---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA KATEGORI BERAT PEMBUNUHAN DAN PENYIKSAAN OLEH MILISI PRO-INTEGRASI/OTONOMI DI TIMOR TIMUR Hingga Kamis (8/4) ini, jumlah korban sesungguhnya dari insiden Liqui=E7a masih terus mengalami perubahan (daftar nama dan kronologi insiden ada pada bagian lain). Terus berkembang dari angka yang dikeluarkan oleh Mabes ABRI - lima orang tewas, maupun dari pernyataan pers Uskup Diosis Dili Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo, SDB - 25 orang tewas. Sesungguhnya insiden Liquica tidak terlepas - sebagai konsekuensi berlakunya hukum kasualitas - dari sebab-sebab dan akibat yang menyertai kemunculan berbagai konflik fisik yang memakan korban jiwa sebelum ini. Prakondisi untuk terjadinya insiden yang lebih besar tak dapat dihindarkan akibat adanya tindakan-tindakan intimidasi dan teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sipil yang dipersenjatai terhadap warga masyarakat sipil tak bersenjata, bukan hanya di Liquica, tapi juga di banyak kabupaten lain di Timor Timur. Berbeda dengan informasi yang selama ini muncul dalam laporan-laporan pers, ternyata berdasarkan hasil monitoring dan investigasi Yayasan HAK - yang bergerak di bidang pembelaan hukum dan penegakan hak asasi manusia - yang kami terima, ternyata kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi sepanjang triwulan ini, sebagian besar dialami oleh warga masyarakat sipil yang tidak bersenjata, yang diakibatkan oleh tindak kekerasan yang dilakukan oleh satuan-satuan paramiliter atau milisi pro-integrasi/otonomi yang didukung dan dipersenjatai ABRI. Tindakan kekerasan tersebut terjadi di beberapa kabupaten antara lain Liqui=E7a, Maubara, Bobonaro, Suai, Covalima, Ainaro, Same-Manuhafi, Viqueque, Baucau, Ermera, dan Dili. Dari Januari hingga akhir Februari 1999 saja, sudah 18 orang dinyatakan tewas akibat kekerasan fisik yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sipil bersenjata, militer maupun polisi (Lihat Tabel 1). Dari segi jenis dan sifatnya, kekerasan yang berhasil diinvestigasi itu mengambil bentuk kekerasan fisik/non-fisik - seperti penangkapan di luar prosedur, penganiayaan/ penyiksaan, pemerkosaan, hingga pembunuhan, ataupun kekerasan secara tak langsung seperti intimidasi dan teror. Selain itu, kekerasan tersebut juga mengambil bentuk penghancuran harta milik korban, seperti rumah tinggal, kantor koperasi, dan lain sebagainya. Laporan investigasi Yayasan HAK yang kami terima itu, dengan demikian mengoreksi arus disinformasi yang selama ini secara sistematis dimunculkan dalam berbagai kesempatan menyangkut fakta lapangan di Timor Timur. Berbagai laporan yang dikeluarkan sumber-sumber resmi pemerintah melalui para pejabat publik di berbagai media massa, cetak dan elektronik, tersebut melahirkan kesan, bahwa kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi itu seolah-olah selalu didahului dan dilakukan oleh warga masyarakat pendukung kemerdekaan. Laporan hak asasi manusia yang dikerjakan Yayasan HAK ini membuka perspektif baru tentang apa yang terjadi di Timor Timur selama triwulan ini hingga akhirnya pecah insiden Liqui=E7a. Dalam melakukan investigasinya, Yayasan HAK tak hanya menerima laporan sepihak dari warga masyarakat korban pelanggaran HAM, tapi mereka juga melakukan investigasi, serta konfirmasi untuk membuktikan kebenaran laporan tersebut. Dari hasil investigasi diketahui bahwa para pelaku pelanggaran hak asasi manusia adalah berbagai unsur milisi/paramiliter pro-integrasi/otonomi seperti Garda Paksi (Garda Muda Penegak Integrasi); Makikit; Besi Merah Putih; Naga Merah; Mahidi (Mati Hidup Integrasi dengan Indonesia), serta para anggota ABRI, mulai dari anggota Kopassus, Marinir, Kodim, dan Koramil, hingga anggota kepolisian (Brimob) setempat. Juga aparat berpakaian preman, seperti anggota intelijen militer dan polisi, serta anggota satuan intelijen SGI. Pada umumnya kekerasan atau bentuk-bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang mereka lakukan diawali dari kecurigaan dan tuduhan terhadap penduduk atau warga masyarakat di suatu wilayah tertentu yang dianggap pro-kemerdekaan, dan mendukung atau memberi bantuan pangan serta perlindungan kepada gerilyawan FALINTIL (For=E7as Armadas de Liberta=E7=E3o Nacional Timor Leste, Tentara Pembebasan Nasional Timor Timur). Oleh karena itu, korban kekerasan pun menjadi beragam, yang meliputi berbagai segmen masyarakat, dari berbagai latar belakang. Tak penting status si korban, asalkan dicurigai oleh milisi/paramiliter pro-integrasi/otonomi sebagai pro-kemerdekaan dan memberi fasilitas kepada gerilyawan FALINTIL, maka tindak kekerasan akan dialaminya. Oleh sebab itu, para korban bisa seorang mahasiswa, petani, gadis remaja, ibu rumah tangga, pedagang, pengangguran, sopir angkutan, tapi juga bisa seorang guru atau pegawai negeri sipil (PNS). Meskipun ada korban dari antara kalangan aparat keamanan, warga dan milisi pro-integrasi/pro-otonomi, tapi jumlahnya tak sebesar korban di kalangan anggota masyarakat pro-kemerdekaan.=20 Tabel 1. Rekapitulasi Korban Kekerasan Fisik(*) Januari-Februari 1999 ---------------------------------------------------------------------------- ----------- Wilayah Jumlah Kasus Jumlah Korban Pelaku Kabupaten Liqui=E7a 42 7 mati Koramil 03 Maubara, 79 luka Gadapaksi, Makikit, 1 hilang Naga Merah, Besi Merah Putih, Mahidi, Pos BTT 143, ABRI gabungan Kabupaten Ainaro 6 5 mati Koramil Cassa, Mahidi, 16 luka Marinir 5 hilang Kabupaten Baucau 2 2 luka Anggota ABRI berpakaian sipil, 1 hilang Koramil Baucau Kota, SGI Kabupaten Suai 1 1 mati Mahidi 2 luka Kabupaten Bobonaro 5 3 mati Halilintar, SGI, 3 luka Besi Merah Putih Kabupaten Ermera 1 1 luka Kepala Desa Lete Foho Sersan Kepala Antonio dos Santos Kabupaten Lautem 1 1 luka Tiga anggota Kopassus Pos Laru Ada Dili 4 3 mati Brimob Kompi A Bairo Pite, 2 luka Mahidi, Naga Merah, Halilintar, Besi Merah Putih, intel Korem 164 Wiradharma Dili ---------------------------------------------------------------------------- ----------- Sumber: Laporan Investigasi Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Yayasan HAK, Januari-Februari 1999 (*) Kekerasan fisik selain dalam bentuk penangkapan dan= penganiayaan/penyiksaan, termasuk juga pembunuhan di luar prosedur, serta tindak perkosaan. Berdasarkan tabel korban kekerasan fisik tersebut, terlihat bahwa pelakunya merupakan kombinasi antara militer dan polisi, serta warga sipil yang dipersenjatai (milisi). Pasukan milisi ini bukanlah sesuatu yang baru bagi rakyat Timor Timur, karena sebelum pasukan milisi tersebut dilegalkan, telah ada pasukan "ninja" yang secara sistematis melakukan tindakan teror terhadap warga di berbagai kota di Timor Timur. Misalnya, dari dokumen-dokumen milik ABRI yang pernah diungkap di dalam buletin TAPOL No.149/150 disebutkan, bahwa Korem 164 Dili membawahi sebanyak 12 unit milisir. (Tabel 2) Tabel 2. Tim/Unit Milisi di bawah KOREM 164 DILI ------------------------------------------------ Nama Wilayah Jumlah Personil=20 Tim Saka Baucau 304 Tim Alfa Los Palos 115 Tim Makikit Viqueque 168 Tim Halilintar Atabae 121 Tim Railakan Ermera 136 Tim Ainaro Ainaro 92 Tim Suai Suai 22 Tim Same Same 102 Tim Sakunar Aileu 31 Tim Morok Manatuto 34 Tim Liqui=E7a Liqui=E7a 9 ------------------------------------------------ Sumber: TAPOL Occasional Report No. 26 EAST TIMOR, An Analysis of Indonesian Army Documents, October 1998 Di luar nama-nama tim/unit yang tercatat resmi tersebut, terdapat juga unit-unit atau grup milisi tak tercatat resmi seperti Mahidi (Mati Hidup Integrasi dengan Indonesia), atau Gadapaksi (Garda Muda Penegak Integrasi). Unit-unit atau grup milisi ini menjadi mesin teror yang dibentuk dan disokong militer Indonesia untuk menghadang gerakan perlawanan rakyat Timor Timur yang berjuang untuk penentuan nasib sendiri. Berdasarkan uraian di atas, kami berkesimpulan bahwa insiden Liqui=E7a merupakan akibat dari serangkaian tindakan-tindakan teror dan intimidasi oleh kelompok-kelompok sipil bersenjata yang didukung ABRI terhadap warga masyarakat biasa yang telah, sedang, dan terus berlangsung secara sistematis, terkoordinir, dan terorganisir selama triwulan pertama tahun 1999. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Apr 1999 jam 09:06:27 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
