----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

MEGAWATI, MAUBERE-ISME DAN MARHAENISME
--------------------------------------
George Junus Aditjondro

KEJUTAN 27 Januari lalu, ketika Menlu Ali Alatas dan Menpen Yunus Yosfiah
menegaskan bahwa pemerintah bersedia menerima kemerdekaan Timor Lorosae
apabila rakyat negeri itu menolak usulan otonomi penuh yang ditawarkan oleh
Jakarta, cukup mengejutkan banyak orang. Waktu itu saya sedang berada di
kantor Tapol di London, dan menerima berita itu dari sejumlah koresponden
asing lewat fax dan telepon.

Sebagai orang yang mengikuti perkembangan dekolonisasi Timor Lorosae sejak
Mei 1974, tentu saja saya sangat terkejut. Maklumlah, saya punya hubungan
batin yang sangat erat dengan negeri itu: saya pertama kali memperoleh
paspor RI dari kantor Imigrasi RI di Kupang, khusus untuk meliput
perkembangan di negeri yang waktu itu masih dikenal dengan nama "Timor
Portugis" atau "Timor Dili", untuk majalah Tempo. Dan dua tahun lalu, dari
tanggal 13 April 1997 s/d 2 Juni 1998, paspor saya dibekukan oleh Konjen RI
di Sydney, setelah memberikan kesaksian bersama Jose Ramos-Horta, di
Kongres AS, untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Timor Lorosae, bulan
Februari 1997.

Namun yang kurang diperhatikan banyak orang adalah bahwa pengumuman hasil
sidang kabinet 27 Januari lalu ada embel-embelnya yang maha penting:
alternatif untuk memerdekakan Timor Lorosae secara langsung, tanpa melalui
proses referendum, bukannya akan dikeluarkan oleh pemerintah
Habibie-Wiranto sendiri, melainkan akan ditawarkan ke Badan Pekerja MPR,
sesudah pemilu bulan Juni mendatang.

Berarti, sebenarnya kabinet transisi ini hanya melemparkan bola -- dan
tanggungjawab -- pada MPR dan pemerintah mendatang. Apa yang akan terjadi
di separuh pulau Timor itu, tidak lagi akan menjadi tanggungjawab Habibie
sebagai presiden dan Wiranto sebagai Pangab dan Menhankam. Lalu,
tanggungjawab siapa?

Dari berbagai poll yang sudah diselenggarakan, tampaknya Megawati
Sukarnoputri  punya kans terbesar menjadi presiden RI yang keempat, apabila
ABRI betul-betul tidak campur tangan menentukan pilihan rakyat dalam pemilu
mendatang.

Makanya, yang perlu kita soroti saat ini adalah, bagaimana sikap Mbak Mega
dan seluruh jajaran PDI Perjuangannya, tentang status Timor Lorosae. Untuk
itu, ada tiga tokoh yang bakal ikut merumuskan sikap PDI Perjuangan, serta
pemerintah mendatang apabila Mbak Mega jadi terpilih sebagai presiden RI
yang keempat. Ketiga tokoh itu adalah Mbak Mega sendiri, mantan Jenderal
Theo Syafei, yang juga salah satu ketua PDI Perjuangan, dan Drs. Frans
Seda, penasehat ekonomi Presiden Habibie yang juga pendukung Megawati.

Pandangan Theo Syafei sangat penting, sebab "veteran" perang Timor ini
adalah bekas Pangdam Udayana yang "berjasa" menangkap pemimpin tertinggi
perjuangan kemerdekaan bangsa Maubere, Jose Alexandre "Xanana" Gusmao.
Sedangkan Frans Seda adalah bekas Dubes RI di Brussels, di awal proses
dekolonisasi Timor Lorosae, yang memperkenalkan almarhum Jenderal Ali
Murtopo kepada junta militer di Lissabon, untuk menetralisir kemungkinan
oposisi Lissabon terhadap rencana aneksasi Timor Lorosae oleh Indonesia.

Selama 20 tahun, Frans Seda menjadi lobbyist bagi kepentingan Indonesia ke
Tachta Suci (Vatikan), dan di tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan
Suharto, Frans Seda juga menjadi lobbyist kepentingan bisnis Australia
Utara di Jakarta. Seda juga dikenal sebagai pendukung keras integrasi Timor
Lorosae, bahkan sesudah dua orang tokoh Timor -- Uskup Belo dan Jose
Ramos-Horta -- dianugerahi hadiah Nobel untuk Perdamaian, tanggal 10
Desember 1996.

Di luar kelompok kecil yang merupakan "kitchen cabinet" Mbak Mega
(Laksamana Sukardi, Kwik Kian Gie, Mochtar Buchori dan Eros Djarot),
pandangan Theo Syafei dan Frans Seda dapat sangat mempengaruhi sikap Mbak
Mega terhadap masa depan Timor Leste, sebab keduanya pernah dan masih
terlibat dalam penentuan kebijakan militer dan ekonomi Indonesia di Timor
Lorosae.

Coba saja kita lihat sikap Mbak Mega, terhadap kemungkinan "pemberian"
kemerdekaan oleh Indonesia kepada Timor Leste. Lewat salah seorang ketua
PDI Perjuangan, Dimyati Haryanto, ia menyatakan bahwa "Timor Timur tidak
akan dilepas", apabila ia terpilih jadi presiden (Merdeka, 29 Januari).

Sementara itu, Frans Seda menyatakan bahwa sistem konstitusi Indonesia
tidak mengenal referendum. Ia tampaknya tidak sepenuhnya setuju dengan
langkah-langkah pemerintah Habibie ke arah pengakuan kemerdekaan Timor
Lorosae, dengan mengatakan bahwa rakyat Indonesia belum tentu akan setuju
membubarkan salah satu di antara ke-27 propinsi negara ini (Antara, 28
Januari).

Theo Syafei, belum buka suara soal masa depan Timor Lorosae. Mungkin
kontroversi seputar apa yang disebut-sebut sebagai rekaman ceramahnya di
Kupang, masih menghantui mantan jenderal ini. Namun sebagai salah satu
Ketua PDI, dia punya akses langsung ke Mbak Mega yang tidak selalu terliput
oleh media massa. Dan sebagai bekas Pangdam Udaya yang terlibat dalam
operasi penangkapan Xanana Gusmao, yang kemudian melancarkan propaganda
untuk menghancurkan reputasi pemimpin perjuangan Maubere itu, secara
manusiawi tentunya akan sulit bagi Theo untuk kini mengakui orang
tangkapannya sebagai lawan berunding pemerintah Indonesia.

Melihat hal-hal di atas, tidak ada jaminan bahwa pemerintahan baru di bawah
Presiden Megawati Sukarnoputri, mau betul-betul menghayati aspirasi rakyat
Timor Lorosae. Sebagai putri suling dan pewaris nama Bung Karno, hal itu
sangat disayangkan di kalangan gerakan pro-demokrasi di Indonesia. Sebab
Undang-Undang Dasar 1945 sendiri mengamanatkan kita sebagai bangsa, untuk
mendukung perjuangan bangsa-bangsa lain dari belenggu kolonialisme. Itu
sebabnya Bung Karno di awal 1960-an mendukung perjuangan kemerdekaan
Kalimantan Utara, di bawah pimpinan Sheik Azahari. Suatu sikap
anti-kolonial dan anti-imperialis, yang oleh banyak pengamat Barat
disalahtafsirkan sebagai ekspansionisme Indonesia.

Keengganan Mbak Mega untuk memahami perjuangan kemerdekaan bangsa Maubere,
juga patut disayangkan, mengingat Indonesia di bawah Bung Karno, ikut
menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan Timor Lorosae. Dua sumber
inspirasi itu adalah Konferensi Asia-Afrika di Bandung, serta faham
Marhaenisme yang dicetuskan oleh Bung Karno. Suatu faham sosialisme khas
Indonesia, yang mengutamakan perbaikan nasib petani gurem bertanah sempit,
kaum Marhaen, dan petani tak bertanah. Kedua kelompok petani kecil ini
ingin diperbaiki nasibnya oleh Bung Karno lewat paket ketiga undang-undang
agraria tahun 1960.

Membaca teori Marhaenisme Bung Karno, serta didorong keinginannya
mempertemukan sayap kanan dan sayap kiri dalam Fretilin, sekjen partai itu,
Jose Ramos-Horta, mengembangkan apa yang disebutnya sebagai Maubere-isme.
Suatu faham untuk memperbaiki nasib petani kecil yang terjepit oleh
kepentingan para facenderos, pemilik tanah luas, serta Gereja Katolik, yang
juga pemilik tanah luas di Timor Lorosae, sebagai warisan dari kolonialisme
Portugis. Dan sebagaimana halnya Bung Karno memperjuangkan reformasi
agraria di Indonesia, Fretilin juga mencantumkan reformasi agraria sebagai
salah satu pilar perjuangan partai itu.

Pendek kata, perjuangan kemerdekaan Timor Lorosae sesungguhnya sejalan
dengan pokok-pokok fikiran Bung Karno, yang seyogyanya menjadi pegangan
Mbak Mega dalam memimpin partai dan bangsanya.

Makanya, apabila PDI Perjuangan ingin membuktikan perbedaannya yang hakiki
dari rezim Orde Baru, sudah saatnya sekarang Mbak Mega dkk secara aktif
membuka jalur dialog dengan Xanana Gusmao, untuk merintis masa transisi ke
arah kemerdekaan Timor Lorosae, tanpa melalui perang saudara.

Sikap pro-aktif demikian akan jauh lebih dihargai oleh kaum muda dalam
gerakan pro-demokrasi di Indonesia, ketimbang membiarkan negeri jajahan
kita itu jatuh kembali dalam kancah perang saudara, akibat rekayasa rezim
Orde Baru dengan ribuan PAM Swakarsanya yang kini menteror rakyat Timor
Lorosae.

********

George Junus Aditjondro,
mengamati perkembangan dekolonisasi Timor Lorosae sejak 1974, dosen
matakuliah Gerakan Kemerdekaan Pasca-kolonial di Universitas Newcastle,
Australia

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Feb 1999 jam 09:32:30 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke