> > > > > hi...... mau duit...... klik saja........ > > > > > http://xtracash.webjump.com/000340.html > > > > > > > > > > ada yang baru nih......penghasilan tanpa batas dan dijamin pasti > > > > dapat..... > > > > > end .....syaratnya mudah > > > > > dan mendapatkan bonus terus-terus....dan terus........ > > > > > hanya mengklik...... http://xtracash.webjump.com/000340.html > > > > > > > > > > ayoooooo segera...... > > > > > > > > > > ################## > > > > > ingin bonus abadi silakan klik : > > > > > http://xtracash.webjump.com/000340.html > > > > > http://www.ratesaver.com.au/index.htm?$i5nk > > > > > ================================================= > ---------- > From: Majalah ParaHyangan <[EMAIL PROTECTED]> > To: Adolf Simon Partogi Lumban Tobing <[EMAIL PROTECTED]>; Samiaji Sarosa <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>; BULAKSUMUR <[EMAIL PROTECTED]>; Balairung <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Gita Kelana <[EMAIL PROTECTED]>; PPI <[EMAIL PROTECTED]>; Bima Arya Sugiarto <[EMAIL PROTECTED]>; Darel Ariadi <[EMAIL PROTECTED]>; Banyu Perwita <[EMAIL PROTECTED]>; PERMIAS <[EMAIL PROTECTED]>; Arman <[EMAIL PROTECTED]>; Xpos <[EMAIL PROTECTED]>; AJInews <[EMAIL PROTECTED]>; Arsitektur ITB <[EMAIL PROTECTED]>; DR-BDG <[EMAIL PROTECTED]>; Fisip Unpad <[EMAIL PROTECTED]>; Fridiawati Sulungbudi <[EMAIL PROTECTED]>; Hanzo "The Ghost" Hattori <[EMAIL PROTECTED]>; Indonesian Development Studies <[EMAIL PROTECTED]>; IPB Students <[EMAIL PROTECTED]>; Rani Elsanti Ambyo <[EMAIL PROTECTED]>; Teknik Fisika ITB <[EMAIL PROTECTED]>; UGM <[EMAIL PROTECTED]>; Unair <[EMAIL PROTECTED]>; Unisba <[EMAIL PROTECTED]>; Universitas Islam Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>; Universitas Mataram Network <[EMAIL PROTECTED]>; Unpad <[EMAIL PROTECTED]>; Wimar Witoelar <[EMAIL PROTECTED]>; PERMIAS-Denver <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; RCTI <[EMAIL PROTECTED]>; Kompas <[EMAIL PROTECTED]>; Samin <[EMAIL PROTECTED]>; GATRA <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; FORDEMIAS <[EMAIL PROTECTED]>; Indonesia List <[EMAIL PROTECTED]>; IndoProtest Maintainer <[EMAIL PROTECTED]>; Liputan 6 <[EMAIL PROTECTED]>; Gerakan Sarjana Jakarta <[EMAIL PROTECTED]>; Ali Hao <[EMAIL PROTECTED]>; Forum <[EMAIL PROTECTED]>; Surabaya Post <[EMAIL PROTECTED]>; SCTV <[EMAIL PROTECTED]>; Tempo Interaktif <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; Yulius <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; V. Ivan Yohan <[EMAIL PROTECTED]>; Pipit <[EMAIL PROTECTED]>; Dheasy <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Flora <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Palwijaya Palanara <[EMAIL PROTECTED]>; UKPKM TEKNOKRA <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Majalah Tempo <[EMAIL PROTECTED]>; Majalah Pilar <[EMAIL PROTECTED]>; LP3ES <[EMAIL PROTECTED]>; SIAR <[EMAIL PROTECTED]>; MAJALAH TAJUK <[EMAIL PROTECTED]>; MAJALAH SINAR <[EMAIL PROTECTED]>; MAJALAH REM <[EMAIL PROTECTED]>; DETAK <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > Subject: [mimbarbebas] NANTIKAN RUSUHNYA KAMPANYE... > Date: 05 April 1999 10:09 > > =========================================================================== > ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa > =========================================================================== > > =========================================================================== > NANTIKAN RUSUHNYA KAMPANYE... > =========================================================================== > > Moga-moga saja kampanye pemilu nanti tidak rusuh. Rusuh? Lha wong seorang > sopir taksi saja jauh-jauh hari berani menyatakan ketakutannya akan > kampanye nanti. Bahkan seorang pengamat politik pun berani bilang sangat > utopis bila kampanye nanti akan penuh damai. Bukannya pesimis, wajar saja > karena logikanya memang begitu. Tengok kampanye pemilu �97. Cuma dilakoni > tiga peserta saja sudah menghilangkan 234 nyawa dan memporak-porandakan > Banjarmasin, Jakarta, dan kota-kota lain di Jawa. Sekali lagi, itu baru > tiga partai. > > Sekarang, sejak orde Soeharto dianggap sudah lengser, kebebasan berpolitik > termasuk membentuk partai pun bukan ide haram lagi. Tapi Masya Allah, > jumlahnya malah kebablasan melewati dua digit. Walau yang akan ikut pemilu > "hanya" 48, toh mungkin sekali bila diantara ke-48 partai yang berkampanye > nanti bakal memunculkan pernik-pernik kerusuhan. > > Akan lebih dahsyat? Bisa jadi, kalau memperhatikan maraknya kekerasan dan > kerusuhan massal akhir-akhir ini. > > Tapi, bukan berarti cuma menunggu sambil bersikap pesimis saja. Agar > kerusuhan yang ditimbulkan saat kampanye nanti tidak sebrutal saat Tragedi > Mei �98 dan kerusuhan-kerusuhan lainnya, ada beberapa hal yang harus > diperhatikan, terutama oleh partai-partai yang akan berhajatan-ria nanti. > > Mengapa kerusuhan akan tetap terjadi? Apa tindakan yang harus dilakukan > untuk menekannya sekecil mungkin? Jawabannya ada pada sederet pengamat dan > praktisi politik berikut ini�. > > =========================================================================== > KAMPANYE PEMILU�99 > PENANTIAN YANG MERESAHKAN > =========================================================================== > > �Pemilihan Umum telah memanggil kita... Seluruh rakyat menyambut gembira...� > > Andai lirik lagu �Pemilihan Umum� tersebut digubah menjelang Pemilu �99 > nanti, si pencipta - bila realistis - tentunya akan berpikir ulang > mencantumkan kata �gembira�. Soalnya, mulai dari supir taksi, peramal, > sampai pengamat kelas wahid pun justru berprihatin ria menyambut pemilu > mendatang. �Gimana nggak ngeri Mas, yang kemaren aja udeh rusuh,� ungkap > Fachrudin di balik kemudi taksi Cendrawasih-nya sambil mengingat peristiwa > Ketapang, Kupang, dan peristiwa lain berbau rusuh yang masih di benaknya. > �Kampanye nanti bisa menjadi sumber dari kekerasan politik yang terjadi > tahun ini (1999-red),� begitu analisa pengamat politik, Muhammad A.S. Hikam. > Sedangkan dalam acara Liputan 6 siang - 1 Januari 1999 - seorang peramal > asing kepada Ira Koesno (presenter) meramalkan bahwa tahun ini situasi di > Indonesia kian buruk. Salah satunya akibat kerusuhan saat kampanye pemilu. > > Dari lontaran kesan dan opini beberapa kalangan tersebut menandakan bahwa > yang menjadi kekhawatiran utama di Indonesia pada tahun kelinci ini bukan > masalah pemilunya, tapi acara penyambutannya. Apalagi kalau bukan kampanye > yang resminya akan berlangsung dari 16 Mei-6Juni 1999. Bahkan dari kalangan > politisi pun yang nantinya ikut terlibat, juga tak kalah khawatirnya. > �Kampanye pemilu nanti saya rasa akan potensial mengandung kerusuhan,� ujar > Amien Rais - Ketua PAN (Partai Amanat Nasional) - usai mendeklarasikan > berdirinya PAN Jawa Barat di Bandung, Desember �98. > > Lontaran Amien Rais tersebut bisa jadi merupakan suatu penantian yang tak > diinginkan oleh masyarakat. Wajar saja, bila rentetan peristiwa di tanah > air sepanjang tahun 1998 hingga awal tahun ini - yang penuh dengan kekerasan > dan kerusuhan massal - menjadi indikator rusuh tidaknya kampanye pemilu > nanti. Sejak pergolakan dan lengser-nya Soeharto beserta Orba-nya, kekerasan > dan kerusuhan massal tetap bergulir�. bahkan kian marak. Mulai tragedi Tri > Sakti hingga - sampai saat ini - kerusuhan di Ambon. > > Ironisnya, antar pendukung partai politik yang berlainan juga ikut-ikutan > dalam rentetan kerusuhan itu. Padahal kampanye-nya sendiri belum resmi > dimulai. Bentrokan antara massa PDI (Partai Demokrasi Indonesia) dengan > pendukung PPP (Partai Persatuan Pembangunan) terjadi di Yogyakarta saat PDI > sedang meratapi kembali pembantaian pendukungnya dua tahun lalu di Jakarta > (27 Juli �96). Kemudian ketika Desember tahun lalu terjadi bentrokan > berdarah antara pendukung PDI dengan pendukung Golkar di Buleleng, Bali > hingga ada yang tewas. Pantas saja bila Franz Magnis Suseno - pengamat > sosial- jauh-jauh hari sembari khawatir sudah memperkirakan bahwa kampanye > mendatang akan diwarnai dengan kekerasan (Kompas 23/12/98). > > Banyak Massa, Risiko Rusuh > -------------------------- > Sebetulnya tidak seluruhnya kampanye berpotensi mendatangkan kerusuhan dan > kekerasan. Menurut Hikam, kampanye pemilu sebenarnya dikenal dua macam. > Pertama, kampanye yang mengerahkan massa yang dikenal sebagai kampanye > terbuka, semisal rapat akbar yang dihadiri banyak massa dan biasanya > dilanjutkan dengan konvoi keliling kota. Cara yang kedua adalah berupa > kampanye dialogis, yang mulai dipopulerkan pada pemilu yang lalu (1997). > Namun, ia memperkirakan bahwa dalam masa kampanye nanti, cara yang pertama > tampaknya masih tetap dominan ketimbang cara yang dialogis. Masalahnya bila > hal itu yang terjadi, ancaman timbulnya kekerasan dan kerusuhan massal amat > besar. �Oleh sebab itu dalam kampanye nanti harus diwaspadai kemungkinan > menjadi arena konflik-konflik horisontal,� ungkap peneliti senior LIPI > (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) tersebut. > > Wanti-wanti tersebut juga disepakati oleh pengamat politik lainnya - Eep > Saefulloh Fatah - dengan membandingkan kondisi pemilu �55 yang sama-sama > boros partai. Dengan mengesampingkan efek dari sulitnya kondisi ekonomi saat > ini, menurutnya hal itu disebabkan karena sudah sangat lama kalangan > politisi dan masyarakat tidak dibiasakan tradisi berbeda secara sehat dan > berkompetisi secara dewasa. Ditambah ketika rezim Soeharto melakukan > pembudayaan kekerasan sebagai instrumen stabilitas politik dan pertumbuhan > ekonomi, hingga saat ini masyarakat sangat familiar dan terbiasa dengan > kekerasan. �Lagipula, kekeliruan pendekatan kampanye dengan mengeksploitasi > sentimen irasional massanya akan menjadi sumber konflik yang berasal dari > tingkat partai politik,� ungkapnya di hadapan suatu forum diskusi di Bandung > (14/1/99). > > Berbeda dengan kampanye 1955. Walau diikuti sekitar 120 partai tapi tradisi > berpolitik - seperti menerima perbedaan, berkompetisi yang sehat dan menjadi > pemenang dan pecundang yang baik - sudah ditanamkan sejak sepuluh tahun > sebelumnya. �Jadi merujuk pada pengamatan Herbert Feith (pakar politik > Australia) saat kampanye tahun 1955, ketika diantara kelompok-kelompok > pendukung partai yang berbeda secara kebetulan bertemu, yang terjadi malah > tukar-tukaran yel, bukan batu seperti sekarang,� ujar Eep yang juga Kepala > Litbang harian Republika. > > Tapi, serusuh-rusuhnya kampanye pengerahan massa, ternyata justru berdampak > strategis bagi partai. Menurut Mulyana Kusumah - Sekjen KIPP (Komite > Independen Pemantau Pemilu), kampanye terbuka secara kasat mata menunjukkan > kemampuan partai dalam memobilisasi massa. Makin banyak yang hadir, makin > lebar pula senyuman para jurkam dan pimpinan partai yang merasa optimis > meraih dukungan besar. �Jadi, lebih memperlihatkan kepada masyarakat > seberapa besar dukungan simbolik massa terhadap partai yang bersangkutan. > Makanya, bagi partai sangat penting mengadakan kampanye pengerahan massa,� > tutur sosok yang menggusarkan rezim Soeharto menjelang Pemilu �97 tersebut. > > Sedangkan pengamat politik Arbi Sanit menilai sangat efektif bagi partai > untuk berkampanye demikian. �Partai dapat mencapai massa yang luas. Kalau > (kampanyenya) tertutup, massanya sedikit. Jadi nggak ter-cover,� tutur > pengajar FISIP Universitas Indonesia tersebut. > > Tapi apa nggak mengundang kerusuhan? �Oh musti ada dong. Dalam demokrasi > musti ada kerusuhan. Diktator namanya kalau nggak ada kerusuhan. Yang > penting kepentingan partai, stabilitasnya nomor dua. Nanti nggak > demokratis,� ujarnya. > > Namun pandangan ekstrim Arbi Sanit tersebut sangat kontradiktif dengan > pandangan Riswandha Imawan (pengamat politik). Menurutnya, kampanye yang > damai justru merupakan barometer kehidupan politik suatu bangsa yang makin > demokratis. (Kompas 23/12/98). > > Bikin Kesepakatan Antar Partai > ------------------------------ > Bila demikian, partai-partai peserta kampanye tidak boleh berdiam diri. Dari > pihak partai harus ada upaya untuk meredam bentrokan dan kerusuhan hingga > sekecil mungkin. Seperti yang diperingatkan oleh Franz Magnis dalam Forum > Diskusi Wartawan Politik di Jakarta tahun lalu. �Kemungkinan kerusuhan perlu > diantisipasi serius oleh partai-partai kalau tidak ingin terjadi > malapetaka. Bahaya clash sangat besar kalau masing-masing partai justru > egois,� ujarnya. > > Peringatan tersebut juga ditanggapi secara teknis oleh Mulyana. Maksudnya, > sebelum masa kampanye, para partai bersama penyelenggara pemilu harus > membuat kesepakatan bersama semacam kode etik yang mengatur partai untuk > mengontrol massa pendukungnya agar tidak terjadi bentrokan. Lalu perlu ada > aturan agar setiap partai menghormati partai lain dan tidak menginformasikan > hal-hal yang menyesatkan tentang partai lawan. �Dengan demikian diharapkan > ada suatu kekuatan moral yang mengikat supaya tidak akan ada kekerasan dalam > kampanye. Selain itu, kode etik tersebut bisa menjadi bagian dari proses > peredaan ketegangan sebelum dilangsungkannya pemilu,� harap Mulyana. > > Jangan Terlalu Lama > ------------------- > Bagaimana dengan waktunya? Membludaknya keikutsertaan partai-partai baru - > maupun yang baru tapi lama - dalam pemilu nanti tentu akan menimbulkan > kepusingan tersendiri. Betapa tidak, dalam kampanye yang lalu walau hanya > diikuti tiga peserta, tapi bentrokan tetap tak terhindarkan seperti kampanye > pemilu �97. Selama 27 hari tercatat 70 nyawa melayang. Jakarta dan > Banjarmasin sempat menikmati hujan batu dan lautan api akibat saling > berhadapan antar pendukung partai yang berlainan. > > Perlukah menambah masa kampanye? Menurut pengamat hukum Unpar, Arief > Sidharta, menyarankan agar masa kampanye jangan sampai didikte oleh > banyaknya partai. �Partai-partainya yang harus menyesuaikan. Dengan waktu > yang tidak terlalu lama, partai harus menyesuaikan diri, jangan sehari > penuh,� ujar Arief. > > Jadi, masa kampanye nanti yang hanya selama 20 hari atas hasil rapat anggota > LPU (Lembaga Pemilihan Umum) awal Februari lalu harus diterima oleh para > partai peserta pemilu. Namun Ketua DPP Golkar, Marzuki Darusman, menilai > waktu segitu sebenarnya masih kelamaan buat Golkar. � Itu justru lebih > menguntungkan partai-partai baru ketimbang partai yang sudah punya basis > pendukung kuat seperti Golkar,� ujarnya. > > Lalu bagaimana cara mengaturnya? �Tiap partai tidak bisa lagi sehari penuh. > Dikasih batas waktu 4 jam misalnya, dan waktu tertentu untuk menarik > massanya. Bisa saja satu hari diisi dua partai di satu kota. Dalam sebulan > saya kira satu partai dikasih kesempatan dua kali kampanye saja,� resep > Mulyana Kusumah. Namun, waktu kampanye tersebut tentunya harus berdasarkan > kesepakatan antar partai dan bila ada yang melanggar, harus diberi sanksi. > > Namun di sisi lain Sri Bintang Pamungkas - Ketua Partai Uni Demokrat > Indonesia (PUDI) - mengajukan alternatif lain. Agar tidak pusing bagaimana > mengontrol massa dalam kampanye, sebaiknya diadakan di beberapa kota besar. > �Nah, yang menyebarkan isi kampanye adalah koran, bukan orang yang akhirnya > bisa berkelahi satu sama lain. Bahkan dengan siaran pers yang bagus, maka > tidak perlu di seluruh kota besar. Dipilih lima atau sepuluh kota saja,� > ujar mantan napol tersebut. > > �Selain itu, saya tidak setuju kalau kampanye terbuka. Bikin di tempat yang > tertutup. Tapi pada akhir masa kampanye mari kita ramai-ramai mengadakan > pawai alegoris; pawai kepahlawanan yang penuh dengan persahabatan. Semua > ikut dengan baju-baju indah dan kendaraan hias,� ujar Sri Bintang yang > mengaku pernah menyatakan usulnya itu saat masih berkampanye dengan PPP > tahun �92 lalu. > > Keamanan Serahkan Saja Kepada Partai > ------------------------------------ > Namun, siapa pun terutama pemerintah bisa-bisa kena hujat lagi bila melarang > partai apa pun untuk berkampanye secara terbuka dengan dalih belum stabilnya > kondisi keamanan. Padahal secara riil kondisinya memang demikian. Bahkan - > lagi-lagi - dengan berpijak pada rentetan peristiwa kekerasan dan kerusuhan > massal, maka bukan tidak mungkin kondisi kampanye pemilu nanti mirip dengan > kampanye berdarah yang terjadi di Sri Lanka dan India pada awal-awal dekade > 90-an. > > �Saya setuju itu. Apalagi dengan banyaknya partai yang ikut pemilu, terutama > yang berorientasi primordial itu begitu rupa dengan menggunakan > bahasa-bahasa agama dan memunculkan primordialisme. Kita bisa lihat kasus di > Yogyakarta, Pekalongan, dan Buleleng. Belum apa-apa sudah ribut,� tutur > Hikam. > > Jadi bila kampanye terbuka dan potensi kekerasan di dalamnya tak dapat > dicegah, lalu siapa yang sangat vital dan bertanggung jawab dalam > meminimalisir kerusuhan dalam kampanye nanti? ABRI? �Jangan, nanti dia > (ABRI-red) ikut-ikut campur lagi, nggak jujur lagi. Maksudnya, akan bisa > menghalangi kesempatan berkampanye,� protes Arbi Sanit. > > �Makanya,� lanjutnya lagi, �Masing-masing partai dikasih tanggung jawab. > Kalau nggak, jangan dikasih kampanye. Itu harus masuk persyaratan. Jadi > dalam kampanye, nggak ada ABRI dan Kamra (Keamanan Rakyat), hanya satuan > tugas (satgas) partai yang bersangkutan. Baru dari radius 100-200 meter > boleh ada ABRI atau keamanan lain,� begitu sarannya. Bila Arbi memprotes > dominasi pengamanan dari ABRI, justru pengamat Hukum Bagir Manan sangat > cemas terhadap ABRI. Bukannya meragukan kapabilitas pengamanan dari ABRI > cuma, �Masyarakat sekarang purba sangka terhadap ABRI. Jadi kalau dia maju > ke depan, akan timbul prasangka negatif masyarakat hingga akhirnya muncul > konflik. Lebih baik tangan lain yang melakukan, terutama dari partai-partai > dan masyarakat,� ujarnya. > > Sadar akan hal itu, dari kalangan partai pun diantaranya sudah bersiap > mengantisipasi kerusuhan kampanye nanti. �Sesuai dengan pesan Gus Dur, maka > warga NU (Nahdlatul Ulama) termasuk PKB dianjurkan membentuk suatu kesatuan > semacam Banser untuk bisa memberikan keamanan kepada masyarakat, minimal > melokalisir bila ada kerusuhan,� ujar Ketua PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) > wilayah Jawa Barat - KH. Habib Syarif Muhammad. > > Sedangkan Mulyana melihatnya dari sisi lain, yaitu pentingnya peranan > kalangan muda mengingat dipastikan mereka akan mendominasi partisipasi dalam > kampanye terbuka. �Kalangan ini sangat berkepentingan dengan atraktivitas > dalam masa kampanye. Karena usai kampanye akbar mereka masih dimungkinkan > melakukan segala macam atraksi. Jadi bagaimana kaum muda ini diserahi > tanggung jawab untuk mengendalikan massa sehingga terhindar dari bentrokan > massa pendukung partai lain dan tidak mengganggu kepentingan umum,� ujarnya. > > Semua tokoh tersebut yakin bakal ada kerusuhan dan kekerasan dalam kampanye > nanti. Namun, hal mengerikan itu bisa diredam seminimal mungkin lewat > cara-cara tadi. Karena,�Pemilu itu harganya mahal, rakyat juga capek, waktu > banyak terbuang, orang takut berdagang, dan sebagainya.�, keluh Hikam. > > =========================================================================== > KAMPANYE DIALOGIS: > MASIHKAH DIANGGAP AKSESORIS? > =========================================================================== > > Nampaknya keraguan tersebut akan melekat dalam masa kampanye nanti. > Penyebabnya: masih dominannya komunikasi politik tradisional yang monolog. > > Tengok Pemilu �97 lalu. Setahun sebelumnya - dalam PP. no 74/1996 tentang > pelaksanaan UU Pemilu - pemerintah mengeluarkan seperangkat peraturan yang > mengatur jalannya kampanye. Salah satunya adalah melarang pendukung partai > melakukan arak-arakan (pawai) keliling kota - yang biasanya menggunakan > kendaraan bermotor. Hal itu dimaksudkan sebagai salah satu upaya meredam > kampanye pengerahan massa yang selalu menjadi tradisi. > > Sebagai gantinya, pemerintah menyarankan bentukan yang baru, yakni kampanye > dialogis. Kampanye ini memusatkan pada pertemuan lingkup kecil, biasanya di > ruangan tertutup, dimana juru kampanye (jurkam) atau anggota suatu partai > memberi kesempatan kepada pengunjung untuk bertanya, yang dipandu oleh > seorang moderator netral. Komunikasi yang dialogis serta argumentasi yang > rasional antara massa dengan jurkam merupakan tujuan dari kampanye ini. > Karena tidak ada pengerahan massa yang besar, maka kampanye ini sangat > tergantung pada media elektronik dan cetak untuk mempublikasikannya kepada > khalayak calon pemilih. > > Toh aturan itu ibarat �masuk kuping kiri, keluar kuping kanan�. Nyatanya - > merujuk pada laporan National Democratic Institute (lembaga penelitian > Amerika Serikat) - kampanye �97 lalu tak jauh beda dengan yang sebelumnya. > Arak-arakan kendaraan bermotor tiap usai rapat akbar - uniknya dalam rapat > itu selalu diselingi pagelaran musik dangdut - baik dari PPP, Golkar, dan > PDI tetap saja berlangsung. Walhasil kerusuhan dan kekerasan bermunculan. > Kampanye dialogis yang diharapkan sebagai peredam kampanye terbuka akhirnya > dipandang sebagai aksesoris belaka. > > Kenapa? Mulanya baik PDI dan PPP merasa keberatan bila moderator yang > dipilih hanya sesuai selera penyelenggara pemilu (pemerintah) , karena > dianggap tidak obyektif. Namun, meski akhirnya pemerintah memberi kesempatan > tiap partai untuk menunjuk moderator sesuai selera mereka, toh arak-arakan > tetap jalan terus. > > Menurut pengamat politik LIPI - M. Hikam - kampanye dialogis pada pemilu > nanti masih tetap kurang populer. Itu disebabkan secara faktual tradisi > kampanye dialogis masih belum banyak dilakukan dan terlebih lagi masyarakat > dan sebagian besar tokoh politik masih menggunakan sistem komunikasi > tradisional, seperti provokasi dan ketiadaan dialog. Lagipula, banyaknya > partai baru yang masih sangat kering akan dukungan publik tampaknya juga > turut berpotensi dominannya kampanye pengerahan massa. > > Padahal kampanye dialogis idealnya juga termasuk cara yang efektif untuk > menjaring pendukung selain mencegah bentrokan dan kerusuhan, seperti > diutarakan oleh Feisal Basri - Sekjen PAN. Kendati tampil sebagai > politisi, ia justru menilai kampanye dialogis lebih efektif daripada > pengerahan massa dalam menjaring suara dari kalangan awam. ��..sedangkan > yang ingin kita raih adalah mereka yang semula apatis kemudian memilih PAN. > Penyadaran seperti ini hanya efektif melalui kampanye dialogis,� ujar ekonom > Universitas Indonesia itu kepada harian Kompas (8/1/99). > > Hal senada juga diutarakan oleh Arief Sidharta - pengamat hukum. Bahkan, ia > merasa optimis bahwa kampanye dialogis akan lebih efektif dengan > memanfaatkan canggihnya perkembangan teknologi yang ada pada media massa. > Artinya, peraturan tentang perlunya kampanye dialogis harus dipertahankan. > Ia juga memastikan penggunaan internet pun mulai populer di kalangan > masyarakat ketimbang dua tahun lalu, sehingga harus dimanfaatkan seefektif > mungkin oleh partai sebagai sarana alternatif kampanye dialogis. �Jadi bisa > mengurangi terjadinya kerusuhan dan dari segi finansial akan lebih murah,� > ujar pengajar senior Fakultas Hukum Unpar tersebut. Ia pun menambahkan bahwa > dengan kampanye dialogis dari segi pendidikan politik akan mendidik rakyat > untuk membiasakan diri mengambil keputusan dengan pertimbangan-pertimbangan > rasional. Tidak hanya sekadar luapan emosi saja. > > Namun demikian pengamat hukum Bagir Manan mengajukan catatan kecil untuk > mengefektifkan kampanye dialogis Artinya penikmat kampanye tersebut tidak > hanya terbatas tokoh partai atau jurkam dengan kader partainya seperti > pemilu �97, tapi tokoh dan kader partai harus tampil di hadapan publik awam. > �Misalnya kalau saya jurkam di partai A sedang berpresentasi, yang > berdiskusi dengan saya jangan dari kader partai saya, tapi khususnya dengan > kalangan muda dan mahasiswa, sehingga suasananya menjadi tidak kosmetis� > tutur guru besar Fakultas Hukum Unpad (Universitas Padjajaran) tersebut. > > Tips dari Bagir tersebut ditindak lanjuti oleh Ali Masykur Musa - Ketua > Biro Pusat Organisasi dan Pemuda PKB. Menurut Ali kampanye dialogis jangan > hanya saat menjelang pemilu saja, karena bentuk kampanye tersebut merupakan > awal proses pendidikan politik, yang tak hanya meraup massa tapi juga > mendidik, mengadvokasi, dan membimbing mereka. �Agar tak lagi dianggap tidak > populer, maka kampanye dialogis harus diteruskan dengan pendidikan yang > lebih lanjut. Bukan hanya saat di televisi maupun tatap muka saja,� ujarnya. > Kalau begitu, kampanye dialogis bagi tiap partai dijamin bakal efektif > ketimbang masa pemilu sebelumnya. Ataukah masih dipandang aksesoris belaka? > > =========================================================================== > MUHAMMAD A.S. HIKAM (PENGAMAT POLITIK DAN PENELITI LIPI): > �KAMPANYE BISA MENJADI AJANG KONFLIK HORISONTAL� > =========================================================================== > > Sebelum berangkat ke Malang sebagai pembicara suatu forum, paginya Muhammad > A.S. Hikam menyempatkan diri memberikan pandangannya tentang kampanye pemilu > mendatang kepada ParaHyangan. Walau agak mustahil melihat saat kampanye > nanti akan bersih dari kerusuhan, namun peneliti senior Lembaga Ilmu > Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut tidak setuju jika kerusuhan dalam > kampanye nanti merupakan tahapan menuju demokrasi. Maka ia pun memberikan > beberapa cara agar potensi kerusuhan bisa diredam hingga seminim mungkin. > Berikut wawancaranya dengan ParaHyangan di gedung LIPI, Jakarta.. > > (ParaHyangan) Apa prediksi Anda tentang kampanye nanti? > > (Hikam) Kampanye itu �kan berupa dua hal, pengerahan massa dan dialog. Tapi > menurut saya pengerahan massa tampaknya akan masih dominan. Bila demikian, > maka ancaman kerusuhan dan kekerasan dalam masa pemilu tersebut juga amat > besar. Oleh sebab itu, dalam kampanye nanti harus diwaspadai kemungkinan > menjadi arena konflik-konflik horisontal. > > (ParaHyangan) Artinya kampanye dialogis nanti masih belum populer? > > (Hikam) Dalam masyarakat kita, tradisi kampanye dialogis kan belum banyak > dilakukan. Pada pemilu terakhir saja (1997), walau dianjurkan penonjolan > kampanye dialogis, tapi tetap saja lebih banyak pengerahan massa. Bagi > partai-partai, kampanye seperti itu ternyata lebih efektif, karena bisa > menjual gagasan-gagasannya dengan bahasa yang provokatif dan mengkritik > lawan-lawannya sangat terbuka. Itu kan sesuai dengan realitas masyarakat > kita yang masih belum banyak berorientasi pada adu program secara rasional > dan berbeda pendapat. Barangkali untuk ke arah sana masih lama, tapi harus > diusahakan sehingga pada akhirnya komposisi kampanye dialogis menjadi lebih > besar. > > (ParaHyangan) Jadi partai sangat berkompeten mengerahkan massa saat > berkampanye? > > (Hikam) Saya tidak mengatakan perlu tidaknya. Tapi memang kenyataannya > begitu. Karena seperti tadi, masyarakat dan tokoh-tokoh politik kita masih > menggunakan sistem komunikasi tradisional, seperti provokasi dan tiadanya > dialog. Kampanye �kan sama saja dengan iklan. > > (ParaHyangan) Tapi apa boleh mengutarakan kelemahan saingan-saingannya? > > (Hikam) Ya boleh saja. Namanya juga iklan. Tapi persoalannya sampai sejauh > mana itu bisa diterima dan disampaikan. Kalau misalnya menjelekkan partai > lain sangat vulgar, marah kan mereka. Jadi masih harus ada semacam etika > berkampanye, apa yang boleh dikatakan dan yang tidak. Nggak boleh ngawur dan > fitnah. Tapi dari (kampanye) dan terkadang kita mendengar para tokoh politik > sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang emosional. Celakanya, > bukannya menahan, justru malah memancing emosi orang lain. > > (ParaHyangan) Jadi kampanye pengerahan massa itu riskan sekali dengan > kerusuhan? > > (Hikam) Sangat rawan terhadap kekerasan politik dan menurut saya itu akan > menjadi sumber kekerasan politik yang terjadi tahun ini. Tapi bagi saya > sangat sulit membayangkan bila ada pelarangan kampanye terbuka itu. > > (ParaHyangan) Dengan maraknya kejadian kekerasan belakangan ini, bahkan ada > kasus pemboman gedung, sampai-sampai ada yang mengkaitkan situasi kampanye > nanti tak kalah rawannya seperti yang terjadi di Sri Lanka maupun India� > > (Hikam) Saya setuju itu. Kita bisa lihat kasus-kasus tahun lalu di > Yogyakarta, di Pekalongan dimana orang PPP ribut dengan orang PKB, dan > terakhir di Buleleng hingga akhirnya ada yang tewas. Jadi potensi atau > indikasi untuk chaos sudah ada, walau saya tidak mengatakan mesti akan > begitu. > > (ParaHyangan) Tapi seorang pengamat menyatakan bahwa kerusuhan dalam > kampanye nanti merupakan hal wajar sebagai tahapan menuju demokrasi� > > (Hikam) Jelas itu salah. Justru kerusuhan itu menjadi indikator kampanye itu > baik apa tidak. Bila dalam kampanye semakin kotor dan rusuh, berarti ada > sesuatu yang salah. Ada komunikasi politik yang keliru. Memang kerusuhan itu > menandakan bahwa demokrasi belum matang. Tapi nggak ada aturan kalau supaya > demokrasi harus ada kerusuhan. Justru supaya demokrasi, kita harus > menghindari kekerasan politik. > > (ParaHyangan) Kalau begitu bagaimana pengaturan keamanannya? Apakah partai > memikul keamanan yang sangat besar? > > (Hikam) Yang bisa dilakukan adalah bagaimana menghimbau dan meminta agar > partai ikut bertanggung jawab dalam hal keamanan. Ya, harus ada pengamanan > internal dan eksternal. Pengamanan internal menjadi tanggung jawab partai > yang bersangkutan. Sedangkan yang eksternal adalah bagiannya aparat > keamanan. > > (ParaHyangan) Waktu masa kampanye rencananya kurang dari sebulan. Apa cukup? > > (Hikam) Partai-partainya yang harus menyesuaikan. Sebab tidak mungkin kita > punya waktu panjang untuk pemilu. Semakin lama, maka akan makin riskan juga > > (ParaHyangan) Jadi format kampanye seperti apa yang Anda harapkan? > > (Hikam) Ya itu tadi, ada pengerahan massa dan dialog. Tapi jumlahnya harus > diatur sedemikian rupa hingga yang namanya pengerahan massa itu semakin lama > semakin sedikit. Kalau perlu, diarahkan sampai tidak ada pengerahan massa > sama sekali. Soalnya pemilu itu harganya mahal, rakyat juga capek, waktu > banyak terbuang, orang takut berdagang, dan sebagainya. Tapi tidak bisa > diwujudkan sekarang. Untuk saat ini masih sangat sulit membayangkan jika ada > pelarangan kampanye pengerahan massa, karena akan diprotes banyak pihak. > > =========================================================================== > PROFIL PENULIS: RENEE ALEXANDER > =========================================================================== > > Wartawan yang satu ini memang terkenal ambisius dan suka ngeyel. Selain > menjadi Pemimpin Umum ParaHyangan selama 2 periode berturut-turut, bonus > ParaHyangan kali ini adalah buktinya. Awalnya sederhana, pria yang kuliah di > jurusan Hubungan Internasional Unpar ini ingin membuktikan bahwa sebuah > laporan besar tak membutuhkan tim yang besar. Dibantu �informan� > terdekatnya, Paulus Winarto, jadilah liputan ini. > > =========================================================================== > Majalah ParaHyangan diterbitkan oleh: > ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa > =========================================================================== > > > > > > > > > > > ------------------------------------------------------------------------ > eGroups Spotlight: > "Kosovo-Reports" - Direct reports from Kosovo/Serbia/Yugoslavia. > http://offers.egroups.com/click/252/0 > > eGroup home: http://www.eGroups.com/list/mimbarbebas > Free Web-based e-mail groups by eGroups.com > ------------------------------------------------------------------------ eGroups Spotlight: "Kosovo-Reports" - Direct reports from Kosovo/Serbia/Yugoslavia. http://offers.egroups.com/click/252/0 eGroup home: http://www.eGroups.com/list/mimbarbebas Free Web-based e-mail groups by eGroups.com
