---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT: INGIN COBA PSYCHOLOGICAL APPROACH: INDONESIA Segala macam approach untuk menanggulangi masalah Indonesia gagal terus, malah bertambah gawat, bukan karena para pemimpin kita bodoh, para jebolan universitas dalam dan luar negeri sudah hebat hebat semua. Approach Bung Karno yang terlalu proaktif menjadikan politik sebagai panglima justru di masa bergolaknya Perang Dingin telah mengundang intervensi asing se- cara intensif sehingga terbengkalainya bidang ekonomi. Approach jendral Suharto merupakan reaksi politik anti-komunis dan pembangunan berdasarkan prinsip anti-ekonomi: deficit spending dengan menggadaikan bangsa dan negara untuk memperoleh pinjaman asing sebagai modal, Ordebaru kemudian dibajak oleh KKN yang panglimanya adalah Suharto sendiri padahal mereka hidup "on borrowed capital and borrowed time" sehingga menja- di bom waktu yang meledak setelah 32 tahun karena tiada social control, demo- krasi yang mulai lahir kembali dengan gerakan mahasiswa dan marak dan sema- raknya PNI Osa-Usep, Parmusi, ditindas oleh Ali Murtopo atas perintah Suharto sampai mati. Suharto lengser, demokrasi mulai hidup kembali sebagai jabang bayi, Habibie dengan persetujuan dwifungsi ABRI melancarkan tuntutan reformasi rakyat yang pelaksanaannya tertumbuk jalan buntu karena bentrokan dahsyat kedua kekua- tan ekstrim: statuskuo versus reformasi total. Kekuatan moderat hampir tersing- kirkan. Mereka setuju dalam satu hal: pemilu palsu ordebaru harus ditinggalkan diganti dengan pemilu bebas terbuka. Karena sudah ada demokrasi maka bentrokan pendapat tak dapat dihindarkan lagi. Lagi lagi kekuatan moderat tersingkirkan. Rekan Amidjaya melihat pemilu dengan kacamata puritanisme: para capres dan caleg kita sekarang ini tidak ada yang memenuhi syarat. Saya setuju sekali. Tapi kita ini kan baru saja lahir kembali sebagai jabang bayi demokrasi, mereka harus diberi kesempatan untuk melaksanakan pemilu sambil belajar. Kalau syarat Amidjaya dipegang teguh maka kita tidak akan sampai sampai pa- da tujuan akhir demokrasi dan akan semakin merebakkan golput. Perlawanan Gandhiisme: golput, puasa sampai mati, unjukrasa non-violence dalam situasi bergelora panas seperti sekarang ini memang tepat dan memenuhi tuntutan hati- nurani karena dengan jalan itulah emosi dapat diberi jalan keluar tanpa destruksi. Tapi mungkin terlalu lamban untuk mengatasi kelaparan 130 juta rakyat yang ka- lau tak cepat cepat ditanggulangi akan menjadi malapetaka nasional yang tiada bandingannya dalam sejarah. Syarat Amidjya harus mulai diselipkan agar para capres dan caleg dapat mende- kati syarat minim. Hal ini tidak bisa dipaksakan dengan UU dan Peraturan, hanya bisa dipaksakan sendiri oleh parpol parpol. Ali Sadikin sebagai capres independen tampaknya paling memenuhi syarat Ami- djaya karena karakter, hatinurani, keberanian, dan "lateral thinkingnya" untuk pendobrakan belum ada tandingannya. Mungkin dia akan membentuk Presidium karena intelejen dan realismenya mengakui bahwa dia sendiri tidak akan mam- pu mengatasi masalah mahadahsyat Indonesia. Konflik adalah masalah psikologis, harus diatasi dengan approach psikologi. Mas- alahnya approach ini hanya bisa dilaksanakan secara kolektif dari bawah ke atas, dari atas ke bawah sekaligus. H.S. Supangkat New York ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Apr 1999 jam 13:19:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
