---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Dave, pensiunan dokter yang bertubuh tinggi itu lagi lagi mengajak lunch bersama tadi siang. Bersama sama Alan dan Doris mereka me reserve tempat untuk kami di Red Lobster sea food restaurant setelah mereka bubaran gereja. Saya memesan fried calamari, Vicky memesan popcorn shrimp beserta salad dan baked potatoes, sedang mereka bertiga jelas memesan main menu yang big and heavy. Dave nampak lebih relaks dari biasanya, barangkali karena dia selama dua minggu terakhir dia menikmati travel keliling Florida ,South Carolina dan Tennessee mencari udara baru dan menjauhkan diri dari rutinitas hidup yg menjenuhkan. atau mungkin lantaran Jane, istrinya yg sedang pisah ranjang mendapatkan pekerjaan yang membuatnya harus jauh dari Springfield dan tentu saja dari Dave yg merasa problem hidupnya bertambah ringan. Tapi dalam keadaan senang atau sedih, Dave selalu membayari bill lunch kami, Dan seperti upacara ritual kami biasanya menolak untuk dibayari, mencoba merebut bill dari tangan dia, dan Jelas tangan Dave selalu lebih tangkas, dia merebut dan menaruh uang 100 dollaran, dan lagi lagi kami terbungkam tidak berdaya. Dave bukan saja telah mentraktir 4 lunch, tapi menonton film di bioskoppun dia juga memaksa untuk membayari kita. Saya pernah complain dapa Vikcy, " tidak seharusnya dia membayari kita terus terusan " Seperti layaknya orang berhutang setelah bubaran makan siang, di depan pintu exit restaurant saya berjanji untuk mentraktir Dave beserta Alan dan Doris minggu depan. Tapi inilah penyakitnya orang Minang, bila nggak berduit kami berjanji untuk mentraktir orang, ketika berduit kami lupa pada orang. Jelas mengeluarkan 60 dollar buat setumpuk food yang penuh chesee dan olive oil untuk diolah perut menjadi pupuk bukanlah hal yang gampang. Tapi merasa berhutang ini yang memaksa saya untuk melupakan sejenak kromosom sifat pelit yang ditularkan melalui genetik nenek moyang orang Padang.Dan lagi lagi saya berjanji pada diri sendiri untuk lebih sering mem buka dompet pada orang orang yg dikenal baik. Dave mengingatkan saya pada Alex, dia adalah sahabat di Jakarta yang dulu tinggal di Kebon Kacang. Alex yang rada hitam dan bertubuh tegap ini jelas tidak semakmur Dave, tapi hobby mentraktir orang mereka sangatlah mirip. Alex tidak sayang dengan duit. Semenjak bergaul 2 tahun pertama dengan anak STM poncol yang tidak sudi berantem itu, sudah puluhan kali dia mentraktir saya makan. Alex dengan mudah membayari kami makan berempat di warteg Epen dan bila duit dia tidak cukup dia cuma bilang sama Epen " Pen masukin mereka di bon gue, minggu depan gue bayar " secara gampang. Jika sedang berkumpul di depan rumah nya yg mungil dekat nasi uduk kebon kacang, Alex tak jarang memanggil tukang ketoprak atau baso dan memesannya buat kami semua.Dan sering benar Alex membayari saya nonton film dengan membeli karcis undangan buat Garnisun di dekat stasiun gambir seperempat harga untuk menonton di bioskop Prince atau Kartika Chandra yang bagi anak gang seperti kami adalah bioskop elit tidak terjangkau. Alex dan Dave adalah manusia manusia dermawan. Pada Alex saya berhutang banyak.Bukan saja karena dia hobby mentraktir, tapi dia juga murah tenaga dan kelihatan hobby membantu orang. Pada Alex saya menemukan sahabat untuk segala cuaca. Terakhir saya mendengar kabarnya adalah 10 tahun yang lalu ketika Alex mengirimkan sepucuk surat ke New York. Saat itu Alex bekerja di sebuah pabrik di Taiwan, dan berkeinginan untuk migran ke Amerika dan meminta petunjuk dan bantuan. Sedihnya saya tidak pernah membalas itu surat. Karena saat itu saya sendiripun sedang struggle di pinggiran jurang mati dan hidup sebagai perantauan. Dave mengingatkan saya pada Alex. Saya tidak mau menyesal untuk terlambat membalas kebaikan Dave seperti saya dulu terhadap Alex. Yang saya ingat, saya cuma pernah beberapa kali mambayari dia makan, dan memberi dia utang duit. Semua itu tidak seberapa dibandingkan apa yang telah Alex perbuat untuk seorang sahabat. Seorang anak minang yang besar di gang seperti saya, tentu tidak harus terus menerus mempertahankan sifat kikir dan cuma pandai memanfaatkan kedermawanan orang. Kesadaran ini membuat wajah saya memerah seperti tomat. Bila dulu saya pelit karena tidak berduit, sekarang saya ada duit dan harus tidak pelit. Lalu saya memutuskan untuk membayari Dave makan minggu depan. Saya tidak akan lagi mempergunakan kalkulator setiap kali melihat menu makanan. Sudah capek rasanya menjadi akuntan buat diri sendiri. Menghitung pengeluaran dan pendapatan, meng audit saving account dan Checking Account. Setelah ingat pada Dave , tidak lupa saya ingat pada Alex. Lalu sayapun berjanji untuk mencari Alex dimanapun dia berada tahun depan pada saat saya pulang .Saya harus membalas kemurahan dan kebaikan hatinya sebelum semuanya benar benar terlambat. Karena dalam hidup yang pendek ini, Sangat susah untuk mendapatkan sahabat yang tulus seperti Alex dan Dave. Dan karena hidup ini juga tidak terlalu panjang untuk mendapatkan kesempatan membalas budi orang .. Dan saya tidak mau mati dalam hutang.. Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Apr 1999 jam 22:45:46 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
