----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

AMBON RUSUH IDUL FITRI KELABU
 Keuskupan Amboina

 Selasa, 19 Januari 1999

 Suasana halal-bihalal di hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1419H atau hari
 Selasa, 19 Januari 1999 ternyata tidak berlangsung lama. Kota Ambon manise,
 yang selama ini dibangga-banggakan sebagai kota 'persatuan' karena sistim
 pela-gandong-nya, ternyata hanya isapan jempol-buah bibir belaka.
Buktinya, suasana silaturahmi di hari pertama Lebaran orang muslim itu
ternyata
hanya berlangsung beberapa jam saja, diganti lembaran hitam di kota Ambon di
awal tahun 1999 .
 Suasana hati penuh sukacita dan damai yang seharusnya masih mewarnai
 segenap anggota masyarakat yang merayakan dan menghormati hari suci ini,
 tiba-tiba berganti senja kelabu. Pasalnya, praktek patah  istilah anak
 pasar menyetop mobil dan meminta uang, dan kalau tidak diberi pasti sang
 peminta minta korbannya  di sore hari itu (+ pkl. 16.00) terjadi di daerah
 pasar Batu Merah dan menjadi cikal bakal 'Ambon kelabu'. Kala itu, itu
 seorang seorang anak pasar yang ber-suku Bugis sengaja menyetop mobil
 penumpang dan meminta uang dari sang sopir yang Ambon dan beragama kristen.
 Sang sopir menjawabnya bahwa dia (sopir) mau mengambil dari rumah. Sopir
 yang anak Ambon itu ternyata keluar rumah dengan membawa pedang panjang
dan langsung lari mengejar si peminta yang Bugis dan Islam itu. Anak Bugis
itu
 ternyata lari memintakan pertolongan ke pemukiman masyarakat di Batu Merah
 sambil berteriak bahwa dia dikerjar orang Kristen. Massa Batu Merah yang
 memang berinisial Bugis-Makasar dan Islam itu segera bangkit dan
 terjadilah kejar-mengejar yang tak terelakan. Perkelahian yang memicu
 amarah segenap kaum dan anggota dari kedua suku dan agama berakibat
 pembakaran 3 rumah penduduk yang kebetulan beragama kristen.
 Isyu pertentangan dan perkelahian antar agama ini segera beredar. Hampir
 tiga puluh menit kemudian tersebar isyu ke segenap penjuru kekristenan di
 kota Ambon, bahwa Gereja Kristen Protestan Silo yang masih di daerah pusat
 Kotamadya (di depan tugu Trikora) diisyukan bahwa telah dibakar oleh
 orang-orang Islam. Provokasi demikian langsung secara spontan mengundang
 konsentrasi massa kelompok agama di daerah-lokasi yang dianggap rawan.
 Bukan cuma itu! Aksi rusak-merusak sampai dengan bakar-membakar mulai
 diisyukan terjadi dimana-mana, bahkan memang betul-betul terjadi.
Beberapa mobil (7-9 mobil) penumpang ditambah puluhan saranan transportasi
becak
 dibakar di jalan-jalan, sementara aksi pengamanan rumah-rumah ibadah
mulai diatur oleh masing-masing kelompok agama. Pengelompokkan massa agama
ini
 dapat dibedakan karena yang muslim berinisial ikat kepala berwarna putih,
 sementara kelompok kristen berinisial: ikat kepala berwarna merah. Yang
 menyolok bahwa semua kelompok massa ini bersenjatakan pedang panjang,
 golok, bambu runcing, dan pipa-besi yang panjang. Tambah lagi, jalan
 masuk dan keluar dari Kotamadya Ambon telah ditutup aparat sehingga tidak
 ada peluang untuk masuk dan atau keluar dari pusat kota.
 Upaya pengamanan ternyata tidak memberi hasil yang diharapkan. Para tokoh
 agama segera dipanggil dan bersama Pemda setempat (Tkt. I, Kanwil Agama
dan Kotamadya) mengatur upaya pembendungan massa yang semakin tak terkendali
 itu. Apalagi telah terjadi pelemparan dan upaya pengrusakkan rumah ibadah.
 Memang, malam itu, sek.pkl. 22.00 telah terjadi pelemparan terhadap
gereja  Protestan Bethlehem, masih di daerah pusat kotamadya. Gereja
Bethlehem,
 yang katanya telah dijaga oleh anggota masyarakat setempat
 (kristen-muslim) ternyata bobol oleh desakan arus massa yang memang
 beringas. Aparat keamanan yang kebetulan berada di lokasi itu saling
 dicurigai oleh anggota masyarakat. Aparat keamanan dari pihak tentara
 berusaha menghalau (?) massa Islam dari belakang (memihak?), sementara
 pihak polisi memang menahan amukan massa kristenyang mau menyerang-balik
 karena tidak menerima baik pengrusakkan-pelemparan itu.
 Upaya pembendungan ini ternyata tidak banyak hasilnya. Para tokoh agama
 dari dua golongan segera didatangkan ke lokasi, Ketua Sinode GPM dan dua
 pastor menuju massa kristen di halaman Gereja Bethlehem dan Bpk. Ketua MUI
 untuk massa yang berikat putih itu. Nampak juga di tengah konsentrasi
 kristen itu, seorang pendeta (Pimpinan Angkatan Muda GPM) bersusaha
 menenangkan kelompoknya. Alhasil ! Massa kristen, konsentrasi Gereja
 Bethlehem, bisa dibendung dan dipusatkan pada pengamanan lokasi Gereja
dan Rumah Sakit GPM yang juga tidak jauh dari gereja itu. Sementara itu
 pembakaran mobil dan becak terus jadi dimana-mana. Diperkirakan 50-an
beca pasti menjadi bingkai di malam yang naas itu.
 Pembendungan oleh pihak tokoh agama dilaksanakan lagi melalui jalan
 keliling dengan beberapa mobil mengelilingi kota Ambon. Upaya pembendungan
 ini membawa mobilisasi lebih baik setelah larut malam ( + pkl. 02.00)
 meski semua pihak siaga penuh di posnya masing-masing. Kami, 2 pastor
dari rumah Keuskupan, baru bisa kembali lagi ke Keuskupan pkl. 3.00 dini
hari.

 Rabu, 20 Januari 1999

 Pagi baru ternyata belum juga membawa hari yang cerah di pusat Propinsi
 seribu pulau ini. Malam gelap itu ternyata belum sempat hilang, ketika
 tepat pkl. 06.00 asap hitam telah mengepul di angkasa tepat di atas
 pertokaan Pelita (depan lapangan merdeka) dan Pertokoan dan Pasar Gambut
 (di belakang-kiri pompa bensin blakang kota). Kira-kira dua jam kemudian
 terlihat asap hitam mengepul di atas bangunan Pasar Mardika & pasar buah
 (lazim disebut pasar baru). Kejar-mengejar kembali mewarnai jalan-jalan
 pasar pesisir pantai sampai dengan daerah pertokoan Ambon Plaza.
 Pagi ini diberitakan oleh POLDA Maluku bahwa bantuan pasukan 2 kompi
dari Ujung Pandang segera akan tiba sore ini. Sementara itu massa yang rusuh
 dan saling menyerang semakin tidak terkuasai. Gereja Sumber Kasih di
 daerah Tanah Lapang Kecil  Waihaong (masih dalam kato Ambon) telah
 dibakar, dan Universitas Kristen Maluku (UKIM) diisyukan bahwa telah
 dikepung, tetapi syukurlah perguruan tinggi kristen Protestan ini
berhasil dihalau sebelum upaya pembakarannya.
 Pertikaian antar kelompok agama di Kotamadya Ambon ternyata tidak bisa
 dibendung penyebarannya. Kelompok kristen-muslim di pinggiran kota tidak
 mau tinggal diam. Orang kristen dari desa-desa di pegunungan berdatangan
 dengan busur-anak panahnya. Orang Islam apalagi ! Perkampungan islam di
 daerah Hilla-Hittu seperti Mamala, Morela dan yang lain-lain langsung
 bereaksi. Dengan semangat jihad massa muslim di daerah Hilla-Hittu itu
 bergerak maju menuju Ambon. Sasaran Ambon ternyata berakibat langsung
bagi masyarakat Kristen di desa-desa sekitarnya, khususnya Telaga Kodok dan
 perkampungan lain sesudahnya. Dua gereja Kristen (Protestan dan Katolik)
 beserta perumahan umat kristen (dari asli Ambon dan Flores)
 dibumi-hanguskan. Korban memang banyak berjatuhan, akibat keganasan
 kelompok ikat putih itu. Apalagi gerakan massa yang muslim dari daerah
 Hilla-Hittu itu jumlahnya 1000-an. Dari Telaga Kodok, mereka berjalan
turun mengikuti Air Besar  melewati dua unit Tentara di Waiheru  dan
ketika massa itu ditahan di Nania-Negeri Lama maka mulailah aksi
 berdarah-menghanguskan itu. Kurang lebih ada 6 buah Gereja Protestan yang
 dibakar, dan lainnya sebanyak 60-an rumah penduduk berhasil termakan
nyala api itu. Reaksi lawan dari pihak kristen adalah membakar satu kantor
 pengadilan agama Islam di Negeri Lama dan merusak pintu-jendela Mesjid di
 perkampungan sebelum Waiheru. Para korban dari aksi siang itu dibawa ke
 rumah-rumah sakit terdekat, antara lain 10 ibu beserta anak-anak yang
 anggota badannya terpotong. Itu baru kaum wanitanya, dimana kaum lelakinya?
 Para korban di rumah sakit Hattive misalnya, menuturkan bahwa mereka
 sendiri tidak tahu lagi bagaimana nasib para suami dan kaum lelaki yang
 lain. Hasil evakuasi sampai siang ini mengatakan bahwa sudah 20-an korban
 jiwa, di antaranya 8 belum diketahui identitasnya. Ada dari jenis korban
 jiwa yang terakhir ini ditemukan di pinggiran jalan dan di dalam got.
 Memang sangat memprihatinkan, sisanya meninggal setelah dibawa ke rumah
sakit.
 Suasana di dalam kota Ambon sendiri belum juga mereda. Pasukan bantuan
 yang didatangkan dari Ujung Pandang telah tiba. Brain washing yang
 berlangsung lebih dari dua jam itu kemudian disusul dengan lokalisasi
 pasukan di tempat-tempat rawan. Dipertanyakan, mengapa pasukan bantuan itu
 tidak diminta dari Jayapura-wilayah KODIM yang sama? Kita percaya saja
 bahwa aparat keamanan itu adalah republik tercinta ini, dan bukanlah
 segelintir orang dan golongan tertentu. Konsolidasi dengan para tokoh agama
 di sore hari ini hanya berupa pernyataan sikap dan himbauan kepada
 masyarakat melalai media elektronika TV lokal-SPK Ambon. Padahal kami
para tokoh agama menganjurkan bahwa upaya pengamanan dan pembendungan massa
 harus tetap menghadirkan para tokoh agama langsung ke tengah kaumnya
 disertai back-up dari para aparat keamanan tanpa senjata. Pilihan para
 tokoh agama ini beralasan bahwa kekerasan dengan senjata telah memakan
 korban dari kedua belah pihak: aparat dan masyarakat; tambah lagi
 masyarakat semakin tidak percaya lagi dengan aparat keamanannya, yang
 kelihatan (terkesan) tidak merata dan tidak adil dalam pembendungannya.
 Alternatif ini akhirnya tidak diterima dengan alasan bahwa pasukan dalam
 jumlah besar telah dioperasikan ke lokasi-lokasi yang dianggap rawan
 sehingga kita berharap bahwa kehadiran mereka (pasukan besar) itu akan
 membawa perkembangan baik.
 Kerusuhan dan pertikaian sampai dengan sore hari ini ternyata tidak
hanya sebatas kristen-muslim. Konsentrasi perlawanan orang kristen adalah
 mengusir pergi dari kota ini anggota masyarakat muslim yang non Maluku,
 khususnya kelompok BBM (Buton,Bugis,Makasar). Semua pihak tetap siaga di
 tempatnya. Keadaan ini pasti dimanfaatkan pihak provokator yang mau
 memancing di air keruh. Isyu pembantaian suku di Kampung Jawa dan
 Galunggung di daerah Kebuh Cengkeh dan Batu Merah Atas memicu amarah lebih
 kelompok Bugis lainnya yang ada di kota dan pulau Ambon. Kerusuhan dan
 pertikaian terjadi di mana-mana. Kelompok pemuda yang dikenal dengan nama
 Coker (copet keras) dari daerah Kuda Mati (kristen?) bergabung bersama
 kelompok ikat merah lainnya dan bergerak menuju daerah Air Salobar dengan
 konsentrasi masyarakat muslim-BBM yang ada di daerah itu. Mereka berhasil
 merusak perumahan rakyat disitu.
 Pertikaian dan pembakaran perumahan penduduk sejak hari pertama
 mengakibatkan arus para pengungsi semakin bertambah. Tempat penampungan
 bagi para pengungsi itu adalah lembaga-lembaga dan instansi Pemerintah
 seperti POLDA, KOREM, SPN Passo, Aspol Tantui, Angkatan Laut Halong serta
 beberapa lembaga Swasta lainnya termasuk pastoran-pastoran dan rumah
 Keuskupan. Yang patut dilaporkan juga bahwa di tempat-tempat tertentu
 masyarakat yang beda keyakinan itu tetap saling melindungi, misalnya di
 lingkungan gereja tertentu. Bahkan ada pengungsi islam yang mencari
 pengamanan dirinya ke Gereja; di dekat Seminari Xaverianum Ambon aa satu
 bangunan rumah bertingkat tiga (hampir selesai) milik satu pengusaha
 Katolik, dan sejak kemarin telah dipakai untuk tempat penampungan para
 pengungsi muslim di daerah gang pos  lorong kantor pos induk, tidak jauh
 dari rumah keuskupan. Malam hari ini gelombang pengungsi yang sudah 4000-an
 itu masih saja mengalir. Suasana semakin mencekam karena terlihat asap api
 mengepul dimana-mana (diantaranya bakar mobil dan becak) dan bunyi tembakan
yang beruntun.

 Kamis, 21 Januari 1999

 Hari ini menjadi hari ketiga suasana yang mencekam itu. Keadaan masih
 kelihatan tegang dimana-mana. Bakar-bakar mobil dan becak belum lagi
 selesai. Tumpukan bingkai becak yang mulai berserakkan dimana-mana dapat
 menjadi tanda bahwa sarana transportasi beroda tiga itu sudah ratusan yang
dimusnahkan.
 Uskup Diosis Amboina bersama dua orang pastor sejak pkl. 10.00 pagi
telah berada di MAPOLDA atas undangan per telpon dari Muspida. Maksudnya
adalah
 mengumpulkan lagi para tokoh agama yang ada: kristen-muslim dan mencoba
 mencari memikirkan dan merumuskan jalan penyelesaian yang terbaik untuk
 semuanya. Pertemuan tidak langsung dimulai karena kami harus saling
 menunggu aparat dan tokoh agama yang harus dijemput karena kerawanan di
tengah masyarakat.
 Pertemuan muspida dan tokoh agama baru berhasil dibuat pada pkl. 14.30.
 Ketua Sinode beserta Sekum-nya, Uskup Diosis beserta dua orang pastor,
dan para ulama Muslim yang kiranya dikenal untuk semua kalangan Muslim
(maklum strukturisasi kepemimpinan yang ada di kekristenan, tidak ada dalam
agama  Muslim).
 Pertemuan sore ini mengharuskan para tokoh agama dan Muspida bersama
 aparat keamanan harus berkeliling melihat dari dekat dan berdialog
bersama dengan para anggota kelompok agamanya. Sasarannya adalah mencari
pengertian baik, untuk tidak lagi saling menyerang, sebaliknya saling
menerima
kembali sesama warga masyarakat meski saling berbeda agama pun latar
belakang
 budaya. Pendekatan cara ini memang disambut baik oleh kelompok tertentu
 setelah mendengar petuah dan himbauan dari pimpinan dan ulamanya, meski
 tidak dapat disangkal bahwa ada kelompok-kelompok tertentu yang masih
 terbawa emosi dan aneka isyu yang memicu.
 Kunjungan keliling ternyata tidaklah selesai karena rombongan ini harus
 segera kembali ke markas komando di POLDA karena hari mulai malam. Di
ruang Mapolda telah tiba Bapak Panglima dari kesatuan Pangdam Maluku-Irian
Jaya.
 Ada laporan dari Gubernur menyangkut situasi sosial menambah laporan
 keamanan dan ketertiban yang dibuat oleh pihak kepolisian. Ada kesempatan
 dialog dengan para tokoh yang ada. Bapak Panglima megnharapkan bahwa
 kehadiran pasukan yang akan semakin besar itu kiranya bukannlah
 pertama-tama untuk menambah jumlah kekuatan senjata kita, melainkan
 terlebih adalah pentingnya tambahan kekuatan pasukan untuk mem-back-up
 para ulama dalam segala upaya untuk menentramkan situasi masyarakat.
 Langkah lanjut dari Panglima adalah membuat konsolidasi intern ABRI di
 Maluku untuk melihat kembali pemetaan kekuatan dan kelemahan aksi
 operasionalisasi pasukan sampai hari ini.
 Kami dijanjikan bahwa besok, jumat tanggal 22 Januari '98 akan ada
 pertemuan lanjutan dengan Panglima dan kemudian menindaklanjuti dialog
 keliling dari tokoh agama dan anggota masyarakat/umatnya. Sasaran lebih
di hari ke-empat ini adalah upaya pelucutan senjata baik dari aparat pun
dari anggota masyarakat.
 Akhirnya, beberapa rincian korban:
 10 gedung gereja: 3 RK dan 7 Prtestan
 Korban manusia sudah kurang lebih: 33 yang mati (termasuk 2 pendeta GPM),
 dan  puluhan lainnya yang dirawat di rumnah-rumah sakit
 4500-an penduduk yang diungsikan.

 Demikian beberapa laporan yang bisa kami angkat untuk konfrater-nettersm
 sekalian. Maaf karena selama beberapa hari ini sarana komunikasi kami
(a.l. E-mail tidak bisa bekerja karena ketergantungan dengan PLN).

 ++++++++++++

 CATATAN KRITIS-ANALITIS:

 Analisa sekilas mengatakan bahwa
 1. Provokator semua kerusuhan ini memang hebat. Ada dua jenis provokator
itu: satu
 yang sifatnya profesional dan terencana, yang lain spontan.
 2. Operasionalisasi pasukan oleh pimpinan ABRI setempat nampaknya tidak
 antisipatif-tidak strategik-dan gerak lamban.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Jan 1999 jam 06:32:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke