---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- 10 tahun yang lalu, ketika saya mengorbit meninggalkan tanah air singgah di Eropa, untuk kemudian melanjutkan penjelajahan ke planet uncel Sam, setelah touched down pertama kali di Florida , setelah itu mental ke sebuah kota megapolis bernama Manhattan, setelah menatap duit yang tinggal satu dollar dan perut mulai berserenade minta diisi, saya berdoa pada Tuhan, dan untuk pertama kali nya dalam hidup saya menyaksikan mukjizat doa yang dikabulkan dalam waktu kilat ketika Mukmin seorang Palembang mengajak saya bekerja di Restaurant. Setelah bekerja sebagai delivery boy dengan gaji minimum, saya mengetahu bahwa berdoa di New York terutama di 42 nd street yang penuh orang hitam penjual drug, dan kelompok kelompok preman pemabuk dan para gembel pada saat lapar rupanya lebih manjur dari pada berdoa dalam semua mesjid yang pernah saya kunjungi, Karena bekerja rendahan mengantarkan burger dari restaurant " Taste of the Apple " itu ternyata membawa keberuntungan. Gedung demi gedung perkantoran saya masuki dengan leluasa. City Corp tempat manusia tampan berdasi saya singgahi sampai ke kamar direksi kadang kadang. Begitu baiknya Tuhan pada saya sehingga hampir setiap manusia lapar yang malas makan keluar kantor tergugah untuk memberikan tips yang lumayan. Tiap hari saya bisa mendapatkan dari 50 sampai 100 dollar tips. Bekerja 6 hari seminggu ditambah gaji minimum, saya bisa mengumpulkan 1200 dollar sebulan hanya dari tips. Itulah sebabnya saya selalu bersukur dan ingat pada Tuhan. Saya mengingat sang pencipta ini baik pada saat sholat atau saat saya menonton film biru di bioskop porno kadang kadang. ( maklum nama Tuhan itu disebutkan dimana mana, begitu juga dalam film kotor sekalipun, tidak jarang dalam puncak aksi mereka para aktor dan aktris bertasbih " O my God..O my God.." Harus saya jelaskan saya adalah pekerja yang jujur. Bila duit yang dikembalikan oleh client kelebihan, saya selalu ingatkan dan kembalikan. Pernah ada yang menyangka dia memberikan saya duit 10 dollaran, begitu balik ke restaurant saya sadar bahwa duit yang diberikannya adalah 100 dollaran. Jelas, saya kembali naik sepeda beberapa blok untuk mengembalikan uang itu pada yang pemiliknya. Saya ingat ketika saya mendayung melewati Park Avenue sambil termenung, sebuah taxi bersupir seorang India hampir menabrak saya dengan kencang. Tapi saya tetap tenang, saya merasa Tuhan sedang tersenyum melihat kejujuran manusia mini ini. Ada terlintas pikiran jangan jangan saya bisa di angkat sebagai nabi karena karakter saya ini bisa dijuluki Al Amin atau manusia lurus. Menjadi delivery boy itu banyak sekali pengalaman yang bisa diserap. Kelamaan mengantar makanan lama lama akan membuat anda tau psikologi pelanggan soal tips. Dalam 2 bulan saya sudah bisa mengenal dari nama , etnis atau ras atau profesi pelanggan yg memberi tips bagus atau paling pelit. Armenia,Arab adalah manusia terpelit. disusul dengan Negro dan India. Profesi yang paling pelit adalah Laywer, Dokter dan Tukang Jahit. Profesi terbaik adalah Wartawan, seniman dan pengangguran. Etnis yang paling gampang mengeluarkan duit adalah orang putih dan Hispanic. Tapi jelas duit bukanlah segalanya. Yang menyenangkan dari pekerjaan itu saya banyak kenal orang. Biasanya saya tidak perduli dengan tips 1 dollar asal sang pemesan makanan men treat saya secara baik dan terhormat, Saya akan melangkah dengan gagah, tersenyum lebar dan biasanya dengan tulus akan mengcuapkan " Have a good lunch, enjoy your food" dengan dada bahagia. Saya adalah nabi delivery yang ramah tamah. Sambil bersiul siul saya mengayuh diantara keramaian 2nd Avenue. Sampai suatu saat saya mengantar burger,french fries dan orange juice pada seorang karyawan hitam di lantai 65 salah satu gedung di dekat Trump Plaza. Saya menunggu di depan pintu kantor karena tidak bisa masuk.Bell dibunyikan beberapa kali, seorang beraksen negro menjawab di interphone " wait I will be there" saya menunggu kembali.Menit demi menit berlalu, saya pencet lagi,dia teriak " Wait damn it..I told you I will be there !!"Tentu saja saya terkejut.. Setengah jam lebih baru dia muncul, tampang negro ini benar benar menyebalkan, Saya masih tersenyum dan berusaha berlapang dada, dia mengambil pesanan makanan dari tangan saya secara kasar, memberikan uang dan menunggu uang recehan kembalian , sambil tersenyum sinis dia kembali berjalan ke dalam kantornya. Saya adalah seorang delivery boy yang berjiwa prophet. Tapi jelas batas kesabaran para nabipun ada batasnya. Dua tiga kali, dia memesan lagi burger pada restaurant saya, dan dua tiga kali saya harus mangkel dengan ulahnya yang memuakan, terakhir saya harus menunggu hampir satu jam didepan pintu kantornya yang terkunci.Dan tiba tiba saja saya sadar bahwa orang ini memesan makanan cuma ingin memuaskan sifat rasisnya dengan menghina imigran kelas kampung seperti saya. Perasaan sedih membuat lingkaran hallo diatas kepala saya runtuh, saya bertekad untuk melakukan kisas pada si hitam. Seminggu kemudian, saat balas dendam akhirnya datang juga. Darrel nama si celeng sialan itu memesan burger lagi. Dan saya harus mengantarkan makanan sialan itu jelas saja. Tapi kali ini saya sangat bersemangat untuk bertemu dia. Hari itu saya memutuskan untuk berhenti menjadi nabi. Hari itu " The Mesengger of big fat burger" telah padam. Berganti menjadi " The Devil between Pickes and Tomatos" Naik dilantai 65, saya tidak langsung menuju ruangan kantornya. Langkah kaki berbelok ke rest room, perlahan saya buka burger dari bungkusnya, saya belah secara hati hati kepingan roti, dengan kelembutan seperti irama keroncongan saya ludahi salad dan daging keping bercampur dengan saus ketchup. Saya tutup kembali secara rapih. Lalu saya buka tutup orange juice , saya teguk setengah, air jeruk itu perlahan masuk mengalir ketenggokan, menyelinap dan mendesak ginjal membuat saya ingin kencing. Berdiri di urinal , saya letakan cup orange juice yang tinggal setengah tadi, air kekuning kuningan itu mengalir deras mengganti air jeruk, samar samar saya seperti melihat air terjun Yosemite Falls yang indah diterpa matahari senja. Saya tutup kembali dan saya beranjak keluar dari rest room menuju sang negro keparat. Saya pencet bell dan seperti biasanya menunggu kembali. Hari itu Darrel keluar begitu cepat. Barangkali dia memang sedang lapar, Wajahnya yang menjengkelkan muncul dan seperti yang sudah diduga, lagi lagi dia bertindak kasar dan berusaha merendahkan sang nabi. Saya masih ingat, dia melempar tips berupa uang 25 cent an ke atas karpet. Tapi sungguh saat itu saya jauh dari marah. Dengan senang hati saya pungut keping logam itu tanpa emosi, Darrel berjalan sambil terkekeh kekeh, Beberapa detik sebelum pintu tertutup, saya sempat melihat dia membuka sang indo burger yang telah mengandung saliva. Secepat dia menerjang makanan bergizi itu, secepat itu juga saya tertawa. Sambil berjalan ke arah lift, hati saya plong dan lega. Memikirkan Darrel yang pasti kehausan setelah mengunyah seperempat pound burger, wajah saya berseri seri seperti matahari musim semi. Ketika keluar dari Lift menuju sepeda, tiba tiba saya merasa menyesal. Bukan , bukan lantaran melakukan perbuatan setan yang membuat saya sesal. Seharusnya seperti layaknya gentleman atau bangsawan Inggris yang penuh etika, saya menyapa Darrel sebelum dia menyantap lunch " special order" nya . Seharusnya saya bilang " Enjoy your food and drink sir.. Its nice to know someone like you "Dan barangkali saya juga harus menolak tipsnya dengan alasan " This is the Happiest day of my life sir..I need no tips Thank you !" Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Apr 1999 jam 01:40:42 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
