---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk SEJUMLAH JENDRAL TERSINGGUNG DENGAN USULAN PENYELESAIAN DAMAI TIMTIM JAKARTA (MateBEAN, 19/4/99). Pengumuman resmi pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan persoalan Timor Timur secara damai, demokratis dan terhormat dengan meciptakan opsi kedua yaitu kemerdekaan bagi Timor Timur telah membuat sejumlah jenderal tersinggung. Para jenderal yang tersinggung itu adalah mereka yang sejak 1974 terlibat langsung dalam berbagai operasi penyusupan dan penyerangan Timor Timur. Demikian beberapa sumber yang dilangsir MateBEAN di Jakarta maupun dari Dili. Menurut sumber di Jakarta, jauh sebelum pengumuman resmi pemerintah Indonesia yaitu sejak lengsernya dedengkot rejim Orde Baru, Soeharto yang bertanggungjawab langsung atas invasi Timor Timur, beberapa jenderal telah kasak-kusuk untuk membangun sebuah skenario untuk mempertahankan kehadiran ABRI di Timor Timur. Rekayasa ini berimplikasi pada terjadinya chaos di seluruh Timor Timur, bila tentara Indonesia terpaksa ditarik dari wilayah itu, karena tekanan atau desakan internasional. Para jenderal ini telah menghamburkan milyaran dolar kepada orang-orang Timor Timur yang pro-integrasi untuk menempuh segala cara yang perlu demi tercapai target mereka: tetap bertahan atau pergi meninggalkan tragedi yang terjadi antara orang Timor Timur sendiri. Di antara para jenderal itu antara lain adalah Menteri Penerangan Kabinet Habibie Yunus Yosfiah yang juga menantu orang Timor Timur, mantan Kepala BIA Zacky Anwar yang juga pendukung setia Prabowo Subianto, Pangdam Udayana Adam Damiri serta Danrem Timor Timur Tono Suratman. Yunus Yosfiah dan Zacky Anwar merupakan sosok-sosok perwira Indonesia yang tidak dapat luput dari sejarah penderitaan rakyat Timor Timur. Bahkan Yunus Yosfiah yang nama samarannya Andreas ketika melakukan operasi Komodo dan Seroja, terbukti terlibat langsung dalam pembunuhan 5 wartawan media Australia di Balibo bulan Oktober 1975. Sementara itu, sumber MateBEAN dari Dili melaporkan adanya keluhan dari pihak Bank Pembangunan Daerah Timor Timur (BPD) Dili bahwa uang yang hendak didepositokan oleh beberapa anggota BMP adalah adalah uang palsu. Karenanya pihak BPD Timtim menolak untuk menerima uang tersebut. Akhirnya anggota BMP bersangkutan melaporkan hal itu kepada Danrem Tono Suratman. Dengan santai Tono Suratman menjawab, "Uang itu kan bukan untuk ditabung, tapi untuk dipakai." Meski belum dapat dikonfirmasikan kebenaran berita ini, namun kemungkinan untuk terjadinya pemalsuan uang kertas oleh pihak-pihak militer tertentu sangatlah besar, mengingat situasi ekonomi Indonesia yang makin tak menentu, malah militernya menghamburkan duit miliaran dolar untuk operasi di Timor Timur. Berbicara soal pemalsuan uang kertas, militer memang jagonya. Berbagai kasus pemalsuan di Jakarta dan di tempat lain di Indonesia diketahui dibekengi oleh militer. Konon yang mencetaknya adalah "anak-anak Cendana" yang memegang lisensi impor kertas sejenis yang diimpor oleh Perusahaan Uang Republik Indonesia (Peruri).*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 20 Apr 1999 jam 12:03:00 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
