> > > > > hi...... mau duit...... klik saja........
> > > > > http://xtracash.webjump.com/000340.html
> > > > > 
> > > > > ada yang baru nih......penghasilan tanpa batas dan dijamin pasti
> > > > dapat.....
> > > > > end .....syaratnya mudah
> > > > > dan mendapatkan bonus terus-terus....dan terus........
> > > > > hanya mengklik......   http://xtracash.webjump.com/000340.html
> > > > > 
> > > > > ayoooooo segera...... 
> > > > > 
> > > > > ##################
> > > > > ingin bonus abadi silakan klik :
> > > > > http://xtracash.webjump.com/000340.html
> > > > > http://www.ratesaver.com.au/index.htm?$i5nk 
> > > > > =================================================
> 


----------
> From: Majalah ParaHyangan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: Adolf Simon Partogi Lumban Tobing <[EMAIL PROTECTED]>; Samiaji Sarosa
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>;
BULAKSUMUR <[EMAIL PROTECTED]>; Balairung
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Gita Kelana
<[EMAIL PROTECTED]>; PPI <[EMAIL PROTECTED]>; Bima Arya
Sugiarto <[EMAIL PROTECTED]>; Darel Ariadi
<[EMAIL PROTECTED]>; Banyu Perwita <[EMAIL PROTECTED]>; PERMIAS
<[EMAIL PROTECTED]>; Arman <[EMAIL PROTECTED]>; Xpos
<[EMAIL PROTECTED]>; AJInews <[EMAIL PROTECTED]>; Arsitektur ITB
<[EMAIL PROTECTED]>; DR-BDG <[EMAIL PROTECTED]>; Fisip Unpad
<[EMAIL PROTECTED]>; Fridiawati Sulungbudi
<[EMAIL PROTECTED]>; Hanzo "The Ghost" Hattori
<[EMAIL PROTECTED]>; Indonesian Development Studies <[EMAIL PROTECTED]>;
IPB Students <[EMAIL PROTECTED]>; Rani Elsanti Ambyo
<[EMAIL PROTECTED]>; Teknik Fisika ITB <[EMAIL PROTECTED]>; UGM
<[EMAIL PROTECTED]>; Unair <[EMAIL PROTECTED]>; Unisba
<[EMAIL PROTECTED]>; Universitas Islam Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>;
Universitas Mataram Network <[EMAIL PROTECTED]>; Unpad
<[EMAIL PROTECTED]>; Wimar Witoelar <[EMAIL PROTECTED]>; PERMIAS-Denver
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
RCTI <[EMAIL PROTECTED]>; Kompas <[EMAIL PROTECTED]>; Samin
<[EMAIL PROTECTED]>; GATRA <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; FORDEMIAS
<[EMAIL PROTECTED]>; Indonesia List <[EMAIL PROTECTED]>; IndoProtest
Maintainer <[EMAIL PROTECTED]>; Liputan 6 <[EMAIL PROTECTED]>;
Gerakan Sarjana Jakarta <[EMAIL PROTECTED]>; Ali Hao
<[EMAIL PROTECTED]>; Forum <[EMAIL PROTECTED]>; Surabaya Post
<[EMAIL PROTECTED]>; SCTV <[EMAIL PROTECTED]>; Tempo Interaktif
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; Yulius
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; V. Ivan Yohan
<[EMAIL PROTECTED]>; Pipit <[EMAIL PROTECTED]>; Dheasy
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Flora
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; Palwijaya Palanara <[EMAIL PROTECTED]>;
UKPKM TEKNOKRA <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; Majalah Tempo <[EMAIL PROTECTED]>; Majalah
Pilar <[EMAIL PROTECTED]>; LP3ES <[EMAIL PROTECTED]>; SIAR
<[EMAIL PROTECTED]>; MAJALAH TAJUK <[EMAIL PROTECTED]>; MAJALAH SINAR
<[EMAIL PROTECTED]>; MAJALAH REM <[EMAIL PROTECTED]>; DETAK
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [mimbarbebas] NANTIKAN RUSUHNYA KAMPANYE...
> Date: 05 April 1999 10:09
> 
>
===========================================================================
> ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa
>
===========================================================================
> 
>
===========================================================================
> NANTIKAN RUSUHNYA KAMPANYE...
>
===========================================================================
> 
> Moga-moga saja kampanye pemilu nanti tidak rusuh. Rusuh?  Lha wong
seorang
> sopir taksi  saja jauh-jauh hari berani menyatakan ketakutannya akan
> kampanye nanti. Bahkan seorang pengamat politik pun berani bilang sangat
> utopis bila kampanye nanti akan penuh damai. Bukannya pesimis, wajar saja
> karena logikanya memang  begitu. Tengok kampanye pemilu �97. Cuma
dilakoni
> tiga peserta saja sudah menghilangkan 234 nyawa dan memporak-porandakan
> Banjarmasin, Jakarta, dan kota-kota lain di Jawa.  Sekali lagi, itu baru
> tiga partai.
> 
> Sekarang, sejak orde Soeharto dianggap sudah lengser, kebebasan
berpolitik
> termasuk membentuk partai pun bukan ide haram lagi. Tapi Masya Allah,
> jumlahnya malah kebablasan melewati dua digit. Walau yang akan ikut
pemilu
> "hanya" 48, toh mungkin sekali bila diantara ke-48 partai yang
berkampanye
> nanti bakal memunculkan pernik-pernik kerusuhan.
> 
> Akan lebih dahsyat? Bisa jadi, kalau memperhatikan maraknya kekerasan dan
> kerusuhan massal akhir-akhir ini.
> 
> Tapi, bukan berarti cuma menunggu sambil bersikap pesimis saja. Agar
> kerusuhan yang ditimbulkan saat kampanye nanti tidak sebrutal saat
Tragedi
> Mei �98 dan kerusuhan-kerusuhan lainnya, ada beberapa hal yang harus
> diperhatikan, terutama oleh partai-partai yang akan berhajatan-ria nanti.
> 
> Mengapa kerusuhan akan tetap terjadi? Apa tindakan yang harus dilakukan
> untuk menekannya sekecil mungkin? Jawabannya ada pada sederet pengamat
dan
> praktisi politik berikut ini�.
> 
>
===========================================================================
> KAMPANYE PEMILU�99
> PENANTIAN YANG MERESAHKAN
>
===========================================================================
> 
> �Pemilihan Umum telah memanggil kita... Seluruh rakyat menyambut
gembira...�
> 
> Andai lirik lagu �Pemilihan Umum�  tersebut digubah menjelang Pemilu �99
> nanti, si pencipta - bila realistis - tentunya akan berpikir ulang
> mencantumkan kata �gembira�. Soalnya, mulai dari supir taksi, peramal,
> sampai pengamat  kelas wahid pun justru berprihatin ria menyambut pemilu
> mendatang. �Gimana nggak ngeri Mas, yang kemaren aja udeh rusuh,� ungkap
> Fachrudin di balik kemudi taksi Cendrawasih-nya sambil mengingat
peristiwa
> Ketapang, Kupang, dan peristiwa lain berbau rusuh yang masih di benaknya.
> �Kampanye nanti bisa menjadi sumber dari kekerasan politik yang terjadi
> tahun ini (1999-red),� begitu analisa pengamat politik, Muhammad A.S.
Hikam.
> Sedangkan dalam acara Liputan 6 siang - 1 Januari 1999 - seorang peramal
> asing kepada Ira Koesno (presenter) meramalkan bahwa tahun ini situasi di
> Indonesia kian buruk. Salah satunya akibat kerusuhan saat kampanye
pemilu.
> 
> Dari lontaran kesan dan opini beberapa kalangan tersebut menandakan bahwa
> yang menjadi kekhawatiran utama di Indonesia pada tahun kelinci ini bukan
> masalah pemilunya, tapi acara penyambutannya. Apalagi kalau bukan
kampanye
> yang resminya akan berlangsung dari 16 Mei-6Juni 1999. Bahkan dari
kalangan
> politisi pun yang nantinya ikut terlibat,  juga tak kalah khawatirnya.
> �Kampanye pemilu nanti saya rasa akan potensial mengandung kerusuhan,�
ujar
> Amien Rais - Ketua PAN (Partai Amanat Nasional) - usai mendeklarasikan
> berdirinya PAN Jawa Barat di Bandung, Desember �98.
> 
> Lontaran Amien Rais tersebut bisa jadi merupakan suatu penantian yang tak
> diinginkan oleh masyarakat. Wajar saja,  bila rentetan peristiwa di tanah
> air sepanjang tahun 1998 hingga awal tahun ini - yang penuh dengan
kekerasan
> dan kerusuhan massal -  menjadi indikator rusuh tidaknya kampanye pemilu
> nanti. Sejak pergolakan dan lengser-nya Soeharto beserta Orba-nya,
kekerasan
> dan kerusuhan massal tetap bergulir�. bahkan kian marak. Mulai tragedi
Tri
> Sakti hingga - sampai saat ini - kerusuhan di Ambon.
> 
> Ironisnya, antar pendukung partai politik yang berlainan juga ikut-ikutan
> dalam rentetan kerusuhan itu. Padahal kampanye-nya sendiri belum resmi
> dimulai. Bentrokan antara massa PDI (Partai Demokrasi Indonesia) dengan
> pendukung PPP (Partai Persatuan Pembangunan) terjadi di Yogyakarta saat
PDI
> sedang meratapi kembali pembantaian pendukungnya dua tahun lalu di
Jakarta
> (27 Juli �96). Kemudian ketika Desember tahun lalu terjadi bentrokan
> berdarah antara pendukung PDI dengan pendukung Golkar di Buleleng, Bali
> hingga ada yang tewas. Pantas saja bila Franz Magnis Suseno - pengamat
> sosial- jauh-jauh hari sembari khawatir sudah memperkirakan bahwa
kampanye
> mendatang akan diwarnai dengan kekerasan (Kompas 23/12/98).
> 
> Banyak Massa, Risiko Rusuh
> --------------------------
> Sebetulnya tidak seluruhnya kampanye berpotensi mendatangkan kerusuhan
dan
> kekerasan. Menurut Hikam, kampanye pemilu sebenarnya dikenal dua macam.
> Pertama, kampanye yang mengerahkan massa yang dikenal sebagai kampanye
> terbuka, semisal rapat akbar yang dihadiri banyak massa dan biasanya
> dilanjutkan dengan konvoi keliling kota. Cara yang kedua adalah berupa
> kampanye dialogis, yang mulai dipopulerkan pada pemilu yang lalu (1997).
> Namun, ia memperkirakan bahwa dalam masa kampanye nanti, cara yang
pertama
> tampaknya masih tetap dominan ketimbang cara yang dialogis. Masalahnya
bila
> hal itu yang terjadi, ancaman timbulnya kekerasan dan kerusuhan massal
amat
> besar. �Oleh sebab itu dalam kampanye nanti harus diwaspadai kemungkinan
> menjadi arena konflik-konflik horisontal,� ungkap peneliti senior LIPI
> (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) tersebut.
> 
> Wanti-wanti tersebut juga disepakati oleh pengamat politik lainnya - Eep
> Saefulloh Fatah - dengan membandingkan kondisi pemilu �55 yang sama-sama
> boros partai. Dengan mengesampingkan efek dari sulitnya kondisi ekonomi
saat
> ini, menurutnya hal itu disebabkan karena sudah sangat lama  kalangan
> politisi dan masyarakat tidak dibiasakan tradisi berbeda secara sehat 
dan
> berkompetisi secara dewasa. Ditambah ketika rezim Soeharto melakukan
> pembudayaan kekerasan sebagai instrumen stabilitas politik dan
pertumbuhan
> ekonomi, hingga saat ini masyarakat sangat familiar dan terbiasa dengan
> kekerasan. �Lagipula, kekeliruan pendekatan kampanye dengan
mengeksploitasi
> sentimen irasional massanya akan menjadi sumber konflik yang berasal dari
> tingkat partai politik,� ungkapnya di hadapan suatu forum diskusi di
Bandung
> (14/1/99).
> 
> Berbeda dengan kampanye 1955. Walau diikuti sekitar 120 partai tapi
tradisi
> berpolitik - seperti menerima perbedaan, berkompetisi yang sehat dan
menjadi
> pemenang dan pecundang yang baik - sudah ditanamkan sejak sepuluh tahun
> sebelumnya. �Jadi merujuk pada pengamatan Herbert Feith (pakar politik
> Australia) saat kampanye tahun 1955, ketika diantara kelompok-kelompok
> pendukung partai yang berbeda secara kebetulan bertemu, yang terjadi
malah
> tukar-tukaran yel, bukan batu seperti sekarang,� ujar Eep yang juga
Kepala
> Litbang harian Republika.
> 
> Tapi, serusuh-rusuhnya kampanye pengerahan massa, ternyata justru
berdampak
> strategis bagi partai. Menurut Mulyana Kusumah - Sekjen KIPP (Komite
> Independen Pemantau Pemilu), kampanye terbuka  secara kasat mata
menunjukkan
> kemampuan partai dalam memobilisasi massa. Makin banyak yang hadir, makin
> lebar pula senyuman para jurkam dan pimpinan partai yang merasa optimis
> meraih dukungan besar. �Jadi, lebih memperlihatkan kepada masyarakat
> seberapa besar dukungan simbolik massa terhadap partai yang bersangkutan.
> Makanya, bagi partai sangat penting mengadakan kampanye pengerahan
massa,�
> tutur sosok yang  menggusarkan rezim Soeharto menjelang Pemilu �97
tersebut.
> 
> Sedangkan pengamat politik Arbi Sanit  menilai sangat efektif bagi partai
> untuk berkampanye demikian. �Partai dapat mencapai massa yang luas. Kalau
> (kampanyenya) tertutup, massanya sedikit. Jadi nggak ter-cover,� tutur
> pengajar FISIP Universitas Indonesia tersebut.
> 
> Tapi apa nggak mengundang kerusuhan? �Oh musti ada dong. Dalam demokrasi
> musti ada kerusuhan. Diktator namanya kalau nggak ada kerusuhan. Yang
> penting kepentingan partai, stabilitasnya nomor dua. Nanti nggak
> demokratis,� ujarnya.
> 
> Namun pandangan ekstrim Arbi Sanit tersebut sangat kontradiktif dengan
> pandangan Riswandha Imawan  (pengamat politik). Menurutnya, kampanye yang
> damai justru merupakan barometer kehidupan politik suatu bangsa yang
makin
> demokratis. (Kompas 23/12/98).
> 
> Bikin Kesepakatan Antar Partai
> ------------------------------
> Bila demikian, partai-partai peserta kampanye tidak boleh berdiam diri.
Dari
> pihak partai harus ada upaya untuk meredam bentrokan dan kerusuhan hingga
> sekecil mungkin. Seperti yang diperingatkan oleh Franz Magnis dalam Forum
> Diskusi Wartawan Politik di Jakarta tahun lalu. �Kemungkinan kerusuhan
perlu
> diantisipasi  serius oleh partai-partai kalau tidak ingin terjadi
> malapetaka. Bahaya clash sangat besar kalau masing-masing partai justru
> egois,� ujarnya.
> 
> Peringatan tersebut juga ditanggapi secara teknis oleh Mulyana.
Maksudnya,
> sebelum masa kampanye, para partai bersama penyelenggara pemilu harus
> membuat kesepakatan bersama semacam kode etik yang mengatur partai untuk
> mengontrol massa pendukungnya agar tidak terjadi bentrokan. Lalu perlu
ada
> aturan agar setiap partai menghormati partai lain dan tidak
menginformasikan
> hal-hal yang menyesatkan tentang partai lawan. �Dengan demikian
diharapkan
> ada suatu kekuatan moral yang mengikat supaya tidak akan ada kekerasan
dalam
> kampanye. Selain itu, kode etik tersebut bisa menjadi bagian dari proses
> peredaan ketegangan sebelum dilangsungkannya pemilu,� harap Mulyana.
> 
> Jangan Terlalu Lama
> -------------------
> Bagaimana dengan  waktunya? Membludaknya keikutsertaan partai-partai baru
-
> maupun yang baru tapi lama - dalam pemilu nanti tentu akan menimbulkan
> kepusingan tersendiri. Betapa tidak, dalam kampanye yang lalu walau hanya
> diikuti tiga peserta, tapi bentrokan tetap tak terhindarkan seperti
kampanye
> pemilu �97. Selama 27 hari tercatat 70 nyawa melayang. Jakarta dan
> Banjarmasin sempat menikmati hujan batu dan lautan api akibat saling
> berhadapan antar pendukung partai yang berlainan.
> 
> Perlukah menambah masa kampanye?  Menurut pengamat hukum Unpar, Arief
> Sidharta, menyarankan agar masa kampanye jangan sampai didikte oleh
> banyaknya partai. �Partai-partainya yang harus menyesuaikan. Dengan waktu
> yang tidak terlalu lama, partai harus menyesuaikan diri, jangan sehari
> penuh,� ujar Arief.
> 
> Jadi, masa kampanye nanti yang hanya selama 20 hari atas hasil rapat
anggota
> LPU (Lembaga Pemilihan Umum) awal Februari lalu harus diterima oleh para
> partai peserta pemilu. Namun Ketua DPP Golkar, Marzuki Darusman, menilai
> waktu segitu sebenarnya masih kelamaan buat Golkar. � Itu justru lebih
> menguntungkan partai-partai baru ketimbang partai yang sudah punya basis
> pendukung kuat seperti Golkar,� ujarnya.
> 
> Lalu bagaimana cara mengaturnya? �Tiap partai tidak bisa lagi sehari
penuh.
> Dikasih batas waktu 4 jam misalnya, dan waktu tertentu untuk menarik
> massanya. Bisa saja satu hari diisi dua partai di satu kota. Dalam
sebulan
> saya kira satu partai dikasih kesempatan dua kali kampanye saja,� resep
> Mulyana Kusumah. Namun, waktu kampanye tersebut tentunya harus
berdasarkan
> kesepakatan antar partai dan bila ada yang melanggar, harus diberi
sanksi.
> 
> Namun di sisi lain Sri Bintang Pamungkas - Ketua Partai Uni Demokrat
> Indonesia (PUDI) - mengajukan alternatif lain. Agar tidak pusing
bagaimana
> mengontrol massa dalam kampanye, sebaiknya diadakan di beberapa kota
besar.
> �Nah, yang menyebarkan isi kampanye adalah koran, bukan orang yang
akhirnya
> bisa berkelahi satu sama lain. Bahkan dengan siaran pers yang bagus, maka
> tidak perlu di seluruh kota besar. Dipilih lima atau sepuluh kota saja,�
> ujar mantan napol tersebut.
> 
> �Selain itu, saya tidak setuju kalau kampanye terbuka. Bikin di tempat
yang
> tertutup. Tapi pada akhir masa kampanye mari kita ramai-ramai mengadakan
> pawai alegoris; pawai kepahlawanan yang penuh dengan persahabatan. Semua
> ikut dengan baju-baju indah dan kendaraan hias,� ujar Sri Bintang yang
> mengaku pernah menyatakan usulnya itu saat masih berkampanye dengan PPP
> tahun �92 lalu.
> 
> Keamanan Serahkan Saja Kepada Partai
> ------------------------------------
> Namun, siapa pun terutama pemerintah bisa-bisa kena hujat lagi bila
melarang
> partai apa pun untuk berkampanye secara terbuka dengan dalih belum
stabilnya
> kondisi keamanan. Padahal secara riil kondisinya memang demikian. Bahkan
-
> lagi-lagi - dengan berpijak pada rentetan peristiwa kekerasan dan
kerusuhan
> massal,  maka bukan tidak mungkin kondisi kampanye pemilu nanti mirip
dengan
> kampanye berdarah yang terjadi di Sri Lanka dan India pada awal-awal
dekade
> 90-an.
> 
> �Saya setuju itu. Apalagi dengan banyaknya partai yang ikut pemilu,
terutama
> yang berorientasi primordial itu begitu rupa dengan menggunakan
> bahasa-bahasa agama dan memunculkan primordialisme. Kita bisa lihat kasus
di
> Yogyakarta, Pekalongan, dan Buleleng. Belum apa-apa sudah ribut,� tutur
> Hikam.
> 
> Jadi bila kampanye terbuka dan potensi kekerasan di dalamnya tak dapat
> dicegah, lalu siapa yang sangat vital dan bertanggung jawab dalam
> meminimalisir kerusuhan dalam kampanye nanti? ABRI? �Jangan, nanti dia
> (ABRI-red) ikut-ikut campur lagi, nggak jujur lagi. Maksudnya, akan bisa
> menghalangi kesempatan berkampanye,� protes Arbi Sanit.
> 
> �Makanya,� lanjutnya lagi, �Masing-masing partai dikasih tanggung jawab.
> Kalau nggak, jangan dikasih kampanye. Itu harus masuk persyaratan. Jadi
> dalam kampanye, nggak ada ABRI dan Kamra (Keamanan Rakyat), hanya satuan
> tugas (satgas) partai yang bersangkutan. Baru dari radius 100-200 meter
> boleh ada ABRI atau keamanan lain,� begitu sarannya. Bila Arbi memprotes
> dominasi pengamanan dari ABRI, justru pengamat Hukum Bagir Manan sangat
> cemas terhadap ABRI. Bukannya meragukan kapabilitas pengamanan dari ABRI
> cuma, �Masyarakat sekarang purba sangka terhadap ABRI. Jadi kalau dia
maju
> ke depan, akan timbul prasangka negatif masyarakat hingga akhirnya muncul
> konflik. Lebih baik tangan lain yang melakukan, terutama dari
partai-partai
> dan masyarakat,� ujarnya.
> 
> Sadar akan hal itu, dari kalangan partai pun diantaranya sudah bersiap
> mengantisipasi kerusuhan kampanye nanti. �Sesuai dengan pesan Gus Dur,
maka
> warga NU (Nahdlatul Ulama) termasuk PKB dianjurkan membentuk suatu
kesatuan
> semacam Banser untuk bisa memberikan keamanan kepada masyarakat, minimal
> melokalisir bila ada kerusuhan,� ujar Ketua PKB (Partai Kebangkitan
Bangsa)
> wilayah Jawa Barat - KH. Habib Syarif Muhammad.
> 
> Sedangkan Mulyana melihatnya dari sisi lain, yaitu pentingnya peranan
> kalangan muda mengingat dipastikan mereka akan mendominasi partisipasi
dalam
> kampanye terbuka. �Kalangan ini sangat berkepentingan dengan atraktivitas
> dalam masa kampanye. Karena usai kampanye akbar mereka masih dimungkinkan
> melakukan segala macam atraksi. Jadi bagaimana kaum muda ini diserahi
> tanggung jawab untuk mengendalikan massa sehingga terhindar dari
bentrokan
> massa pendukung partai lain dan tidak mengganggu kepentingan umum,�
ujarnya.
> 
> Semua tokoh tersebut yakin bakal ada kerusuhan dan kekerasan dalam
kampanye
> nanti. Namun, hal mengerikan itu bisa diredam seminimal mungkin lewat
> cara-cara tadi. Karena,�Pemilu itu harganya mahal, rakyat juga capek,
waktu
> banyak terbuang, orang takut berdagang, dan sebagainya.�, keluh Hikam.
> 
>
===========================================================================
> KAMPANYE DIALOGIS:
> MASIHKAH DIANGGAP AKSESORIS?
>
===========================================================================
> 
> Nampaknya keraguan tersebut akan melekat dalam masa kampanye nanti.
> Penyebabnya: masih dominannya komunikasi politik tradisional yang
monolog.
> 
> Tengok Pemilu �97 lalu. Setahun sebelumnya - dalam PP. no 74/1996 tentang
> pelaksanaan UU Pemilu - pemerintah mengeluarkan seperangkat peraturan
yang
> mengatur jalannya kampanye. Salah satunya adalah melarang pendukung
partai
> melakukan arak-arakan (pawai) keliling kota - yang biasanya menggunakan
> kendaraan bermotor. Hal itu dimaksudkan sebagai salah satu upaya meredam
> kampanye pengerahan massa yang selalu menjadi tradisi.
> 
> Sebagai gantinya, pemerintah menyarankan bentukan yang baru, yakni
kampanye
> dialogis. Kampanye ini memusatkan pada pertemuan lingkup kecil, biasanya
di
> ruangan tertutup, dimana juru kampanye (jurkam) atau anggota suatu partai
> memberi kesempatan kepada pengunjung untuk bertanya, yang dipandu oleh
> seorang moderator netral. Komunikasi yang dialogis serta  argumentasi
yang
> rasional antara massa dengan jurkam merupakan tujuan dari kampanye ini.
> Karena tidak ada pengerahan massa yang besar, maka kampanye ini sangat
> tergantung pada media elektronik dan cetak untuk mempublikasikannya
kepada
> khalayak calon pemilih.
> 
> Toh aturan itu ibarat �masuk kuping kiri, keluar kuping kanan�. Nyatanya
-
> merujuk pada laporan National Democratic Institute (lembaga penelitian
> Amerika Serikat) - kampanye �97 lalu tak jauh beda dengan yang
sebelumnya.
> Arak-arakan kendaraan bermotor tiap usai rapat akbar - uniknya dalam
rapat
> itu selalu diselingi pagelaran musik dangdut - baik dari PPP, Golkar, dan
> PDI tetap saja berlangsung. Walhasil  kerusuhan dan kekerasan
bermunculan.
> Kampanye dialogis yang diharapkan sebagai peredam kampanye terbuka
akhirnya
> dipandang sebagai aksesoris belaka.
> 
> Kenapa? Mulanya baik PDI dan PPP merasa keberatan bila moderator yang
> dipilih hanya sesuai selera penyelenggara pemilu (pemerintah) , karena
> dianggap tidak obyektif. Namun, meski akhirnya pemerintah memberi
kesempatan
> tiap partai untuk menunjuk moderator sesuai selera mereka, toh
arak-arakan
> tetap jalan terus.
> 
> Menurut pengamat politik LIPI - M. Hikam - kampanye dialogis pada pemilu
> nanti masih tetap kurang populer. Itu disebabkan secara faktual tradisi
> kampanye dialogis masih belum banyak dilakukan dan terlebih lagi
masyarakat
> dan sebagian besar tokoh politik masih menggunakan sistem komunikasi
> tradisional, seperti provokasi dan ketiadaan dialog. Lagipula, banyaknya
> partai baru yang masih sangat kering akan dukungan publik tampaknya juga
> turut berpotensi dominannya kampanye pengerahan massa.
> 
> Padahal kampanye dialogis idealnya juga termasuk cara yang efektif untuk
> menjaring pendukung selain mencegah bentrokan dan kerusuhan, seperti
> diutarakan oleh Feisal Basri  - Sekjen PAN.  Kendati tampil sebagai
> politisi, ia justru menilai kampanye dialogis lebih efektif daripada
> pengerahan massa dalam menjaring suara dari kalangan awam. ��..sedangkan
> yang ingin kita raih adalah mereka yang semula apatis kemudian memilih
PAN.
> Penyadaran seperti ini hanya efektif melalui kampanye dialogis,� ujar
ekonom
> Universitas Indonesia itu kepada harian Kompas (8/1/99).
> 
> Hal senada juga diutarakan oleh Arief Sidharta - pengamat hukum. Bahkan,
ia
> merasa optimis bahwa kampanye dialogis akan lebih efektif dengan
> memanfaatkan canggihnya perkembangan teknologi yang ada pada media massa.
> Artinya, peraturan tentang perlunya kampanye dialogis harus
dipertahankan.
> Ia juga memastikan penggunaan internet pun mulai populer di kalangan
> masyarakat  ketimbang dua tahun lalu, sehingga harus dimanfaatkan
seefektif
> mungkin oleh partai sebagai sarana alternatif kampanye dialogis. �Jadi
bisa
> mengurangi terjadinya kerusuhan dan dari segi finansial akan lebih
murah,�
> ujar pengajar senior Fakultas Hukum Unpar tersebut. Ia pun menambahkan
bahwa
> dengan kampanye dialogis dari segi pendidikan politik akan mendidik
rakyat
> untuk membiasakan diri mengambil keputusan dengan
pertimbangan-pertimbangan
> rasional. Tidak hanya sekadar luapan emosi saja.
> 
> Namun demikian pengamat hukum Bagir Manan mengajukan catatan kecil untuk
> mengefektifkan kampanye dialogis  Artinya penikmat kampanye tersebut
tidak
> hanya terbatas tokoh partai atau jurkam dengan kader partainya seperti
> pemilu �97, tapi tokoh dan kader partai harus tampil di hadapan publik
awam.
> �Misalnya kalau saya jurkam di partai A sedang berpresentasi, yang
> berdiskusi dengan saya jangan dari kader partai saya, tapi khususnya
dengan
> kalangan muda dan mahasiswa, sehingga suasananya menjadi tidak kosmetis�
> tutur guru besar Fakultas Hukum Unpad (Universitas Padjajaran) tersebut.
> 
> Tips dari Bagir tersebut ditindak lanjuti oleh  Ali Masykur Musa - Ketua
> Biro Pusat Organisasi dan Pemuda PKB. Menurut Ali kampanye dialogis
jangan
> hanya saat menjelang pemilu saja, karena bentuk kampanye tersebut
merupakan
> awal proses pendidikan politik, yang tak hanya meraup massa tapi juga
> mendidik, mengadvokasi, dan membimbing mereka. �Agar tak lagi dianggap
tidak
> populer, maka kampanye dialogis harus diteruskan dengan pendidikan yang
> lebih lanjut. Bukan hanya saat di televisi maupun tatap muka saja,�
ujarnya.
> Kalau begitu, kampanye dialogis bagi tiap partai dijamin bakal efektif
> ketimbang masa pemilu sebelumnya. Ataukah masih dipandang aksesoris
belaka?
> 
>
===========================================================================
> MUHAMMAD A.S. HIKAM (PENGAMAT POLITIK DAN PENELITI LIPI):
> �KAMPANYE BISA MENJADI AJANG KONFLIK HORISONTAL�
>
===========================================================================
> 
> Sebelum berangkat ke Malang sebagai pembicara suatu forum, paginya
Muhammad
> A.S. Hikam menyempatkan diri memberikan pandangannya tentang kampanye
pemilu
> mendatang kepada ParaHyangan.  Walau agak mustahil melihat saat kampanye
> nanti akan bersih dari kerusuhan, namun peneliti senior Lembaga Ilmu
> Pengetahuan Indonesia (LIPI)  tersebut tidak setuju jika kerusuhan dalam
> kampanye nanti merupakan tahapan menuju demokrasi. Maka ia pun memberikan
> beberapa cara agar potensi kerusuhan bisa diredam hingga seminim mungkin.
> Berikut wawancaranya dengan ParaHyangan di gedung LIPI, Jakarta..
> 
> (ParaHyangan) Apa prediksi Anda tentang kampanye nanti?
> 
> (Hikam) Kampanye itu �kan berupa dua hal, pengerahan massa dan dialog.
Tapi
> menurut saya pengerahan massa tampaknya akan masih dominan. Bila
demikian,
> maka ancaman kerusuhan dan kekerasan dalam masa pemilu tersebut juga amat
> besar. Oleh sebab itu, dalam kampanye nanti harus diwaspadai kemungkinan
> menjadi arena konflik-konflik horisontal.
> 
> (ParaHyangan) Artinya kampanye dialogis nanti masih belum populer?
> 
> (Hikam) Dalam masyarakat kita, tradisi kampanye dialogis kan belum banyak
> dilakukan. Pada pemilu terakhir saja (1997), walau dianjurkan penonjolan
> kampanye dialogis, tapi tetap saja lebih banyak pengerahan massa. Bagi
> partai-partai, kampanye seperti itu ternyata lebih efektif, karena bisa
> menjual gagasan-gagasannya dengan bahasa yang provokatif dan mengkritik
> lawan-lawannya sangat terbuka. Itu kan sesuai dengan realitas masyarakat
> kita yang masih belum banyak berorientasi pada adu program secara
rasional
> dan berbeda pendapat. Barangkali untuk ke arah sana masih lama, tapi
harus
> diusahakan sehingga pada akhirnya komposisi kampanye dialogis menjadi
lebih
> besar.
> 
> (ParaHyangan) Jadi partai sangat berkompeten mengerahkan massa saat
> berkampanye?
> 
> (Hikam) Saya tidak mengatakan perlu tidaknya. Tapi memang kenyataannya
> begitu. Karena seperti tadi, masyarakat dan tokoh-tokoh politik kita
masih
> menggunakan sistem komunikasi tradisional, seperti provokasi dan tiadanya
> dialog. Kampanye �kan sama saja dengan iklan.
> 
> (ParaHyangan) Tapi apa boleh mengutarakan kelemahan saingan-saingannya?
> 
> (Hikam) Ya boleh saja. Namanya juga iklan. Tapi persoalannya sampai
sejauh
> mana itu bisa diterima dan disampaikan. Kalau misalnya menjelekkan partai
> lain sangat vulgar, marah kan mereka. Jadi masih harus ada semacam etika
> berkampanye, apa yang boleh dikatakan dan yang tidak. Nggak boleh ngawur
dan
> fitnah. Tapi dari (kampanye) dan terkadang kita mendengar para tokoh
politik
> sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang emosional. Celakanya,
> bukannya menahan, justru malah memancing emosi orang lain.
> 
> (ParaHyangan) Jadi kampanye pengerahan massa itu riskan sekali dengan
> kerusuhan?
> 
> (Hikam) Sangat rawan terhadap kekerasan politik dan menurut saya itu akan
> menjadi sumber kekerasan politik yang terjadi tahun ini. Tapi bagi saya
> sangat sulit membayangkan bila ada pelarangan kampanye terbuka itu.
> 
> (ParaHyangan) Dengan maraknya kejadian kekerasan belakangan ini, bahkan
ada
> kasus pemboman gedung, sampai-sampai ada yang mengkaitkan situasi
kampanye
> nanti tak kalah rawannya seperti yang terjadi di Sri Lanka maupun India�
> 
> (Hikam) Saya setuju itu. Kita bisa lihat kasus-kasus tahun lalu di
> Yogyakarta, di Pekalongan dimana orang PPP ribut dengan orang PKB, dan
> terakhir di Buleleng hingga akhirnya ada yang tewas. Jadi potensi atau
> indikasi untuk chaos sudah ada, walau saya tidak mengatakan mesti akan
> begitu.
> 
> (ParaHyangan) Tapi seorang pengamat menyatakan bahwa kerusuhan dalam
> kampanye nanti merupakan hal wajar sebagai tahapan menuju demokrasi�
> 
> (Hikam) Jelas itu salah. Justru kerusuhan itu menjadi indikator kampanye
itu
> baik apa tidak. Bila dalam kampanye semakin kotor dan rusuh, berarti ada
> sesuatu yang salah. Ada komunikasi politik yang keliru. Memang kerusuhan
itu
> menandakan bahwa demokrasi belum matang. Tapi nggak ada aturan kalau
supaya
> demokrasi harus ada kerusuhan. Justru supaya demokrasi, kita harus
> menghindari kekerasan politik.
> 
> (ParaHyangan) Kalau begitu bagaimana pengaturan keamanannya? Apakah
partai
> memikul keamanan yang sangat besar?
> 
> (Hikam) Yang bisa dilakukan adalah bagaimana menghimbau dan meminta agar
> partai ikut bertanggung jawab dalam hal keamanan. Ya, harus ada
pengamanan
> internal dan eksternal. Pengamanan internal menjadi tanggung jawab partai
> yang bersangkutan. Sedangkan yang eksternal adalah bagiannya aparat
> keamanan.
> 
> (ParaHyangan) Waktu masa kampanye rencananya kurang dari sebulan. Apa
cukup?
> 
> (Hikam) Partai-partainya yang harus menyesuaikan. Sebab tidak mungkin
kita
> punya waktu panjang untuk pemilu. Semakin lama, maka akan makin riskan
juga
> 
> (ParaHyangan) Jadi format kampanye seperti apa yang Anda harapkan?
> 
> (Hikam) Ya itu tadi, ada pengerahan massa dan dialog. Tapi jumlahnya
harus
> diatur sedemikian rupa hingga yang namanya pengerahan massa itu semakin
lama
> semakin sedikit. Kalau perlu, diarahkan sampai tidak ada pengerahan massa
> sama sekali.  Soalnya pemilu itu harganya mahal, rakyat juga capek, waktu
> banyak terbuang, orang takut berdagang, dan sebagainya. Tapi  tidak bisa
> diwujudkan sekarang. Untuk saat ini masih sangat sulit membayangkan jika
ada
> pelarangan kampanye pengerahan massa, karena akan diprotes banyak pihak.
> 
>
===========================================================================
> PROFIL PENULIS: RENEE ALEXANDER
>
===========================================================================
> 
> Wartawan yang satu ini memang terkenal ambisius dan suka ngeyel. Selain
> menjadi Pemimpin Umum ParaHyangan selama 2 periode berturut-turut, bonus
> ParaHyangan kali ini adalah buktinya. Awalnya sederhana, pria yang kuliah
di
> jurusan Hubungan Internasional Unpar ini  ingin membuktikan bahwa sebuah
> laporan besar tak membutuhkan tim yang besar. Dibantu �informan�
> terdekatnya, Paulus Winarto, jadilah liputan ini.
> 
>
===========================================================================
> Majalah ParaHyangan diterbitkan oleh:
> ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa
>
===========================================================================
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ------------------------------------------------------------------------
> eGroups Spotlight:
> "Kosovo-Reports" - Direct reports from Kosovo/Serbia/Yugoslavia.
> http://offers.egroups.com/click/252/0
> 
> eGroup home: http://www.eGroups.com/list/mimbarbebas
> Free Web-based e-mail groups by eGroups.com
> 

------------------------------------------------------------------------
eGroups Spotlight:
"Kosovo-Reports" - Direct reports from Kosovo/Serbia/Yugoslavia.
http://offers.egroups.com/click/252/0

eGroup home: http://www.eGroups.com/list/mimbarbebas
Free Web-based e-mail groups by eGroups.com

Kirim email ke