----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: jaja taha

Assalamualaikum

Kepada semua rakyat Atjeh yang mencintai kemerdekaan.

Saya sangat-sangat sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh saudara
Yusda.

Seperti kata pepatah orang-orang tua di Atjeh:

"Leupah caroeng hana meutumei gaji, leupah tari hana meutumei lakoe"

Inilah umpamanya yang patut kita berikan kepada "Profesor" tersebut.
Terlalu besar sebutan "Profesor" yang diberikan oleh UNSYIAH, sampai
yang bergelar profesor sudah tidak bisa berfikir lagi, mana yang baik
dan mana yang buruk terhadap rakyat Atjeh yang sedang dan akan terus
ditindas oleh Rejim laknatullah Indonesia. Apa yang pandai pada
sejumlah senior di UNSYIAH adalah "menganaktirikan" dosen muda, menipu
dalam membuat penelitian, dan main politik atau cara kotor untuk
kenaikan pangkat. Perkara ini benar-benar berlaku dalam lingkungan
UNSYIAH. Tetapi saya tidak menafikan juga, bahwa ada yang baik-baik di
UNSYIAH yang saya cintai tersebut.

Sebenarnya saya pernah mengirim email kepada Harian Serambi Indonesia,
sewaktu saudara Dayan dilantik menjadi Profesor. Email tersebut tidak
pernah diterbitkan oleh Harian Serambi Indonesia. Saran saya supaya
UNSYIAH memikirkan untuk menggunakan sistem gelar ASSOCIATE PROFESSOR
dulu sebelum memberi gelar PROFESOR penuh. Kalau tidak kan berabe jadi
seperti yang berlaku kepada Profesor Dayan, yang sebenarnya dia belum
mampu berfikir ke taraf profesor.

Seperti saudara Yusda sebutkan juga, termasuk saya juga ,Jaja Taha
(bukan nama sebenarnya, bukan lagi bosan tetapi sudah "meutungkiek
geulunyueng" mendengar kata-kata otonomi-otonomi tersebut. Sebab itu
adalah helah penipuan orang yang pernah memimpin Indonesia dari dulu
hingga ke hari ini yang sudah bangkrut.

Jadi baiklah kepada saudara Dayan disarankan supaya tidak ngomong
kalau tidak pandai ngomong, karena ngomong seperti saudara Dayan akan
memperpanjang lagi penderitaan rakyat Atjeh yang maukan kemerdekaan.

Kepada kawan-kawan di Atjehnet, saya juga ingin menarik perhatian
kawan-kawan: (1) Untuk meneliti dan melihat kembali latar belakang
saudara Dayan Dawood; (2) Apa hubungan dia dengan si "kleng" Ibrahim
Hasan?; (3) Adakah si Dayan ini termasuk orang yang memperhatikan atau
mengambil berat nasib Rakyat Atjeh yang sengsara?; (4) Apa sumbangan
yang telah diberikan terhadap pembangunan rakyat Atjeh yang ditindas
oleh Indonesia; (5) Apa kepentingan dia "menambah muka" (bukan hanya
mencari muka) ke Republik (bangkrut ekonomi dan akhlak) Indonesia.

Itu saja pandangan saya untuk saat ini.

Atjeh dan Rakyatnya perlu kemerdekaan. Kami generasi baru Atjeh ingin
mengakhiri penjajahan Indonesia terhadap bangsa kami Atjeh yang
cintakan kedamaian.

Kami anak-anak Atjeh yang mempunyai kemampuan untuk membangun dan
mengelola Atjeh dalam berbagai segi.

Selamat tinggal Indonesia.

Waalaikumussalam dan salam MEURDEKA.
Semoga Allah mengabulkannya dan teruskan perjuangan kita.

Jaja Taha
http://members.xoom.com/aceh_merdeka/index.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 1999 jam 05:19:27 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke