----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Subject: [SP] REFORMASI(472): Kerusuhan dimaksudkan memperkuat posisi
From: Hudoyo Hupudio <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 1/27/99 4:15 AM Eastern Standard Time
Message-id: <[EMAIL PROTECTED]>

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia
Tuesday 26 January 1999 15:30 UTC


** TOPIK GEMA WARTA: KERUSUHAN-KERUSUHAN DAN CIGANJUR PLUS DIMAKSUDKAN
MEMPERKUAT POSISI SOEHARTO

INTRO: Meski Soeharto yang selama ini dijaga oleh ABRI menyatakan ia tak
ingin berkuasa lagi, namun kerusuhan-kerusuhan di daerah dan pertemuan
Ciganjur Plus dinilai hanya merupakan kegiatan memperkuat posisi
Soeharto. Kalau Napoleon "come back" (muncul kembali) melalui Elba, maka
Soeharto come back melalui Solo, kata kolumnis Christianto Wibisono.
Berikut laporan Syahrir dari Jakarta:

Semua fraksi DPR-RI kemarin sepakat, ABRI akan diwakili oleh 38
anggotanya di lembaga legislatif tersebut. Padahal, 200 orang anggota
Partai Amanah Nasional, PAN, pada saat yang hampir bersamaan
berdemonstrasi, tidak jauh dari gedung DPR-RI di Senayan. Mereka
memprotes kehadiran ABRI di DPR. Wakil ABRI di lembaga legislatif pusat
itu PAN cukup berjumlah 15 orang saja, dan tanpa hak voting. Tetapi
Kaster ABRI, Letjen Susilo Bambang Yudhoyono, menganggap ABRI sudah
menyerap aspirasi rakyat, termasuk rakyat di daerah-daerah yang masih
dapat menerima kehadiran ABRI di legislatif, namun dengan pengurangan
jumlah anggota fraksi. Mabes ABRI dapat menyetujui pengurangan
wakil-wakilnya sampai 50%, baik di DPR-RI maupun berbagai DPRD. Kalangan
pengamat politik di kampus-kampus umumnya mengecam keputusan itu. Ada
yang mengatakan ABRI itu tidak tahu diri, menjaga keamanan saja tidak
becus, kini minta pula supaya 38 orang anggotanya duduk di DPR, tanpa
dipilih.

Kejengkelan orang pada ABRI juga meningkat dengan perkembangan politik
akhir-akhir ini juga meningkat dengan sepak terjang Soeharto. Maklum
orang-orang Soeharto diduga keras berada di belakang pelbagai kerusuhan
antar agama akhir-akhir ini. Pihak ABRI dengan intelijennya yang tangguh
ternyata tidak bersedia mencegah, apalagi menahan para provokator di
Ketapang, Kupang dan Ambon. Meski Pemda Sulawesi Utara sudah berteriak
bahwa ada 300 perusuh yang masuk wilayah itu, namun ABRI justru
membantahnya. Tidaklah mengherankan jika orang mencurigai masih kuatnya
unsur-unsur pro status quo dalam jajaran ABRI.

Ada seorang perwira purnawirawan yang mengatakan bahwa hampir setiap
malam Wiranto melapor kepada Soeharto. Ketika Soeharto berada di Solo ia
sempat berunding dengan Benny Moerdani, Wiranto dan Sugiyono. Sedangkan
pada saat-saat menjelang mutasi di kalangan ABRI, Try Sutrisno dengan
Wiranto sempat berunding dengan Soeharto mengenai pergantian personalia
tersebut. Maka tidaklah mengherankan jika pertemuan Ciganjur Plus dengan
Wiranto, oleh banyak orang dianggap sebagai pelaksanaan instruksi
Soeharto belaka. Ciganjur Plus hanyalah membawa keuntungan yang lebih
besar bagi Wiranto dan ABRI. Pertemuan raja-raja moderen itu hanyalah
dimaksudkan untuk memojokkan para mahasiswa dan tokoh-tokoh politik luar
Jawa yang menginginkan reformasi yang cepat, kata seorang pemimpin
organisasi pemuda.

Sementara itu aksi-aksi kerusuhan terus berlanjut. Di Timor Timur
kemarin meletus lagi demonstrasi rakyat di Suai. Masyarakat memprotes
pembunuhan warga oleh pasukan Ratih yang didukung oleh pasukan marinir.
Seorang perempuan hamil berusia 27 tahun diberitakan dibunuh pasukan
Ratih dan marinir kemarin dulu. Perut Angelica de Jesus dibelah dan
janinnya diambil. Peristiwa yang mirip sekali dengan kejadian di Aceh
ini, terjadi di desa Waibaba. Pada tanggal 24 Desember lalu, pasukan
Ratih yang dipimpin Cansio Carvalho juga menembak seorang warga yang
lewat naik motor. Warga tersebut, Fernando Cardoso kemnudian ditanam,
tetapi kepalanya dibiarkan muncul di atas permukaan. Ketika Pastor Mario
meminta jenazahnya, pihak militer menolak. Selain dua warga lainpun
ditembak, yaitu Holandino Perera, 52 tahun dan putranya, Louis Perera,
15 tahun. Para pemimpin masyarakat di Timor Timur menganggap aksi-aksi
pelanggaran hak asasi manusia ini sengaja dilansir ABRI untuk memancing
kemarahan rakyat setempat. Dengan demikian bisalah tercetus kerusuhan
baru di Timor Timur, kata mereka.

Dengan latar belakang ini bisa dimengerti kenapa rakyat tidak
mempercayai keterangan Soeharto pekan lampau. Di Solo, Rabu pekan lalu,
Soeharto mengatakan, ia pasrah mau diapa-apakan saja oleh rakyat, dan
bahwa ia tidak ingin berkuasa lagi. Rakyat umumnya mengenal cara-cara
Soeharto. Ucapannya tidak sama dengan tindakan-tindakannya yang
tersembunyi. Di depan senyum pasrah, di belakang menggerakkan teroris
yang legal, kata seorang pengamat.***

------------------------------------------------------------------------
eGroup home: http://www.eGroups.com/list/milis-spiritual
Free Web-based e-mail groups by eGroups.com

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Jan 1999 jam 20:05:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke