----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Subj:   Masalah Pemilu: Apa Indonesia punya calon2 pemimpin bermutu?
Date:   4/13/99 3:49:17 PM Eastern Daylight Time
From:   Amidjaya
To:     HSUPANGKAT

Masalah Pemilu: Apa Indonesia punya  pemimpin2 (capres, caleg, etc) yang
bermutu?
Pak Supangkat yang selalu "ingsightful" ttg. masalah2 Indonesia:
Saya setuju dengan mereka yang berpendapat (e.g. Pak Supangkat) bahwa mungkin
seorang pemimpin seperti  Ali Sadikin tepat menjadi calon Presiden.
Alasannya: Satu,  A. Sadikin is a proven manager, leader, and "builder";
kesanggupan dia untuk memimpin dan membangun telah diuji dan dia lulus.
Apakah  Amien Rais, Megawati, Gus Dur, Wiranto, Habibie, Nurcholish Majid,
dan semua orang lain yang dipertimbangkan menjadi capres (juga orang orang
yang akan jadi caleg2) cukup berpangalaman dalam memimpin negara dalam arti
pernah dan/atau telah lulus diuji oleh tantangan2 kepemimpinan dan �governing
skills and managerial challenges� yang mahaberat dan super-complex itu?.
Apakah caleg2 Indonesia telah membuktikan kesanggupan, ketrampilan, dan
loyalitas dalam mewakili rakyat yang memilihnya? Do they know �needs
assessment� skills, are they sensitive to �reliable data�?

Kedua, A. Sadikin telah bertahun2 menunjukkan bahwa dia ini �antithesis of
the New
Order�; dia adalah salah seorang pelopor reformasi waktu Amien Rais masih
ingusan di SD. Idealnya, calon presiden  dan caleg2 itu harus orang yang
bukan saja tak pernah berpatisipasi dalam Orba dan KKN-nya, tapi juga jelas
dalam sejarah hidupnya tidak mempraktekan ideologi dan praktek2 Orba.
Ideologi dan praktek2 Orba itu ada enam: anti-demokrasi, anti otonomi daerah,
anti-rule-of-law, anti-ekonomi-untuk-rakyat, anti hak2 azasi manusia, dan
anti-trasparansi atau anti-accountability. Apakah pemimpin2 dan calon2
pemimpin di Indonesia sekarang ini sibuk hanya �mouthing� atau hanya
bersemangat berpidato menggembar-gemborkan nilai2 reformasi (demokrasi,
otonomi daerah, rule-of-law, ekonomi untuk rakyat,  HAM, transparansi), tapi
belum cukup secara nyata menunjukan pengalaman2 mempraktekan nilai2 itu?
Mereka yang mempraktekan nila2 reformasi hanya dalam era reformasi �suspect�
atau harus dicurigai niatnya.

Jadi pemimpin2, termasuk capres2 dan caleg2, yang diperlukan oleh Indonesia
ialah
orang2 yang tidak hanya mempraktekan �verbalisme� (ngomong doang,
�ngahuntu�),
yang hanya mengemukakan analisa2 muluk atau �even� ilmiah seperti cendekiawan
atau ilmuwan dalam �graduate seminars� , atau yang hanya sanggup membuat
massa (yang dengar pidato) penuh semangat dan tekad untuk membangun Indonesia
(tapi begitu pulang kerumah pusing masalah sembako atau beaya sekolah anak2).
Bahasa Inggeris-nya: talk is cheap!; bahasa Sundanya: ngahuntu! Seperti
tulisan saya ini, meskipun mungkin benar dan mungkin bermanfaat, tak lain
daripada ngomong doang! Mungkinkah pemimpin2 dan tokoh2 Indonesia itu kena
penyakit �verbalisme doang�, �analisis doang�, �diskusi dan rapat doang�,
�bekumpul dengar pidato doang�, �marah2 dan menyalahkan masa lampau doang�,
dsb; mungkinkah mereka ini harus lebih banyak �aktivisme�, �diam2 bertindak
mengentaskan kemiskinan�, �kampanye bukan ngomong tapi ber-amal yang
kongkrit�,
�tolong satu anak yatim piatu�, �fund-raising untuk beli obat utk si miskin
yang sakit
keras�, �mengadakan �empowerment  meeting serukun tetangga� dimana sekelompok
orang diarahkan untuk dengan kongkrit menimbulkan sumber2 penghasilan
sehari2�, dst.

Barangkali syarat yang paling penting bagi calon2 pemimpin Indonesia bulan
Juni 1999 ini adalah apakah mereka ini telah menunjukan kesanggupan mendidik
diri dan masyarakat untuk membebaskan diri  dari �sentralisasi�,
�ketergantungan pada pemimpin�, �ketergantungan pada pemerintah�, �kultus
individu atau pemujaan pemimpin, mulai dari lurah sampai Presiden�,
�ketergantungan pada koneksi�, �tidak percaya bahwa birokrasi itu bisa bersih
dan efektif�, dsb, dst. Salah satu arti demokrasi ialah �people empowerment�,
artinya kampung, desa, sekelompok tetangga, guru2 dan orangtua murid,
individu pada umumnya, dsb bukan saja percaya dan berani bisa memecahkan
masalahnya sendiri, tapi juga mau belajar ketramplian dan kecakapan untuk
hidup mandiri tanpa ketergantungan pada KKN, pemimpin, koneksi, dan praktik2
anti �rule-of-law�.
Saya mohon maaf seandainya ada kata2 yang tak layak. Wassalam, Imat Amidjaya

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Apr 1999 jam 06:26:40 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke