengan latar 
belakang demikain, harus diakui bahwa mereka rada ngerem2 belakangan 
ini, ini lebih disebabka wiranto yang mulai main catur sekarang (rokade 
defensif ?) , fenomena yang sama yang dialami pelaku2 politis di 
Indonesia saat ini..  
Apa mereka tetap mau main catur kalau nanti di sekak-seter oleh pemain 
lain (habibi, soeharto yang bisa nyekak mereka) diadu keuntungan pribadi 
lawan kepentingan rakyat banyak ?  Itu menarik ditunggu.
Gebrakan terakhir, memasukkan pion2 soeharto (ya at least, 
cendana-netral lah) menggantikan abri ijo si kasum dan zaky, adalah 
indikasi terang yang lebih baik dari segala spin-doctoring.  Wiranto 
berkenan untuk berperang atas nama sendiri, membentuk faksi abri di 
papan catur.  Faksi ini tidak seluruhnya anti habibi, atau pro soe, atau 
anti ijo.  Tetapi faksi independen, bak lauw pie mengumumkan pasukannya 
tidak lagi dibawah cocoh.  Lauw pie bisa saja join forces dengan suma ie 
menggempur cocoh, tetapi awu perang belum dingin sudah gempuran lagi 
sama suma ie.  Dan seterusnya.
Apakah faksi abri ini akan menang tidak pun masih open, apalagi membawa 
Indonesia menuju kebaikan atau SLORC of hunsen, masih sangat open.   
Pertanyaan terakhir ini tidak relevan, karena mereka mau menang bukan 
mau baik (baik of tidak kan nanti kita spin setelah menang).

Lalu diluar pemain2 catur pokok diatas ada Golkar.  Ini adalah 
case-study untuk pemain utama yang jatuh rudin.  Dari sombong nian, 
sampai merendah2 dikit ala priyayi punya butuh, sampai nyindir2 (kita 
bisa ngamuk lho) sampai apus2 (ham PNS, oh marzuki ku malang), sampai 
minta maaf malu2, akhirnya nanti ndelosor ngemis.  Dalam papan ini 
golkar posisinya defensif sekarang.  Dalam kondisinya sekarang, dia 
tidak menarik lagi buat abri, habibi-pemerintah, dan sama soe negosiasi 
blong.  Dia kudu segera merger cepat2, bak perusahaan merosot EBIT nya 
(earning before interest and tax) dia kudu buru2 merger, sebelum masalah 
nya melebar ke cash flow (=gak iso mbayari gaji karyawan!).  Ada 
beberapa hal yang menguntungkan mereka, merger sama banyak orang bisa 
nolong, PAN, PKB, Mega atawa soe dan gibi en abri.  Dan bosnya, akbar, 
adalah makelar utama negeri ini.   Jika ini yang diambil, tolong deh si 
kikik keluar aja, balung baik gini jangan jadi lonte dong !   Kikik 
mereformasi golkar adalah sangat baik, tapi very unlikely.  Golkar 
mengandung penyakit yang sama seperti abri, inertia terhadap maling, 
masa laluku yang kelaaam .....

Lalu partai codot PDI budi gak perlu ngomong.  PPP juga mengalami 
tekanan yang mirip dengan golkar, wlaau lebih ringan.  Mereka 
berkecenderungan kawin dengan partai2 gelap ijo kaya PBB, tetapi jika 
terjadi, akan menjadi faktor pelunakan bagi sang ijo amatiran karena 
bisa menjelaskan bahwa the mechanism of power gak koyo suku bedouin 
purba.  Jika kawin sama ijo muda kaya PAN PKB menaikkan keijoan,  tetapi 
susah.  Sejauh ini kurang gesit, walau PPP jadi mak-comblang sangat 
tepat. Sayangnya penginnye mereka selalu bukan cuma makcomblang, tetapi 
germo-nya.  Susah, walau cenderung jadi faktor �baik�.

Nah, terakhir, kaum PAN PKB Mega (PDI Perjuangan), adalah fenomena 
paling menarik di papan kita.  Mereka ini masih tidak koheren, kaya 
balita baru jalan, tetapi masa depan cemerlang.  Pandita sering ditanya 
apa �aliran� Pandita.  Well, siapapun juga dari ketiga monyet, eh parpol 
gede diatas naik, pasti lebih baik dari sekarang.  Dari jauh lebih baik 
sampai mendingan rada baik, yang semuanya jauh lebih menarik dari 
prospek lainnya.   Koalisi dari ketiganya, atau dua diantara tiga  akan 
lebih baik lagi.   Kenyataan tidak akan sesederhana itu.  Para Setan 
diatas, soeharto, habibi, abri, ijo2 tuwo dan setan lepasan pasti 
meng-kuyo2 ABM (PAN-PKB-Mega) ini.  Dan mereka pasti berhasil sampai 
batas2 tertentu.  Kalau mereka berhasil pol, yaitu ABM jadi minoritas 
dan koalisi mayoritas ditangan kombinasi setan (bisa abri ijo, soe-abri, 
soe-ijo, gibi-abri-ijo atau whatever) , well kita kudu tarik nafas :� 
begitulah perputaran cakra manggilingan : alon banget !!�.    Sebaliknya 
jika kemenangan ABM terlalu mutlak (pasukan malekat overwerk), maka 
gemparlah negeri ini, semua bedundhuk diatas akan kolusi keras untuk 
mencegahnya, terutama soe dan abri.  Mencegahnya gimana ?  Ya kaya 
sekarang ini : kerusuhan2 di mana2, abri melongo2 dan setelah diusut eh 
yang salah mahasiswa !! Rakyat provokator !! Lalu segala pergemboran 
memfitnah rakyat seperti jamaan dulu : �susah sih kere2 ! Bodo2 lagi ! 
Mental budak! Kurang taqwa ! kurang pemahaman Tap Mpr !!�.
Wiranto pastilah tidak akan lupa memanfaatkan photo-op ini : komentar2 
jeger, pelaksanaan logro.  Anak buah sendiri difitnah pula (dan SBY akan 
menjelaskan bahwa kita perlu tegas, bikin omelet perlu telor, telor 
eloe).  Ini bukan berarti bahwa Pandita blas tidak percaya pada abri 
(seperti yang didorong oleh Perwira di artikelnya) tetapi dari dulu 
maling, sekarang ngaku anti-maling, tindakan tidak ada, sungguh tidak 
fair bagi rakyat untuk dianjurkan percaya blosdrong.  Nanti pasti ada 
lagi maling, dan wiranto akan ngomong oknum tuh oknum !  Tau2 keburu dia 
jadi wapres.  

Oke, cukup tentang para pemain.  Walau masih ada sakgebog partai2an yang 
nantinya akan cari �pengengeran� (= tempat ngenger, tempat menghamba).   
Soeharto akan dapet paling banyak, tetapi tidak jelas apakah pasukan 
coro macam gitu bisa menguntungkan selain dipakai sebagai kudung 
provokasi kerusuhan.   Yah, semua usaha lah.  Koperasi serba usaha akan 
meningkat

GAMBIT2 PEMBUKAAN SAMPAI KINI

Pertama Pandita bersyukur dulu, bahwa permainan �meningkat� dari monolog 
dasamuka jadi Catur Nusantara, dimana wong edan-nya banyak, sehingga 
sang bedundhukpun harus kerja, tidak cemepak kaya jaman dulu.   
Permainan edan ini akan makan beribu korban, tetapi mendingan timbang 
edan2an �tahun rekayasa (gibi memang edan !)�  kaya dulu2 lagi.   Ucapan 
syukur ini bisa saja kepagian, karena Pandita bias untuk perkembangan / 
progress.   Bisa saja mak-bedundhuk, soeharto bisa nyabot lapangan 
tengah dan permainan merosot jadi halma, dakonan lalu gelut2an.
Sejauh ini sih tampaknya tidak.  Soe berusaha mengipas keras betapa 
masih saktinya dia, dengan beberapa �contoh soal� kalau daku tidak ikut 
beginilah jadinya.   Pada awal permainan, lapangan tengah kosong, 
sehingga seorang ambisius, sasono , bisa merebut banyak posisi.  Kuda 
hitam-nya, GPI, berhasil mengacak lapangan, dengan dukungan moral 
habibi.  Pencak kuda ijo ini memang gila2an, karena sasono tidak 
mengontrol kisdi dan para setannya. Politis kebablasan.  Akibatnya 
lumayan (buat kita penonton yang sebel liat amatir edan), dia nyepak 
wiranto.  Militer satu ini keliatannya bak Perwira, blajar selama bulan2 
ini, dari ajudan bodong dia meningkat jadi politius logro. Ditendang 
ndak mau dia.  Dia sepak2 sang ijo.  Walau tidak keras2.  Dan dia gosok 
habibi supaya sadar.  Sementara itu, para pemegang duwit, ginajar gang, 
juga kena sepak jaran edan ijo, sehingga ikut menggosok.   Ditambah lagi 
sang glokar yang juga di kepret ijo ikut nggosok.  Habibi memang 
tergantung pada gososkan.   Pudarlah bintang ijo sasono.  Wiranto yang 
tadinya sudak nglekar jadi lihat cahaya di ujung trowongan.  Bangkit dia 
pelan2 dan sangat hati2 (secara pribadi, kendaraan abrinya sih tetap aja 
ngglondor kaya kebo-edan).  Eh ternyata malah ganthol soe yang dulu dia 
pertahankan dengan penuh resiko, jadi berguna.  Dalam perang mendebarkan 
melawan kebaikan, gerakan mahasiswa, wiranto menang stamina.  Begitu ada 
kesempatan dia move kedepan, ganthol-soe dimainkan.  Chip soe ini dia 
mainkan dengan habibi pula.  Untung gus Dur melakukan penggembosan 
sehingga negosiasi �musyawaroh� pembagian perdikan itu nggembos.  Tetapi 
jika gus untung, soe juga untung, dengan naiknya pamor dasamuka.  Wie 
juga untung, sehingga congor politikusnya segera mengembat kesempatan 
pembersihan di abri, tinggal si gombres kasad yang masih bisa 
�negosiasi� sebagai Engsel abri-soe.  Tetapi move ini multi dimensional, 
penggembosan abri-habibi (�mau akses abri kudu lewat gue�) dan juga 
penggembosan abri ijo.  Januari masuk, sasono sengkleh (=pincang).  
Tetapi gegendhuk ketua ad-hoc kaum ijo ini bukan jawara kampung.  Dia 
move terus dengan anti golkar (move kendhel calon cocoh !  Jarang orang 
Indonesia begini kendhel buang satu burung ditangan untuk sak gembyok di 
pepohonan, ini sebabanya sasono is a dangerous man), dan kampanye 
�below-the line� lihat gencarnya artikel internet yang mensubya 
(=memuji) sasono !  Belum kampanya tete-a-tete dikalangan pesantren yang 
sekarang sedang jalan ! Beberapa minggu lagi dia akan tiwikrama kembali 
!
Otak sasono satu step diatas rata2 manusia Indonesia, walau gedibalnya 
banyak yang edan (si gogon, si egi) tetapi dia masih terus main.   Dia 
juga kaitkan diri dengan Anwar malaysia, kaya beli lotre, anwar gol ikut 
untung.

Jelas kungfu kaum sorban-ijo ini masih berlanjut.  Sejauh ini, soe naik, 
militer naik, ijo turun.  Gus dur naik dikit turun dikit, plembas 
plembus saja.  Kaum ABM (PAN PKB Mega) sejauh ini belum buka-dasaran.  
Memang dari ketiganya ada handicap semua.  Mega terlalu slow, PAN 
terlalu ngongso jadi kadang2 kurang kredibel kaya adik kecil pingin ikut 
main kakak2.  Gus terlalu berbasis ego, yang kebetulan sableng pula, 
jadi kurang mahir cari-untung.  Matori harusnya di-mainkan.  Duet gitu 
antara pandito ngablak dan asisten-bawa-topi ngguris keuntungan dari 
pertunjukannya (monyet-e sapa ?).
Karena pemain2 catur lain sangat gesit mengguris koin2 kere yang 
geregelan (=berjatuhan). 

Mengenai soe, Pandita sedang mempersiapkan treatise khusus buat dasamuka 
binangkit ini, Skenario Operasi Lengser - revisited.   Yang jelas kakang 
prabu roboh, binangkit dia udah malih-warna. 
Untung wayang memang bukan wayang purwa lagi.

PENUTUP.

Time-out sudah selesai, bola bergulir lagi menuju endgame Juni 1999.  
Opening gambit abri seperti diatas, tidak terlalu jelek (maksudnya 
teknik bermain, bukan itikad.  Kita jangan lagi membahas itikad, karena 
sekarang jaman samkok, semua itikadnya sekedar menang).  Tim Ijo juga 
kepleset tetapi sudah pasang kuda2 bangkit lagi.  Glokar sekarang yang 
lagi kefefet.  PPP bisa bermain apik sampai kini, sehingga ada harapan 
memperluas basisnya yang mengkeret berat.  Habibi ditengah lapangan 
mirip wasit berenang ditengah lapangan basket.  Dia tak ada harapan, 
tetapi sokongan2nya masih bisa diarepin bagi pemain, karena posisinya di 
kursi bos.  Jelas wiranto sasono ginanjar akbar masih berebut berkah 
habibi ini, yang bisa ditunggangi sampai juni nanti.  Kalo jago gibi 
harusnya ikutan main, dengan memecat beberapa orangnya untuk kirim 
pesan.  Buncis kecil ini tidak mampu.
Spin-doctoring akan melejit didunia kini, baik nyata maupun internet.   
Pandita sekali lagi menyatakan, konsisten dari awal, bahwa kita perlu 
membentuk pemikiran2 yang netral, obyektif, dengan satu2nya pegangan 
adalah kepentingan RKI � Rakyat Kecil Indonesia.   Tanpa embel2.  Tanpa 
keuntungan pribadi.

Akan banyak sekali metode maling para pemain Papan Catur Nusantara ini.  
Khususnya di kalangan mahasiswa, yang selama ini ditahan terus oleh 
wiranto, dan diganjal dengan UU.  Kalian sangat mungkin didesak, atau 
bahkan dipaksa untuk jual-diri, seperti generasi Angkatan 66 yang tembre 
itu.   Pandita yakin banyak diantara kalian akan melacurkan diri.  
Karena tekanan mikro pada individu adalah tekanan yang sangat kuat, dan 
sekaligus subyektif, yang seorang Pandita pun tak berhak mengadili.  
Pesan Pandita hanyalah, sekalipun kau jadi pelacur, jadilah yang paling 
top di per-germo-an kalian, jangan jadi tembre, apalagi ganjel neroko.  
Jadilah mirip sasono, maling kendhel dan mikir.   Tidak terlalu susah 
saat ini (jika dibanding jaman soe dulu) jadi sasono asal ada 
kesempatan.  Sasono lebih baik dari syarwan , atau baramuli, atau akbar 
walau itikadnya sama2 maling, usaha lebih gede.  Jika kau tak bisa jadi 
orang baik, at least jadilah maling leader !  Dan yang terpenting, jika 
kau baca tulisan2 Pandita ini, pasanglah rem dikit pada diri kau.  Human 
Dignity.  Karena sesungguhnya itulah value kau yang sebenar2nya.

Nasehat yang sama pada kalian umumnya.  At very least you should 
preserve your dignity.  Asal kau bukan hannibal lecter (=serial killer), 
nurani kalian pasti ada gunanya buat negeri ini.  Nanti saat maling2an 
menderu, kau bisa tetap menggebrak bumi dan menghirup hawa sejati !

Do not lose our dignity.  
Let the show begin !!!!

Kumbokarno.   Sang Pandita.  23 Jan 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Jan 1999 jam 05:01:14 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke